
Kean memasangkan liontin itu di leher Nada. "Sebentar saja Nad" ucapnya yang masih memeluk erat Nada dari belakang.
Nada menarik liontin itu dengan kasar hingga putus, dan membuat guratan panjang di leher. Kean syok melihat liontin itu Nada tarik hingga putus.
"Kamu tahu ini apa artinya Key?" Nada melepas paksakan tangan Kean di leher Nada, lalu berbalik tepat di depan Kean.
"Aku membenci semua perasaan yang berhubungan denganmu" ucapnya membuat Kean sakit hati.
'Seperti ini rasanya diabaikan'
'Ternyata Nada sesakit ini dulu'
'Bahkan jauh lebih menyakitkan'
Kean melepaskan pelukanya, menahan sesak yang kian mencekik paru parunya. "Maaf Nad" Kean mundur, tidak berani mendekati Nada lagi. Nada melangkah maju meninggalkan Kean yang berada di belakangnya.
Sesampainya Nada di kamar ia menatap pantulan dirinya di cermin. Lalu menangis sendiri.
'Apa aku egois jika belum bisa menerima Kean?'
'Apa aku terlalu jahat bila memperlakukan Kean seperti itu'
'Maaf Key'
'Maaf'
'Aku hanya tidak mau jatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya'
Kean yang memasuki kamarnya kembali menuju balkon. Dia mengambil batangan rokok lalu menyalakanya. Terlihat jelas dari kamar Nada Kean yang sedang merokok. Masih terlihat tampan terkena sinar remang di balkon kamarnya.
drrrt
drrrt
drrrt
"π hallo "
"π......"
"πDirumah"
"πIjin sehari lagi lah bang"
"π......."
"πNada balik bang, dan lagi ada masalah di kerjaanya, jadi gue ijin besok gak masuk"
"π....."
"πIah besok tugas gue ambil terus gue refisi lalu gue anterin ke kampus"
"π....."
"πBang..... Tugas gue kirim email biar gue revisi, besok gue anter ke kampus bisa!"
"π......"
"πIa deh terserah, yang penting tu tugas kirim ke rumah, biar gue revisi sekarang!"
"π......."
"πIa ... ia makasih"
Nada mendengar semuanya, mendengar jawaban bahwa Kean ijin demi mengurus masalah Nada. Jujur Nada seneng, tapi bahagia di atas penderitaanya apa menurutmu itu baik.
Nada menutup ghordenya, ia tau Kean saat ini sedang menatap kamarnya. Perasaan bersalah pun bersarang di lubuk hatinya.
'Sudahlah lupakan'
'Aku sangat lelah hari ini'
Nada memejamkan matanya perlahan, tapi yang ada dalam ingatanya hanya Kean Kean dan Kean.
'Ya Alloh, ada apa denganku hari ini, kenapa sejak tadi fikiranku kacau'
Lagi lagi ingatan Kean yang memeluknya erat dari belakang membuat tubuhnya merinding, seakan debaran demi debaran mengusik perasaan yang saat ini memang mulai menggunung kembali.
Nada mulai terlelap dengan tidurnya, memulai mimpi mimpinya bersama Kean. Beberapa menit berlalu ia terbangun kembali. Ia mendengar deru motor keluar dari garasi rumah.
__ADS_1
'Kean'
'Mau kemana dia?'
Nada membuka ponselnya, lalu terdapat sebuah pesan masuk dari Kean. Kean memang sangat rajin mengabarinya terhitung sejak Nada bertemu kembali dengan Kean.
Kean
Aku pergi sebentar ke rumah sakit ada perlu
Nada hanya membacanya, tapi jujur pesan itu sebuah kabar yang memang Nada ingin tahu.
'Dulu seharusnya Kean seperti ini'
'Dulu seharusnya Kean membalas perasaanya'
Nada beranjak mengambil air wudu lalu menjalankan sholat malam, dilanjut sholat hajat dan istikhoroh. Setengah jam berlalu motor Kean terdengar kembali.
Lega itulah yang dirasakan Nada saat ini ketika seorang suami yang pergi telah kembali. Sudut bibir Nada kembali tersenyum. Setelah itu Nada terlelap dengan tidurnya.
