
Jangan terburu-buru membenci, dan jangan berlambat-lambat memelihara persahabatan! Perdamaian itu layak diperjuangkan
* *
"Ajak Bintang" Kean menatap datar ucapan Nada.
"Kamu sebenarnya ada apa sama Bintang, main rahasia rahasiaan segala?"
Deg
'Haruskah aku menceritakan semua tentang Bintang'
"Bukan apa apa Key" ucapnya pada Kean.
"Serius?"Nada mengangguk, lalu kembali duduk di samping Kean.
"Suatu saat kalau Bintang mau, dia akan cerita sama kamu." ucapnya meyakinkan.
Kean mengangguk, ia yakin istrinya tidak akan menghianatinya. "Nad ayo bersiap" ajaknya pada Nada.
"Ini masih jam 7 Key, seriusan mau berangkat sekarang?" Kean mengangguk, lalu memperlihatkan pesan chatnya dengan Cila pada Nada.
"Ya udah ayo packing!" Ajak Nada pada Kean. Mereka berjalan ke kamarnya masing masing lalu mengepak barang bawaanya.
Tak lama sebuah pesan bahwa Cila dan Cakra sudah berada di garasi apartemenya muncul. "Nad..... Nada....."
"Ya...." suaranya terdengar masih dalam kamarnya.
"Ayo!" Nada keluar dengan koper berwarna peachnya. Kean dengan cepat mengambil alih koper tersebut lalu berjalan keluar.
Sesampainya di luar garasi, Cakra dan Cila sudah menunggu, dan mereka masuk ke dalam mobil. "Kalian udah siap?" tanya Cakra, Kean dan Nada mengangguk.
Cila hanya diam, ia masih menikmati mobil yang telah membelah jalanan dan entah apa yang dipikirkan olehnya hingga ia tak dapat lepas dari pemandangan jalan yang biasa biasa saja menurut Cakra.
"Cil...." Cila tidak merespon
"Cila...." Antara Kean dan Nada sudah tertidur pulas. Cakra menatap keduanya lewat spion di atasnya. "Dasar Kebo" kesal Cakra. Cakra kembali memperhatikan Cila yang tampak murung.
"Cillll" Cila kaget, lalu menoleh kepada Cakra, begitu juga dengan Kean dan Nada yang terbangun akibat suara keras milik Cakra.
"Toa loe Kra" kesal Cila.
"Loe kesambet, dari tadi gue udah panggil loe sampai 20 kali" Cila melempar bantal di pangkuanya kepada Cakra.
bugh
"Arghhh Lagi nyetir ini Cil"
"Rese si loe"
"Jangan pada tidur, gue bukan supir bege!" Kesal Cakra yang ditinggal tidur oleh semua orang. Namun tetap saja mereka tertidur. Sampai 4 jam perjalanan udara disana masih sejuk, dan mereka sampai di villa tentunya milik keluarga mereka.
" Masuk" Ajak Kean pada Nada.
"Ini villa milik siapa?"
" Milik keluarganya Cila yang jelas" mereka memasuki ruangan yang lumayan megah itu, lalu menuju ruang belakang dimana tanah yang luas itu akan dibuat untuk bercamping nanti malam.
Setelah berkeliling, semuanya menjatuhkan tubuhnya masing masing pada sofa. Yah mereka terserang kantuk yang luar biasa. Terlebih Cakra yang selama 4 jam itu belum istirahat.
"Cakra ...... Kra...... Cakra.....gih sana diriin tenda!" pinta Cila kepada Cakra sambil membangunkanya.
"Nantilah agak maghriban" jawab Kean " Ia gue cape mau merem dulu" ucap Cakra yang langsung menubruk sofa di depanya kembali. Rasa lelah dan kantuk mengganggu sejak tadi. Namun Cila dengan kesal membawa tendanya ke belakang.
"Astaga.... bini apa si kaya gitu" Kesal Cakra yang kemudian ikut menyusul Cila. "Gak bisa apa biarin gue istirahat bentaran." Kean dan Nada hanya tertawa.
