Cinta&Luka PERJODOHAN

Cinta&Luka PERJODOHAN
43


__ADS_3

"Kean cukup.... jangan memperpanjang masalah sesepele ini!" Kean menatap Nada dengan tajam ia ingin marah tapi disini keduanya salah.


"Sepele menurut kamu Nad?" Kali ini Kean mendekati Nada. Nada memundurkan langkahnya.


"Ia sepele, dan aku cuma telat ijin Key, ingat hanya telat bukan gak ijin seperti kamu yang menemui Bunga diam diam, jadi tolong CUKUP KEY!"


Kean mengalah, ia sudah tidak mau berdebat dengan Nada, ia memang pernah salah karna tidak pamit saat akan mengunjungi Bunga, dan berakhir Nada yang menjadi korban pemerkosaanya.


Nada masuk, tidak menghiraukan keduanya yang masih bertengkar. Ia selalu kesal kepada Kean yang selalu berantem dengan Bintang dimanapun berada.


Padahal dulu, ia dulu setau Nada sebelum kejadian Bintang tidak tahu status antara Nada dan Kean, keduanya baik baik saja. Tidak pernah ada perselisihan di antara mereka. Sebenarnya bukan perselisihan, hanya saja dalam persahabatan mereka terlalu acuh, sampai membiarkan kehidupan kejam yang membuat pribadi Bintang tertutup.


"Pulang!" pintanya kasar pada Bintang. "Masih betah aja di sini loe" Tangan Bintang mengepal, intinya Bintang sangat ingin memukul wajah Kean yang songong itu. Tanpa basa basi Bintang berjalan meninggalkan Kean yang masih membatu di sana.


Kean pun kembali ke dalam rumah menyusul Nada. Sayangnya kamar Nada tampak rapat, lampu kamarnya pun sudah dimatikan tergantikan dengan lampu tidur remang remangnya.


Paginya Kean dan Nada saling diam, di meja itu tampak sepi. "Nad" Nada hanya menatap sekilas Kean yang memanggilnya. Nada melepaskan sendoknya, yah karna makananya sudah selesai.


"Aku berangkat" ucapnya beranjak dari kursinya. Kean sebenarnya ingin berdamai, tidak mudah jika hidup berdua selalu diam diam begini.


Sesampainya di sekolah Kean hendak memulai percakapan yang sejak di mobil hanya diam membisu, tapi sayangnya Nada sudah berjumpa dengan Jill dan kawan kawanya.


Sesampainya di kelas mereka masih tampak kaku, ada Bara yang diam. Semenjak tahu bahwa Nada sudah bersuami Bara lebih suka diam.


"Nad, boleh aku bicara?" Itu Bunga, dia yang memulai percakapan.


"Maaf kayaknya gak ada yang perlu...."


"Sebentar Nad, aku perlu bicara sama kamu" Nada menimang nimang ajakan Bunga, lalu ia mengangguk.


"Baiklah" Mereka berjalan ke taman di belakang kelas XI IPA 1, di sana ada sebuah kursi yang berjejer, Bunga duduk tapi Nada tidak, membuat rasa permusuhanya semakin meningkat.


"Nad duduk!" pinta Bunga pada Nada.


"Langsung aja Nga, ada apa?" bentak Nada, katakanlah Nada memang tidak se humble Bunga, tapi semua juga ada alasanya.


"Kamu berubah Nad, kamu bilang mau berteman de...." kalimatnya terpotong oleh Nada.


"Berteman Nga, setelah malam Kean pulang dalam keadaan tak waras karena kamu, kamu masih berharap ak..."


"Bukan aku Nad yang melakukan itu"


"Cukup Nga, aku gak mau denger alasan apapun" Nada berlalu pergi, semua yang terjadi tidak akan pernah mengubah apapun, karna yang seharusnya masih utuh kini telah hancur.


Nada memasuki kelasnya, matanya bertatapan dengan Bara. Lalu dengan cepat Nada memutus kontaknya. Tatapan Bara tajam dan dalam, seolah ia menuntut sebuah penjelasan.


"Bara dan Nada di suruh ke ruang kepala sekolah" ucap salah satu teman mereka.


drrt


drttt


drtt


Sebuah ponsel di meja sebelah Nada yah, itu ponsel milik teman sebangku Nada yaitu Santi. Nada mencoba mengintip lewat jendela ponselnya. "Kean" lirihnya


'Kenapa Santi memasang foto profil Kean di ponselnya'


'Atau.....'


