
Dunia ini penuh dengan orang baik, jika kamu tidak menemukanya maka jadilah salah satunya
Good Things come to Those Who Wait
Hal baik datang kepada mereka yang menunggu
* *
Kean kembali ke rumah dengan raut wajah kesal, perkelahianya dengan Bara tadi tidak membawakan hasil apapun. 'mesti cari kemana gue Nad'
Detik waktu menunjukan pukul 23.30 sudah sangat larut, ia semakin cemas, kemana perginya sang istri. " Bagaimana Key, apa Nada sudah ditemukan?" intonasi berat itu membuat Kean membeku, orang tuanya jelas akan marah padanya.
"Belum yah"
"Lalu kenapa kamu pulang" Kean menundukan kepalanya, saat ini ia benar benar sangat khawatir, ini sudah sangat larut.
"Kean gak tau mesti cari kemana yah" jawabnya pasrah.
"Masuklah, kita lanjutkan pencarianya besok pagi." ajak Kenan kepada Kean, namun tidak dengan Zela, dia masih menangisi ketidak adaanya kabar tentang putrinya.
Gadis yang hampir 5 bulan ini bersamanya, sudah cukup mencuri semua perhatianya, gadis lugu, polos, rajin, cuek, dan manis itu sudah Zela anggap seperti anak kandungnya sendiri.
Kean berjalan memasuki kamar Nada, ia membuka ponsel milik Nada, berharap ada petunjuk darinya. "Croboh.... kenapa gak di sandi" ucapnya dengan senyumnya, ia melihat semua isi galerinya, hanya ada foto dirinya yang dipotret oleh ibundanya, dan tersisa satu foto pernikahan dengan baju seadanya.
"Kemana loe Nad?" tanyanya resah, waktu sudah menunjukan pukul 04.30 pagi, ia terbangun karna bermimpi Nada tertabrak motor.
"Mimpi buruk"
"Pertanda apa ini?" tanyanya kembali membuat hati resah, ia mengingat Nada yang tidak pernah lupa kepada sang penciptanya, kemudian ia berjalan ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu.
Setelah menunaikan sholat subuh ia tak henti hentinya memanjatkan doa agar Nada kembali dengan selamat.
*
"Syukurlah nona sudah bangun " Sosok pemuda berusia 19 tahun bernama Kenzo mengangetkan Nada yang baru membuka matanya.
"Saya dimana?" tanya Nada masih sedikit pusing, ia memegang kepalanya, ternyata ada luka di kepalanya.
"Kamu di rumah sakit, kemarin kamu kecelakaan karna menyelamatkan anak kami." jelas sang perempuan yang umurnya kemungkinan tidak berbeda jauh darinya.
"Anak?" Memori seperti puzle itu ia kumpulkan, benar saja, ingatan tentang pertengkaranya dengan Bara, rasa cemburu kepada Kean, dan berakhir ia menyelamatkan anak usia 2 tahun, setelah itu ia tidak ingat apapun.
"Yah dia anak kami." jawab mereka kompak. Pasangan muda Kenzo dan Lea berusia 19 tahunan itu sudah mempunyai anak.
"Kalian masih muda" lirih Nada, ia tak mau ucapanya menjadi bumerang diantara mereka.
"Kami menikah karna mecelakaan."Nada mengangguk, pasti susah diusia sedini mereka sudah mempunyai anak, tak lama atensi mereka terpusat oleh sosok ibu yang masih muda, masih cantik, sepantara dengan ibundanya mungkin.
"Kamu sudah bangun na?" Sapa wanita tersebut, Nada mengangguk, wanita itu lalu memeluk Nada erat. "Kami berhutang nyawa padamu karna sudah menolong cucu saya." jelasnya, tak lama suami dari wanita yang telah memeluknya datang.
"Yah, kami benar benar berhutang nyawa padamu" sahut suami wanita tersebut. "Perkenalkan nama saya Arif dan istri saya Yasmin"
Nada mengulurkan tanganya "Nada Qaira Assalwa"
" Dimana rumahmu, pasti kedua orang tuamu sangat mengkhawatirkanmu."
