Cinta&Luka PERJODOHAN

Cinta&Luka PERJODOHAN
73


__ADS_3

'cup'


Kean mengecup bibir Nada yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Membuat Nada memelototkan matanya.


Ciuman itu singkat, lalu Kean menjauhkan wajahnya dari wajah Nada. "hanya kamu obatnya Nad" Nada hanya menunduk, tidak berani menatap Kean karena debaran jantung yang menggila.


Melihat Nada yang diam, Kean kembali memagutkan bibirnya.


cup


Kecupan yang tak hanya singkat, menyatukan sebuah kekhawatiran menjadi sebuah kehangatan yang begitu mereka rindukan.


Jujur Nada rindu, entah setan mana yang menyusup hingga Nada pasrah tanpa sebuah pemberontakan. Merasa Nada yang kehabisan oksigen Kean melepaskan pagutanya.


Senyum indah Kean terukir begitu sempurna. Yah siapa yang tak bahagia, bisa kembali bersama dengan Nada itu hal yang sangat diidamkanya. 7 tahun itu bukan waktu yang sebentar, bahkan sehari itu rasa seminggu bagi Kean.


'Hidup dalam penyesalan adalah hal yang sangat menyakitkan'


'Tapi mungkin Alloh kembalikan Nada kepadaku agar aku tau seberapa berharganya Nada dalam hidupku'


Nada menunduk, ia tidak berani menatap wajah tampan suaminya. "Kenapa?" Nada menggeleng sebagai sebuah jawaban. "Malu?" Jelas malu kenapa ditanyakan. Ingin rasanya Nada memukul Kean.


Ditatapnya jam dinding di atasnya, yah detik waktu sudah menunjukan pukul 23.00 tampak Nada yang menguap. "Tidur Nad....."


Nada mengangkat kepalanya lalu ia menggelengkan kepalanya, antara ya dan bingung. "Lalu kamu?" tanyanya kepada Kean. Maksud Nada, Nada takut Kean butuh sesuatu makanya ia belum mau ijin untuk tidur.


"Kenapa denganku....Kalau kamu mau nemenin, aku siap olahraga malam" ucapnya menautkan alisnya. Senyum itu kembali, Kean yang mesum seperti dulu telah kembali.


'Dasar gila'


'Masih sakit tetep aja mesum'


"Yang luka itu cuma punggung Nad, jadi kalau kamu-" ucapnya tepat di samping telinga Kean. Nada dengan cepat memotong kalimat Kean.


"Keannnn"


Akhhh


Nada mendorong Kean yang tadinya duduk menjadi berbaring di kasur. Jangan lupakan punggungnya yang terasa nyeri. Untung Nada baru saja memberikan analgetik dosis tinggi lewat iv line, jadi rasa nyeri sudah berkurang.


analgetik adalah obat pengurang nyeri


Iv line adalah pemberian terapi melalui infus yang ditusukan melalui intravena


grep


brugh


Kean mencekal tangan Nada yang kemudian membuat Nada jatuh di atas tubuh Kean.


Akhh


Nada khawatir pasalnya saat ini tubuh Nada menindih tubuh Kean. "Sakit yah.... Maaf" ucapnya khawatir, yah Nada masih di atas tubuh Kean. Saat Nada hendak beranjak tangan Kean sengaja di letakan di pinggangnya.


"Sebentar Nad." Iris mata hazel itu bertubrukan dengan iriz mata kecoklatan. Rindu itulah hal yang Kean rasakan. Sungguh bila Kean sedang sehat, Kean akan menerkam Nada saat ini juga. "Biarkan seperti ini....Aku rindu, sangat rindu"


Nada berontak, ia tak mau berada di posisi seperti ini, rasanya jantung seperti berdetak lebih keras dengan ritme yang begitu cepat. Nada memukulkan kedua tanganya yang berada tepat di dada Kean.


"Jangan gerak Nad, nanti adek kamu bangun" pintanya kepada Nada yang terus melakukan pergerakan di atasnya.


"Key .... Lepas gak, kamu ..... mesum dasar brengsek kamu Key." Terus saja Nada memukulkan tanganya dan memberontak.


"Ahhh.... awh .... awh.... Nad....Nad.... Jangan gerak Nad, hey...." Ucapan Kean tak di gubris oleh Nada. Hingga tepat di perutnya seperti ada sebuah benda yang tiba tiba mengeras.

