
Kean mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Nada. Membuat wajah mereka saling menyemu, memerah dan seperti ada getaran aneh yang menyelimuti hati mereka.
Kean mengikis jarak hingga nafas keduanya terasa hangat menyapu permukaan kulit. Sampai hingga Kean terus mengikis jaraknya, membuat Nada terpaku tanpa bisa berkutik.
"Papah"
Keduanya saling melepaskan pelukanya, Nada berdiri, dan Kean duduk di tepi ranjang. Mereka sama sama menatap Cashel yang masih memejamkan matanya, ternyata dia cuma ngigo.
"Papah tangkap bolanya"
"Yeee gol"
Matanya masih merem, tapi suaranya seperti sedang bermain bola dengan penuh semangat. "Maaf Nad!" Nada mengangguk. Ia yang kini di tatap sedemikian rupa menjadi salah tingkah. Lalu Nada memberikan handuk yang sejak tadi tersampir di lehernya.
"Cuci muka kamu!" pintanya yang masih menatap lantai berukuran 40x40 itu. Kean menerima handuk yang diberikan Nada. Lalu Kean berjalan memasuki kamar mandi. Di depan wastafel terpampang kaca yang melebar sepanjang 2x2 meter.
'Astaga wajah' Kean langsung membasuh wajahnya. Kali ini ia bingung, ia tak membawa pembersih wajah miliknya.
"Key....."
"Yah..."
"Sabun cuci mukanya" teriak Nada yang tahu kalau Kean kesini hanya modal ponsel dan dompet. Bahkan daleman ia juga gak bawa.
Kean berjalan keluar, lalu mengeluarkan tanganya dari celah celah pintu. Tapi apa yang dia dapat sebuah kantong kresek besar. Saat Kean membuka pintunya karena tidak muat jika kantong kresek sebesar itu harus lewat celah pintu.
Setelah dibuka ternyata baju dan ****** ***** milik Kean. "Pakai ajalah dari pada gak pakai daleman." Setelah dibuka ternyata semua miliknya serasa familiar. Ini baju milik Kean, dari mana Nada mengambilnya.
Kean bergegas mencuci wajahnya lalu berganti pakaian. Hanya ada beberapa stel baju di tasnya, Yah Nada sempat mengeceknya setelah tadi beradu argumen dengan Zen untuk mengambil tasnya.
Flash Back On
"📞Hallo Assalamualaikum dok?"
"📞Waalaikumsalam bu, gimana yah?" tanya Nada basa basi, padahal Nada tahu, pasti Zen yang meminta untuk menghubungi Nada.
"📞 dr. Qay bisa ke ruang Melati sebentar!" pintanya pada Nada. Nada mengangguk mengiyakan, pasalnya ia juga akan mengambil barang milik Kean. Repot juga kalau gak diambil, soalnya Nada gak mungkin tahu berapa ukuran dalaman milik Kean.
"📞Baik bu" jawabnya lemah lembut, Nada yang sedang free pasien di IGd pun beranjak.
"Far, aku ke Melati sebentar, kalau ada pasien sama dokter jaga bentar ya!" ucapnya pada Farla perawat yang berjaga di IGD.
"Siap dokter Qay." Yah selain Nada ingin menghilangkan jejak nama Nada, disini nada akrabnya dipanggil Qaira.
"Selamat sore tuan?" sapanya kepada pasien yang sedang memainkan gawainya. Tampak asik padahal hanya scrol atas bawah. "Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya Nada kepada Zen setelah sampai di ruang Melati yah tadi Zen meminta kepala ruang Melati untuk menghubungi Nada agar Nada ke ruangan Zen.
Zen menatap Nada dari bawah hingga atas. Memakai kaos berwarna putih tulang, dengan rok cream dan krudung cream. Snelli yang melekat membuatnya lebih anggun.
" Kamu istrinya Kean?" Mau ditutup sedemikian rupa pun, akan ketahuan juga, membuat Nada tidak nyaman ditatap seperti itu oleh Zen. Nada mengangguk mengiyakan.
Ada rasa kecewa ketika Zen tahu Nada adalah istri Kean. Yah Zen tertarik kepada Nada sejak pertama kali bertemu. Hari kedua ketika Nada menginfus Zen kembali itu adalah ulahnya membuka infusan tersebut, agar Zen punya kesempatan untuk bertemu denganya.
