
Segerombolan lelaki berjalan dari lorong ke arah kanan, yah mereka para kopdar motor yang sedang diceritakan oleh Kalya. Sedangkan Nada dari arah Kiri menuju ke lorong tersebut, Nada hanya melihat segerombolan para kopdar tersebut berbelok ke arah yang berlawanan dan berjalan memunggunginya.
Deg
Deg
'Kenapa dengan jantungku'
Degupan jantung Nada berdenyut cepat. Membuat ia sesaat memelankan jalanya, dan memperhatikan mereka yang sedang berjalan memunggunginya.
'Gak mungkin itu Kean' jelasnya meyakinkan dirinya.
Nada berjalan menuju nurse station VVIP. Setelah memperkenalkan diri dan validasi pasien, suster Kalya mempersilahkan dr. Nada untuk melakukan pemasangan infus.
"Yakin nie dokter bisa nginfus?" tanya Zen, yah dia si penakut yang takut jarum.
"Aku pastiin ada 5 tusukan nanti" jelas Nada kepada Zen. Zen mengerucutkan bibirnya, lalu menatap Nada lekat lekat. Kalya menyenggol lengan Nada.
"Dok, tadi yang nyuruh dokter kesini itu direktur rumah sakit." bisik Kalya pada Nada.
Nada tak bergeming, di matanya semua pasien itu sama. "Siapkan alatnya!" pinta Nada cuek. Kalya langsung menyiapkan alatnya dan kemudian duduk di samping pasien, memilih vena yang lurus dan besar.
"Abocathnya jangan gede ge!"
"Siapkan abocath no 26" Kalya tersenyum, melihat Nada yang memotong ucapan Zen.
"Hey sopan dikit, loe kira gue bocil di pasang pake no 26?" protesnya pada Nada
"Ganti Abocath no 18 !" wajah Nada itu datar, tanpa ada rasa takut.
glek
Zen menegak ludahnya, di saat seperti ini tidak ada teman temanya yang akan melindunginya. Dia memang bukan medis, tapi dia tahu sedikit tentang medis, orang tuanya juga medis, tapi karena ia takut dengan jarum makanya dia sendiri yang tidak masuk ke dunia medis. "Aaaaaahhhh" teriaknya histeris.
"Belum" Kalya tertawa hambar, bisa bisanya dr. Intershift takut jarum.
"Kamu dokter atau bukan si?" tanya Nada kesal, yah dia kesal karna Zen tidak mencerminkan sebagai seorang dokter.
"heeeee bukan, yang dokter temen temen saya" jelas Zen dengan gelak tawanya.
'pantesan bukan dokter'
Kalya menyadari satu hal bahwa seorang dokter itu pasti pernah saling menusuk saat praktek dengan temanya. Apalagi saat mempelajari blok keperawatan.
ceplus
"Aaaaaaaah sakit" Nada menusukan jarum dengan cepat lalu memasang satu plaster sebagai penguat abocath.
"Udah gak sakit jangan lebay" pinta Nada. Zen terdiam mendengar ucapan Nada yang bahkan tidak ada ramah ramahnya. Nada dengan cepat melepas jarum dan menyambungkannya dengan selang infus.
nyess
"Ternyata engga sakit banget" serunya tanpa dihiraukan oleh Nada dan Kalya. Pemasangan infus selesai dengan cepat tanpa drama.
"Selesaikan sisanya!" Nada berdiri lalu berbalik meninggalkan ruangan.
"Hai tunggu, ini tipsnya!" tapi Nada tak bergeming. Ia kesal jika harus mengurusi anak ingusan seperti itu.
"Heh tunggu!" ucap Zen pada Kalya. "Namanya siapa?"
"Nama saya...."
"Bukan kamu, dokter cantik itu blagu banget" gerutu Zen pada Kalya.
"Dia dokter Qay" ucap Kalya, yah nama Snelli yang dipakai oleh Nada adalah dr. Qay " dia dokter terpintar dan terpandai disini, dia baik sebenarnya, hanya saja dia kesal jika ada lelaki yang manja dan penakut seperti anda"
"Apah loe ngatain gue penakut?" Kalya nyengir, terlihat rentetan giginya yang rapi. "Keluar sana udah kelar kan?" Kalya mengatubkan bibirnya dia kesal pada Zen yang tidak menghargai orang.
"Kenapa tu bibir monyong monyong?" Kalya berbelok menatap lelaki yang baru masuk ke dalam kamar. Ada Bintang ada juga Kean.
