Cinta&Luka PERJODOHAN

Cinta&Luka PERJODOHAN
33


__ADS_3

Saat kita mulai mempercayai orang lain, pada akhirnya kita akan mendapat dua jawaban. Teman hidup atau pelajaran hidup


*


"Kita keluar menemui orang tua Cila!" ajak Cakra pada Kean. Mereka berjalan keluar dan menemui orang tua Cila


"Tant...."


"Kenapa Key?" Kean mendadak gagu dan kelu saat akan berbicara.


"Abi kabur" Yah itu suara Cakra, dengan lantang mengucapkanya. Adel hampir terjatuh, lalu dengan sigap Kevin memapahnya, ia kaget kenapa ada kejadian seperti ini.


"Apa ini karma karna dulu aku meninggalkan Saka, Kev?" Kevin yang berada di pelukan Adel mengusap pundaknya.


"Jangan berfikir begitu Ra" Kevin ayah Cila menenangkan istrinya.


Mereka semua panik, bahkan tangis Adel pecah, "Bang" Kenan mengusap adiknya dan menenangkanya. Suara riuh itu tampak memperkeruh suasana.


'Brengsek emang Abi'


Yah itu Derrick, ia akan membuat perhitungan dengan Abi. Ia bersumpah akan membunuh Abi jika ia berhasil bertemu denganya.


"Cakra...." Atensi mereka terpaku pada Cakra.


"Maukah kamu menggantikan abangmu?" itu suara ibunda Cakra. Ayah Cakra menganggukan kepalanya kepada Cakra.


"Tapi yah...." Sanggah Cakra. Cakra menggeleng, namun semua tatapan mengarah pada Cakra lalu menganggukinya.


Kali ini Kevinlah yang mendekati Cakra lalu meminta Cakra menggantikan Abi. "Cakra, anggap ini permintaan seorang ayah pada anaknya" Cakra ragu, yah, sangat ragu, ini hubungan sakral yang tidak main main, dan bagi Cakra menikah sekali seumur hidup.


"Tap...."


"Bunda mohon nak" ucap Zela, walau bagaimanapun Cila seperti anaknya sendiri "Kasian Cila, jika pernikahan ini harus batal."


"Nak Cakra" Cakra menoleh pada Adel ibunda Cila "tante tidak memaksa, karna pernikahan adalah hal yang sakral, dan lagi kamu tidak mencintai Cila. Juga diantara kalian sama sekali tidak ada cinta. Jadi tidak apa apa, jangan korbankan dirimu hanya demi Cila, ini memang kesalahan kami para orang tua yang terlalu terburu buru mengambil keputusan dan akhirnya Cila yang terluka, Cila yang sakit, dan Cila yang malu"


"Cakra bersedia tante" semua mata tertuju pada Cakra, yah ibunda Cila begitu baik pada Cakra, ia tidak tau kenapa ungkapan ibunda Cila justru membuat Cakra tidak rela jika Cila terluka, sakit, dan malu.


"Apa kamu serius na?" tanya Adel mendekati Cakra. Cakra mengangguk mengiyakan.


"Baiklah tante dan om yang akan membicarakan ini kepada Cila. Mereka beranjak, meninggalkan Cakra menuju kamar Cila.


Sebenarnya Cakra hanya spontanitas mengatakan itu, ia tidak tega melihat ibunda Cila dan Cila sedih, bagi Cakra Cila segalanya. Pernah terbesit pertanyaan ragu antara perasaan suka dan rasa sayang sebagai sahabat dilubuk hatinya.


"Cila...."


"Bunda......" Cila merengkuh tubuh bundanya. Dengan lembut Adel mengusap pundak putrinya. "Maafkan bunda nak" ucap Adel pada putrinya. Cila menggeleng dengan airmata yang sudah jatuh.


"Ini salah Cila bunda"


"Nak...." itu suara Kevin, dengan usapan lembut di kepalanya. "Cakra yang akan menggantikan Abi" Cila menatap ayahnya, ia tidak percaya dengan ide ayahnya.


"Gak yah...Cila gak cinta sama Cakra begitu juga dengan Cakra yah"


"Lalu bagaimana kami akan membatalkan pernikahanmu" Cila terdiam membeku disana, pertanyaan bundanya ada benarnya.


