
Hal yang paling jauh dari kita adalah waktu, yang paling dekat adalah kematian, yang paling berat adalah amanah
* *
"Turun Nad!" Nada menggeleng, ia tidak bisa turun di saat saat genting seperti ini.
"Key maaf......." ucapnya lirih "Jalan Tang!"
"Turun kataku Nad!" ucapnya penuh penekanan dan ancaman.
"Jalan Tang!" Nada meminta Bintang untuk melajukan mobilnya. Kondisinya sangat genting, membuat Nada memilih pergi tanpa pamit, ia malas jika harus bertengkar di saat Bintang sedang berduka.
Kean kesal, istrinya sudah tidak mendengarkan ucapan suaminya. Rasa kesal menyelimutinya, tapi apalah daya, Kean tidak mau memperpanjang masalahnya dengan Bintang. Kean mengambil mobilnya, lalu melajukan mobilnya mengikuti arah Bintang pergi.
Sesampainya di rumah sakit ia kehilangan jejak Nada dan Bintang. "Sial" matanya mengedar ke segala penjuru dan dari ruang ke ruang ia cari di mana letak Bintang dan Nada.
"Bunga" Matanya ia fokuskan ke sosok mungil cantik itu. Lalu mulai berjalan mendekatinya.
Disana Bunga berjalan lemas dari lorong menuju ruang cuci darah. Kean kaget melihat ke arahnya yang berjalan lemas, dan terlihat sesak.
'Bunga bilang ia sudah sembuh tapi ternyata belum'
'Kenapa.... kenapa ia tidak cerita kepadaku?'
Hatinya ikut sedih melihat wanita yang separuh hatinya masih menggenggam utuh cintanya terlihat kesakitan seperti itu.
"Bunga" Bunga kaget, ini jam pelajaran, kenapa Kean ada disini?"
"Kean" Kean berjalan ke arahnya lalu membingkai wajah cantik pucat Bunga.
"Kenapa gak jujur aja Nga kalau kamu masih sakit?" tanyanya terlihat khawatir. Niatnya mencari Nada ia lupakan karna adanya Bunga.
"Nn. Bunga?" Bunga melepas bingkaian tangan Kean lalu menatap seseorang yang memanggilnya.
" Ia sus" ucapnya menjawab panggilan sang suster.
"Mari" Bunga mengagguk.
"Key maaf, aku harus cuci darah" Kean sedih, wanitanya ternyata kondisinya memburuk.
Melihat banyak orang lalu lalang masuk ke ruang HD, Kean berinisiatif untuk ikut menunggui Bunga. "Sus maaf apakah boleh menunggui pasien?" suster tersebut mengangguk dengan senyum.
HD haemodialisa atau cuci darah
"Silahkan tapi jika pasien sesak mohon jangan terlalu banyak di ajak bicara." pinta sang suster. Kean mengangguk lalu berjalan menuju arah di mana Bunga yang sedang dipasang alat yang sudah menusuk arteri dan venanya.
Kenapa ketika orang yang sesak dilarang banyak berkata kata, karena saat menghirup oksigen itu baiknya lewat hidung dan mengeluarkanya lewat mulut, sehingga oksigen bersih yang masuk tidak akan bertabrakan dengan carbondioksida.
Jadi jika pasien sesak terlalu banyak bicara akan mengurangi suplai oksigen bersih yang masuk ke paru paru. Ada banyak faktor lainya yang menyebabkan sesak bertambah pada pasien Dyspneu
Dyspneu sesak nafas
Nn panggilan untuk pasien wanita yang belum menikah
"Kean?" Kean duduk di samping Bunga, disana semua pasien berjejer hingga 14 bad.
__ADS_1
Ada pasien yang sendiri atau lebih tepatnya terpisah ruanganya. Mereka yang terpisah biasanya adalah pasien pasien dengan TB paru, B20 dan penyakit lainya.
TB adalah tuberchuosis atau penyakit paru paru yang disebabkan oleh tuberchulosis micobacterium
B20 adalah sebutan lain dari ODHA (orang dengan HIV AIDS)
"Kenapa gak cerita?" Bunga menggeleng, ia sebenarnya sedih tapi ingin bercerita kepada siapa. "Ya udah gak papa, makan ya!" pinta Kean karna mereka yang sedang cuci darah membawa makanan seabreg dan minuman yang banyak.