Tapi tidak dengan Kean, ia merevisi tugasnya hingga pagi menjelang subuh. Setelah beberapa menit adzan terdengar membuat Kean bangun karna tetangga kamarnya telah mencuri perhatianya.
Kean bangun dengan berat mata, hatinya bahagia ketika melihat Nada yang sudah menyapu kamar dan membuka balkonya. Setelah sekian lama akhirnya kamar sebelah berpenghuni juga.
Kean beranjak mengambil air wudu lalu menunaikan sholat yang sudah sangat lama ia tinggalkan. Tenang itulah perasanya sekarang.
Di bawah sana ada Nada yang sudah berkutat dengan masakan dengan bundanya. Pemandangan seperti inilah yang Kean tunggu sejak lama.
Ayah dan Cashel sudah berada di meja makan. Kean dengan segera menyusulnya. "Hai anak papah yang ganteng" Satu kecupan mendarat di pipi Cashel yang sedang asik memainkan mainanya.
"Hai papah my superhero" Mereka bertos ria ala ala pria dewasa. "Papah kok gak cium mamah si?" ucapnya membuat Nada menghentikan aktifitasnya sebantar dan terpaku menatap Cashel. "Cium dong pah!"
Wajah keduanya memucat, mendengar permintaan sang anak, lalu dengan perlahan Kean mendekatkan kepalanya ke pipi Nada, Nada yang tau Kean akan menciumnya pun memberikan akses pipi kirinya untuk di cium.
Cup
Deg
'Romantisnya ya Alloh putra dan putriku'
Getaran itu masih sangat kuat di hati Nada, kali ini Nada jadi salah tingkah, membuatnya mengambilkan Nasi begitu banyak untuk Cashel.
"Papah tadi gak sholat subuh ya? cerca Cashel membuat Kean malu.
"Sholat yah, tapi kesiangan hehe" jelasnya kepada sang putra. Lalu menerima uluran nasi dari Nada yang lengkap beserta lauknya
'untung Cashel mengalihkan pembicaraan kalau tidak udah deh bikin malu aja permintaanya tadi'
Hening itulah satu kata ketika mereka menyantap makananya. Cashel dan Nada pun tidak terbiasa makan dengan banyak bicara, karna sunahnya makan tidak boleh sambil ngomong.
"Nad, Cashel biar kami yang anter sekolah ya!" Waktu memang sudah menunjukan pukul 6.00 WIB.
"Ia Nad, nanti pulangnya juga biar kita yang jemput. Kita pengin jalan jalan bareng Cashel juga." Berhubung Cashel masuk sekolah pukul 07.00 mereka segera beranjak dari duduknya.
"Ia yah bun" terang Nada, Nada bisa apalagi jika mereka ingin menghabiskan waktunya dengan oma dan opanya.
"Mah.... Pah.... Cashel berangkat sekolah dulu ya" Pamitnya sambil mencium tanganya lalu nyelonong mencium pipinya. Begitu juga kepada Kean. "Assalamualaikum"
"Waalaikum salam Shel, hati hati ya" ucap Kean dan Nada kompak.
Setelah kepergian mereka tinggalah Nada dan Kean, Kean yang duduk menunggui Nada yang sedang membereskan makananya.
"Nad...." Panggilnya membuat aktivitas mencuci piringnya terhenti.
"Yah...."
"Kalau seandainya kamu gak usah kerja dulu, gimana?" Saran Kean dengan sangat hatj hati.
'Aku takut kamu akan marah ketika aku memberikan saran ini'
Sejak pagi Nada terbangun sudah memikirkan masalah ini. Bahkan ia gengsi saat ingin meminta bantuan kepada Kean untuk menyelesaikan masalahnya yang kemarin.
Jujur Nada trauma, jika kejadian kemarin terulang kembali. Nada tidak mau bertemu dengan suami teman alumninya di sana.
'Memang ini yang aku mau Key'
'Seandainya aku disuruh berhenti dari sana aku juga akan siap'
'Ternyata di peluk lelaki lain lebih menakutkan dibandingkan dipeluk kamu'
__ADS_1
'Sejak semalam aku memikirkan masalah ini'
'Aku malu sebenarnya ingin meminta bantuanmu'
'Apalagi setelah kejadian semalam yang jelas menyakitimu'
Nada mengangguk mengiyakan membuatnya mengembangkan senyum indahnya.
