
Jika harus memilih, antara napas dan cinta. Maka aku memilih napas terakhir untuk mengatakan, 'Aku cinta padamu'.
* *
"Maaf Key, tolong jangan perpanjang masalah ini" ucapnya dengan menunduk. Kean tahu Bunga sedang menahan tangis. "Aku mohon Key ampuni ibuku, kamu tahu aku sangat menyayangi ibuku, jadi tolong,l ampuni dia, aku cuma punya ibu, tidak ada yang lain"
Kean diam ia menghembuskan nafas kasarnya, lalu memeluk kepala Bunga dengan lembut.
Brugh
Kean dan Bunga terpental karena dorongan oleh seseorang yang tak terima melihat adegan itu, jujur kasian kalau sampai Nada yang melihatnya.
"Anjing loe Key" kesal Bintang, yah lelaki yang baru saja mendorong mereka berdua adalah Bintang.
"Maksud loe apa sih dorong dorong kita?" kesal Kean. Akuilah Kean bodoh sudah tertangkap masih tanya kenapa.
"Kalau Nada lihat loe kaya tadi, gimana perasaanya?" Bintang berdecih ia memang sudah baikan dengan Kean, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa dia masih menyimpan sejuta kata kesal padanya.
"Otak tu dipake jangan selingkuh aja di pikiran loe" Kean naik pitam, ia kesal jika dikatai selingkuh oleh Bintang.
"Mulut loe di jaga kalau ngomong" ucap Kean yang posisinya mendekati Bintang.
"Dari pada ngurusin mulut gue mending urusin selingkuhan loe" ejek Bintang, Bunga yang sadar menjadi penyebab pertengkaran mereka, mendadak ikut kesal pada Bintang.
"Cukup Bintang!" Bunga membentak Bintang.
"Diem loe pelakor" kesal Bintang, yah dari dulu emang Bintang gak terlalu suka sama Bunga.
plak
"Yang seharusnya loe bilang pelakor itu Nada, dia yang udah ngrebut Kean dari gue Tang" Bintang kesal, entah karna Nada yang selalu mendengarkan cerita ceritanya sehingga Bintang selalu memihak Nada, atau entah karena perasaanya pada Nada.
"Jaga mulut loe Nga, Nada gak akan jadi perusak hubungan orang lain kalau dia gak mulai" tunjuknya pada Kean.Suasana menjadi semakin kisruh, entah dari mana asalnya dan kapan akan berhentinya, mereka bertiga sama sama emosi. "Loe perlu tau, kalau Nada itu sebenarnya...."
"Bintang....." Atensi mereka terpusat pada suara itu, suara lemah lembut milik seorang gadis yang sangat di dambakan oleh Bintang.
"Nada..." suara kompak milik Kean dan Bintang bertaut, dari belakang Nada muncul dengan Bara yang menemaninya.
"Kalian kenapa gak masuk kelas" Pandanganya jatuh pada Kean yang berdiri dekat dengan Bunga, tersirat sebuah tanda tanya besar dan sedikit rasa cemburu "Padahal pelajaran sudah dimulai sejak tadi " Ucap Nada menetralkan suasana.
Sebenarnya Nada sangat ingin marah ketika statusnya hendak dibeberkan oleh Bintang, tapi ia ingat sedang mendapatkan tugas untuk mengambil buku paket bersama Bara oleh wali kelasnya.
"Ayo Na!" Melihat mereka semua diam dan tak ada yang menjawab Nada, Bara segera menarik pergelangan tangan Nada.
"Gak usah pegang pegang bisa?" Seru Kean membuat Bara melepaskan pegangan tanganya.
'Kean cemburu'
"Halah cuma pegang belum meluk, coba kalau gue gini" Bintang merangkulkan tanganya di pundak Nada, membuat Nada risih, tapi apalah daya, rangkulan itu sangat kuat.
'Nada biasa aja di peluk Bintang, jangan jangan....'
Kean menarik tangan Bintang lalu memelintirnya. "Mau ngajak ribut?" Kean menatap tak suka pada Bintang.
__ADS_1
"Dari tadi bukanya ribut?" Bintang menatap balik Kean dengan tatapan lebih tajam.