Bunga menggeleng, " Pasien ginjal sepertiku makan dan minumnya dibatasi Key?" Kean mengerutkan keningnya.
"Maksudnya?"
"Sistem metabolisme itu terproses setelah 6 jam, sedangkan cuci darahku dilakukan selama 4 jam dan itu hanya seminggu 2 kali, jadi kalau aku makan sekarang akan lebih memperberat kerja ginjalku."
"Apah.... 2 kali Nga?" Bunga mengangguk, membuat Kean lebih merasa bersalah. "Kenapa gak bilang Nga?"
"Kehidupan kita sudah sangat berbeda Key, jadi maaf, jangan terlalu dekat denganku" ucapnya lembut pada Kean. Kean hancur melihat Bunga yang berbeda menurutnya.
"Oke aku maklumi itu, dan maaf Nga, maaf karna aku....."
"husssst ... sudah Key, jangan salahkan dirimu, kamu gak salah." jelasnya, sudahlah percuma mau menyalahkan siapa. Jika mau menyalahkan salahkan ibunya, yang selalu memberikan minuman aneh aneh kepada Bunga sejak kecil.
"Minum yah!" Kean membuka botol mineral yang ia beli bersama snack basah tadi sebelum masuk.
Bunga lagi lagi menggeleng, "Pasien CKD sepertiku tidak boleh minum lebih dari 500 cc per hari Key" Sunggung kesehatan itu sangat mahal, jadi jaga jangan sampai terkena penyakit yang seperti ini.
Sedangkan Nada bersama Bintang sedang mengurus jenazah nenek Bintang. Bulan tampak sedih disana, ia masih termenung di bangku tunggu ruang ICU. "Maaf anda siapanya ya?" tanya seorang suster yang menemui Nada, disana hanya ada Bulan, Bintang ikut merawat jenazah neneknya sebagai pengabdian terakhir kepada neneknya.
"Saya kakanya Bulan sus" ucapnya lembut.
"Baik sus" jawabnya menerima surat kematian pasien.
"Bulan kaka ke kasir bentar ya!" Bulan mengangguk, hatinya sedih perasaanya masih kalut memikirkan neneknya yang susah tidak ada.
Nada berjalan menuju kasir, sesekali ia terbawa perasaan dan kenanganya juga ikut berputar saat dirinya kehilangan kedua orang tuanya. Langkahnya mendadak kaku dan terhenti saat melihat Kean ada di kasir.
"Ini administrasi yang harus di bayar mas" Nada mendengarnya dengan samar, tapi ia tidak tahu administrasi siapa yang sedang ia selesaikan.
Setelah Kean berjalan meninggalkan kasir, barulah Nada menanyakanya pada petugas administrasi. "Maaf ka, saya mau menyelesaikan administrasi Ny. Kadem?"
"Oh ia mba, silahkan!" Petugas administrasi itu memberikan sebuah kertas panjang rincian biaya selama di ICU. Nada memberikan kartunya kepada petugas administrasi, disusul dengan memencet pin kartu miliknya.
"Ka, boleh saya bertanya?" ucapanya terjeda karena sedikit ragu. "mmmm mas mas tadi membayar admisnistrasi milik siapa ya?"
"Maaf de, itu rahasia" Nada pasrah, ia tidak mungkin jika harus memaksa petugas kesehatan untuk jujur.
"Dia kakak saya mba, saya cuma pengin tahu apakah administrasi nenek saya yang sudah meninggal sudah dibayar kaka saya atau belum" jelasnya dengan rasa sedih.
"Ohh begitu, maaf yah de, turut berduka cita" ucap petugas administrasi tampak menyesal. "Tapi kaka anda membayar administrasi pacarnya atas nama Bunga de"
Deg
'Bunga lagi'
'Aku pikir Kean bakalan nyusul aku, ternyata.....'
