
"Kita diikuti Nad" Nada menutup mulutnya tak percaya, "Makanya kita harus cari jalan desa yang gak mungkin diikuti mereka" terang Kean, yang sudah di atas motor. Nada naik dengan cepat ke atas boncengan.
"Pegangan Nad!" Nada galau, ia takut jika akan menyentuh Kean. "Please Nad, kita sedang...."
grep
Deg
Jantung Nada mendadak tak bisa dikondisikan. Detakan itu mengeras tanpa jeda, frekuensi nadi meningkat. Kali ini Nada benar benar memeluknya erat.
Daerah ini masih jauh dari rumah Kean, 45 menit bisa saja ia menempuhnya. Kean sesekali mengusap tangan Nada yang memeluknya erat.
'Jantungku hampir copot Nad'
'Bukan karena takut, tapi baru kali ini aku menyadari bahwa perasaan ini sangat kuat untukmu'
Kean memelankan kemudinya, menghirup semilir angin desa desa yang tidak terlalu banyak kendaraan bermotor dan jauh dari kata polusi.
Jderrr
jderrr
Suara itu membuat Nada lebih mengeratkan pegangan tanganya di pelukan Kean. Sungguh Kean ingin waktu berhenti saat ini juga.
30 menit berlalu, air hujan mengguyur begitu deras. Sekujur tubuh mereka basah karna air hujan. Berhubung alamat ini sangat dekat dengan apartemenya dulu Kean memberi saran untuk mampir.
"Nad...." Nada memiringkan kepalanya, melihat Kean yang sedang fokus mengendarai motornya.
"Yah...." Matanya fokus di tetesan air hujan yang mengalir di bibirnya.
'Memang dasarnya tampan, mau dilihat dari samping pun tetap akan menampilkan pesonanya'
'Lihat.... rambutnya basah, alisnya tebal, hidungnya mancung dan air hujan itu mengguyur tubuhnya, membuat beberapa tetes air jatuh dari dagunya membasahi kain yang melekat di tubuh Kean'
Glek
Nada menelan salivanya, ia terpesona melihat penampilan Kean saat ini. Munafik jika Nada tidak menginginkanya. Bibir itu yang dulu selalu Nada rindukan.
'Mikir apa si Nad'
'Bisa bisanya kamu, mikirnya sampai sejauh itu'
"Mampir apartemen dulu mau?" Kean takut mendapat penolakan dari Nada. Yah gila saja Kean mengajak Nada berdua kembali ke apartemenya, hanya berdua, jelas saja Kean ketar ketir takut Nada marah.
Nada menatap sekeliling, yah memang benar area ini dekat dengan apartemenya dulu. Dengan segala pertimbanganya Nada menganggukan kepalanya.
Mereka butuh berteduh, mereka juga butuh perlindungan. Entah siapa yang berani menyusup rumah Nada dan berakhir kejar kejaran di jalan.
"Ya Key...." Kean tersenyum mendapat persetujuan dari Nada, 5 menit kemudian mereka sampai di apartemen. Nada masih memeluk erat tubuh Kean, entah kenapa, mungkin Nada begitu rindu padanya.
"Nad..."
"Nad"
Kean mengembangkan senyumnya, tanganya masih memeluknya erat. "Kalau kamu rindu, kita lanjut di dalam" ucapan Kean terdengar oleh Nada, spontan Nada melepaskan pegangan tanganya.
"Maaf" ucapnya dengan wajah memerah seperti tomat.
"Ayo masuk!" ajak Kean menggandeng tangan Nada. Tanganya sangat dingin membuat Kean mengusapnya dan menyatukan kedua tangan mereka. "Tangan kamu dingin banget Nad" ucap Kean, Nada yang sadar berusaha melepaskan tapi Kean malah menggenggamnya lebih erat.
ceklek
'Masih rapi' tuturnya lembut. Kean merawat apartemenya, apartemen dengan sejuta kisah memilukan dan menyayat hati. Tapi tidak dipungkiri, disini jugalah kenangan manis tercipta'
Sesampainya di apartemen tersebut, Kean menuju kamarnya, hingga sampai di depan pintu ia berhenti " Nad...."
