Cinta&Luka PERJODOHAN

Cinta&Luka PERJODOHAN
71


__ADS_3

'Bagus Shel, gerak cepat kamu'


"Kata temen temen Cashel mereka tidur bareng papah dan mamah mereka, jadi Cashel pengin bobo bareng kalian." jelasnya dengan memanyunkan bibirnya.


"Ya udah ayok!" ajak Nada mengiyakan permintaan putranya.


'Yes'


Plok


Tepukan tangan Cashel dan Kean, saling beradu. Kean bersorak ria, merasa bahagia dengan permintaan sang putra.


Sesampainya di ranjang, Cashel berada di tengah antara Nada dan Kean. Kikuk satu kata yang menggambarkan mereka saat ini. Cashel terlelap sangat cepat, membuat dua insan yang sedari tadi merasa canggung mencapai ambang batas kecanggunganya.


Sejujurnya Kean sangat mengantuk, serangan fajar tadi pasien masuk dengan triase merah bertubi tubi, namun demi Nada dan Cashel ia rela mati matian menahan kantuk.


Saat menemani Nada bertemu Bara saja ia juga mendapat serangan kantuk yang dahsyat. Tapi kantuk itu hilang setelah hatinya merasakan cemburu yang luar biasa.


Dan yah, waktunya tidur bukanya Kean tidur malah harus bergelut dengan fikiranya karna berada di area ranjang bersama Nada. Nada beranjak perlahan, hendak meninggalkan Cashel dan Kean.


"Mau kemana Nad?" tanya Kean yang menatap gelagat aneh Nada.


"Mau sholat dhuhur." jelasnya menghindari suasana canggung tersebut. Jujur saja jantungnya saat ini seakan melompat dari tempatnya.


"Sama aku!" ucapnya kepada Nada, Nada mengangguk dengan senyum yang indah. Kean mengecup putranya lalu beranjak dengan perlahan meninggalkan sang putra.


Setelah sholat Nada dan Kean berjalan keluar dari ruang sholat disambut oleh kedua orang tuanya yang juga berjalan melawan arah mereka. Zela tersenyum melihat Kean yang masih mengenakan kopyah.


"Key...."


Kean dan Nada mendekat, pasalnya kedua orang tuanya berjalan sambil menarik kopernya "Bun.... mau kemana ?" tanya Kean kepada kedua orang tuanya.


"Kita mau ke luar negeri, kebetulan uyut kamu sakit Key. Jadi minta bunda buat pulang" jelas Zela pada putranya. Mereka ber oh ria mendengar jawaban orang tuanya. "Nad, Cashel mana?" tanya Zela ingin tahu.


"Tidur bunda, uyut sakit apa bun?" jawabnya kepada kedua orang tuanya.


"Biasa penyakit tua Nad, boyoknya sakit terus" jelasnya kepada Nada dan Kean. "Aku mau ketemu cucu kesayangan bentar mas." Mereka berjalan ke kamar Cashel untuk melihat sang cucu kesayangan, tak lama mereka keluar dari sana.


"Nad, nitip Cashel yah" Nada mengangguk mengiyakan. Ketara sekali kalau bundanya tidak ikhlas meninggalkan Cashel. "Mas, pengin ajak Cashel" suara manjanya membuat Nada dan Kean menahan tawanya.


"Hust... gak boleh gitu, lagian ke Inggris cuma sebentar" jelas Kenan kepada istrinya.


"Ya udah, tapi nanti kangen Cashel." putusnya kesal kepada sang suami.


"Bikinin lagi lah bun" celetuk Kenan membuat Nada dan Zela memandang Kean dengan tatapan aneh.


"Mau disunatin kamu Key?" Kean mengangkat kedua tanganya di atas telinga.


"Ampun bunda becanda." Seru Kean dengan ringisan kecil.


"Gimana kalau Nada yang bikinin cucu lagi buat kita" ledeknya pada Nada, membuat wajah Nada bersemu merah.


Deg


Nada melotot, yang lalu saja masih terasa jelas. Walaupun jujur cara membuat anaknya sering terbayang oleh Nada. Bukan munafik semua wanita jika dalam puncak masa subur maka hormon libido meningkat.


Yang dulu menyakitkan, justru menjadi hal yang terkadang dirindui Nada. Kean melirik Nada yang wajahnya memucat. Lalu melirik bundanya agar berhenti meledek Nada.


