Cinta&Luka PERJODOHAN

Cinta&Luka PERJODOHAN
70


__ADS_3

'Suara itu'


'Seseorang yang pernah ada di hatiku'


'Seseorang yang selalu ada dikala semua orang menghujatku, dialah orang yang percaya padaku'


'Dialah yang pernah menemani aku dalam duka'


Seseorang yang sampai detik ini masih mencintai Nada, dialah Bara, dia yang selalu berharap Nada membalas cintanya.


"Bara"


Bara berlari memeluk Nada dengan erat. Ia tidak peduli bahwa tempat ini adalah tempat umum, tempat dimana seharusnya adegan berpelukan tidak layak di pertontonkan. Yah mereka tepat di depan ruang Teratai, di mana ruangan ini adalah ruang anak anak.


Deg


Jantung Kean berdetak keras, sesak melanda, hatinya juga berdenyut nyeri. Sesakit ini ternyata melihat seseorang yang dicintai dipeluk orang lain.


'Ternyata melihat seseorang yang sangat dicintai bermesraan dengan orang lain sangat menyakitkan'


Kean hendak membalikan badanya, matanya tak kuasa melihat kemesraan mereka. Cemburu itu berpusar di kepalanya, membuat marah yang luar biasa. Untung Kean saat ini punya koping yang luar biasa atas emosinya.


Koping adalah penyelesaian masalah


'Sesak sekali'


'Andai disini ada Nebulizer mungkin Kean tak akan sesesak ini'


Nebulizer adalah alat untuk mengubah obat dalam bentuk cairan menjadi uap yang dihirup


Mungkin bila Kean melakukan treatmill hasil rekam jantungnya akan menunjukan kelainan, sedang tekanan darahnya akan meningkat seperti seseorang yang terkena Hipertensi urgency.


Pemeriksaan treadmill, atau yang juga dikenal dengan sebutan stress test, merupakan pemeriksaan yang dilakukan guna melihat kinerja jantung selama seseorang melakukan aktivitas fisik. Hal ini karena aktivitas fisik dapat membuat jantung memompa lebih keras dan cepat


Hipertensi urgensi adalah jenis krisis hipertensi yang terjadi ketika tekanan darah Anda sangat tinggi hingga mencapai 180/120 mmHg atau lebih, tetapi tidak ada kerusakan pada organ tubuh.


"Maaf" ucap Nada membuat Kean berani mengangkat wajahnya, yah Nada melepaskan pelukan Bara. "Kita bukan muhrim Bar" jelasnya membuat paru paru Kean mengembang. Sesak itu kembali berkurang.


'Sungguh Nada adalah wanita yang bermartabat tinggi'


'Ia juga sangat menjunjung nilai agama'


"Nad" Atensi mereka tertuju pada Kean. "Gue tunggu di lobi aja" jelasnya yang hendak berlalu meninggalkan Nada dan Bara.


"Enggak Key, tolong jangan pergi" pinta Nada dengan sangat. Kean lega, hatinya mendadak seperti melambung tinggi, dan akhirnya munculah sebuah anggukan kecil itu.


"Aku di sana" jelasnya menunjuk sebuah kursi yang tidak terlalu jauh. Lalu Nada menganggukan kepalanya.


'Kenapa dulu gue bisa seceroboh itu sampai gak bisa percaya sama Nada.'


"Kenapa berubah Na?" Nada masih menatap sepatunya, sepatu berwarna peach itu ia pandangi, seperti sebuah google yang mungkin mengeluarkan jawaban ketika Bara memberikan pertanyaanya. Nglawak, mana ada sepatu google.


"Aku harus gimana Bar?" ucap Nada mencoba mengangkat kepalanya.


"Tinggalin Kean Na!" Nada menggelengkan kepalanya.


"Kamu masih mencintai Kean Na?" Na panggilan yang paling beda dari semua teman temanya. Panggilan yang mengingatkan dua hati yang Nada patahkan, dia Varo dan Bara.


Suara Bara tercekat seperti ada sebuah balok yang mengganjal tenggorokanya. Pita suaranya juga hampir tak mengeluarkan suara "Kean melukaimu begitu dalam dan kamu..."


"Enggak Bar, walau begitu dia masih sah suamiku" seperti sepucuk jarum yang menusuk Bara, hatinya sakit, kenapa setelah 7 tahun masih sama .


"AKU MASIH MENCINTAIMU NA, AKU MASIH MENUNGGUMU KEMBALI" Ucapanya dalam, seperti sebuah unek unek yang tersimpan selama 7 tahun.


