Cinta&Luka PERJODOHAN

Cinta&Luka PERJODOHAN
50


__ADS_3

"Lelaki itu mengatakan kepada Nada jaga emosi kamu Nad, ingat janin kamu ,seperti itu"


Deg


Mata Kean sesaat menajam, hatinya berdetak kencang, rongga dadanya menyesak


'Janin'


Fikiran Kean berputar pada kejadian malam waktu dia menjamabnya. 'Apa mungkin hanya satu malam bisa membuat Nada hamil'


"Kamu yakin?" tanya Kean menatap Santi dengan serius. Santi menganggukinya.


"Aku yakin Key, sangat yakin, soalnya tidak sekali lelaki yang di panggil kak itu menasehati Nada agar tidak emosi. Karna Nada emosi, lelaki itu meminta Nada keluar dan tidak bertatap muka denganku" Jelas Santi kepada Kean.


Santi tahu setelah kejadian kemarin Nada memang tidak pulang. "Satu lagi" Kean kembali fokus pada Santi, "lelaki itu mengatakan kepada Nada kamu jauh jauh merengek minta kembali ke Jakarta hanya untuk melihat dia dan hanya memberikan hukuman seperti ini?" ucap Santi serius.


"Jadi? " ucapan Kean terjeda "Nada berada di luar kota?" Santi mengangguki tebakan Kean.


Kean berlalu, tidak mengatakan apapun, ia kembali ke rumah tanpa ijin kepada gurunya. Dengan kecepatan tinggi ia mengendarai mobilnya, tidak berfikirkah dia jika sampai menikah lagi karna menabrak orang.


Kean tidak pernah berkunjung semenjak kepergian Nada, entah Bunga sehat atau belum, apa operasinya berhasil atau tidak Kean kini sudah tidak peduli. Sepertinya rasa cintanya dikalahkan oleh kepergian Nada dan penyesalan yang luar biasa.


'Kamu jahat Nad'.


'Kenapa pergi disaat kamu sedang mengandung anak dariku?'


Yah Kean yakin itu anaknya, ia sudah tidak bisa berfikir jernih, hamil diusia yang masih dini, dan kini ia tidak tau bersama siapa Nada.


Mobilnya sudah terparkir di rumahnya. Disana ada bundanya, semenjak ditinggal oleh Nada, ibundanya seperti orang yang shock, dan lebih sering menyendiri akibat kehilangan Nada, ayahnya pun meninggalkan pekerjaanya demi bundanya.


"Bunda....." Kean berjongkok di kaki bundanya yang sedang duduk di sofa, ayahnya sedang menyuapi ibundanya.


"Kean kamu kenapa?" tanya sang bunda. Kean menangis, ia benar benar terpukul kehilangan Nada, ditambah Nada saat ini sedang mengandung.


"Bunda, Nada.... Nada....." ucapnya terisak


"Kean bicara yang benar! Ada apa sebenarnya?" Cerca ayahnya.


"Bunda.... hiks Bunda Nada hamil bunda hiks... "


"Apah Key?" Zela berdiri, ia lalu berjongkok di samping Kean " Bicara yang benar Key"


"Ia bunda, Nada sedang hamil, dan dia pergi ke luar kota"


Deg


Itulah kenyataan, kenyataan pahit yang harus dihadapi oleh keluarga Kean. Hanya penyesalan yang menghantui mereka dan entah sampai kapan.


"Benarkah Key?" Kean mengangguk, "lalu bagaimana dengan transplantasi ginjalnya, apa mungkin itu bukan Nada, Nada tidak mungkin tega mendonorkan ginjalnya di saat dia sedang hamil." tanya Kenan kepada istrinya dan Kean.


"Enggak yah, Nada wanita yang sangat baik, tidak mungkin dia melakukan itu" jelas Kean. "Yah cari Nada yah!" Kean merengkuh kaki sang ayah, lalu menciumnya "Aku mohon yah! Cari Nada"


"Key Nada itu sudah seperti anak buat ayah, dan ayah menyesal tidak langsung turun mengatasi masalahnya Nada, sampai Nada mendapatkan masalah demikian, ayah sungguh merasa gagal menjadi orang tua."


"Ini semua salah bunda, coba bunda tetap percaya pada Nada yah, Nada tidak akan pergi hiks... hiks..." Kenan memeluk istrinya, dan Kean juga masih berlutut di sana.


"Enggak sayang, jangan salahkan dirimu" pinta Kenan.


"Ka...." itu suara Ara, adik dari Kenan, dia datang membawa kabar yang kakanya meminta untuk mencarikan.

__ADS_1


"Bagaimana Ra?"


"Bukan Nada yang mendonorkan ginjalnya pada Bunga" mereka bernafas lega mendengar cerita adiknya itu. "Tapi ka"


"Kenapa Ra?"


"Nada hamil" jelas Ara yang tampak kecewa.


"Kami sudah tahu dari Kean." Adel mengernyit, "Kean ?" Kean mengangguk lalu menceritakanya.


"Yah benar, dibalik semua ini ada seseorang yang membantu Nada, dia orang yang cukup berpengaruh" jelas Adel kepada mereka semua.


