Cinta&Luka PERJODOHAN

Cinta&Luka PERJODOHAN
30


__ADS_3

Hanya karena suatu hubungan berakhir, itu tidak berarti semuanya tidak berharga


* *


"Lelaki yang baik itu hanya setia satu wanita Key, ingat, Nada itu tanggung jawab kamu dan kamu harus bisa menjaga dan melindunginya" ucap Kenan yang menatap dan memegang pundaknya dengan serius.


"Key berjanji didepan Nada, bunda dan ayah, bahwa Key akan membahagiakan Nada dan melindungi Nada dengan nyawa Key sendiri." jawab Key lebih serius.


"Ingat Key, janji yang kamu ucapkan harus kamu tepati, jika tidak maka kamu akan menyesal di kemudian hari"


Seperti sebuah pesan yang memang kelak akan Kean rasakan penyesalanya.


'Kenapa hati ini mendadak takut mendengar sebuah ketidakpaduan antara ucapan dan hasilnya nanti'


'Nada, bunda, ayah seperti mengultimatum sebuah beban penyesalan yang begitu besar nantinya jika aku tidak bisa menepati janji'


*


Pagi ini Kean dan Nada bersiap untuk memindahkan baju baju mereka. Disana mereka akan tinggal berdua, tidak ada lagi pengganggu, tidak ada lagi yang membantu kegiatan mengurus rumah, dan mulai hari ini kehidupan rumah tangga yang sebenarnya mereka jalani.


Hanya satu yang dipermudah, masalah keuangan rumah tangga mereka masih diatur oleh bundanya. Mengingat mereka masih sekolah, dan mereka tidak mau kalau masa depan mereka menjadi korban karena mereka sibuk mencari nafkah.


"Akhirnya sampai" ucap Nada dengan mendorong kopernya sampai di apartemen ayahnya dulu. "Wahhh gede banget" ucap Nada yang menelisik ruangan demi ruangan.


" Ini dulu apartemen ayah" ucap Kean yang ikut meneliti ruangan demi ruangan. "Dulu ayah, bunda dan om Arion terlibat cinta segitiga, tapi sayang, ayah terlalu munafik untuk mengakui kalau ia mencintai bunda, sampai bunda sempat berpacaran dengan om Arion." Nada bergeming, ia tertarik dengan cerita suaminya.


"Kenapa ayah tidak tinggal bersama oma dan opa?"


"Karna oma sibuk mengurusi opa yang sakit, jadi ayah memilih hidup sendiri di apartemen, dan tante Ara hidup di Amerika. "ucap Kean masih dengan ceritanya.


"Tante Ara, mamanya Cila itu?" Kean mengangguk.


"Dulu tante Ara, dia sempat menjadi pasien vegetatif semacam mayat hidup yang terpasang alat selama 8 tahun, tapi apa kamu tau dia pernah dinyatakan meninggal dan sempat akan dikubur" Nada menggeleng, ia semakin tertarik dengan cerita Kean.


"Lelaki yang menculik jenazah tante Ara itu sahabatnya yang mencintai tante Ara selama 18 tahun, ia tidak ikhlas jika tante Ara meninggal begitu saja."


"Tunggu tunggu, mayat dihidupkan lagi, aku kurang paham" ucap Nada yang masih menganggap hal itu tidak rasional.


"Itu cuma para dokter yang tau, intinya sebelum alat penunjang medisnya dilepas, tante Ara itu diberi terapi henti jantung, dan matanya dibuat seperti mati" Ucap Kean, lama ia menceritakan kisah kisah orang tuanya.


"Waw .... om Saka hebat, pengin deh kaya dia" ucap Nada bersemangat.


"Kalau kamu mau kamu pasti bisa" ucap Kean membingkai wajah Nada.


"Kalau Derrick" Kean kesal, kenapa harus menanyakan Derrick sih.


"Iiih jawab!"


"Yah gitu deh" ucapnya tak jelas membuat Nada memanyunkan bibirnya.


"Om Arion dulu demi ayah dan bunda bersatu, berpura pura pacaran sama tante Ayra, eh cinta lokasi, dan tau tau tante Ayra kabur pas hamil Derrick." Nada menutup mulutnya rapat rapat.