"Bisakah kita membahas pekerjaan, apakah ada yang bisa saya bantu tuan?" Zen mengangguk lalu meminta Nada melepaskan infusnya. "Hanya melepaskan infus, kamu meminta saya?" Sorot mata Nada mulai tak bersahabat. Ia kesal dan marah padanya.
'Sabar Nad, sabar'
Zen mengangguk, lalu dengan cepat Nada melepaskan infus tersebut. "Sudah?" tanya Nada to the poin pada Zen. Zen mengangguk.
"mmmm maaf tuan, apakah disini ada ransel milik Kean?" Zen hanya melirik sofa yang ada di sebelahnya. "Saya..... " Lama Nada tidak melanjutkan ucapanya.
__ADS_1
"Ia bawa ajah!" ucapnya jutek. Nada mengambilnya lalu berpamitan pergi.
Setelah Nada keluar dari ruang VVIP ia langsung melaju ke tempat parkirnya, dan meletakan ransel milik Kean di sana.
'Aku masih bahagia melihat Kean kembali'
'Tapi untuk kembali seperti dulu aku belum sanggup'
'Aku hanya takut semua itu terulang kembali'
'Karna penyesalan hanya ada di belakang'
'Tapi ketika mereka memilikinya akan disia siakan kembali'
Flash Back Of
Kean berjalan keluar kamar, dia sedang menyetrika baju milik Cashel, yah besok adalah hari Senin, dan Cashel akan berangkat pagi untuk sekolah. Kean duduk di sofa dekat dengan meja setrika, menatap Nada yang tidak menggubris kedatangan Kean.
"Kenapa tidak pernah mengabariku kembali Nad?" Nada berhenti sejenak, tidak menjawab namun melanjutkan aktivitasnya.
"Aku hancur setelah kamu pergi Nad" ucapnya dengan mata memanas.
Satu stel baju milik Cashel selesai. Nada menggantungnya begitu saja di lemari kaca yang transparan itu. Ia beranjak tanpa berniat menjawab pertanyaan Kean.
Matanya memanas mendengar pertanyaan Kean. "Nad"
"Akupun hancur Key, apa kamu pikir aku bahagia, bukan hanya hancur, bahkan seluruh hidupku benar benar seperti berakhir dengan paksa" Ucapnya dengan nafas tersenggal. Nada berbalik menatap iris hazel milik Kean.
"Hidupku seperti mati Key, dan cintaku juga kamu matikan secara paksa Key" Kean mendekati Nada ingin merengkuhnya.
"Berhenti Key, aku mohon jangan mendekat!" pinta Nada pada Kean.
"Aku harus apa Nad, agar kamu memaafkanku?" tanya Kean dengan rasa kecewa.
"Tapi apa Nad?"
"Tapi.... Maaf mungkin aku tidak bisa kembali seperti dulu" jelasnya kepada Kean. Hatinya seperti di runtuhkan. Itu seperti sebuah isyarat sebagai pembatas antara dirinya dan Nada.
"Asal kamu tidak pernah meminta berpisah denganku Nad, aku akan selalu menunggumu, dan ada disampingmu!" jelas Kean pada Nada.
"Terserah kamu" Nada berjalan meninggalkan Kean memasuki kamarnya, tanpa menengok Kean sedikitpun. Ia hempaskan tubuhnya di kasur berukuran king zize itu.
Fikiran keduanya melalang buana tak jelas entah kemana. Yang jelas hatinya selalu sakit ketika mengingat masa lalu. Hingga tangisnya menghantarkanya sampai ke alam mimpi.
*
"Mamah.... selamat pagi?" Cashel mencium Nada yang sedang memasak, sehingga Nada memiringkan badanya agar Cashel dapat menciumnya.
"Selamat pagi solehnya mamah" jawabnya dengan penuh senyum. " Ehh ko wangi sih, udah mandi pula." jelas Nada memuji Cashel.
"Siapa dulu dong yang mandiin Cashel.... papah" Kean berjalan di belakang Cashel, ia saat ini juga sudah rapi.
"Ahh sombong Cashel mah setelah ketemu papah" ledek Nada. "Papahnya buat mamah aja yah!" ucapnya bercanda pada Cashel, niatnya hanya untuk menggoda Cashel.
