
"Aku bahagia banget Key" Kean menghentikan kemudinya lalu mengambil tangan Nada.
"Itu yang aku harapkan Nad, kamu akan aku buat lupa tentang air mata yang selama ini menemanimu, aku akan ganti sedihmu dengan cinta dan sayang yang utuh" ungkap Kean yakin.
"Iah Key makasih, aku bahagia.... Sangat Key" jawab Nada spontanitas.
"Kita rayakan pernikahan kita mau Nad?" Nada membisu. Tatapanya membola, tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa Kean akan menyinggung tentang hal ini.
Sebuah upacara pernikahan adalah sesuatu yang sangat diidamkan, dimana hal seperti ini bukan munafik, setiap wanita pasti ingin diperlakukan sebagai putri sungguhan walau dalam sehari.
Terkadang hal hal seperti ini akan menjadi khayalan oleh khalayak perempuan pada umumnya, bahkan jauh sebelum wanita itu menikah. "Ehmmmm Key, bukanya aku menolak tapi...." seketika ucapanya terhenti kala Kean menutupkan jarinya di bibir Nada.
"Ijinkan aku Nad" Tanganya berpindah membingkai wajah yang cantik itu. "Memperkenalkanmu sebagai bidadari di dalam hidupku yang telah lama aku nantikan kembalinya dirimu" jelas Kean pada Nada.
"....." sorot mata itu teduh, bagaikan sklera tanpa kelenjar air mata. Nada mengangguk patuh kepada Kean dengan perlahan.
sklera adalaha bagian dari mata yang berwarna putih
"Makasih Nad" Lagi Nada hanya menganggukinya, dan senyuman indah itu benar benar tercipta di wajah Kean dan Nada.
"Sudah sampai ayo turun Nad!" ucap Kean yang membangunkan lamunan Nada. Sejak tadi Nada diam, tapi bibirnya menyungging, menandakan ada sepercik kebahagiaan di wajahnya.
"Kenapa?" Nada turun dari mobil, dimana Kean telah membukakan pintunya.
"...."Nada menggeleng lagi, tapi ketara sekali bahwa wajahnya berseri. Debaran hebat Kean alami. Rasanya seperti menemukan sebongkah emas ketika melihat senyum tulus istrinya.
Mereka berjalan memasuki rumah megah milik om mereka, Arion dan Ayra, pasangan pura pura yang terpisah 6 tahun dan kembali membawa Derrick sebagai pemersatu hubungan mereka.
Hampir mirip dirinya, selama itu pergi membawa sang buah hati, sekembalinya mereka, anaklah sebagai pemersatunya.
Rumah ini adalah rumah yang pernah menampung Nada dulu ketika Kean tidak pernah menghargai Nada. Disanalah Nada pernah berbagi cerita dengan Vianna dan Ayra. Keluarga yang semua anggotanya mempunyai dua lesung pipi yang indah.
"Viana gimana kabarnya Key?" tanya Nada. Yah sosok gadis yang hanya selisih beberapa tahun dengan Nada, yaitu adik Derrick.
"Dia sudah tunangan, kayaknya bulan depan bakalan merried" jelas Kean. Nada mengangguk memahami ucapan Kean.
Tok
tok
tok
"Assalamualaikum" Salam tak pernah lupa di ucapkan setiap kali mengetuk pintu.
"Waalaikumsalam..... yahh tunggu sebentar,"
Ceklek
"Nada" seru Viana. "Ya ampunnnn..... Kemana aja..... Kamu cantik banget, berhijab lagi sekarang Nad, pangling deh" ucap Vianna spontanitas.
"Mbak" seru Kean memperingati. "Sopan dikit dek, manggil tanpa embel embel, gini gini aku abang kamu" Viana manyun seakan kesal kepada Kean yang umurnya hanya selisih 2 tahun kurang itu.
"Singanya marah Nad" ucap Viana mencandai Kean. "Mentang mentang udah ada istri, coba dulu pas ditinggal loe Nad-" Kean membekap mulut Vianna
__ADS_1
"Crewed banget ni mulut minta di lembiru" Nada tersenyum melihat Kean yang bertengkar dengan Vianna.
"mmmmpphh..... bah" Vianna melepaskan tangan Kean" Kean... awas kamu yah" Viana berlari mengejar Kean yang berlari.
