
Kean mendekatkan tubuhnya lalu merengkuh Nada dengan erat, hingga Nada mengeluh sesak di dadanya. "Key sesak" Kean mengendorkan pelukanya, lalu menatap matanya turun ke bibir ranum itu.
Cup
Deg
Kean mengecup bibir Nada mesra, tidak ada penolakan darinya, membuat Kean mengakses lebih dalam serta memperdalam ciumanya.
Takut lebih jauh Kean melepaskan tautanya, membuat Nada malu, karna ia dengan mudahnya melayani Kean yang sedang mencubuinya.
"Maaf Nad " Ucapnya kepada Nada, membuat Nada lengsung menunduk tidak berani memandang Kean. "Kenapa ....." Tanya Kean tepat di telinganya.
Sudut bibir Kean tertarik ke samping melihat kelucuan Nada. "Malu?" Nada langsung berbalik memunggungi Kean lalu berjalan keluar dari kamarnya.
"Nad..... Nada"
grep
Kean menarik lengan Nada tiba tiba membuatnya berbalik menatap Kean. Kean yang masih rebahan mendudukan tubuhnya. "Sebentar aku mau bicara serius" ungkap Kean menatapnya.
Kean menepukan tanganya di sampingnya, pertanda ia meminta Nada duduk di sampingnya. "Duduk" Nada menurut mendaratkan tubuhnya di samping Kean.
Kean turun dari duduknya lalu berjongkok di depan Nada dan menggenggam tanganya. "Kamu tahu siapa orang yang menyusup rumah kamu, dan mengikuti kita siang tadi?"
Nada menggeleng dengan polosnya, membuat Kean menatap Nada lekat. "Suruhanya Fidan"
Deg
Mendengar Nama itu seperti trauma kedua dalam hidupnya. "Sangat berbahaya jika kamu kembali ke sana Nad" ucapnya beranjak dari jongkoknya "Kalau aku minta kamu untuk berhenti bekerja dari rumah sakit itu, apa kamu bersedia?"
Tanpa pikir panjang Nada langsung menganggukan kepalanya. "Aku mau" jawabnya dengan yakin. Dia tidak mau ambil resiko jika terus bekerja di rumah sakit itu.
"Lanjut kuliah mau?" Nada menatap binar Kean yang seperti memberikan bulan di pangkuanya.
Nada mengangguki ucapan Kean. Penawaranya cukup bagus, yah selain dia bisa fokus pada Cashel, dia juga punya kegiatan lain selain duduk diam karna ia sudah tidak bekerja. "Spesialis apa yang kamu inginkan?" tanya Kean pada Nada.
"Spesialis dalam"
"Kalau kita kembali ke sini, dan hidup bertiga bersama Cashel apa kamu mau?" Nada tampak menimang nimang ucapan Kean. Ia belum bisa jika harus tinggal berdua denganya.
Meskipun sejujurnya, Kean akan sibuk dengan shift nya, Cashel akan sibuk dengan sekolahnya, dan Nada akan sibuk dengan kuliah barunya.
"Baiklah kalau kamu belum siap, aku tidak akan memaksamu" ucap Kean mengalah. Tak terasa detik waktu menunjukan pukul 18.00. Terdengar adzan di dekat apartemenya.
"Key, Cashel...." Kean menepuk jidatnya, ia lupakan janjinya kepada putranya.
"Astaghfirulloh, lupa, ayooo" Kean menjulurkan tanganya, agar disambut oleh Nada.
Nada dengan senyumnya menerima uluran tanganya. "Kita sholat maghrib dulu ya Key" Bahagianya ketika Nada mengatakan kita, itu adalah hal terindah dan kemajuan terbaik dari sekian hari Kean meluluhkan hati Nada.
Setelah menunaikan ibadah sholat maghrib mereka bergegas keluar dari apartemen. Kean memberikan jaketnya pada Nada. " Pakai kasian Cashel kalau kamu sakit" ucapnya lalu menaiki motor matic milik tukang ojeg pangkalan tadi.