Nada membalikan tubuhnya yang sedang berdiri menatap figura dengan foto bergambar pernikahan dengan baju seadanya. Lekungan bibirnya menipis menandakan ada senyum indah di sana.
Kean memeluk Nada dari belakang. Fiks Kean mulai berani, sejak tadi pagi sepertinya ia selalu melakukan kontak fisik dengan Nada. Kean yang menaruh kepalanya di atas pundaknya ikut memandang figura tersebut.
"Mau di ulangi?" Tanya Kean membuat gadis berhijab hitam itu menatap Kean. Sapuan hangat nafas mereka saling berhembus menerpa kulit wajah mereka. "Pernikahanya" jelas Kean, "atau malam yang panjang waktu itu?" ucap Kean jail, sehingga membuat Nada mengingat malam gila waktu Kean memperkosanya.
Malam yang dulu merupakan kisah masa lalu yang menyakitkan ternyata setelah terpisah jauh adegan itulah yang sering menghantui mereka menjadi sebuah kenangan indah dan yang tak pernah bisa dijelaskan dengan kata kata.
__ADS_1
Nada menggeleng "Tidak ingin" Bohongnya dengan jawabanya. Kemudian Nada melepas genggamanya lalu masuk ke dalam kamar. Kean sedih yah, karna terlalu dalam menggoreskan luka kepada istrinya, sampai Nada begitu benci padanya.
Padahal Nada rindu, Kean juga rindu, melepaskan rindu, saling bertukar cerita dengan canda dan senyum. Saling bercengkrama bersama, tapi itu hanyalah harapan semu.
Sejak pagi hingga kini detik jarum menunjukan pukul 15.30 mereka belum memakan sesuap nasi pun. Kean dengan segera melakukan delievery order.
Kean berjalan menuju balkon rumahnya, di depan sana ada motor yang sejak tadi berlalu lalang.Tak lama sebuah mobil menyusulnya, mereka tampak berunding.
'Siapa sebenarnya mereka'
'Untuk apa mereka menguntitku dan menyelusup rumah Nada'
drrtt
drtrrt
drtrtr
"📞Tang"
"📞Ya... apa"
"📞Gue lagi di apartemen, tolong loe susulin, ada banyak orang yang nguntit gue sama Nada"
Bintang tercengang mendengar nama Nada, ia memang belum bertemu Zen sejak Zen kembali dari rumah sakit.
"📞siapa?" Bintang mengkonfirmasi ulang ucapan Kean. "Siapa Key?"
"📞 Nada" jawabnya cuek.
"📞Nada udah balik Key, kenapa loe gak..."
"📞Loe kesini deh, critanya nanti, ini bahaya soalnya, dari duhur gue udah di kejar kejar sama mereka."
"📞Gak lapor polisi aja"
"📞Gue penasaran siapa orang di balik ini makanya gue gak lapor, cih berani sekali mereka nyusup rumah Nada."
"📞Gue kesana" Kean mengangguk hendak mematikan ponselnya "Ajak Langit"
"📞Pasti, dia adalah orang yang seharusnya meminta maaf pada Nada terlebih dulu"
tut
tut
tut
"Nad" Panggil Kean pada Nada. Nada yang masih berada di dalam kamar langsung keluar.
'Untung masih ada baju panjang beserta hijabnya'
ceklek
"Ya Key?" Lembut, kali ini Nada bersuara lembut, entah kenapa sejak pertemuanya dengan Bunga Nada terlihat lebih akrab dengan Kean.
"Makan dulu, seharian kita belum makan" Kean mengangkat bungkusan nasi dengan sterofom.
"Ia sebentar" ucapnya mengambil ponselnya di kamar. Nada mengecek ponselnya. Ternyata Cashel berulang kali menghubunginya.
Nada berjalan menuju meja makan sambil menghubungi Cashel melalui video call. Setelah panggilan tersambung barulah Nada duduk di samping Kean.
"Assalamualaikum mamah, papah "
"Waalaikum salam sayang, sudah pulang Shel?"Cashel di sana mengangguk.
"Papah ko belum pulang si sama mamah, ini Cashel mau jalan jalan pengin ajak mama papah" serunya dengan raut wajah cemberut.