"Na...." Siapa lagi kalau bukan Bara yang menyadarkan dari lamunanya. Nada menatap Bara lalu menunduk, ia tidak bisa bertatap lama dengan Bara, takut berzina. "Ayo!" Nada berjalan beriringan dengan Bara.


Sesampainya di ruang kepala sekolah, mereka duduk lalu kepala sekolah mulai menceritakan maksud dan tujuanya yaitu mengirim 1 siswa untuk mengikuti Olimpiade Sains Indonesia (OSI).


"Kalian akan dilatih oleh wali kelas kalian dan salah satu dari kalian akan dikirim untuk mengikuti lomba." jelas kepala sekolah. Nada dan Bara hanya saling mengangguk mengiyakan.


'Rama biyung, doain Nada, Nada akan ikut lomba OSI, mudah mudahan berhasil seperti yang biyung harapkan tahun tahun lalu'


"2 minggu kedepan kalian belajar kelompok bersama dari berangkat sampai pulang, dan untuk pelajaran sekolah di free kan terlebih dahulu" Nada dan Bara saling pandang lalu mengangguk.


"Ada yang di tanyakan?" Nada dan Bara menggeleng.

__ADS_1


"Baiklah, kalian ke ruang latihan di samping auditorium, selama bimbingan dengan bu Wiwi kalian akan latihan soal soal OSI tahun lalu" Jelas pak kepala sekolah.


"Baik pak, kami pamit ke ruang latihan" ucap Bara menyudahi dan mulai beranjak dari sana.


"Sebentar..." ucap pak kepala sekolah "untuk surat ijin orang tua terkait OSI sudah kami kirim hari kemarin" Bara dan Nada mengangguk mengiyakan lalu melanjutkan langkahnya menuju ruang latihan.


Selama setengah hari ini Nada bahkan menonaktifkan ponselnya, ia sangat berminat mengikuti OSI. Soal soal latihan dari tahun ke tahun dapat Nada lalui dengan mudah.


Begitu juga dengan Bara, tapi menurut pemikiran Nada orang tua Bara akan lebih keras dari sebelumnya, dan tidak akan mau jika jabatan OSI jatuh di tangan orang lain selain Bara.


drrttt


drttt


"📞Assalamualaikum pah" Bara mengangkat ponselnya dengan pelan, ia takut jika papahnya akan memarahinya terkait olimpiade sains ini.


"📞Waalaikum salam papa mendapatkan surat dari kepala sekolah terkait tembusan kamu menjadi kandidat peserta OSI"


"📞Ia pah"


"📞Apa kandidat satunya adalah wanita yang kemarin mendapatkan juara 1?" wajah Bara memucat, pembahasan ini bagi Bara sangat sensitive mengingat jabatan semester ini akan lengser darinya.


"📞Ia pah"


"📞Kamu harus bisa jadi yang pertama"


"📞Bara janji Bara tidak akan mengecewakan papah" jelasnya pada papahnya.


"📞Awas kamu kalau sampai kalah lagi"


"📞Bara janji pah, Bara tidak akan melepaskan kesempatan emas ini"


"📞Papa pegang janji kamu!"


tut


tut


tut


Setelah pelajaran selesai Nada menuju parkiran, disana ada Bintang yang sudah bersandar di mobilnya. Kean masih belum datang. "Masih marahan sama Kean?" Nada tersenyum kepada Bintang.


'Senyum kamu bikin aku tambah kesengsem'


"Ia kamu sih" ucap Nada kesal, ia jujur kesal kepada Bintang karna selalu bersiteru dengan Kean. "Nyebelin"


"Yang nyebelin suami kamu kali" ledek Bintang.


"Sama aja, sama sama nyebelin" ucap Nada sambil memanyunkan bibirnya, membuat kesan mereka yang sedang melihat Bintang dan Nada mempunyai hubungan spesial.


"Tapi cinta kan?" ledek Bintang


"Nada......"Nada berbalik menatap wanita yang sangat ia rindukan. Ibundanya datang dengan Kean.


"Bukanya dia sahabat kamu Key?" lirih sang ibunda.


