
Ada banyak orang yang bisa menemani, namun hanya beberapa saja yang mampu untuk memahami
^^^yaitu aku Nad, Kean^^^
* *
"Key lepas!" Nada terpaksa melepaskan pelukan Kean, kali ini mereka berhadapan, tapi sayangnya Nada menundukan wajahnya.
Kean berjongkok lalu memegang tangan Nada. "Nad maaf.... maafkan aku....."
Deg
'rasa sakit itu masih utuh'
'Meski berpuluh puluh kali aku coba untuk bisa ikhlas, tetap saja masih belum bisa berdamai denganya'
Air matanya berderai, Nada ikut berjongkok lalu menatap kosong wajah di depanya "Bangun Key"
"Maafkan aku dulu Nad!" pintanya kepada Nada.
"Bangun Key!" pinta Nada.
"Aku cuma minta maaf Nad" Ucap Kean yang semakin memeluk tubuh Nada. "Maaf Nad maaf..." Nada menggeleng ingatanya masih berputar tentang kata kata pedasnya.
'DASAR PEMBUNUH, BUKAN MANUSIA LOE, LOE AN**NG, AN**NG YANG GAK BERPERASAAN, DASAR AN**NG, MURAHAN, PEMBUNUH, MATI AJA LOE, GAK SEKALIAN LOE IKUT ORANG TUA LOE MATI HAH?'
"Sakit Key.... hiks... hiks...." ucapnya terbata " Aku sakit setiap kali mengingat ucapan kamu yang dulu" Jawabnya terisak dalam pelukan Kean.
"Maaf Nad.... maaf" Kean merengkuh Nada dengan erat, lalu mencium pucuk kepalanya. "Maaf Nad, maaf"
"hiks... hikss"
"Maaf Nad.... maaf..." Kean mencoba menenangkan Nada yang masih bergetar dengan isaknya dalam pelukan Kean. Tapi ajaibnya memang Nada merasa nyaman dalam pelukanya.
Keduanya terdiam masih dalam satu rengkuhan yang tak dapat diartikan, fikiranya sama sama kosong, entah apa yang ada di pikiran mereka masing masing.
"Nad....."
"Maaf Key, tidak mudah untuk mengembalikanya semuanya seperti dulu" jelasnya yang masih dengan tatapan kosong. "Maaf jika aku belum bisa memaafkanmu"
Nada menghapus air matanya lalu beranjak dari sana, melepaskan rengkuhan hangat walau hanya sekejap namun dapat melepaskan rindu yang menyeruak di dada.
Jujur Nada rindu, rindu kepada Kean yang sangat ia cintai, sayangi dan ia benci. Itulah cinta, sekuat apapun kalian membenci tetap Cintalah yang akan menang. Tapi jalanya berbeda, dan akan meliku dengan cobaan yang berbeda beda.
Nada berjalan membelakangi Kean, dengan air mata yang kembali luruh. Di belakangnya Kean masih bersimpuh, dengan perasaan yanh hancur. "Kata maaf itu mudah, tapi rasa sakit dan kecewa itu begitu kuat di hatiku Key, dan untuk bisa mengembalikanya tak mudah seperti membalikan telapak tangan"
"Aku akan menunggumu Nad, menunggu kamu membukakan pintu maaf untukku" Nada tak bergeming ia berjalan masuk ke dalam kamarnya, berganti baju lalu mengambil snellinya.
Saat Nada keluar, Kean masih di ruang santai, duduk entah memikirkan apa. "Key...." Mata mereka bertemu, ada guratan sedih dan kecewa yang terlukis dari iris matanya.
'Cantik'
Kesan itu yang terlukis ketika melihat Nada. Jantungnya berdetak tak karuan. Mungkin ini yang dinamakan jatuh cinta. Semenjak di tinggal Nada Kean tidak bisa merasakan getaran kuat seperti ini.
'Dia mampu menjaga kehormatanya sebagai seorang istri'
'Dia mampu menjaga martabatnya sebagai wanita bersuami'
'Dia mampu menjaga putranya, hanya dengan gelar orang tua tunggal selama 6 tahun'
'Dia masih Nada yang dulu, yang baik, perhatiam, lembut, dan bermartabat tinggi'
'Tapi sayangnya, hatinya telah aku gores sedemikian dalam, hingga membuat rasa sayang dan cintanya mati kepadaku'
'Aku akan mengejarmu Nad'
'Aku akan menunggumu'
'Aku akan mengembalikan rasa cinta kamu yang sangat besar untukku'
'Entah itu seumur hidupku, entah sampai ajal menjemputku, asal kamu masih mau, walau hanya tinggal serumah dan menatap senyummu, itu cukup bagiku'
"Key...." panggilan Nada mengagetkan Kean, wajah itu berada tepat di depan matanya.