"Sayang papah mamah masih ada urusan, nanti kalau udah selesai papah mamah susulin kamu yah" ucap Kean dengan janjinya.
"Beneran pah mah?" Kean dan Nada menganggukan kepalanya kompak.
"Ia sayang, bilang sama opa oma buat share lokasi nanti biar papah dan mamah nyusul"
__ADS_1
"Siap mamah, ya udah, Cashel tutup ya, jangan lupa ngusul, Cashel tunggu"
"Ia sayang"
"Assalamualaikum mamah"
"Waalaikum salam"
Nada memutuskan sambunganya. Ia tak sadar bahwa posisi Nada begitu dekat dengan Kean. Membuat Kean menatap Nada yang saat ini memakai hijab setengah badanya.
"Kenapa kamu selalu memakai hijab di depanku" tanya Kean kepada Nada. Nada menatap Kean, yah Kean berada tepat di sampingnya.
"Belum terbiasa lepas kerudung" Mata mereka masih saling bertatapan, lalu Kean memegang kerudung Nada, dan hendak melepaskanya.
"Jangan Key....Aku...."
"Hanya di depanku, jangan memakai hijab" Kean mencoba melepaskan hijab Nada. "Kita masih sah di mata hukum dan agama Nad" ucapnya lalu menyampirkan krudungnya di kursi sebelah Kean.
'Nada terlihat lebih cantik'
'selama ini Nada masih bisa menjaga kehormatanya'
'Kecantikan ini adalah kecantikan yang Nada tutupi hanya demi diriku'
'makasih'
Nada terlihat aneh, ia membenarkan tatanan rambutnya yang menurut Kean sudah rapi. Anak rambutnya sedikit berantakan, tapi anehnya membuat Nada lebih cantik dan mempesona.
Tak mau berlarut Kean memutus kontak matanya dengan Nada, lalu menyiapkan makanan yang sudah ia pesan. "Ayo makan Nad, kita belum makan sejak pagi." Nada mengangguk canggung dan malu kepada Kean.
Mereka makan dalam diam, berkecamuk dengan fikiranya masing masing. Setelah selesai, Nada membersihkan sterofomnya
Ting
tong
ting
tong
Kean bergegas mengambil hijabnya lalu memberikanya pada Kean. "Pakai hijabmu, ada tamu di depan." ucap Kean berlalu menuju pintu depan. Nada lega, setidaknya ia memakai hijabnya kembali.
Ceklek
"Gimana?" tanya Kean penasaran.
"Sedang diselidiki plat nomor motor dan mobilnya" jelas Bintang, ada langit di sisihnya.
"Mana Nada?" tanya Bintang tak sabar ingin menemuinya.
"Siapa Ke...." ucapanya mendadak berhenti dan membatu di sana. Bintang menatap Nada bahagia. Ia langsung berlari ke arah Nada dan memeluknya.
grep
Nada kaku mendapat pelukan dari laki laki lain selain Kean. Mungkin selancang lancangnya Kean, Nada akan biasa saja, hanya sedikit jengkel karna Kean sering tiba tiba memeluknya.
Nada hanya diam, dipelukan Bintang, Kean yang melihat itu langsung menarik Bintang dan menjauhkanya.
"ckk...." Kesalnya Kean kepada Bintang "Ingat dia istri gue Tang" ucapnya dengan penuh cemburu. Bintang melepaskan pelukanya karna ditarik Kean. Kean memegang tanganya lembut.
"Maaf...." ucapnya penuh sesal. Hatinya ikut berkecamuk melihat Kean yang memegang tangan Nada.
"Gimana kabar kamu Nad?" Nada mengangguk lalu tersenyum ramah.
"Baik Tang Alhamdulillah, kamu?" Bintang pun kembali tersenyum kepada Nada.
"Baik....."
"Nad...." Dari belakang suara itu datang, lelaki yang ternyata berperan penting menyakiti Nada dan memperkeruh suasana adalah Langit.
Sosok yang tidak Nada kenal dengan baik ternyata menyimpan dendam pada Nada. "Langit..."
Langit berjongkok di depan Nada, lalu meminta maaf kepada Nada. "Maaf Nad maaf.... maaf karna secara tidak langsung aku adalah salah satu penyebab kamu pergi"
__ADS_1