"Ya udah kita pamit ya" ucap Kenan menengahi. Kenan lalu menyeret istrinya. keluar dari rumah megah tersebut. "Assalamualaikum" ucap Kenan yang terus menarik sang istri.


"Mas apa apaan si?" Zela melepas genggaman tanganya. Tak lupa ia geplakan tanganya pada lengan suaminya itu.


"Mulutnya itu nda, kalau ngledek Nada jangan kelewatan, tau kan kalau Nada dan Kean dapet Cashel juga atas dasar kecelakaan bukan karna mau sama mau" Zela bungkam, benar apa yang dikatakan suaminya itu.


"Lupa mas" ucapnya dengan cengengesan. "Ya udah ayok!" ajaknya meninggalkan area rumah menuju garasi mobil.


Sementara di dalam rumah keduanya saling tatap, masih dengan atmosfer canggung yang diciptakan oleh bundanya. Rasanya ingin sekali Nada kabur ke kamarnya.


"Nad, kayaknya kamu besok di suruh ke kampus!" Jelas Kean. Nada hanya mengangguk. "Ya udah aku ke kamar dulu, mau istirahat bentar" Ucapnya yang menatap jam di tanganya menunjukan pukul 12.15. "Lumayan bisa tidur untuk menyimpan tenaga nanti sore." ucapnya lirih yang tak terdengar oleh Nada.


Detik waktu menunjukan pukul 13.30, namun Kean belum bangun dari tidurnya. Nada yang bingung ingin membangunkanya atau membiarkan saja. Pasalnya ia akan lanjut shift siang.


"Ma lagi apa?" tanya Cashel, membuat senyum di wajah Nada terbit.

__ADS_1


"Sayang..." ucapnya dengan senyum yang maksimal. "sini!" panggilnya kepada anak semata wayangnya.


"Mamah ngapain di depan kamar papah" tanya Cashel kepo. Nada hanya menampilkan rentetan giginya.


"Shel bangunin papah kamu sana, papa masuk shift siang soalnya." Pinta Nada pada putranya.


"Kenapa gak mamah aja si mah, lagian cuma bangunin papah" ucapnya menyedekapkan dada, Cashel sebenarnya hanya ingin tahu alasanya kenapa mamahnya tidak mau membangunkan papahnya.


'Ini anak'


'Disuruh malah balik nyuruh'


"Ayo lah Shel, kasian papah kalau telat." jelas Nada.


"Mamah gak lagi marahan sama papah kan?" Nada menggeleng. Ia bingung sebenarnya akan menjawab apa. "Ya udah deh Cashel bangunin" ucapnya yang kemudian berjalan menuju arah pintu.


ceklek


"Pah"


cup


cup


cup


Cashel membanjiri pipi Kean dengan ciuman "Pah" Kean menggeliat sebenarnya ia sudah bangun sejak pintu dibuka. Hanya saja ia penasaran apakah sang putra atau sang istri yang membangunkanya.


'Aku fikir Nada yang akan membangunkanku, tapi tak apalah, Cashel juga darah dagingku'


"Pah...." Kean membuka matanya perlahan. Menatap wajah anaknya juga suatu anugerah yang selama ini Kean impikan.


"Ia Shel, papah bangun" Jelasnya kepada Cashel lalu mengecup pipi cuby putranya itu.


Kean mendudukan badanya lemas, namun setelah melihat di ambang pintu ada Nada di sana senyum indah terukir.


'Ternyata Nada berniat membangunkanku'


"Pah.... pah.... paaahh" panggil Cashel berulang, menyadarkan Kean dari lamunanya.


15 menit kemudian


Kean sudah siap dengan baju silvernya dibalut snelli dengan celana bahan berwarna hitam. Rambutnya yang sekarang tersisir rapi, wajah yang segar, menambah nilai yang sempurna di mata Nada.


"Papah gak makan dulu?" Kean melirik jam di tanganya sudah menunjukan pukul 13.45 membuat ia sedikit gugup.


"Cashel sayang, maaf yah, papah sepertinya gak bisa makan bareng, soalnya waktunya meped banget." Jelasnya meyakinkan kepada putranya. Yah Cashel menghembuslan nafas beratnya pertanda ia kecewa.


"Cashel pengin makan bareng" adunya manja pada sang papah.


"Sayang gak boleh gitu, papah udah mau telat" Nada mendekat lalu mengusap kepala Cashel.


