
Ketulusan dan Kejujuran adalah kunci kebahagiaan yang sempurna
* *
"Key...." Sapa ulang Bara pada Kean.
"Yah..... ehm belum"
"Key...." Dari sebrang suara Derrick terdengar nyaring. "Sendirian aja, mana Nada? Katanya mau di ajak. "
Deg
'Nada'
'Jadi Nada udah balik'
"Key....." Tatapan Bara seolah menuntut sebuah penjelasan yang sangat jelas dari Kean.
"Gue hubungi loe nanti" Ucapnya ingin berlalu meninggalkan Bara, tapi Bara justru mencegahnya.
"Dimana Nada Key?" Langkah Kean terhenti, ia tidak ingin memperpanjang masalahnya dengan Bara.
"Dia baru balik Bar, nanti gue sampaiin salam dari loe, kalau loe mau lihat dia langsung, loe bisa datang ke rumah gue!" Pinta Kean pada Bara.
"Ngobrolin apa si kalian?" Setelah mendekat barulah Derrick sadar bahwa yang ada di sampingnya adalah Bara.
"Loh Bar..... Elo, gimana kabar ? Sehat?" tanya Derrick pada Bara.
"Sehat bang, loe gimana?" tanyanya balik membuat perhatian Bara terfokus pada Derrick.
"Baik Alhamdulillah" jelasnya singkat. "Loe disini lagi...."
"Papah di rumah sakit, dari semalam darah tinggi beliau kumat" jelasnya dengan tutur santai, sedangkan Kean disana sudah hendak berlalu.
"Gue cabut bang!" ucap Kean berjalan meninggalkan Derrick dan Bara.
"Kabur aja loe..... Ikut gue loe, udah ijin 2 hari, loe pikir loe bisa lolos gitu aja." Ucap Derrick kesal lalu menarik Kean dari lobi menuju ruangan khusus.
"Bar duluan yah, semoga bokap loe cepet membaik!" ucapnya singkat dan berlalu setelah melihat Bara menganggukan kepalanya.
'Kenapa gak kabarin gue Nad'
'Apa menurut loe, perasaan gue cuma angin lalu buat loe Nad'
'Padahal gue selama ini nunggu loe'
'Benarkah tidak ada rasa sedikitpun di hatimu?'
Bara terdiam lama disana, sampai pikiran pikiran konyol yang bersarang dikepalanya ia hilangkan paksa. Hatinya masih sama masih sangat mencintai Nada.
'haaa'
'sadar Bar, loe siapanya?'
'Bahkan setelah Kean dengan kejamnya menyakiti Nada, Nada masih memilih balik kepada Kean'
Bara berjalan dengan gontai, fikiranya penuh dengan kenanganya bersama Nada. Ingatan indah yang selalu membuat Ara tidak bisa melupakan Nada.
'Mulai hari ini kita teman'
'Ayo gue anter balik'
'Aku suka sama kamu Nad'
'Ayo lari sama aku Nad'
'Aku mau jadi pengganti Kean'
'Bar, aku mundur posisi OSI ini akan lebih pantas buat kamu'
'Kamu gak pengin ayah kamu marah sama kamu kan'
Sungguh hatinya seperti diremat, jantung nyeri dan paru parunya seperti tak punya pasokan oksigen sesak. Dia bahkan berkorban banyak untuk Nada, bukanya pamrih tapi Bara memang mengharapkan Nada bersanding dengan dirinya.
Bara sampai di ruang perawatan ayahnya. Ia lihat sosok ayah yang selalu mengekangnya, mengaturnya dan memintanya untuk sempurna.
Ayahnya, sosok yang sedang terbaring di sana, ada perawat yang sedang memberikan edukasi sambil membantu ayahnya kembali ke branarnya.
ceklek
"Kenapa dengan ayah saya sus?" Suster itu menatap kesal wajah Bara, meskipun tampam, tapi ia sangat marah pada Bara.
"Anda putranya?" Bara mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
"ayah anda tadi terjatuh di kamar mandi, dan tensinya naik." ucapnya datar tanpa ekspresi.
Deg
"Bagaimana bisa?" tanya Bara keheranan.
"Anda walinya, kenapa meninggalkan pasien sendiri di ruangan?" Bara gelagapan, ia tadi hanya ingin mencari angin, berujung dengan bertemu Kean, dan terfokus pada masa lalunya.