Nada menghembuskan nafasnya pelan dan kasar, ia bosan jika melihat Bintang dan Kean saling bermusuhan. "Baikan gak?" Mereka berdua saling tatap lalu dengan kompak menggelengkan kepalanya.
"Gak mau baikan?" ulang kalimat pertanyaan Nada yang ditekankan.
"Gak " ucap mereka kompak.
Nada menganggukan kepalanya "Gitu?" Bintang dan Kean masih mengangguk. "Ya udah, sama aku juga gak mau baikan selamanya sama kalian" ucapnya lalu melangkah meninggalakan dua sejoli yang selalu perang dunia.
"Ayo Bar" ajak Nada pada Bara.
"Maaf" ucap Bintang dan Kean kompak, membuat Nada membalikan tubuhnya.
"Pelukan" mereka saling berpelukan, sebenarnya Nada sangat ingin tertawa, tapi ia urungkan. "Balik ke kelas kalian!" Bintang dan Kean mengangguk patuh seperti budak pada majikanya.
'Kean bisa sepatuh itu sama Nada' Ini Bunga, suara hatinya yang mengatakan itu, dan rasa sedih menyelimutinya. 'Dulu Kean juga patuh, tapi tak sepatuh ini'
"Ayo Bar" Ajak Nada pada Bara, Nada bahkan tak melihat Bunga sama sekali.
Sejak kejadian Kean yang meminum obat perangsang di rumah Bunga, rasa percayanya pada Bunga berkurang, meski Kean sudah menjelaskan bahwa itu bukan ulahnya Bunga.
"Perlu bantuan?" Nada berbalik menatap kedua sejoli yang tampilanya kacau, kancing seragam paling atas tidak terpasang, tidak memakai dasi, baju dikeluarkan, rambut bak menantang Tuhan, sepatu berwarna putih.
"Masuk ke kelas!" mereka dengan patuh berjalan ke kelasnya masing masing. Sedangkan Bunga masih menatap Nanar semuanya.
'Dalam sekejap posisi itu digantikan oleh Nada, dulu Bintang baik sama aku, Kean sayang banget sama aku, dan kini, bahkan gak cuma Bara, Bintang dan Kean pun memihak Nada dan membenciku'
Bunga berjalan menuju kelasnya dengan lesu, wajahnya pucat, yah karna HB (haemoglobin) penderita gagal ginjal kronik atau (CKD) cronik kidney disease yang sudah mulai rutin melakukan haemodialisa seminggu 2 kali pasti rendah.
melanin (pigmen atau zat warna kulit)
HB haemoglobin adalah metaloprotein di dalam sel darah merah yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh, pada mamalia dan hewan lainnya.
Haemodialisa atau cuci darah
Nada sibuk menata buku cetak yang akan dibawa ke kelasnya, namun Bara hanya menatapnya serius. "Apa kamu bahagia Na?" Nada menarik nafasnya dalam. sesak kalimat itulah yang menggambarkan hatinya.
"Bukan urusan kamu Bar" Nada menghindar, dia selalu menghindari Bara. Padahal dulu ia sempat menaruhkan hatinya pada Bara.
Nada beranjak membawa cetak cetak kecil yang sudah ia susun. "Na...." aktivitasnya mendadak berhenti mendengar Bara berteriak. "Aku mau menjadi pelampiasanmu jika kamu mau berlari bersamaku Na" Nada menepis tangan Bara, air matanya mendadak mengembun.
"Jangan gila Bar" ucapnya menyadarkan Bara.
"Aku serius Na, aku mencintai kamu" Kata kata itu yang selalu ia nantikan sayangnya bukan dari Bara tapi dari Kean. "Aku akan berjuang untuk kamu"
"Kamu gila" Bara mencengkeram tangan Nada dengan kuat "Lepas Bar.... Lepas" Nada memberontak mencoba melepaskan pegangan tanganya,
"Na..." Nada berlari meninggalkan Bara dan membawa cetak seadanya. Barulah Bara menyusulnya.
*
"Gimana kabar nenek kamu?" Bintang bungkam lalu menggeleng, ia sendiri sudah tidak berkunjung hampir satu minggu.