"Mama...." Suara Chasel dari arah ruang keluarga terdengar nyaring.
"Chasel" Nada berjalan lalu berjongkok tepat di depan Cashel. Membingkai wajah putranya dengan sayang. Membuat aktivitas Kean berhenti saat bertengkar dengan Vianna.
"Papah kaya anak kecil deh" skak mat buat Kean yang ketangkep lagi kejar kejaran dengan Vianna.
"Tantemu ini Shel, nyebelin"
"Enak aja, elo kali yang nyebelin kaya An-."..... ucapnya terhenti kala tangan besar Kean membekapnya. "Bau bawang ih tanganya" ucap Vianna kesal.
"Ngomongnya Vi, ada anak gue, sopan dikit." Vianna menutup mulutnya sadar akan perilakunya.
"Upss sori" Vianna membungkam mulutnya sendiri dan mengacungkan tangan dengan huruf V
"Nada" Suara itu, suara milik Ayra, dimana wanita ini juga pernah menjadi tempat Nada mengeluarkan keluh kesahnya.
"Tante" Nada melepaskan bingkaian tanganya di pipi Cashel, beranjak berdiri dari sana dan menyalimi tangan milik Ayra.
"Loh kalian, malah ramai disini, ayo masuk" itu suara Zela, wanita yang kecerianya telah kembali karna sang putri. "Ayo Nad, di dalam ada oma dan opa kamu" Yah siapa lagi kalau bukan Keyla dan Axel.
Mereka berjalan masuk ke dalam ruang keluarga. Disana tengah ramai, bercengkrama dengan keluarga besar. "Oma, opa...." Air mata itu seakan luruh. Sudah sangat lama ternyata Nada meninggalkan mereka. "Gimana kabarnya oma opa?"
"Alhamdulillah masih sehat walafiat Nad, bagaimana dengan kamu" Nada mengangguk.
"Syukurlah, kami sangat bersyukur kamu sehat, apalagi dengan perjuangan kamu mengurus Cashel sendirian." skleranya mengkilat, seperti ada kelenjar air mata yang siap turun dengan deras. "Atas nama Kean...."
Kean mendekat mengusap pundaknya. Ia tahu persis Nada yang tidak pernah mau menyinggung masa lalu. Jujur rasa sakitnya akan terasa ketika seseorang mengingatkanya kembali.
"Oma opa, lebih baik kita alihkan topiknya, Nada tidak suka kalau harus membahas masa lalu" ucapnya lirih. Lalu diangguki oleh keduanya.
"Ya sudah lebih baik kita makan malam bersama saja ayok" Ajak Ayra sang tuan rumah.
"Hai hai haiii, kalian melupakan kita" Itu suara Derrick, istrinya dan anak perempuanya yang masih bayi. Yang dengan sengaja datang untuk menyambut sang adik ipar.
"Abang" panggil Nada pada Derrick. Derrick melepaskan gandenganya pada istrinya lalu mendekat.
"Gimana kabar kamu Nad?" Itu Derrick yang dulu terang terangan akan melindunginya jika Kean menyia nyiakanya.
"Baik bang" Derrick mengangguk, "Syukurlah." Ia berbalik menarik istrinya yang menggendong putranya. "Kenalin dia istri dan anaku" Mereka saling berjabat tangan.
Setelah itu mereka berkumpul di meja makan bersama. Hanya Adel, Kevin, Cila, Cakra, yang berada di Inggris yang tidak hadir di sana.
"Bunda dengar kalian akan melaksankan resepsi pernikahn sayang?" Ucap Zela menatap lembut putrinya.
Wajahnya menyemu, lalu ia tatap sang bunda dengan ragu. "Ituuu...." Kalimatnya menggantung. Sebenarnya ia sendiri bingung ingin mengiyakan atau menyanggahnya.
"Ia mah, Kean udah bicarain sama Nada, dan kalau bisa resepsinya yang megah" ucap Kean yang berada di samping Nada. Nada memegang tangan Kean lalu menggelengkan kepalanya tanda ia tidak setuju.
"Aku ingin mengenalkan kepada semua orang Nad, bahwa kamu miliku, dan sekaligus mengadakan acara tasyakuran Cashel."