"Tapi bunda....?" sanggah Cila


" Fikirkan orang orang yang sudah datang disini, apa kamu mau mempermalukan keluarga ibunda dan ayahandamu nak?" Lagi lagi Cila membeku, ia tak kuasa menahan air mata.


tok


tok


tok

__ADS_1


ceklek


"Maaf tante Cakra mengganggu, boleh Cakra bicara berdua dengan Cila."


Kevin dan Adel mengangguk "Baiklah Kra, silahkan, mungkin kamu bisa meluluhkanya." mereka berjalan keluar meninggalkan Cakra dan Cila.


"Kenapa kamu memberikan ide gila ini Kra?"


Cakra diam, ia menatap Cila serius."Ayah, bundamu, dan kedua orang tuaku yang minta Cil."


"Tapi kamu bisa nolak"


"Ikut aku keluar Cil" Cakra menarik Cila, namum Cila menolak, dengan cepat Cakra membuka ghorden di kamar Cila.


Srekk


"Lihat Cil, lihat.....!" suara Cakra meninggi "Betapa mereka bahagia akan pesta ini, lihat, betapa kamu tega memberikan luka kepada mereka" Cila terdiam, tak tau ingin menjawab apa.


"Kita lakukan pernikahan ini hanya diatas kertas, terserah kalau nantinya kamu akan minta cerai atau kembali pada Abi, saat Abi sudah kembali" Cila bergeming dengan tawaran Cakra, tapi ia tidak mau menikah selain dengan Abi.


"Menikah itu sekali Cakra, pernikahan itu sakral, menikah itu bukan mainan seperti boneka dan robot yang kita mainkan dul...."


"Aku hanya butuh jawaban kamu, mau atau tidak?" Cila menggeleng.


'Kenapa ada rasa nyeri yang menjalar di hatiku'


Cakra menarik nafas kasarnya, lalu menghembuskan perlahan. " Baiklah, aku yang akan membubarkan pernikahan ini" Cakra berjalan keluar dari kamar Cila.


BRAKK


Suara pintu yang ditutup kencang itu membuat Cila terlonjak kaget.


Semua mata tertuju pada Cakra yang berjalan keluar menemui seluruh anggotanya. "Bagaimana Cakra" wajah Cakra tampak datar tidak ada senyum di wajahnya. Kemudian Cakra menggelengkan kepalanya.


"Maaf pernikahanya harus...."


Yang pertama kali menatap lekat wajah itu adalah Cakra. Karna Cila berada tepat di sampingnya. "jangan beca...."


''Aku serius Kra" ucap Cila menganggukan kepalanya pada Cakra.


"Baiklah, penghulu sudah siap, mari kita laksanakan pernikahanya!" ajak Axel opa Cila.


"Sudah siap?" Cakra mengangguk, ia sudah berganti kostum sama seperti Cila.


"Saya nikahkan dan kawinkan..........."


"Saya trima nikah dan kawinya Arcila Queenara Markle........"


"Bagaimana saksi ?"


"Sah Alhamdulillah"


Hikmat itulah yang terjadi, padahal Cakra masih Sma sama kaya Kean, tapi Cakra terlihat lebih dewasa.


*


"Gimana rasanya nikah tiba tiba?" tanya Kean pada Cakra yang meneyendiri di taman belakang dengan keadaan gelap dan remang, dimana yang lain sedang asik berpesta, ia menyendiri disini.


"Gue ragu....." Ucap Cakra


"Why?" Kean ikut menyandarkan punggungnya pada kursi berwarna putih di taman itu.


"Takut gak bisa jaga Cila, gak bisa bahagiain dia, dan yang jelas pernikahan ini tidak Cila harapkan." ucap Cakra menatap datar pemandangan indah di depanya.


"Kita masih muda, jalani aja dulu, gak usah berfikir yang macam macam." ucap Kean menenangkan.

__ADS_1


"Itu loe, yang hatinya masih utuh untuk Bunga, Cila beda, dia istimewa walaupun gue belum cinta sama dia, begitu juga Nada Key, dia lebih istimewa dibanding Bunga, jadi sayangi, hargai, dan berusaha cintai dia, karna ..... " Cakra menatap Kean dengan tatapan seperti menasehati.


"Rasa cinta dan sayangmu bahkan tidak bisa dibandingkan dengan apa yang sudah kamu renggut darinya" Cakra beranjak dari duduknya lalu berjalan meninggalkan Kean.