'Subhanalloh ganteng banget'
Ucapnya tak bergeming. Kean yang datang dari arah pintu duduk di sofa dan memperhatikan infus yang sudah terpasang.
"Siapa yang masang?" tanya Kean membalik telapak Zen. "Dia?" lirik Key pada Kalya perawat yang masih terpaku pada ketampanan Kean. Kalya yang ditatap tersipu malu.
"Ilernya itu mba!" Kalya lagi lagi mengatubkan bibirnya.
"Iyah maaf, ini udah selesai, semoga lekas sembuh mas, Assalamualaikum" ucap Kalya tak lepas pandanganya dari Kean.
__ADS_1
"Dia yang nginfus?" tanya Kean.
"Bukan" sanggahnya dengan raut wajah masam. "namanya dr.Qay, judesnya minta ampun" kesal Zen. Kean tergelak, dengan wajah tempanya.
"Cantik gak?" tanya Bintang yang berada di samping Kean.
"Cantik banget anjir, hijab an, alus, mulus masih muda single kayaknya, demen gue yang kaya gitu tapi......."
"Tapi apa....?" Potong Kean
"Judes" gurutu Zen. "Loe si ahh katanya kenal pemilik rumah sakit ini, dan bakalan kasih gue yang terbaik" Kean menganggukinya.
"Yah.... Yang kenal kan om sama tante gue" ucap Kean.
"Lagian loe meleng apa gimana si, lubang segitu gede loe acar......" kalimat Bintang terjeda. "Gak sekalian aja itu tugu loe tabrak" ejek Bintang pada Zen.
"Sialan emang kalian, temen lakhnat" ungkapnya dengan segala sumpah serapahnya.
"Yang lain kemana?" tanya Zen pada Kean.
Kean hanya mengidigkan bahunya. Kopdar ini sebenarya hanya dilaksanakan sekali dalam setahun, dan kejadian seperti ini bukan sekali dua kalinya.
Tadi tuh niatnya Key yang akan menginfus, tapi Key tahu Zen sangat takut jarum, biarpun teman temanya itu banyak yang menggandrungi dunia medis. Kecuali Bintang, Langit dan Zen.
"Emang kalau dokter boleh yah judes ama pasien?" tanya Zen Kean hanya menggeleng.
"Demen loe mikirin dia mulu?" ledek Bintang.
"Penginya sih, buat temen ngamar" celetuknya yang mendapat sorotan tajam dari Bintang dan Kean.
"Haaa kenapa? Kalian gak pernah ngrasain malam kaya gituan ya?." Ledek Zain pada Kean dan Bintang.
"Enak aja, gue aja bisa berjam jam kaya gitu" jelas Bintang tak terima.
"Yakin loe?" tanya Zen yang tidak tahu masa lalu Bintang.
"Sumpah bego, tapi gue tobat, gak berani lagi kalau gak sama yang sah" ungkap Bintang.
"Kean nie, yang perlu dipertanyakan" Bintang spontan menoyor kepala Zen
"Kecebong dia aja udah jelas top cer jadi anak bego" ucap Bintang menunjuk Kean.
"Bininya bego, gini gini dia udah punya anak usia 6 tahun" jelas Bintang pada Zen.
"Serius Key?" Kean hanya menatap tajam obrolan mereka. Obrolan itu membuat hatinya tak karuan.
"Gue keluar bentar. " Jelas Kean yang berlalu pergi menuju area bebas merokok.
"Loe si ah Zen, marah kan dia" kesal Bintang.
"Kenapa emang?" Zen menautkanalisnya
"Bini sama anaknya belum kembali setelah 7 tahun, dia frustasi mau cari kemana" jelas Bintang yang kemudianmenjelaskan sedikit silsilah kehidupan Kean.
*
"📞 Cashel lagi apa Nad?"
"📞 Belajar kak Ken"
"📞Belum ketemu sama suami kamu?" Nada terdiam, ia malas jika harus dipertanyakan tentang suaminya. "Kaka udah buka email kamu sama media sosial kamu Nad"
Nada masih diam membisu, dia tidak pernah membuka sosial media miliknya, kecuali yang ia punya saat ini.
"📞Apa perlu kaka yang hubungi...." Kalimatnya dipotong oleh Nada
"📞Cukup ka, jangan lakukan itu please!"
"📞Kamu kelewatan Nad, rasa sakit kamu yang hanya beberapa bulan sampai menyakiti orang tuamu anakmu dan hati kamu sendiri selama 7 tahun. Jangan terlalu egois Nad" Kenzo mulai emosi
"📞Tau apa kakak tentang perasaan aku?"