__ADS_1
"Jam berapa ini, aku harus pulang, pasti bunda sangat khawatir" ucapnya bergegas bangun, namun sesaat badanya terhuyung dan jatuh.
" Na kami akan mengantarkanmu pulang, tapi tunggu kamu pulih dulu." jelas lelaki yang bernama Arif itu.
"Maaf pa, saya harus pulang saat ini, pasti bunda sangat cemas." Lelaki berparas tampan itu berdiri dan keluar dari ruangan, dan tak lama kembali dengan dokternya.
"Bagaimana kalau pasien pulang saat ini, apa tidak apa apa?" tanya pa Arif.
Dokter tersebut manggut manggut " Yah tidak masalah, selama lebih dari 12 jam pasien tidak menunjukan mual dan sakit kepala yang hebat, jadi sepertinya pasien hanya mengalami cidera kepala ringan saja" Jelas dr. umum bername tag Ulani.
"Baguslah, berarti pasien bisa dibawa pulang?"
"Silahkan ke ruang perawat untuk menandatangani prosedur pulang APS atau pulang atas permintaan sendiri, dan apabila pasien mengalami muntah secara menyembur atau gejala lainya maka dengan cepat bawalah kembali kerumah sakit." Dokter tersebut undur diri dan berlalu dari ruangan pasien.
30 menit Nada sudah berada dalam mobil mewah, dibelakangnya terdapat banyak pengawal, dilihat dari seragamnya orang didepanya adalah seseorang pengabdi negara. Namun Nada enggan untuk bertanya.
"Nak Nada ini kartu nama saya" Ucap pak Arif, dengan cepat Nada menggelengkan kepala dan menolaknya.
Yasmin mengambil kartu namanya lalu memberikan kepada Nada." Simpanlah, suatu saat kamu pasti membutuhkanya, jangan ditolak, kami mohon, kami berhutang nyawa kepadamu Na" Dengan terpaksa Nada menerimanya.
Mobil mewah tersebut telah sampai dirumah, yah waktu sudah menunjukan siang hari, rumah tampak sepi, 'tapi mobil ayah dan bunda ada dirumah'
"Nyonya, non Nada pulang" teriak bi Sumi dengan berlari tergopoh gopoh. Zela yang berada dikamar berlari keluar, Kenan dan Kean sedang berada di kantor polisi.
Ibu Yasmin berdiri mendorong kursi roda Nada, luka lecet di kakinya cukup parah, sehingga mengharuskan Nada memakai kursi roda.
"Nada" teriak Zela yang kemudian berhambur memeluknya.
"Bunda...." beberapa tetes air mata Nada rasakan jatuh di pundaknya, yah bundanya menangis.
" Maaf karna Nada ...." Nada mengusap tangan ibu Yasmin yang akan memberikan penjelasan, Nada memandangnya lalu menganggukan kepalanya. Ibu Yasmin paham bahwa Nadalah yang akan menjelaskan.
"Kemarin Nada kecelakaan bun, ibu Yasmin dan pa Arif yang menolong Nada" Yasmin dan Arif saling pandang.
" Apah? Nada ada yang sakit ada yang luka, bagian mananya sayang?" tanyanya panik. Nada menggeleng dan menggenggam tangan Zela.
"Nada gak papa bun, cuma lecet aja"
"Pa, bu makasih karna telah menolong putri saya, saya tidak tau kalau...."
"Tidak perlu berterimakasih bu, Nada gadis yang baik, dia pantas mendapatkanya."
Setelah bercakap cakap cukup lama mereka pamit pulang, tak lupa bu Yasmin memeluk erat Nada. " Nada terimakasih banyak, hubungi ibu kalau kamu membutuhkan sesuatu" lirihnya saat memeluk Nada. Nada mengangguk mengiyakan ucapan ibu Yasmin.
" Bu, pa hati hati di jalan" ucap Nada sebelum mereka pergi. Mereka dengan senang hati menganggukan kepalanya.