"Pegangan Nad!" Dengan ragu Nada memegang ujung baju di sampingnya erat. "ck ck" Kean menarik tangan Nada lalu menyedekapkan di pinggang Kean.
Membuat tubuh Nada menempel sempurna pada tubuh Kean. Hangat itulah rasanya dipeluk oleh Nada. Bahkan dulu sewaktu berangkat sekolah Nada tidak pernah berpegangan seerat ini.
Kean tahu Nada saat ini sedang nervous. Yah karna pengakuanya tadi bahwa ia masih mencintai Kean. Bahagia itulah Kean saat ini, mengetahui Nada masih sangat mencintainya, meski mungkin rasa sakit dan bencinya jauh lebih besar, tapi jika Nada masih mencintainya maka pengorbananya juga sepertinya tidak akan sia sia.
Sekitar 45 menit mereka sampai di rumah, waktu menunjukan pukul 19.00 Nada memasuki rumahnya dan disambut oleh kedua orang tuanya. "Cashel mana bunda?" Tanya Nada pada Zela.
"Sudah tidur, sama ayah kamu, soalnya tadi dia heboh banget, mainya sampai maghrib baru selesai." Yah Kean tahu pasti ayahnya mengajaknya ke Time Zone.
"Loh sudah pulang kalian" tanya Kenan, tangaya disambut oleh Kean dan nada.
__ADS_1
"Ia yah, Cashel udah tidur?" Kenan mengangguk. Lalu Nada berjalan hendak melihat sang buah hati.
"Yah, bun Kean mau bicara sebentar boleh sama kalian" Kean mengajak ayah dan bundanya menuju ruang keluarga.
Sesampainya di sana, mereka duduk berhadapan. "Bagaimana hubunganmu dengan Nada?" Kean mengangguk.
"Baik yah" ucapnya santai " Jadi gini yah, kemarin sewaktu.............." Kean menceritakan semuanya pada mereka.
"Tadi Kean nawarin Nada buat lanjut kuliah, dan dia setuju" Ayah dan bundanya mengangguk, mereka setuju jika Nada lanjut kuliah.
"Tapi.... "
"Tapi apa Key?" tanya mereka kompak.
" Kita tinggal disini" Kean sejenak terdiam" Dia belum mau diajak hidup bertida di apartemen Kean."
"Bagus itu" jelas Zela.
"Bunda...." Sanggah Kean.
"Bunda tahu kamu rindu Nada, tapi bunda saranin perlahan Key, kamu fikir kamu bisa membalikan kepercayaanya padamu dalam sekejap" tantang Zela.
"Iah Key, bunda kamu benar" dukungnya pada istrinya. "Nada itu wanita yang cerdas, jangan sampai kebodohanmu membuat Nada pergi kembali dari hidup kamu"
"Ia yah" Kean akhirnya mengalah.
"Dan kami juga sangat ingin memperbaiki hubungan kita dengan Nada" Terang sang ayah.
"Kamu tidak lupa kan Key, bahwa bunda adalah salah satu alasan kenapa Nada lebih memilih pergi, karna bunda Key"
Kean mengangguki ucapan bundanya, yah memang benar, semua masalah timbul karna Kean, tapi salah satu alasan Nada pergi adalah bundanya.
"Lagian Key, kami masih sangat rindu sama Cashel, dia itu mirip sekali sama kamu waktu kecil" ucapnya kepada Kean.
"Sekali tancap langsung top cerr" ucap Zela mengejek.
"Bunda ini, bahasnya itu loh!"
"Kenapa emang ia kenyataanya, coba kalau gak top cerr, bunda yakin, gak ada alasan Nada kembali pada kita" Yah kalau difikir fikir memang benar, salah satu pengikat paling kuat adalah anak.
Terkadang sesakit apapun hubungan suami dan istri mereka akan tetap mempertahankanya hanya demi anak. Karna hidup anak yang utuh dengan keluarga yang lengkap akan menumbuhkan rasa cinta yang sempurna dalam keluarga.
"Jika benih kamu gak top cerr, Nada pasti udah nikah sama orang lain, apalagi Nada cantik" jelasnya membuat Kean sengit.