__ADS_1
'Hidupnya masih tentangnya'
"De...." Nada selesai dari lamunanya. " ia mba, makasih atas informasinya mba"
Nada, Bintang dan Bulan sudah berada di area pemakaman, hanya tetangga mereka yang datang, tidak ada saudara, maupun ibunya. 'Kasian kamu Tang'
"Ngapain kamu kesini?" suara itu seperti berteriak membuat semua tetangga yang masih di area makam melihatnya dan menyaksikan pertengkaran itu. "kehadiran kamu tidak diterima di makam nenek saya"
"Kaka..." Bulan berlari ke arah kakaknya, dilihatnya sosok ibunya yang datang. Tapi apa Bulan manampakan ketidakramahanya. "ANDA...." telunjuknya menunjuk sosok ibunya. "PERGI DARI SINI, JANGAN PERNAH MENAMPAKAN WAJAH ANDA DI DEPAN SAYA DAN KAKA SAYA!" Bulan pergi menyusul Bintang yang ada di sana.
Sosok wanita yang hampir seumuran dengan kekasih Bintang itu mundur beberapa langkah dan bersender di sebuah pohon. Lalu ia berjalan tertatih menuju makam nenek Bintang yang alias ibunya sendiri.
Nada menyaksikan air mata wanita itu menetes, meski ada sebuah kaca mata yang bertengger di hidungnya. Ia berdiri lalu berjalan meninggalkan makam ibunya. "Tante...." sosok itu berhenti menatap Nada.
"Maaf kalau saya ikut campur urusan tante, tapi apa tante tahu betapa keras kehidupan yang dilalui oleh Bintang?" sosok wanita itu menggeleng, terlihat jelas sebuah penyesalan.
"Sangat keras tante.... sangat keras sampai tidak bisa dibilang kehidupan, coba tante cari tahu penyimpangan apa yang telah Bintang lakukan demi menghidupi adik dan neneknya itu." jelas Nada.
"Saya menyesal....." lirihnya yang hampir tak terdengar oleh Nada.
"Jadi.... Saya mohon, dekati mereka berdua dengan perlahan, mereka akan senang, dan saya mohon perbaiki hubungan kalian!" wanita itu mengangguk lalu memegang tanganya.
"Bantu saya nak!" ucapnya penuh permohonan " Saya akan memperbaiki hubungan saya dengan kedua anak saya." Nada mengagguk lalu berpamitan kepada ibunya Bintang.
Nada berjalan ke arah Bintang dan Bulan yang duduk dengan pemikiranya masing masing. "Bulan....." Bulan berbalik menatap Nada "Boleh kaka bicara?" Bulan mengangguk mengiyakan.
"Kedua orang tua kaka meninggal kecelakaan" Bulan menatapnya heran, lalu menceritakan kisahnya yang berujung dengan perjodohan nikah.
"Kamu tahu hal yang sangat menyesakkan adalah karna sudah tidak bisa bertemu dengan mereka" jelasnya tanpa sadar membuat Nada menitikan air mata.
"Jadi bisakah kamu membukakan pintu maaf untuk ibumu, dia pasti punya alasan atas kejadian selama ini" jelas Nada
"Tap..."
"Lan...." Nada mengusap surai hitam milik Bulan "memaafkan itu berat, tapi akan lebih melegakan jika kamu membuka pintu maaf untuknya sebelum terlambat Lan!"
Bulan tampak berfikir dan menimang usul Nada "Akan Bulan coba ka"
"Anak pinter" ucapnya lalu berdiri meninggalkan Bulan, di belakangnya ada Bintang yang mendangarkan percakapan mereka dan hendak pergi meninggalkan Nada.
Nada mengejarnya dan menghadangnya "Tidak semudah itu Nad" Nada tahu Bintang lebih terluka dari pada Bulan.
"Bintang....." Bintang berhenti berdiri di belakang rumahnya.
"Jangan harapkan satu hal yang kamu ucapkan tadi padaku!" Nada diam, dia memang terlalu ikut campur urusan Bintang.
"Enggak Tang, tapi...."
"Cukup Nad" Nada diam ia tidak berani melanjutkan ucapanya.
"Biarkan Bulan mendapatkan kasih sayang dari ibunya, dia pantas dan membutuhkan itu, dan...." Nada menjeda ucapanya lalu memegang kedua pundak Bintang "Ibumu pantas mendapatkan kesempatan untuk memperbaikinya, jadi mulai hari ini kamu bisa lepaskan kegiatan yang tidak ada manfaatnya itu" jelas Nada
"Ngomong gampang Nad"
"Kamu bisa cari yang lebih baik dari dia Tang" Bintang terkekeh, mendengar permintaan Nada.
__ADS_1
"Bisa asal kamu penggantinya, dan kamu juga harus meninggalkan Kean!"