"Pasidn seharusnya bed rest mas" wajah itu sudah tak lagi ramah, entah bagaimana ceritanya justru perawat itulah yang lebih marah pada Bara. "Dia tidak boleh ke kamar mandi, kalau sampai jatuh dan terjadi stroke perdarahan (hemoragic) yang mengakibatkan kematian bagaimana mas?"
Deg
"Stroke sus?" Suster tersebut mengiyakan.
"Lain kali jangan biarkan pasien ke kamar mandi sendiri mas!" Ucapnya yang kemudian memasang manset di lengan kirinya.
shut
shut
shut
"Tensinya 220/120 mas" ucapnya memberitahu, lalu dengan tergesa gesa melepas mansetnya. "Saya konsulkan dulu ke dr. nya mas" Perawat tersebut bergegas keluar untuk melakukan konsul kepada dr. jaga
Tak lama sekitar 5 menit perawat tersebut kembali dengan membawa tempat obat. "Maaf mas tadi udah saya konsulkan kepada dokter dan disuruh minum obat ini!" ucap perawat yang tadi marah marah pada Bara.
"Obat apa sus?" tanya Bara ingin tahu.
"Ini obat agar tensinya turun, sangat berbahaya jika sampai pasien terkena strok perdarahan maupun non perdarahan" jelasnya mendekat pada ayah Bara.
"Maaf pak ini obatnya diminum, tapi minumnya tidak langsung di telan, di letakan di bawah lidah" ucapnya dengan sabar. Bara yang melihat itu heran, gadis didepanya tadi marah marah, sekarang bisa lembut.
Setelah perawat itu berlalu, Bara duduk di samping ayahnya, ayahnya meneliti wajah Bara yang masih memperhatikan perawat tersebut. "Cantik, dan lagi dia sangat sabar menghadapi ayahmu ini"
"Ayah menyukainya?"
"Ngawur kamu Bar! Buat kamu, sudah tua gak nikah nikah, lumayan itu, bisa jagain bapak kalau lagi sakit" jelas ayah Bara.
"Bapak aja yang nikah sama dia" wajah Bara nyebelin kalau boleh ayahnya pengin banget nonjok.
"Kamu loh ya..... Sembrono kalau ngomong sama ayahmu" ucapnya ketus kepada Bara, kemudian ayahnyabtidir membelakangi Bara yang terduduk di sofa.
*
tok
tok
"Nad"
"Nada..." panggilnya lembut kepada Nada.
ceklek
"Yah Key" ucapnya lembut menatap wajah Kean. Sempat wajah itu menghipnotisnya, tampan itulah Kean dengan setelan rambut acak acakan, berbalut snellinya. Celana jeans warna coklat dan kemeja berwarna coklat tua.
Wajah itu masih membuatku terbuai setiap saat aku memandangnya
Kean tersenyum begitu juga dengan Nada yang menampilakan deretan gigi yang putih dan rapi. "Cashel udah sekolah?" Nada mengangguk mengiyakan.
"Bisa ikut aku sebentar Nad?" ajak Kean pada Nada. Nada menautkan alisnya ia tidak tahu akan di ajak kemana oleh suaminya ini.
Lalu ia menganggukan kepalanya, Nada juga tidak bertanya akan di bawa kemana dirinya. "Kamu siap siap dulu, aku juga mau mandi" jelasnya lalu meninggalkan Nada di depan pintunya. Nada pun kembali masuk ke dalam kamarnya dan bersiap siap.
15 menit berlalu, Kean sudah duduk di depan kamar Nada, ia menanti Nada keluar dari kamar.
ceklek
Kean tertegun menatap Nada dengan baju santai nerwarna peach polos setelan atas bawah. Berpadu dengan krudung berwarna navy, membuat Nada jauh lebih terlihat anggun.
"Key...." Tidak ada respon dari Kean. "Key....." lagi ulang panggilanya dengan suara lebih naik dan mendekat pada Kean.
puk
Satu tepukan di lengan Kean membuat Kean mengerjap "Kean...."
"ehh..." Kean tersadar lalu mengusap tengkuknya yang tak gatal. "Maaf Nad" serunya kepada Nada, ia mengalihkan pandanganya karena tertangkap basah memandangi Nada.