"Aku gak minta kamu untuk tetap mencintaiku Bar" ucapnya mencoba menatap balik manik mata biru itu.

__ADS_1


"NA......" Bentaknya "KEAN BAHKAN TAK PANTAS MENDAPATKAN MAAFMU, DIA LELAKI YANG SEHARUSNYA KAMU TINGGALKAN, BUKANYA MALAH KEMBALI BERSAMANYA"


Hati Kean menyesak, benar yang dikatakan Bara, Kwan tidak pantas mendapatkan maafnya. Nada menggeleng, ini bukan Bara yang ia kenal dulu. "Alloh saja bisa memaafkan Bar"


"Cinta kamu membutakan hati dan mata kamu Na" ucapnya penuh penekanan. "Ayo Na lari sama gue!" Nada menggeleng kuat, dulu juga Bara sering mengajaknya lari dari pernikahanya. Tapi sayangnya hatinya terpaut terlalu dalam pada Kean.


"Kamu gak berubah Bar, masih gila seperti dulu kalau membahas masalah perasaan." ucapnya memundurkan langkahnya.


"Kamu tahu jawabanya Na" jelasnya pada Nada. "Aku masih mencintaimu, masih menunggumu, dan aku menunggumu kembali padaku selama ini Na bukan kembali pada Kean" jelas Bara yang perasaanya tidak berubah kepada Nada. "KAMU TAHU NA, AKU GILA KARENAMU NA"


"Maaf Bar, aku gak bisa, aku harap kamu bisa menemukan per-"


"ENGGAK NA, AKU MAUNYA KAMU" Bara mendekat kepada Nada, tapi Nada memundurkan langkahnya. Hal tersebut tak luput dari penglihatan Kean. Kean hendak beranjak, tapi ia takut terlalu ikut campur urusan mereka. Yah walaupun sejujurnya ini adalah urusanya.


"Berhenti disitu Bar, jangan mendekatiku! Aku tidak mau berbicara denganmu jika membahas tentang perasaan" pinta Nada dengan sangat. Nada membalikan tubuhnya siap untuk pergi meninggalkan Bara.


"Na.... kamu berubah Na, semudah itu kamu melupakanku" Nada membalikan tubuhnya, sebenarnya ia malas meladeni Bara, meski dulu pernah menaruh hati, simpati dan sedikit rasa untuknya.


"Memang segalanya harus berubah Bar, aku beristri dan,.... " Nada menjeda kalimatnya" Aku mempunyai anak Bar, dan itu anak Kean" jelasnya membuat Bara melototkan matanya tak percaya.


'Anak'


'Gue gak salah denger kan?'


'Anak dia bilang?'


"Gak gak mungkin" Gelengan kecil tampak membuat Bara bingung.


"Lupakan aku Bar, jauhi aku dan jangan pernah berharap padaku, aku tak pantas untukmu, masih banyak wanita yang lebih baik dari pada aku, dan mungkin akan lebih membahagiakanmu Bar. Dan itu....bukan aku Bar .... Maaf" Nada berjalan menuju arah Kean.


Disana tepatnya Kean sudah berdiri menghadap Nada. Nada berjalan sambil menghapus air matanya. Tepat di depan Kean Nada berhenti dengan sisa genangan air mata itu. "Pulang Key" Ucapnya kepada Kean tanpa jeda. Kean hanya mengikuti langkah Nada yang berjalan di depanya.


Sepanjang perjalanan Nada bisu, tidak ada yang keluar bahkan sampai mobil bertengger di garasi rumah. Nada keluar begitu saja dan berjalan meninggalkan Nada.


'Jika sudah seperti ini hanya Cashel yang bisa mengobati sedih hati Nada'


Beberapa jam kemudian Cashel sudah berada di mobil sedang menuju ke arah pulang. "Pah......"


"Hmmm, ia Shel ada apa?" tanya Cashel yang menatap sayang pada putranya disusul dengan elusan lembut di kepala putranya.


"Papah ngajak pulang Cashel pasti ada sesuatu, atau jangan jangan mamah kenapa kenapa" Kean menggeleng, ia tidak paham dengan jalan fikiran anaknya.


'Ikatan mereka yang terlalu dekat, atau anaku yang terlalu pinter?'


"Mamah kamu lagi sedih" ucapnya menatap putranya intens. Cashel mengangguk yah, memang hanya Cashel yang bisa buat mama tertawa kembali.