"Yah, sahabat yang demen sama bini sahabatnya" Percakapanya berhenti karna jarak mereka dengan Nada sudah dekat.


"Bunda" Nada berhambur ke pelukan sang ibunda, dengan sayang Zela mengusap kepalanya.


"Selamat yah sayang kamu ikut menjadi peserta OSI" Nada tersenyum lalu melepas pelukanya.


"Semua ini karna dukungan bunda dan ayah" ucapnya lalu memeluk kembali dalam dekapan bundanya.


"Gak sayang, kamu memang pinter, dan makasih kamu udah bikin bunda dan ayah bangga" ucapnya penuh dengan kebanggaan.


"Udah nih puji pujianya?" tanya Kean yang merasa bahwa dunia ini hanya mereka berdua. Zela dan Nada saling melepaskan pelukanya.


"Sayang ayok pulang, kita balik ke rumah, ayah sama bunda, soalnya mau makan malam bareng kalian" jelasnya lalu beranjak memasuki mobilnya.


"Tang duluan" pamit Kean.

__ADS_1


"Siap, hati hati" ucap Bintang kepada mereka.


'Keluarga mereka sangat harmonis'


'Kamu beruntung Nad punya mereka'


'Sayangnya Kean yang brengsek dan bodoh itu tidak bisa merasakanya'


*


Hari ini seperti biasa Nada dan Bara melakukan latihan soal soal OSI tahun lalu, dan jelas dari soal soal tersebut Nada belum mendapatkan kendala. Membuat nyali Bara menjadi ciut.


'Gue mesti gimana ngalahin loe Nad?'


Resahnya, yah Bara takut tidak dapat mengalahkan Nada, dan itu pasti Nada yang terpilih. Padahal tahun tahun sebelumnya Bara juga biasa mengikuti OSI ini, dan baru kali ini kandidatnya sangat berat menjadi sainganya.


"Istirahat dulu ya Nada Bara" pinta bu Wiwi yang sudah beberapa minggu ini menemani mereka. Nada berjalan keluar dari ruang auditorium, lalu mengaktifkan ponselnya yang sedari tadi mati.


drrttt


drttt


sebuah pesan masuk


Bintang


Nad dimana


Nada


Ini baru kelar latihan. Gimana Tang?


Bintang


Ke parkiran sebentar, penting


Nada bergegas menuju parkiran, ia melihat Bintang yang sudah menunggunya di parkiran.


"Nad....." Ada guratan kesedihan di wajah Bintang.


"Ada apa Tang?"


Bintang berjalan menuju arah Nada, lalu dengan cepat ia menundukan kepalanya di depan Nada. "Nenekku sudah tidak ada Nad"


Deg


Setetes air mata itu mengalir membasahi pipi Bintang. Nada sendiri ikut iba menyaksikanya. Perlahan Bintang menjatuhkan kepalanya di pundak Nada, dan tanganya merengkuh Nada dengan pelan.


Nada yang hanyut akan perasaan sedihnya menepukan tanganya di pundak Bintang. Menyalurkan semangatnya kepada Bintang. "Sabar ya Tang, semua yang datang akan pergi, termasuk nyawa, karna semunya hanya titipan!"


'Dia telah kehilangan segalanya, termasuk orang yang selama ini menjadi orang terpentingnya'


Sementara Kean yang berada di kantin pun mencari cari Nada, datanglah Bara dari arah auditorium. "Bar, mana Nada?" Bara menggeleng ia tidak tahu kemana Nada pergi.


drrrrttt


drttttt


083863xxxx


sent image


Sebuah video mesra antara Bintang dan Nada yang saling berpelukan. Kean berlari ke arah parkiran di mana video itu.


Disana Nada sudah berada di mobil Bintang yang hendak melakukan perjalanan itu, lalu Kean dengan cepat memberhentikan mobil Bintang. " Berhenti Tang"


Bintang berhenti dengan rem yang membuat Nada terhuyung ke depan, tapi dengan sigap Bintang menahan kepala Nada agar tidak terpentok dasbor mobil. "shiit" umpatnya


"Turun Nad!" Nada menggeleng, ia tidak bisa turun di saat saat genting seperti ini.


"Key maaf......." ucapnya lirih "Jalan Tang!"

__ADS_1


"Turun kataku Nad!" ucapnya penuh penekanan dan ancaman.


"Jalan Tang!"


__ADS_2