Kean teringat dengan nama Varo dalam hidup Nada yang sering mengantar jemputnya. Kalau gak ada Cashel pasti Nada sudah nikah sama Varo. Persetan dengan gue yang hanya menumbuhkn luka dan kenangan pahit dalam hidupnya.
"Kean mau mandi dulu, bentar lagi mau berangkat shift" jelasnya kepada kedua orang tuanya. Dia tidak suka dijelek jelekan, dia juga tak suka dibanding bandingkan.
Kean berjalan meninggalkan ruangan kerja ayahnya menuju kamar Cashel. Nada disana, sedang mengganti baju milik Cashel dan membersihkan wajah putranya yang terlelap tidur.
'Sungguh wanita yang baik'
'cantik pula'
'Kemana saja aku sejak dulu, bahkan teman lelakiku sampai tergila gila padanya.'
"Key...." Sapa Nada setelah Nada selesai mengganti pakaian Cashel. Nada mendekat kepada Kean.
"Sudah tidur?" Nada mengangguk mengiyakan. Kean nyelonong masuk ke dalam kamar untuk untuk sekedar mengecup kening putranya.
"Selamat tidur super hero papah, semoga mimpi indah yah"
Cup
__ADS_1
cup
cup
cup
Kean berdiri mengakhiri perpisahanya dengan sang buah hati. Lalu menghampiri Nada yang sedang menatapnya haru.
"Nad aku pamit bentar yah" Pamitnya pada Nada yang memautkan alisnya bingung.
"Mau kemana?"
"Berangkat kerja, soalnya aku udah ijin berhari hari" ungkapnya dengan sopan. Nada tersenyum lalu mengangguk. Kean menjulurkan tanganya agar Nada menyaliminya" Nada menyambutnya, dan meraih ujung tangan Kean.
cup
Satu kecupan mesra Nada buat untuk mengakhiri percakapanya. Kean dengan lembut pula menempelkan bibirnya di kepala Nada.
Cup
"Assalamualaikum" Kean langsung berbalik meninggalkan Nada yang mestinya akan protes dengan kelakuanya.
Di ujung sana sebuah senyuman yang sangat indah tercipta. "Bunda rindu momen seperti ini yah"
"Sabar bun, ini sudah akhir dari penantian kita, bahwa akhirnya bisa di maafin Nada dan bisa mempersatukan mereka kembali.
Kean berjalan santai memasuki rumah sakit yang notabenenya masih milik keluarganya. Separuhnya adalah saham miliknya.
Kean memang terkadang menjalani proyek, jika sang ayah sedang keteteran, dan itulah hasilnya yang selama ini dikirimkan kepada Nada, sebagai bentuk nafkah suami kepada istrinya.
"Key....." Suara itu tampak familiar, yah itu milik Bara.
'Ya Alloh, kenapa seharian ini hidupku'
'Dikuntit lelaki hidung belang yang sukasama Nada'
'Ketemu Bintang yang dengan lancangnya masih mencintainya, dan sekarang apa, apa'
'Bertemu dengan lelaki lama yang akan meresahkan nantinya karna mereka pernah saling dekat'
"Woi Bar?" Kean menjabat tangan itu dengan senang "Widih anjir pakaian loe" Ucapnya kagum lalu melepaskan kaca matanya " Mirip Ceo Ceo gitu " ledeknya pada Bara "lagi ngapa bro?"
"Lagi nunggu papahku sakit" ungkpanya pada sahabat lamanya. "Loe ngapain disini?"
"Gue, dokter umum disini" jelasnya kepada Bara.
"Ada kabar belum dari Nada?" tanyanya itu, padahal bisa saja mereka berganti topik.
'Bener dugaan gue, Bara juga belum move on sama Nada'
'Gue gak bisa biarin ini'
"Key...." Sapa ulang Bara pada Kean.
"Yah..... ehm belum"
"Key...." Dari sebrang suara Derrick terdengar nyaring. "Sendirian aja, mana Nada? Katanya mau di ajak. "
Deg
'Nada'
'Jadi Nada udah balik'
__ADS_1