'orang yang baik akan selalu bertemu orang baik, meskipun ada yang tidak baik menguji kesabaran'
Setelah kurang lebih satu jam, Kean dan ayahnya pulang, wajah lesu, lunglai, acak acakan, tidak berangkat sekolah, itulah Kean, separuh jiwanya seperti hilang terbawa Nada.
"Makan Nad, bunda suapin ya aaaaaa" Zela sengaja memainkan sendoknya, hingga Nada mencebikan bibirnya.
" Iiih bunda...."
" Sini sini suapin lagi aaaaaa..... aem" berasa anak kecil saja.
__ADS_1
Atensi Kean dan ayahnya terpusat pada suara Zela, lalu mereka berjalan menuju arah dapur. "Nada......" panggil keduanya kompak.
Kean langsung berlari memeluk Nada dengan erat." Kamu kemana aja si, aku panik, nyariin kamu" ucapnya.
'Jantung tolong dikondisikan, jangan sampai Kean tau kalau aku deg degan'
Kean melepaskan pelukanya, lalu menggenggam tanganya "Maaf Nad.... Maaf...." jelasnya dengan penuh penyesalan. Nada mengangguk, kedua orang tuanya tersenyum menyaksikan drama putranya sendiri.
"Nad, bagaimana kamu bisa terluka seperti ini?" Tanya Kean penasaran.
"Kemarin aku kecelakaan Key" lembut satu kata yang diucapkan oleh Nada.
"Apah....bagaimana bisa?" Nada kemudian menceritakan bahwa ia memang kecelakaan.
"Key antarkan Nada istirahat ke kamar, kasian dia udah dari tadi duduk di kursi roda." Kean dengan sigap memapah Nada ke dalam kamar, dan hal itu sukses membuat Nada baper, jantungnya yang sedari tadi berdetak tidak beraturan kini lebih tidak karuan.
'wajahnya semakin tanpan saat dilihat lebih dekat'
Sesampainya dikamar Kean mendudukan tubuh Nada di ranjang, "Tuan putri apa yang kamu inginkan saat ini" Nada menggeleng dengan penuh senyum.
Kean menarik kursi disampingnya, lalu menggenggam tangan Nada erat, menatap dalam jarak yang dekat membuat Nada salah tingkah." Jangan hilang lagi Nad, jangan pergi tanpa kabar lagi, kamu bisa bikin aku gila tau." ucapnya dengan tatapan yang dalam. Nada mengangguk, mengiyakan ucapan Kean.
"Jangan lupa ponsel kamu dibawa kemanapun kamu pergi" Nada masih mendengarkan saksama ucapan Kean.
"Nad, kamu itu tanggungjawabku, jadi aku harap kemanapun kamu pergi izin sama aku ya." ucapnya penuh harap.
"Ia Key, lain kali aku akan ijin."
"Istirahatlah, aku mau mandi dulu." ucapnya tak lupa mengusap surai hitam Nada dengan penuh sayang. Kean keluar dari kamar Nada, ia dapati Zela yang menunggunya di depan kamar Kean.
"Bunda....."
"Bunda ingin bicara penting" ucapnya Kean lalu membukakan pintu kamarnya, Nada yang mendengar Kean berbicara dengan ibundanya berusaha bangkit dan berjalan menuju balkon kamar.
"Putusin Bunga Key....!"
"Kean gak bisa Bun, Kean cinta sama Bunga" jawabnya dengan penuh keyakinan.
"Lalu Nada mau kamu kemanakan Key, dia istrimu, bukan hanya pacar atau tunangan"
"Nada gak pernah keberatan bun" jelas Kean, Yah Nada memang tidak pernah mengatakan bahwa ia keberatan dengan hubungan Kean dan Bunga.
"itu menurut kamu Key, seorang wanita manapun tidak akan mau dimadu." jelas Zela pada putranya.
" Tapi Key gak cinta sama Nada bun, Key hanya sayang layaknya saudara."
Deg
tes
tes
Akhirnya Nada tau, perhatian yang barusan Kean lakukan hanyalah rasa sayang sebagai saudara.
'Sakit'
__ADS_1