"Ayok" ajak Kean kepada Nada mengalihkan pembicaraan, tak lama mereka sudah membelah jalanan yang ramai dan padat pengendara.
"Kamu gak ngantuk Key?" tanya Nada yang melihat Kean menyetir, ia melamun, membuat Nada takut kalau Kean lelah.
"Semalam pasienya sedikit, jadi bisa tidur" ungkapnya, menatap Nada candu.
__ADS_1
'Cantik banget'
'MasyaAlloh'
'Bener bener pengin banget gue ke-'
'Kotor mulu pikiranya Key'
'Astaghfirulloh'
'Ternyata godaanya sekuat ini'
'7 tahun gak ketemu'
'Ternyata rinduku menggunung seperti ini'
Kean kembali fokus, ia sadar di jalanan seperti ini tidak baik terlalu banyak berkhayal. Ingjnya si berkhayal sampai ke hal yang tidak mungkin ia dapat kembali.
Kean menepisnya, sudah dapat bertemu dengan Nada saja ia bahagia, bonus Cashel putranya yang sangat tampan itu. Apalagi Nada sekarang sangat lembut, tidak seperti saat bertemu pertama kali.
"Ayok!" ajak Kean.
"Kok kesin-"
"Katanya mau lanjut kuliah" Bibir Nada melengkung menampilkan senyum mematikan itu. Yah akhir akhir ini senyum itu selalu hadir dalam pikiran Kean dan tidak bisa berhenti, sampai pekerjaanya sedikit kacau karna memikirkan Nada.
'Subhanaloh'
'Astaghfirulloh jantungku'
Kean dengan cepat berjalan menggandeng tangan Nada. Nada diam ia tidak menolak Kean yang menggandengnya.
Alesanya simple, di dunia luar Nada cuma pengin diakui sebagai seorang istri, ia takut kejadian kemarin terulang kembali, karna mereka mengira Nada seorang ibu tunggal.
"Nak Key?"
"Pak...." Kean menjabat tangan seorang pembimbin yang dulu lumayan akrab denganya. Namanya pak Harto. "Kenalkan istri saya" Pak Harto tahu istri Kean, yah karna Kean sempat menceritakanya.
Saat hendak menjabat justruNada mengatubkan tanganya. "Oh maaf" ucapnya sungkan, terlihat bahwa Nada seorang agamawis.
"Ada keperluan apa Nak?"
" Istri saya mau lanjut kuliah pak" Pak Harto manggut manggut lalu kembali menatap Kean. "Mari pak!" ucap Kean lalu menarik Nada erat berjalan menuju ruag administrasi.
*
Setelah mendaftrakan Nada yang memakan waktu hampir 30 menit itu kini mereka kembali membelah jalanan. Kean tidak mengatakan apapun kepada Nada, Nada hanya mengikuti.
'Ternyata ke rumah sakit'
Setelah berjalan agak jauh mereka sampai di taman rumah sakit, entah apa yang akan dilakukan Kean, tapi Nada tetap mengikutinya, bak anak kucing hang kehilangan induknya.
Kean mengeluarkan ponselnya lalu menelphone seseorang. Kean sudah siap, jika nantinya justru pertemuan Nada dan Bara justru akan membuat hubungan Nada dan Kean renggang.
Kean tidak mau menjadi pengecut yang menyembunyikan Nada dengan orang orang dari masa lalunya. Kean ingin memulainya dari kesalahan yang dulu pernah ia perbuat untuk tidak mengulanginya.
'Jika Nada memang masih mencintai Bara, aku ikhlas Nad'
"Key...." Nada menatap Kean serius, ia bingung sedari tadi diam di taman "Kita ngapain?"
"Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu Nad"
Deg
Nada selalu takut ketika ia akan bertemu dengan orang dari masa lalunya. Nada menarik nafasnya dalam, ia buang perlahan, lalu pejamkan matanya. "Siapa?"
"Nada"
Deg
'Suara itu'
'Seseorang yang pernah ada di hatiku'
'Seseorang yang selalu ada dikala semua orang menghujatku, dialah orang yang percaya padaku'
'Dialah yang menemani aku dalam duka'
Seseorang yang sampai detik ini masih mencintai Nada, dialah Bara, dia yang selalu berharap Nada membalas cintanya.
"Bara"
Mohon maaf bila Author tidak up, berhubung kemarin sedang ada masalah.🙏🙏
__ADS_1