__ADS_1
" Mau ikut berkunjung?" Nada berbinar lalu mengangguk, ia senang jika Bintang mau membagi ceritanya.
"Tapi keadaanya jelek" Nada mengernyit mendengar kata jelek.
"jelek" Bintang mengangguk.
"Terakhir yang aku dengar saturasi oksigenya selalu turun, dan beberapa hari yang lalu nenek menggunakan ventilator" jelas Bintang membuat Nada kebingungan.
Biarpun Nada itu pinter bukan berarti yang ia tidak tahu akan menjadi tahu setelah ia dengar, tidak. Kadang seseorang tahu itu dari membaca. Mereka yang punya otak cerdas tidak akan bertabah cerdas jika tidak membaca.
"Saturasi yang baik itu kadar oksigen dalam darah normalnya 95%-100% sedagkan nenek aku sudah menggunakan ventilator atau alat bantu nafas artinya beliau sempat henti nafas dan sekarang harus memakai alat karna sudah tidak dapat bernafas spontan lagi." Nada mengangguk, ia mengerti apa yang diucapkan oleh Bintang.
"Nanti sore gue jemput ya!" Nada mengangguk lalu mengiyakan.
"Ijin dulu sama suami" Nada tersenyum lalu berkata "Ijin suami itu restu dunia akhirat"
"Ademnya kalau gue punya bini kaya loe" ucapnya sambil menatap lekat Nada.
"Gak usah lirik lirik, dosa, itu bini orang!" sarkas Kean yang datang dari arah belakang.
"Pelit banget si" keluh Bintang yang kemudian kembali ke motornya.
"Naik" pinta Kean, Nada mengangguk, lalu memasuki mobil Kean.
"Dah Bintang" ucapnya disela sela mobil Kean yang mulai berjalan.
"Dah calon istri" Kean menatap Bintang kesal, yang ditatap hanya memeletkan bibirnya.
"Sinting loe yah, bini gue itu anj...."
mppphh mulut Kean dibekap dengan kuat.
"Gak boleh ngomong jorok" kesal Nada memperingati. Kean mendadak bisu, kalau bininya udah ngomong Kean bisa apa. "Mau jalan jalan dulu gak?" Nada menatap Kean serius.
"Kemana?"
"Ikut aja!" pintanya kepada gadisnya. Kean membawa mobilnya membelah jalanan, disinilah dia dipusat perbelanjaan mewah, dimana seorang gadis dan ibu ibu menjanjakan kesenanganya.
"Kok kesini?" tanya Nada bingung, ini tempat jewelry brand. Seorang Nada yang polos juga tau kalau ini tempat yang selalu diidam idamkan semua kaum hawa.
"Mba cari liontin yang paling bagus" ucapnya kepada pelayan di sana. Berbondong bondong mereka membawakan liontin terbaik.
"Yang ini" Nada menutup bibirnya, ia shock melihat Kean menunjuk liontin tercantik dari deretan lainya.
"Sini aku pakaikan" ucap Kean lalu memasangkan liontin itu tepat di depan Nada, sehingga posisinya sangat intim seperti orang berpelukan dan sangat dekat. Kean saja bisa menghirup aroma nafas Nada, tak jauh berbeda dengan Nada, yang menikmati aroma tubuh Kean.
Setelah melakukan transaksi mereka pulang ke apartemen, Nada yang sejak pulang menarik ujung bibirnya membuat Kean tersenyum bahagia. "Seneng?" Nada mengangguk, ia bahagia, tapi lebih bahagia jika Kean sudah mencintainya.
Kean meremat jemari Nada, ia bahagia melihat Nada bahagia. "Key..." Kean menatap Nada yang memanggilnya. "Boleh aku tanya sesuatu?" Kean mengangguk.
"Tanyakan, aku akan menjawabnya dengan senang hati." ucapnya bahagia.
"Sudahkah kamu mencintaiku?"
__ADS_1
*NB buat kalian yang suka cerita berdampingan dengan dunia medis, tengok ceritaku di Gadis Liar dan Nikah Muda, ceritanya bikin greget dan nambah pengetahuan.