"Bukan papah yang bikin mamah sedih?" Kean menggeleng, antara ia dan tidak.


"Tadi mamah kamu ketemu temen lama, jadi sedih" jelasnya singkat. "Kean mau mampir beli apa?" Cashel menggeleng, ia tidak menginginkan sesuatu.


"Papah sama mama dulu ada masalah apa si, sampai mama dan papah gak hidup bersama?" Kean kicep ia tidak tau mau mengatakan apa.


"Kata mama sih papah kerja, tapi Cashel gak percaya, soalnya mamah kalau di tanyain papah pasti ngindar."


"Suatu saat kamu pasti mengerti nak, untuk saat ini belum saatnya yah, kamu masih terlalu dini jika harus memikirkan itu" Cashel memanyunkan bibirnya, ia sebenarnya sangat kepo pada hubungan mamanya.


"Nah..... sampai, ayok masuk." Ajak Kean pada Cashel. Kean selalu mati kutu jika ditanya sama Cashel.


Mereka berjalan bergandengan menuju kamar mamahnya. Sesampainya di depan pintu kamar Nada Cashel berhenti. "Pah kenapa mamah gak pernah tidur berdua sama mamah?"


'Ini anak kepoan banget'


"Mamah kamu masih marah sama papah, makanya Cashel bantuin papa biar mamah dan papah baikan ya!"


"Tergantung....." Cashel menyedekapkan tanganya so cool. "Kalau papah gak pernah bikin mamah nangis, Cashel akan bantu"

__ADS_1


"Papah janji Chel" Kean berjongkok lalu menautkan jari kelingkingnya.


tok


tok


tok


"Assalamualaikum mamah?"


Nada menyibak selimutnya lalu turun. "Waalaikumsalam sayang, loh ko udah pulang si anak mamah" tanyanya berjalan menuju anaknya yang sedang berjongkok.


"Iah gurunya rapat mah"


pinter


Padahal Kean gak ngajarin bohong tapi Cashel dengan alibinya sendiri membohongi Nada.


Cup


Cashel mencium pipi Nada,dengan gemas Nada juga mencium Cashel. "Papah gak nyium mamah?"


'Ingin rasanya Kean bersorak gembira'


'Ingin rasanya berjingkrak seperti anak kecil'


Mereka saling pandang, dan merasa kikuk mendengar pertanyaan putranya. " Cium dong pah!" pinta Cashel pada papahnya.


"Ya udah merem kamu Shel, nanti mamah malu" jelas Kean, yah wajah Kean memang sudah malu, apalagi Nada yang jelas jelas wajahnya bertambah merah.


"Ya udah Cashel merem" jawabnya patuh.


Cup


Tubuhnya seperti bergetar, seakan ada debaran hebat yang mengusik hati jantung dan paru parunya.


"I love you Nad" lirihnya di telinga Kean, membuat Nada salah tingkah. Wajahnya benar benar menyemu mendengar ucapan Kean.


"Udah belum pah?" Kean mendadak cengo, lalu menjauhkan wajahnya dari Nada.


"Udah sayang" jelas Kean yang wajahnya masih aneh. "hmm..." Kean berdehem untuk menetralkan suasana canggung di sana. "Kita makan ya, papah tadi udah pesen makanan!" ajak Kean kepada Nada dan Cashel.


Mereka duduk saling berdampingan, dengan Cashel diapit oleh Nada dan Kean. Biasanya Nada yang meladeni Kean dan Cashel tapi kini malah sebaliknya.


"Mah, Cashel ngantuk" ucapnya di sela sela aktivitas mereka yang sudah selesai makan bersama.


"Ya udah ayok bobo Shel!" ajak Nada yang telah selesai mencuci piring.


"Tapi bobonya sama papah sama mamah"


Deg


Kean dan Nada saling pandang. Permintaan Cashel ini terlalu mendadak, membuat Nada bisu, canggung antara mau menjawab ia dan tidak.


'Bagus Shel, gerak cepat kamu'


"Kata temen temen Cashel mereka tidur bareng papah dan mamah mereka, jadi Cashel pengin bobo bareng kalian." jelasnya dengan memanyunkan bibirnya.


"Ya udah ayok!" ajak Nada mengiyakan permintaan putranya.


'Yes'


Plok


Tepukan tangan Cashel dan Kean, saling beradu. Kean bersorak ria, merasa bahagia dengan permintaan sang putra.

__ADS_1


__ADS_2