Kean beranjak dari kursinya, ia akan pergi ke kampus niatnya mengantarkan revisian yang ia begadangkan semalaman. "Key..." panggil Nada dengan lembut, membuat sang pemilik nama berbalik menatapnya.
Kean menatap Nada dengan senyum yang menawan. "Yah"
"Antarkan aku pulang!" Kean kaget, ada apa gerangan Nada ingin balik ke rumahnya.
"Tapi Nad..."
"Aku hanya ambil baju Key" Kean mengangguk, fikiranya mendadak blenk ketika Nada meminta pulang.
"Aku mandi bentar" jelasnya kepada Nada lalu kembali berjalan menuju kamarnya.
Setelah 1 jam Nada dan Kean sudah siap membelah jalanan. Sejak tadi mereka saling diam, tidak ada yang memulai percakapan.
"Nad...." Nada menatap Kean yang sedang fokus memutar kemudinya. "Mampir sebentar aku mau mengantarkan tugas revisian" ungkap Kean yang mengambil arah berbeda. Nada mengangguk mengiyakan.
Setelah 15 menit akhirnya mereka sampai di kampus dimana Kean menimba ilmu. "Kamu mau ikut masuk atau...."
"Aku tunggu disini aja Key." Kean mengangguk lalu meninggalkan Nada yang bersandar di mobil.
Nada mengeluarkan ponsel milik Cashel yang tertinggal, lalu mulai menscrol foto foto yang berada di galerinya. Ujung bibirnya merekah menampilkan senyum yang indah, beberapa potret milik Kean dan Cashel yang begitu menarik perhatianya.
"Nad" Nada menoleh ke arah Kean,masih tersisa senyum indah di bibirnya.
"Key...."
'Andai senyum itu miliku Nad, mungkin akulah lelaki yang paling beruntung'
"Sudah Key?" Kean mengangguk lalu berjalan membukakan pintu untuk Nada.
"Key....." Seorang wanita yang berteriak memanggil nama Kean. Suaranya familiar. Yah dia Bunga. Dia kerap kesini hanya untuk menemui Kean.
"Bunga"
"Nada"
Kedua wanita ini saling berhadapan. Sesaat membuat Nada sedikit kesal.
'Ternyata mereka masih ada hubungan'
"Bukanya sudah aku katakan Nga, jangan kesini lagi" Bunga mendadak kaku mendapat penolakan Kean.
'Aku fikir Kean masih bersama Bunga'
"Nad aku minta maaf" Kali ini Bunga mendekati Nada, entah apa motifnya, tapi Bunga saat ini sedang bersitatap dengan Nada
"....." Nada diam tidak menjawab ungkapan permintaan maaf Bunga.
"Nad..." Aku minta maaf karna aku sudah membuat kamu dan Kean terpisah"
'Dasar wanita munafik' Nada kesal sangat kesal kepada Bunga yang bermuka dua.
'Wanita ini adaah wanita perusak hubunganku dengan Kean
'Aku ingin lihat apakah Kean benar benar sudah tidak mencintai Bunga'
Plak
Satu tamparan mendarat sempurna di pipi Bunga. Nada menatap Kean yang memang tidak mempunyai ekspresi apapun.
"Kenapa kamu menamparku Nad, aku salah apa, aku hanya minta maaf"
Plak
Kali ini Kean hanya menatap Nada yang dengan jahatnya menampar Bunga hingga dua kali. Tapi wajahnya biasa saja, tidak ada rasa iba kepada Bunga di wajah Kean.
'Kean sudah benar benar melupakan Bunga'
Bunga memegang pipinya yang kemerahan akibat dua tamparan di pipinya. "Nad aku cuma minta maaf, apa perlu kamu sejahat ini?"
"AKU HANYA AKAN MEMAAFKANMU JIKA KAMU SUDAH MENGAKUI SEMUA PERBUATAN BUSUK KAMU, SAMPAI KAMU MENDEKAM DI PENJARA DAN GILA SEPERTI IBUMU NGA"
__ADS_1