"Cuma pura pura? Bisa punya anak?" Kean mengangguk, Nada menatap Kean dalam "Kok bisa si?"


"Khilaf mungkin"


"Terus-terus-terus?"

__ADS_1


"Udah" usai Kean yang selesai meletakan bajunya asal di lemari.


"iiiiihhh Kean"


"Mau di khilafin juga?" Kean menatap Nada yang berada di depan tubuhnya? Kali ini Nada langsung memundurkan langkahnya dan Kean ikut memajukan tubuhnya mengikati Nada.


"Ngeres dasar!" Nada menoyor kepala Kean dengan pelan lalu berjalan menuju kamar sebelahnya.


"Mau kemana Nad?" tanya Kean membuat sang nama membalikan tubuhnya.


"Beberes dulu." ucapnya disusul dengan sebuah pintu yang ditutup.


"Gue keluar bentar, nitip apa?" tanya Kean yang sudah bersiap dengan kunci motornya.


"Terserah deh mau beli apa" ucap Nada dari dalam sana. Kean yang mendapat jawaban legendaris dengan kata kata terserah itu, bergegas meninggalkan Nada.


15 menit Kean sampai di tempat makanan cepat saji, awalnya ia memang tak berniat membeli makanan, tapi mengingat hari ini hari pertama pindah ke apartemen, ia berinisiatif agar Nada tidak terlalu cape.


Setelah pertengahan jalan ia melewati gang di mana tempat tinggal Bunga, sejenak big maticnya ia berhentikan lalu menyalakan ulang dan berbelok ke arah rumah Bunga.


Di depan rumah ada Bunga yang sedang memanjakan tanaman hias di depan rumah, melihat Kean yang datang hatinya senang, namun mengingat perubahan Kean yang begitu drastis Bunga sedih, seakan memang hati Kean sudah bukan miliknya.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam" masih dengan suara yang lembut, Bunga memang tidak pernah marah ketika bertemu langsung dengan Kean, tapi ketika memasuki inti pokok permasalahan kadang kala emosinya memuncak dan hanya satu yang terjadi Bunga menangis Kean mengalah.


"Gimana kabar kamu Nga?" Bunga mengangguk lalu bersuara tanpa menatap Kean.


"Baik"


Sakit itulah hati Kean, mendengar wanitanya yang mulai pendiam ia juga takut. Kean berjalan berhambur memeluk Bunga, ia tau Bunga tak baik baik saja, ia tau banyak yang ingin ia katakan, banyak yang ingin ia ceritakan padanya.


Kean tau hanya dirinyalah sandaran hati Bunga, hanya dirinya tempat bercerita, berkeluh kesah, dan berbagi suka dan duka.


"Jangan seperti ini Nga, aku gak bisa lihat kamu seperti ini." ucap Kean mengusap kepala Bunga lembut.


Pecah lah semua duka, luka, sakit, dan perihnya. Kean benar dialah tempat pelipurlaranya. Hanya dia yang mampu membuat Bunga bertahan sejauh ini.


"Semua sudah berubah Key, kamu bukan lagi Kean yang dulu miliku, bukan Key pahlawanku lagi, bukan Key tempat berceritaku lagi, semua sudah berubah Key, berubah......."


Kean melepaskan pelukanya, ia menatap wajah ayu kekasihnya yang tingginya sedagu itu. Tatapanya seperti sebuah pertanyaan yang menuntut jawaban. "Maksud kamu apa Nga?"


Bunga tertawa, namun air matanya mengalir, membuat hati Kean lebih teriris. "Nga jawab!"


"Kenyataanya gitu kan? Lelaki yang dulu aku bangga banggakan sekarang sudah menjadi milik orang lain" Kean memegang pundak Bunga, ia juga kaget.


'Tau dari mana ia tentang hidupku yang sudah memiliki istri, apa..... Bara'


"Aku tidak bermaksud menyelingkuhimu Nga" ucap Kean dengan penyesalanya


'Sakit rasanya mendengar pengakuanmu yang satu ini'


'Lelaki yang aku kenal begitu setia, malah menghianatiku'


'Tapi aku sadar, tahta kita berbeda, bahkan mengingat keluargaku yang berantakan, aku bisa apa?'