__ADS_1


Nada memelototkan matanya, lalu diam membatu. "Key.... Kamu....."


'Sial'


Rutuk Kean karena adik kecilnya telah bangun. "Tanggung jawab Nad....." pintanya memegang tangan Nada dalam satu genggaman.


"KEANNNN....." Nada mendorong Kean sekuat tenaga, lalu berlari sekencangnya keluar dari kamar Kean. Jantungnya lagi lagi berdebar dengan kencang, sangat kencang hingga sepertinya jantungnya akan melompat dari tempatnya.


Dengan susah payah Kean meredam nafsunya. Sudah selama ini, Kean tidak pernah merasakan kehangatan seperti tadi, bahkan adik kecilnya seperti mati suri. Maksudnya memang karna tak pernah digunakan.


Kean berjalan loyo ke arah kamar, lalu ia tuntaskan hasrat yang tadi sempat menggebu. Sungguh menahan hasrat adalah hal yang sangat menyiksa batin maupun fisik seorang lelaki. Katanya lohbya, tapi nyatanya memang demikian.


Kean duduk di tepi ranjang. Mengingat kejadian barusan sungguh membuat Kean tersenyum penuh arti. Ia kembali fokus dengan kejadian mobil Nada yang blong. Siapa yang berani melakukan ini.


Kean meraih ponselnya. Retak itulah gambaran ponsel Kean yang saat ini berada di genggamanya. Ia memencet sebuah kontak nama. Yah ia Bintang, sosok lelaki yang menjadi temanya sampai detik ini.


"📞Hallo Tang"


"📞Hmmm yah"


"📞Bangun!"


"📞Bangke loe Key, ini jam berapa loe nelphone?" Bintang dan Kean sama sama menatap jam di dinding, 00.45. Jelas saja Bintang marah, ia sedang di alam mimpi, dan dengan sembrononya Kean membangunkan Bintang.


"📞 Loe lihat berita gak Tang?" tanya Kwan to the poin.


"📞 hmmm berita apa?" ucapnya mulai tak fokus kembali, yah matanya sudah kembali ke alam mimpi.


"📞Mobil Nada meledak" ucapnua sedikit dalam.


"📞 HAH....Gak....Eh....Jangan bencanda bego" Sejenak nyawa Bintang utuh kembali, ditegapkanya badanya sempurna, lalu melakukan VC dengan Kean.


"📞Giliran denger Nada ajah, langsung bangun loe" Bintang terkekeh yah, jujur Bintang akui hatinya memang masih milik Nada, tapi jujur ia juga gak pernah ingin berharap, karna Bintang sadar Nada takan menjadi miliknya.


"📞 Loe lihat berita gak si?" Bintang menggeleng, ia memang belum mendengarkan berita hari ini.


"📞Belum Key"


"📞Ya udah besok kesini pagi pagi sama Langit, anterin anak gue sekolah." pintanya yang kemudian menutup ponselnya sepihak.


tut


tut


tut


Jelas saja Bintang marah, sudah membuat jantungnya kaget setengah hidup, sekarang dengan seenak jidatnya ia memutuskan panggilanya.


"Sial Kean"


* *


Pagi sekali Langit dan bintang bersiap ke rumah Nada, Nada yang telah selesai menyiakan makananya, lalu membangunkan Cashel.


"Mamah...." panggilnya yang sudah siap dengan seragam sekolahnya.


"Loh Cashel malah udah siap sayang." tanyanya dengan wajah kagum, yah putranya ini sudah siap dengan tas ranselnya. Padahal jam masih menunjukan pukul 06.00


"Papah mana mah? Papah kemana semalah, kenapa papah tidak jadi mengajak kita makan malam" Nada termenung, yah Nada tadi pagi subuh subuh sudah membangunkan Kean untuk sholat, tapi sepertinya setelah sholat Kean tertidur lagi.


"Sayang, mmmm papah kamu semalam kecelakaan Shel" jelasnya dengan perlahan, ia tidak mau anaknya syok karna berita itu.


"APAH MAH, PAPAH ....." Cashel berlari menuju kamar ayahnya yang berada di lantai 2 dengan tergesa gesa dan khawatir.