"Yah....." Kean menatap lekat wajah itu. Ada sedikit tarikan di ujung bibirnya.
"Kamu..... mmmmmm" Nada menundukan kepalanya. Ia hampir saja salah tingkah setiap kali berhadapan denganya. "Aku mau berangkat kerja, kamuuuu..."
Entah kaliamat apa yang akam diucapkanya. Serasa kata katanya menjadi buyar. "Aku pulang nanti malam setelah kamu pulang kerja, pergilah, aku yang akan bersama Cashel" jelasnya kepada Nada.
Sebenarnya Nada itu mau menanyakan ke arah itu, tapi kalimatnya buyar setelah melihat senyum Kean. "Aku sudah masak, kalau Cashel lapar mmmm "
__ADS_1
"Iah aku mengerti, nanti aku akan menyuapi Cashel" Wajah Nada tampak merona, bagaimama bisa Nada masih malu kepada Kean.
"Enggak Key, Cashel biasa makan sendiri, dan emmm"
"Gak papa, sekali kali biar nanti aku suapi" Nada mengangguk mengiyakan.
"Aku pamit Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" jawab Kean lembut. Nada berjalan keluar dengan salting dan grogi, ia merutuki kebodohanya yang beberapa kali kehilangan kata kata.
'Bodoh bodoh kamu Nad, kenapa salting begini?'
Kean yang memperhatikan Nada hanya terheran heran. Ia memasuki rumah Nada kembali, ada handuk berwarna putih, setelan kaos dan jeans pendek yang sepertinya baru dipesan oleh Nada.
'Nada masih seperti yang dulu'
'Masih perhatian dan selalu memikirkan orang lain di banding memikirkan dirinya'
drrrttt
drrtttt
Panggilan pesan dari Zen. Yah ia melupakan ponselnya, ada 23 panggilan tak terjawab dan 30 pesan masuk.
"📞 Hallo"
"📞Halla hallo halla hallo pala loe, kemana aja loe?" tanya Zen kesal.
"📞 Bintang mana?" tanya Kean.
"📞Gue lagi nanya sableng, dijawab dulu malah nanya Bintang. Bintang balik ke rumah" jelas Zen.
"📞Syukurlah" lirihnya yang masih terdengar oleh Zen.
"📞Apanya yang syukur?" Kean tak menjawab namun panggilan masih berlangsung.
"📞Key loe kenal sama dr. Qay, tapi ko tadi manggilnya Nad?"
"📞hmmm yah"
"📞Ngomong yang bener, seriusan kenal?"
"📞istri gue"
"Papah....." Teriakan Cashel membuat Kean melepaskan ponselnya dan membiarkan ponselnya dalam mode sambungan telephone masih terhubung.
"📞Papah?" Zen bingung dengan apa yang ia dengar, ia tak mengerti apa yang terjadi pada Kean.
Kean berjalan mendekati Cashel lalu memapahnya. "Turunin pah, Cashel berat." Tapi Kean tetap menggendong Cashel.
"Mamah kalau disuruh gendong Cashel katanya Cashel berat, cepet lelah mamah" terang Cashel panjang lebar.
"Ia Cashel berat, tapi papah gak cepet lelah." ucapnya membawa Cashel menuju ruang makan, disana Cashel duduk, dan Kean menyiapkan makanan untuk Cashel.
"Aaaaa...."
"Doa dulu pah!" Kean lupa, putranya adalah anak dari Nada yang agamawis, sudah jelas tidak akan melupakan hal sekecil itu.
Setelah berdoa bersama Kean menyuapi Cashel. Dengan bahagia Cashel membuka mulutnya. Ada desiran hangat dan perasaan yang tak bisa di jelaskan oleh Kean. Seperti seseorang yang telah lama menanti hujan dan kini jatuh beserta saljunya.
'Aku akan perjuangkan mamah kamu Nak'
'Papah berjanji tidak akan pernah mengecewakan kamu lagi'
"Shel?" Cashel menatap Kean yang saat ini sedang memangkunya.
"Ya pah ada apa?" Tanya Cashel yang sedang membaca buku.
"Apa ada lelaki yang pernah dekat dengan mamah kamu?" Cashel diam lalu ia menatap Kean.
"Ada namanya om Varo, dia senior mamah di Sulawesi, dia sering banget anter jemput mamah, tapiiii ......"
"Tapi kenapa Shel?"
"Om Kenzo gak suka sama Varo, Cashel juga, kata om Kenzo Cashel masih punya papah, jadi mamah gak dibolehin deket dengan siapapun." Kean mengernyit, Kenzo, siapa lagi dia.