"Ingat Key, sekali kamu kehilangan dia, mungkin itu adalah penyesalan yang tidak akan ada ujungnya untukmu" Ucap Cakra yang berhenti ditengah tengah langkahnya.


Jleb


Kalimat itu benar benar membuat Kean takut akan apa yang terjadi kelak. Kean beranjak lalu ikut masuk ke rumah Cila, disana Nada sedang bersendau gurau dengan keluarganya, tampak hangat, itulah yang ia rasakan.


"Nad" Kean mendekati Nada lalu mengambil tanganya "Kita balik, udah malam" bisiknya di telinga Nada, Mengingat esok adalah hari pertama masuk sekolah.


"Yah, bun, om, tante, opa, oma, Kean pamit mau pulang, udah malam, besok harus sekolah" pamit Kean pada mereka.


"Kean ini, kaya yang pengantin baru aja, ngebet pulang." ledek Arion kepada keponakanya


"Ia dong om gak kalah sama yang baru nikah" Semua yang ada diruang tamu tertawa karna gurauan receh Kean.


"Ya udah bun, yah, om tante, oma dan opa, Nada pamit Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam sayang, hati hati ya" ucap Kenan.


Tampak tidak ada percakapan antara Kean dan Nada, ia diam membisu, membuat Kean gelisah.


Bruk


Nada terjatuh ke pundak Kean, yah Nada tertidur, mungkin ia lelah, semalaman merawat Kean, Kean tau Nada yang telah merawat Kean saat mabuk, dan hari berikutnya pergi bersama bundanya seharian hingga larut, paginya di rumah Cila, disana dia tiada hentinya membantu acara itu, sampai larut ia diajak bercanda sendau gurau bersama keluarganya.


"Nad" tiada respon, Nada sudah tertidur dalam dekapan Kean. Kean dengan tlaten memapah Nada ke dalam kamarnya.


Cup


"Mimpi indah Nad"


Niatnya mengajak Nada pulang ingin membicarakan masalah mereka, yah tidak enak rasanya tinggal satu atap setiap hari didiamkan oleh Nada, sayangnya Nada malah tertidur.


*


Pagi ini Nada sudah siap dengan seragamnya, ia juga sudah membuat sarapan pagi, Nada tau Kean tidak terlalu suka makan pagi, sehingga Nada hanya membuatkan Kean roti dengan selai kacang kesukaanya.


"Nad"


"....." Nada diam ia menatap Kean yang duduk didepanya. Nada lalu menyerahkan roti dengan selai "Makan dulu!"


Kean menuruti Nada, memakan rotinya lalu meminum susunya hingga tandas. Melihat Nada yang beranjak, membuat Kean ikut beranjak, ia takut Nada menghindariya.


"Sebentar Key, mau cuci piring" Kean tersenyum, ia terlalu gugup untuk mengatakanya.


Setelah Nada membersihkan gelas dan piring yang basah Nada menatap Kean, ia menunggu Kean yang hendak berbicara.


"Kalau aku punya salah, aku minta maaf, please!" Kean memegang tangan Nada, sebenarnya Nada masih enggan memaafkanya, hanya saja Nada sedang malas bertengkar.


"....." Nada mengangguk, dengan cepat Kean memeluk Nada dan mengusap surai hitam milik Nada.


"Jika aku salah, katakan Nad, jangan diamkan aku seperti ini, tidak enak didiamkan olehmu" jelasnya kepada Nada membuat Nada menganggukan kepalanya.


"Aku akan berubah Nad, aku janji" jelas Kean pada Nada. Nada mengangguk mengiyakan.


'Sayangnya aku mulai ragu dengan janjimu Key'


"Baiklah ayo berangkat" Ajak Kean pada Nada.


Mereka mulai membelah jalanan, namun Nada lebih banyak diam, Kean menggenggam tangan Nada dengan erat sesekali menatapnya intens. Nada bahagia, ia senang diperlakukan seperti ini.


'tapi tetap saja hatinya masih untuk Bunga'

__ADS_1


Sesampainya di sekolah, Kean menggandeng tangan Nada sampai di kelasnya lalu Kean melepaskanya. Nada menatap tautan tangan yang terlepas, lalu melihat ke arah kelasnya, ada Bunga di sana.


'Begini rasanya dilambungkan tinggi lalu dijatuhkan sekeras kerasnya'


__ADS_2