__ADS_1


"Assalamualaikum pah"


ceklek


Kean yang sedang berdiri mencoba mengganti cairan infus menengok putra kesayanganya. "Jagoan papah sudah mau berangkat" jawabnya yang berjongkok mensejajarkan tubuhnya setelah selesai mengganti plabot infus.


"Papah ..... mana yang sakit?" Nada sampai di ambang pintu, ia menatap Kean yang juga menatapnya lalu Nada menganggukan kepalanya.


"Papah gak papa Shel, hanya saja mobil mamah kamu meledak." ungkapnya kepada Cashel.


brugh


Cashel memeluk Kean dan mengeratkan pelukanya. Sehingga timbul ringisan dari Kean.


Akhh


"Cashel jang-" ucapan Nada yang hendak meminta Cashel agar tidak memeluknya erat tertahan oleh Kean yang melambaikan tanganya, tanda bahwa ia tidak apa apa.


"Papah beneran gak papa?" Kean mengangguk lalu melepaskan pelukan Cashel dan menggantinya dengan usapan di kepala Cashel.


"Shel sudah jam 06.00 lewat, kita makan dulu yah, nanti terlambat sekolah." pinta Nada dengan lembut mendekati Cashel.


"Ia sayang, nanti terlambat, ayo kita makan bersama" Ajak Kean yang kemudian mendoromg standar infus. Nada dengan sigap membantu mengangkatnya saat berada di tangga.


Nada menyiapkan makanan untuk Cashel dan Kean. Setelah memimpin doa, Kean dan Cashel makan bersama. Sayangnya Kean kesusahan saat makan. Karna infus Kean berada di tangan Kanan "Mah....." Atensi keduanya berpusat pada Cashel.


"Iyah Shel?"


"Papah suapin mah kasian" Skakmat buat Nada. Nada dan Kean saling berpandangan, Kean berasorak, begini rasanya punya anak jenius. Nada mengiyakan permintaan Cashel, ia dengan tlaten menyuapi Kean.


Tak lama sebuah dentingan bel berbunyi, dan ARTnya lah yang membukakan pintu. Ada Bintang di sana, ada Langit juga yang menyaksikan kemesraan Nada dan Kean.


khem


Deheman Bintang mengalihkan fokus mereka. Ditatapnya Bintang dan Langit yang berdiri di sana. Nada cengo saat ini tanganya sedang mengulurkan sendok dan Kean sedang membuka mulutnya.


"Bau anyir gila" seru Langit pada Bintang. Ucapanya berniat menyindirnya.


"Maksud loe?" Bintang melotot


"Sakit tak berdarah ini namanya makanya anyir" jelasnya kepada Bintang.


"Sial"


"Tang, Ngit, sini gabung" mereka berjalan layaknya pengganggu yang merusak suasana.


Nada beranjak dari duduknya. Ia berjalan menuju Cashel. "Sayang kenalin dia om Bintang sama Langit"


Bintang dan Langit mengulurkan tanganya pada Cashel, lalu Cashel menyambutnya. "Kenalin om nama saya Cashel." Bintang menatap Cashel dengan lembut begitu juga Langit.


"Bener bener kecebongnya Kean" lirih Bintang yang terdengar mereka semua.


"Mah masa Cashel dibilang kecebong" kesal Cashel pada Bintang dengan mengerucutkan bibirnya.


"Om Bintang cuma becanda Shel, jangan diambil hati yah." Cashel mengangguk, lalu duduk kembali. Ia tampilkan wajah tak sukanya pada Bintang.


Bintang menggaruk tengkuknya yang tak gatal, lalu beralih pada Nada. "Nad....loe gak papa? Ada yang luka, atau sakit?" tanya Bintang beruntun yang penasaran dan memutar mutar tubuh Nada dengan inci, Nada cengo, yah jelas saja cengo, Nada sehat walafiat.


"Aku gak papa, Kean yang luka parah" tunjuknya pada Kean yang terpasang infus, lalu Nada menjauhkan tubuhnya pada Bintang, barulah mereka berdua mengalihkan pandanganya kepada Kean yang sudah kesal karena Bintang yang terlalu over kepada Nada.


Langit menyikut Bintang karena terlalu over pada istri orang. "mampus loh" lirihnya pada Bintang.


Cashel disana menyaksikan Bintang yang over pada mamahnya, dan Kean yang wajahnya mulai garang. "Om Bintang suka yah sama mamah?"

__ADS_1


__ADS_2