"Siapa Kenzo Shel?" Cashel membuka ponselnya lalu memperlihatkan satu persatu galerinya.
"Ini om Kenzo, ini Pangeran anak om Kenzo, dan ini tante Alea bunda Pangeran." Kean bernafas lega, ternyata Kenzo yang biasa di panggil kaka oleh Nada, yah dulu Santi pernah mengatakan bahwa Nada bersama seorang lelaki yang di panggil kaka.
Kean mengangguki semua yang ditunjukan oleh Cashel. Cashel menceritakan detail keluarga Pak Arif dan bu Yasmin. Kean sangat bersyukur karna Nada bertemu orang yang sangat baik.
__ADS_1
*
drrttt
drrttt
087874xxxxx
Assalamialaikum Nad ini Kean. Jangan lupa makan Nad!'
087874xxxxx
Jangan lupa sholat
087874xxxxx
Cashel sudah makan, dan sholat dhuhur. Tadi Cashel yang ngimamin aku.
087874xxxxx
Cashel udah sholat asar Nad
087874xxxxx
Cashel udah sholat maghrib Nad, jangan lupa sholat!
087874xxxxx
Sholat isa Nad jangan lupa, pulang hati hati
Nada membuka ponselnya, lalu ia membuka chat nomor baru tersebut. Nada tersenyum, jantungnya berdetak dengan cepat. Wajahnya menyemu, ia tidak bohong, hatinya bahagia saat membaca pesan pesan tersebut.
'Kenapa harus terlena dengan perhatian perhatian kecil seperti ini?'
'Andai dulu kamu tidak melukaiku terlalu dalam Key'
^^^Qaira Nada^^^
^^^Iya Key^^^
087874xxxxx
Cepet pulang aku rindu
Deg
Kata kata itu benar benar membuat Nada jatuh cinta lagi, tapi sayang, setiap perhatian kecil selalu Nada bandingkan dengan masa lalu yang terlalu pahit dan menyakitkan.
Detik waktu menunjukan pukul 22.00 Nada pulang dengan rasa lelah. Ia membuka pintu yang tidak terkunci itu. Lalu memasuki kamarnya, membersihkan tubuhnya yang lengket, ia tidak mau bertemu Cashel terlebih dulu, ia takut jika akan bertemu Cashel malah menularkan penyakit padanya.
Nada sudah berganti pakaian, tidak lupa dengan hijabnya yang ia pakai kembali. Ia belum terbiasa dengan kehadiran Kean yang saat ini ada di rumahnya.
Ceklek
Kamar itu terbuka, menampilkan kamar yang rapi, wangi dan sejak tadi Nada masuk rumah, keadaan juga sudah rapi.
'Ini buka Kean yang dulu, dia berubah, bukan Kean yang pasif lagi'
Nada mendekati Kean, terlihat pemandangan yang membuat Nada tertawa, terharu dan tersenyum bahagia. Kean dengan wajahnya yang penuh dengan spidol warna warni, dan Cashel yang wajahnya juga berpulas warna warni.
'tampan'
Pujinya pada Kean, tidak dipungkiri Kean memang makin tampan, dan kharismanya memang tidak berkurang sama sekali. Nada mencoba membenarkan posisi Cashel yang kepalanya menumpu perut Kean.
Setelah posisinya benar, Nada berjalan memutari kasur tersebut lalu mendekati Kean. Mengambil selimut yang jatuh di bawah Kean, lalu ia ambil dan hendak menyelimuti Kean dan Cashel. Selimut yang berjatuhan itu terlipat dan terinjak oleh Nada, dan ketika Nada menariknya ke atas Nada terpeleset.
Brugh
"Akhh" jerit kecilnya membuat Kean bangun. Nada terjatuh di atas dada Kean, membuat sang pemilik dada membuka mata dengan nyawa yang masih berterbangan. Posisi mereka sangat intim dan membuat Nada semakin panik.
"Nada"
"Kean"
Grep
Kean mempererat pelukanya di pinggang Nada, membuat Nada merapat lebih dekat dengan tubuhnya.Tatapan kedua mata mereka menyatu, tampak sebongkah rindu yang terpendam diantara keduanya.
Kean mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Nada. Membuat wajah mereka saling menyemu, memerah dan seperti ada getaran aneh yang menyelimuti hati mereka.
Kean mengikis jarak hingga nafas keduanya terasa hangat menyapu permukaan kulit. Sampai hingga Kean terus mengikis jaraknya, membuat Nada terpaku tanpa bisa berkutik.
__ADS_1
"Papah"