"Gak boleh.... Papah cuma punya Cashel" Cashel cemberut sambil mengeluarkam jurus manjanya.
"Ia iah, papah cuma punya Cashel." Jelasnya yang kemudian mengangkat masakanya karna sudah selesai.
"Ini buat Cashel, dan ini buat papah" Ramahnya Nada, ia berakting seolah tidak ada masalah antaranya dengan Kean di depan putranya. "Nah, Cashel makan sama papah ya, mamah mandi dulu!"
__ADS_1
"Siap mamah" Kean sejak tadi tidak memindahkan pandanganya dari Nada yang tersenyum bahagia.
'Andai senyummu itu beneran buat aku Nad'
'Tapi tak apa, aku akan selalu menunggumu'
Setelah beberapa menit, mereka sudah berada di depan gerbang sekolah Cashel. "Pah..... Cashel sekolah ya Assalamualaikum"
"Waalaikum salam " Jawab Nada dan Kean.
" Nanti siang papah bisa kan jemput Cashel?" tanya Cashel manja.
"Siap bosku, papah akan jemput kamu" ucapnya sambil melakukan hormat pada Cashel. Cashel berjalan memasuki TKIT yang sangat megah itu, mengantarkanya dan memperhatikan putranya tanpa terasa punggungnya mengecil, dan menghilang.
Nada memasuki mobilnya disusul oleh Kean yang masuk dan bersiap mengantarkan Nada. "Aku anterin Nad" Nada mengangguk mengiyakan.
Sepanjang perjalanan Nada diam, tidak ada percakapan diantara mereka. Bahkan Kean saja ikut diam. "Nad...."
Nada menatap Kean yang sedang serius memutar bundaran stir itu. "Yah"
"Kita pulang yah!"
Deg
'pulang'
'maksudnya?'
"Pulang ke mana?"
"Ayah dan bunda sangat merindukanmu" ucap Kean kepada Nada. "Semenjak kamu pergi, bunda jadi pendiam, tidak seperti dulu" Dapat ia rasakan betapa sedihnya sang bunda ditinggalkan Nada.
Yah Nada tahu betul dalam kejadian ini bundalah satu satunya wanita yang sangat menyayangi Nada.
"Gak papah kalau kamu belum siap Nad, aku tidak ak......"
"Jemput aku setelah pulang dinas, setelah itu kita pulang bersama Key" ucapnya tanpa ekspresi. Tapi hatinya juga bahagia, sejujurnya ia tak sabar ingin bertemu dengan sang bunda sejak pertama kali menginjakan kakinya di kota Jakarta.
"Makasih Nad" Nada menatap Kean yang mengucapkan terimakasih kepadanya. Kean memang telah berubah menjadi laki laki yang baik, tidak ia pungkiri bahwa ucapan lembutnya sesaat membuat Nada terlena.
Tak berselang lama, Kean telah sampai mengantarkan Nada ke rumah sakit. Kean berjalan memutari mobil lalu membukakan pintu mobilnya.
Setelah Nada turun dan keluar dari mobil, Kean memberikan bekal makanan untuk Nada. "Jangan lupa sarapan, aku tahu kamu belum sarapan pagi" ucap Kean membuat Nada membeku atas perlakuan hangat Kean.
Nada mengangguk lalu menerimanya " makasih Key" ucapnya dengan tulus, sejauh ini Keanlah yang pertama kali mengingatkan tentang sarapan paginya. Ia selalu melupakan itu semanjak di Jakarta.
"Aku masuk assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Nada berjalan meninggalkan Kean yang masih menatapnya serius. "Nad" panggilnya membuat Nada berbalik menatap Kean.
Kean mengacungkan tanganya, agar Nada menciumnya. Nada sempat ragu, tapi sejatinya Kean memang suami sahnya, dan gelar itu belum hilang sampai detik ini.
Nada dengan ragu menerima uluran tangan Kean lalu menciumnya. Sesaat ketika Nada sedang mengecup uluran tanganya, Kean berbisik padanya. "Ijinkan aku untuk membuatmu jatuh cinta kembali kepadaku Nad!"
Bonus Visual
Nada
__ADS_1
Kean