"Mereka lucu" ucap Nada yang tersenyum. Kean yang menatap Nada tersenyum terpaku, entah apa yang membuatnya seperti terhipnotis.
"Kamu juga lucu" Nada mendadak kaku, lalu menatap Kean yang masih menatapnya dengan serius.
'subkhanalloh indah banget ciptaanmu ini ya Alloh'
"Nad.... " Kali ini Keanlah yang melihat Nada sedang terpaku. "Ia ganteng Nad, gag usah segitunya ngliatinya." mendadak Nada cengo akibat tingkahnya sendiri.
Nada berjalan keluar mengikuti Cila dan Cakra. "Jiahhh salting."
Mereka saling mendirikan tenda, Cila dan Cakra, Kean dan Nada.
Setelah beberapa menit tenda telah terpasang sempurna. Alat masak pun sudah di depan tenda. Serta api unggun untuk nanti malam sudah disediakan. Jelas saja sudah disiakan karna ada pengurus villa yang membantu.
Tidak perlu ijin penduduk atau apapun, mereka semua sudah sah, dan kemungkinan memang tidak ada yang berniat melakukan hubungan suami istri.
Nada kembali menyiapkan masakan, dari yang mentah hingga yang matang. "Cil, gak minat belajar masak emang?" Cila memanyunkan binirnya kepada Cakra.
"Ngapain ada pembantu juga, toh bunda aku gak pinter masak....."
__ADS_1
"Dulu Cil, sekarang pinter banget kan masaknya" potong Kean.
"Duh, gak usah banyak protes deh kalian. Toh ayah aku aja sampai sekarang masih cinta banget sama bunda. Walaupun bunda cuma bisa kasih 1 anak, dan ayah gak pernah tuh ngurangin rasa perhatian dan sayangnya" ucap Cila menggurui Cakra.
"Bedalah, ayah dulu itu kan pernah ditinggal bunda...."
"Sama aja, gak usah banyak omong" potong Cila dengan kesal. Lagi Nada tersenyum
"Kamu lucu Cil" ucap Nada. Cakra yang mendengar Nada memuji Cila tampak tal suka.
"Apanya yang lucu." tanya Cakra " wanita jadi jadian kaya gitu lucu."
"Enak aja, suami lakhnat emang kamu" Cila melempar Cakra dengan kerikil kecil.
Setelah makan sore, mandi dan bersiap siap sholat maghrib berjamaah. Tentunya penjaga villa yang menjadi imamnya. "Mana ada Cakra sholat" ledek Cila. Cakra cemberut, lalu menatap Cila dengan kesal
"Loe juga gak pernah sholat"
"Yang masih suka sholat itu ayah bunda sama oma dan opa" ucap Cila.
"Udah udah jangan ribut terus, Api unggunya mau dinyalain gak?" tanya Kean menengahi.
"Bakarin aja tuh ke Cakra"
"Emang gue ayam bakar? Enak aja" jawab Cakra sewot. Kean menyalakan api unggun lalu mengambil gitar kesayanganya.
Tak lain dengan Cakra, ia juga mengambil gitarnya "Mau request apa cinta"
"Ih najis jangan galay deh?" Nada menautkan alisnya melihat tingkah Cakra dan Cila yang ribut terus kaya tikus dan kucing.
"Apaan gelay?"
"Generasi anak alay wakakkakak" jelas Cakra.
"Jangan ketawa.... jelek " itu Cila, yang tak pernah suka kepada Cakra.