__ADS_1
"Bunda setuju" seru sang bunda
"Ayah juga setuju" timpal sang ayah"
"Kami juga setuju Nad, biarkan kami merayakan kepulanganmu serta kehadiran Cashel" Nada kicep ia tidak bisa menyanggah jika semua orang sudah menyetujuinya.
"Cashel juga pengin mamah bahagia sama papah" Ucapnya lugu, sungguh dalam hati Kean saat ini bersorak bahagia.
"Bismillah, Baiklah Nada juga setuju". ucapnya dengan senyum tipisnya, bukan karena ia tak bahagia tapi dia karena ia tidak ingin jika resepsi yang megah akan menjadi mudharat. Jujur dalam hatinya ia lebih suka jika uang untuk resepsi dilakukan untuk membantu mereka yang kurang mampu.
*
Pagi ini setelah mengantarkan Kean ke sekolahnya, Kean juga mengantarkan Nada ke kampusnya. Hari ini adalah hari perdana masuk kuliah. "Ayok aku antar ke kelas!" Ajak Kean menggandenga tangan Nada. Nada mengangguk dan mengikitinya dengan patih.
"Kean" Kedua insan itu berbalik menatap seseorang gadis dengan rambut sebahu, dia cantik, manis menurut Nada.
"Cindi" Itu seru Kean yang mengenalnya. "Dia teman coasku, ayo aku kenalkan kamu Nad" Tuntun Kean pada Nada.
"Siapa Key?" tanya Cindi pada Kean, ada raut yang berbeda yang dapat Nada tangkap dari wajahnya. Seolah gadis itu menyimpan sebuah rasa pada Kean.
"Kenalkan Cin, dia Nada istriku" Ucapnya penuh dengan penekanan dalam setiap intonasi saat mengucapkan kalimat istri.
"Nada" ucapnya ramah.
"Sindi" jawabnya sedikit dengan raut tak suka. "Jadi rumor kalau kamu udah menikah itu bener Key?" Kean menganggukinya dengan mantap.
"Lalu selama ini kemana istrimu, kenapa tidak pernah ada selama ini, bahkan saat wisudamu dia juga tidak ada" ucapnya, sepertinya jelas bahwa gadis itu memang menyukai Kean.
Cobaan apa lagi ini ya Alloh, baru saja akan melangkah lebih jauh, di depan sudah ada ujian ini
"Maaf Cin, ini urusan keluargaku, jadi tidak perlu kamu ikut memikirkanya." Ucap Kean yang berlalu pergi menggandeng Nada. Kean tahu pasti Nada tersinggung dengan ucapan Cindi.
"Nad...." Nada menatap Kean dengan tatapan sendu. "Maaf jika ucapanya membuat kamu tersinggung."
Nada tersenyum lalu menggeleng "Tak apa Key memang kenyataanya seperti itu kan?" jelasnya dengan raut wajah datar.
"Jangan marah" Kean membungkuk meneliti wajah Nada yang cantik. Nada menggeleng, merubah raut wajah yang sendu menjadi lebih ceria.
Cup
Satu kecupan mendarat di kening Nada. "Kean" protesnya dengan malu.
"Jangan marah, hatiku sakit jika kamu marah" Nada menganggukinya kembali dengan raut wajah yang lebih merona. "Masuklah, itu kelas kamu!"
"Assalamualaikum"
"Waalaikumusalam" Kean memberikan tangan kananya agar Nada mengecupnya.
"Selamat belajar sayang, jangan nakal yah!" ucap Kean saat Nada membungkuk mencium pucuk jari Kean.
"Ia Key" Kean berbalik meninggalkan Nada di depan kelas yang masih sepi itu. "Key hati hati!" Ucap Nada yang membuat Kean berbalik menatap Nada dan tersenyum mengiyakan.
Setelah Kean tak terlihat barulah Nada hendak masuk ke dalam kelasnya. Hingga sebuah suara berat yang familiar menyapanya.
__ADS_1
"Na" Panggilan ini, ia kenal betul siapa lelaki yang memanggilnya Nad, kecuali Alvaro dan Bara. Tapi ia sadar ini bukan Sulawesi, ini Jakarta.
Nada berbalik menatap sosok lelaki yang pernah ada dalam lubuk hatinya. "Bara"