"📞Masih mau ngelak Nad, kamu masih mencintainya"
'Masihkah Kean di hatiku'
'Nggak itu gak akan terjadi'
"📞Dengerin Nad, Kean masih menafkahi kamu, dan dia selalu memberi kabar sama kamu"
__ADS_1
"📞Nada tutup ka Assalamualaikum "
"📞Nad .... Nad... Nada....."
tut
tut
tut
drrrttt
drrrrtt
drrrttt
"Assalamualaikum dok"
"Waalaikum salam bu" ucap Nada ramah, telephon ini adalah telephon dari kepala ruang Melati, ruangan khusus orang berduit.
"Bisakah kamu ke rumah sakit, infus nak Zen lepas kembali" ucapnya lemah lembut. Dia orang tua, tidak etis jika Nada menolak.
"Baik bu, saya segera kesana" jelasnya kepada kepala ruang Melati. Nada bergegas, hari masih pagi, dan ini hari Minggu, apesnya Nada shift siang, dan harus puter 2 kali nantinya.
"Cashel, mamah mau ke rumah sakit, Cashel ikut?" tanya Nada pada Cashel. Cashel jelas saja mau ikut Nada ke rumah sakit.
"Ikut mah, Cashel bosen dirumah terus" jelasnya pada Nada.
"Ya udah siap siap yah sayang" pinta Nada yang kemudian ke kamar bersiap siap memakai baju yang lebih sopan, begitu juga dengan Cashel, yang lebih suka memakai setelan kaos hitam seperti Kean dan celana jeans.
Setelah 1 jam perjalanan, akhirnya Nada sampai di rumah sakit. "Mah...."
"hmmmm" dehemnya menyahuri panggilan putranya " ya sayang"
"mah mau ngapain si, kan mama kerja siang kenapa jam segini udah berangkat?" Yah pasalnya ini masih pukul 7.30 dan Nada sudah berada di rumah sakit yang jam kerjanya dimulai dari jam 14.00 sampai jam 21.00
"Mau nginfus pasien Shel" jelasnya, Cashel diam karna mereka sudah sampai di ruang VVIP yang seperti istana.
"bu nitip Cashel sebentar ya!" ucap Nada pada ibu kepala ruang.
"Baik dok, maaf yah merepotkan, soalnya tadi anaknya temen direktur yang minta dokter kesini!" Nada mengangguk ramah kepada ibu kepala ruang tersebut.
"Ayo dok" ajak Kalya dengan semangat.
"Semangat banget si" ledek Nada
"Cogan nya dok masyaAlloh" ucap Kalya yang menarik troli ke ruang VVIP no 2 itu. Pintu terbuka menampilkan sosok pasien yang sedang duduk, seperti biasa Kalya menjelaskan tata caranya sesuai SOP
SOP standar operasional prosedure
"Selesaikan sisanya Ya!" pinta Nada pada Kalya.
"Baik dok" ucap Kalya dengan senang hati.
"Jadi petugas medis gak ada ramah ramahnya" celetuk Zen "Harusnya diselesaikan kalau kerja gak main tinggal aja!" Nada kesal, ia kembali membungkuk lalu memasang plaster sebagai pengikat abocat.
Ceklek
Deg
Nada menatap sosok laki laki yang masuk ke kamar pasien. Jantungnya mendadak berdetak kencang melihat siapa sosok lelaki yang masuk ke kamar itu. Tanganya bergetar melihat sosok itu. Sosok yang ia benci dan juga ia rindui.
"Nada"
'Kean'
Keduanya membatu, seperti sebuh setruman yang membuat mereka mendadak menjadi salju. Nada memutuskan kontaknya lalu hendak berjalan keluar dari kamar.
"Nad....Nada.....Nada tunggu" Kean mengejar Nada, Kalya dan Zen mendadak aneh karna melihat Nada dan Kean yang sepertinya saling kenal dan saling menghindari. Nada yang terus berjalan keluar dari kamar VVIP tersebut dan dikejar oleh Kean. Kean menarik lengan Nada membuat Nada berbalik menatap Kean. "Nad"
"Lepas Key" lirihnya tak mau mengambil perhatian sekitar. Nada mencoba menarik tangan Nada yang di pegang erat oleh Kean.
"Papah"
Deg
2 sosok yang saling berpegangan tangan itu menolehkan kepalanya pada sosok anak kecil berusia 6 tahun.
"Cashel"
__ADS_1