"Salah mulu gue" Cakra tampak diam. Lalu kembali menyetel gitarnya. "Lagu Kekasih bayangan gue persembahkan untuk istri gue tercinta yang belum bisa move on dari bayanganya Abi"
"Kampret emang kamu Kra" gerutu Cila yang tertabrak oleh suara gitar Cakra
Padamu pemilik
Hati yang tak pernah kumiliki
Yang hadir sebagai
Reff
Engkau aku cinta
Dengan segenap rasa di hati
Selalu 'ku mencoba
Menjadi seperti yang engkau minta
Aku tahu engkau sebenarnya tahu
Tapi kau memilih seolah engkau tak tahu
Kau sembunyikan rasa cintaku
Di balik topeng persahabatanmu yang palsu
Kau jadikan aku kekasih bayangan
Untuk menemani saat kau merasa sepi
Bertahun lamanya kujalani kisah
Cinta sendiri
prok prok prok
Tepuk tangan meriah dari Kean dan Nada. Sayangnya Cila tidak, dia terlalu acuh kepada Cakra. "Kurang bagus nie?" tanya Cakra pada Cila.
"Jelek gitu"
"Astaga......Salah mulu gue" pasrah Cakra, Nada yang melihat Cakra pasrah merasa iba.
"Bagus ko Kra, suara kamu bagus." jelasnya. Sayangnya Cakra sudah dalam mood yang buruk. Kean yang mendengar itu malah sedikit cemburu.
"Mau nyanyi lagu gak? tanya Kean kepada Nada?"
"Lagu apa?" Kean mengedikkan bahunya merasa bingung.
__ADS_1
"Terserah kamu"
"Aku sayang kamu, lagu tahun 1970 an lagu kesukaan orang tua aku" jelas Nada.
"Tau gak punya siapa?" tanya Kean yang asing dengan lagu itu
"Cindy Claudia" Kean mulai mengetikan pada mbah nya si raja informasi yaitu google lalu melihat kunci gitarnya.
"Bisa?" Kean memgangguk membuat mata Nada berbinar.
"Kita mulai, kamu bantu aku nyanyi ya!" Nada mengangguk, petikan demi petikan mengiringi lagu itu
- Cindy Claudia Harahap
Aku Sayang Kamu
Dan senja datang mengusik rinduku
Berteman angin dan derunya ombak
Seakan berbisik tentang cerita cinta
Menyibak tirai kerinduan
*
Andaikan saja kau ada disini
Berbagi rasa kisah kasih kita
Andaikan kau tahu apa yang kurasakan
Didalam hati kecil ini
#
Kuingin engkaupun mengerti
Betapa ku mencintaimu
Dan takut kehilangan dirimu kasih
Seandainya engkaupun tahu
Getar-getar yang kurasakan
Betapa aku menyayangi dirimu
Rep to [*]
Rep to [#]
Seandainya engkaupun tahu
Getar-getar yang kurasakan
Betapa aku menyayangi dirimu
"Liriknya penuh makna" ucap Kean, Nada mengangguk, "dalem banget lagi" Cakra dan Cila entah kemana, sudah tidak ada batang hidungnya.
Kean dan Nada berbaring di atas rerumputan dengan alas karpet, di depanya ada api unggun yang menghangatkan tubuh mereka dari kejamnya angin malam.
Di atasnya ada langit berhiaskan rasi bintang yang indah. Bulan sabit yang menandakan penanggalan di Jawa menunjukan tanggal muda.
"Bintangnya cantik" ucap Kean
'secantik wanita yang ada disampingku' itu hanya di dalam hatinya. Tidak Kean utarakan.
"Ia bagus banget" lanjut Nada.
'Andaikan malam malam seperti ini bisa terus aku lalui, maka akan aku pertahankan hubungan ini sampai ajal menjemput Key'
'Ya Alloh, hamba ingin bersamanya sampai akherat nanti'
Kean masih menatap langit yang cerah itu, sedangkan Nada masih terpaku memandang wajah tampan milik Kean.
"Nad seandainya aku bikin salah yang fatal, apa kamu akan meninggalkanku?" Nada menatap Kean dengan serius.
"Tergantung" Kean menatap penuh pertanyaan wajah Nada. " Kalau hatiku masih kuat maka akan aku pertahankan, tapi jika tidak aku lepaskan"
Bonus Visual
Nada
__ADS_1
Kean