"Maaf yah sayang, bagaimana kalau nanti malam kita makan malam bertiga?" ucap Kean menawarkan kepada Cashel. Wajahnya berbinar dan terbitlah sebuah senyum yang sangat Kean harapkan.


"Janji?" Cashel mengacungkan kelingkingnya dan disambut hangat dengan Kean yang kemudian berjongkok dan mengaitkan kelingkingnya.


cup


"Papah berangkat dulu ya sayang, assalamualaikum" pamitnya gugup pada Nada dan Cashel yang kemudian beranjak dan berjalan cepat.


"Mamah gak di cium pah?" ucap Cashel menginstruksi dua manusia yang langsung saling tatap.


Kean dengan gugup membalikan badan, agak sedikit salting, ada juga rasa deg degan apalagi kemudian menghampiri Nada dan hendak menciumnya.


cup


Kecupan hangat yang sempat membuat jantung mereka berirama tak teratur, cepat dan berdegup keras. Wajah Nada saja langsung memerah.


"Nad wajahmu"Ledek Kean dengan senyum jailnya. Kenapa harus diucapkan, membuat Nada benar benar ingin melompat saja ke sungai.


*


"Mah udah jam 21.00 lebih, katanya papah mau pulang cepet, padahal tadi jam 20.00 papah katanya udah on the way, tapi kok belum sampai yah mah?" Nada ikut panik, memang benar jam 20.00 katanya Kean menelphone sudah mau otw, tapi kenapa belum sampai.

__ADS_1


"Mungkin papah mampir, Cashel bobo dulu gih!" pinta Nada menenangkan. Tak berselang lama Cashel tertidur setelah diceritakan kisan Nabi Muhammad. Nada beranjak dan berjalan mondar mandir memainkan ponselnya.


nomor yang anda tuju sedang sibuk


Berulang kali Nada menghubungi Kean sayangnya hanya suara operator yang menjawab. "Key.... angkat...."


prak


'astaghfirulohaladzim'


Vas bunga yang berada di samping meja makan terjatuh, membuat Nada melafalkan astaghfirulloh berulang.


'ya Alloh lindungi suamiku ya Alloh'


Nada kembali menghubungi Kean lagi, karena perasaanya sungguh tidak tenang.


"Ha-llo Na-Nad assa-lamualaikum " Suaranya berat seperti terjadi sesuatu.


"Key kamu kenapa, kamu dimana, ini udah jam berapa Key, dari tadi di hubungi tidak bisa ?" pertanyaan rentet itu membuat Kean sedikit tersenyum.


"Maaf...." hanya kata itu sebagai jawaban. "Tunggu 30 menit lagi aku sampai Nad" ucapnya sudah tidak terbata bata. "Aku tutup dulu ya Nad assalamualaikum"


tut


tut


tut


"Key...... Key.... Kean"


Nada mencoba tenang, walaupun pada akhirnya hatinya masih sangat bimbang. Ia menyalakan televisi di ruang santai untuk menghiburnya, namun sayangnya malah melihat sebuah mobil terbakar.


"Telah terjadi ledakan mobil di jl.x dengan plat nomor B 121 KA, terdapat 2 korban yang dilarikan ke rumah sakit"


Deg


"Kean"Jantung Nada seperti di baku hantam dengan batu yang begitu besar "Nggak, itu bukan Kean" ingatanya berputar sekitar sore tadi.


'Nad, pulang aja, nanti mobil kamu aku yang bawa kamu naik grab aja'


ting


tong


ting


tong


Nada berlari menuju arah pintu, lalu dengan cepat ia membuka pintu.


Ceklek


"Kean....."


"Nada" Seolah tidak terjadi apapun Kean tersenyum, bibirnya yang pucat itu tetap tersenyum melihat istrinya.


grep


Dengan cepat Nada memeluk Kean erat. Ia dapat bernafas dengan lega, seolah beban beberapa menit yang membuat jantungnya terkena baku hantam batu terangkat sempurna.


Akhhh


Suara itu lolos dari bibir Kean, menahan sakit yang luar biasa. Bisa ia rasakan bahwa istrinya sangat khawatir pada Kean, dan seketika rasa khawatir itu berganti sebuah kelegaan.


'sesakit apapun asal kamu mau memelukku seperti ini aku tidak akan merasakan sakit Nad'


Bonus Visual


Nada



Kean

__ADS_1



__ADS_2