'Ayahku selingkuh, lalu menikah lagi, dan tak perduli dengan kehidupanku'

__ADS_1


'Ibuku gila'


'Bahkan ibuku saja tidak bisa berbicara normal seperti orang tua lainya'


'Ibuku jahat, karna memintaku menghalalkan segala cara agar Kean jadi miliku'


'Aku....'


'Aku wanita berpenyakit, yang mungkin tidak akan bisa membahagiakanya'


"Kamu mengakui sekarang, bahwa Nada bukan hanya sepupu kamu, tapi dia tunangan kamu?" tanya Bunga tampak meminta kebenaranya.


'cukup Bunga tahu bahwa Nada adalah tunanganku, belum saatnya status Nada terungkap, akan banyak masalah jika orang lain tahu siapa Nada'


Kean mengangguk, ia tak sanggup jika harus mengatakan bahwa ia sudah menikah. "Maaf Nga" Kean kembali merengkuh tubuh Bunga yang modis, cantik, dan yang jelas dia adalah cinta pertama Kean.


"Kita putus Key" Kean menggeleng, ia tak bisa menjawab ia, karna jujur ia juga sakit saat ini.


"Nggak Nga, jangan ucapkan itu" Kean mempererat rengkuhanya, namun Bunga mencoba melepaskanya.


"Lalu kamu mau jadikan aku sebagai apa, selingkuhan?" Kean menggeleng ia tidak tau, tapi tidak mau melepas Bunga secepat itu.


"Jadi lelaki yang baik Key, Nada juga wanita, biarpun kenyataanya Nadalah yang menjadi pihak ketiga, tapi......" Bunga melepaskan pegangan tanganya dari tangan Kean.


"Dia tetap pemilik hati kamu yang direstui oleh orang tua kamu. Jadi lepaskan aku Key, jangan buat aku menjadi wanita jahat yang merusak hubungan kalian!" Kean masih mendengarkan kata demi kata yang keluar dari Bunga.


"Lalu kamu Nga, bagaimana dengan kamu, aku belum bisa melepaskanmu." ucap Kean yang sudah tampak frustasi. "Kita masih bisa berteman ia kan Nga" ucapnya penuh harap.


'Bagaimana mungkin berteman dengan seseorang yang aku cintai, memikirkan dia berjalan dengan wanita lain saja aku sakit, apalagi berteman dengan keduanya, itu menyesakan'


"Nggak Key maaf" Bunga memundurkan langkahnya alu berlari meninggalkan Kean di halaman rumahnya. Teringat jelas beberapa ucapan pedas yang ibunda Kean ucapkan kepada Bunga.


Flash Back On


"Kamu yang namanya Bunga? Boleh saya duduk disini" Seorang wanita yang elegan, cantik dan tidak familiar itu menyapa Bunga yang sedang duduk di sebuah cafe. Yah Zela yang menghubungi Bunga.


"Ia tante benar, silahkan!" ucap Bunga ramah


"Mau pesan apa?" tanya Zela ramah, sayagnya Bunga menggelengkan kepalanya.


"Maaf tante, bisa langsung ke intinya saja, karna saya sedang terburu buru, ibu saya kondisinya belum stabil" ucap Bunga, yah, ia meninggalkan ibunya yang sedang kumat dirumah.


"Tinggalkan Kean!" suara itu seperti petir yang menggelegar di sore hari. Ia tau hubunganya tak direstui, tapi tidak bisakah nanti saja orang tua Kean menentangnya.


"Boleh tau alesanya tante, soalnya Kean dan saya saling mencintai, apa karna latar belakang keluarga saya yang tidak baik, yang membuat keluarga tante menentang hubungan kami?"


Zela menggeleng, ia juga perempuan, ia juga pernah diabaikan oleh seseorang yang benar benar ia cintai, bahkan sampai dirinya lari dari kenyataan, dan saat kembali masih diabaikam oleh orang yang pada kenyataanya saling mencintai.


Sungguh permainan yang mengulur waktu hingga untuk sekedar bersama harus membuang gengsi dan mengorbankan banyak rasa diantara sahabat dan kerabatnya.


"Kean sudah bertunangan dengan Nada"


Deg


'Itukah alasanya, selama ini Kean berubah?'


'Itu jugakah alasanya ibunda Kean tidak mau menerimaku, karna sudah ada Nada?"

__ADS_1


__ADS_2