"Siapa dia Ra?" Adel menggeleng. " Kalau Ara tahu, Ara tidak akan sekecewa ini abang" keluh Adel pada abangnya.


"Minta Kevin untuk mencaritahu Ra!" Kenan memijit pelipisnya


'Andai semuanya bisa aku urus satu persatu'


'Aku telah gagal menjadi ayah'


Tangan Kenan mengusap wajahnya kasar, ia sangat merasa bersalah atas segala apa yang terjadi, seolah semua luka yang menimpa istri dan putrinya adalah kelalaianya.


'Andai Kean tidak melukai Nada terlalu dalam'


'Andai Kean tidak menduakan Nada'


"Ia bang, pasti, Adel pamit ya.......abang yang sabar pokoknya, mba Zela juga, Key.... kamu yang sabar, Nada pasti baik baik saja" Adel pamit kepada Zela, Kean dan abangnya.


*


Bara " Fokus nak!" itu suara bu Wiwi. Semenjak Nada pergi separuh fikiran Bara juga terfokus kepada Nada." Nak, ibu tahu kamu memikirkan Nada, tapi Bda sudah tidak ada di sini" Bu Wiwi memgusap pundak anak didiknya itu.


"Tidak nak, kamu sudah melakukan yang terbaik di sisa sisa waktunya selama di sini" Bara termenung kembali.


"Kita hanya diam menyaksikan Nada di cemooh sesuka mereka, dijudge semau mereka, dan diadili sesuka mereka, padahal dia tidak tahu apapun." Dia membuka resleting tasnya, lalu mengeluarkan selembar foto yang ia simpan sewaktu menarik foto foto tersebut di mading.


Ujung bibir Bara tertarik sempurna, ia sangat bahagia melihat foto itu, walau hanya Bara mungkin yang menikmatinya. Ingatanya terus berputar tentangnya dan tentang Nada, dari awal bertemu dan hingga kini.


"Bara yang sabar nak, ikhlaskan!" kelas bu Wiwik tapi tak direapon oleh Bara.


Flash Back On


Siang itu di saat riuh dan masalah Nada sedang memuncak, di tambah Nada harus meminta maaf kepada semua orang, disanalah Nada juga kehilangan semuanya, seperti seorang pendosa besar, Nada tampak frustasi.


"Nak, bisa kita mulai?" Yah hari ini adalah hari pertama mereka mengikuti tes untuk menentukan siapa yang akan menjadi perwakilan OSI dari SMA Rajawali.


Bu Wiwik membagikan dua soal yang sekiranya akan memakan waktu 3 sampai 4 jam untuk mengerjakan. Wajah Nada ditekuk, bahkan tidak ada semangat hidup sama sekali.


Nada berdiri lalu menyerahkan semua tugas itu kepada bu Wiwik. "Loh Nada ini belum dikerja..."kalimatnya terpotong.


" Saya menyerah bu"


Deg


Bara bangkit, begitu juga dengan bu Wiwi. "Enggak Nad, jangan lakukan itu." ucap Bara yang juga ikut berdiri.


"Nada tolong duduk kembali untuk mengerjakan soalnya!" titah bu Wiwi.


"Maaf bu, Nada menyerah" ia masih menunduk, terlihat jelas linangan air mata yang mulai merembes di pipinya dan menetes di soal yang hanya kertas kosong dan tulisan aku menyerah itu

__ADS_1


Bu Wiwi memeluk Nada erat, "Bu Nada gak bisa lanjutin ini semua, Nada gak bisa" Bara ikut mendekati Bunga yang masih dalam pelukan bu Wiwi.


"Nanti kebenaran akan terungkap Na, please jangan menyerah, saingi aku sampai kamu benar benar menjadi pemenangnya!" Nada berbalik lalu menatap Bara. Nada menjulurkan tanganya, lalu disambut hangat oleh Bara.


"Kamu adalah yang terunggul Bar, aku sudah menyerah, jadi emban tugas ini dengan baik dan aku percaya kamu dapat membawakan hasil yang terbaik dan mengharumkan sekolah ini seperti tahun tahun lalu" Bara berhambur dalam pelukan Nada, bu Wiwik saja terharu.


"Na...."


"Bahagiakan ayahmu yang selalu menuntutmu menjadi yang terbaik" lirihnya tepat di telinga Bara " Aku gak mau lihat luka di tubuh kamu karena ada aku yang mengalahkanmu Bar"


"Ini bukan karena kamu Na" jelas Bara, tapi Nada melepaskan pelukanya lalu menggeleng.


"Sakit kan Bar setiap kali nilaimu di peringkat 2 kamu harus mendapatkan pukulan dan cambukan dari ayahmu" jelas Nada


"Bagaimana kamu...."


"Jangan di pikirkan Bar, sekarang waktunya kamu tunjukan pada orang tuamu, bahwa kamu yang terbaik!" jelas Nada.


"Tapi ini gak adil Na"


"Apa yang adil menurutmu aku yang jadi juara Bar?" Bara mengangguk "PEMBUNUH SEPERTIKU TIDAK PANTAS MENJADI PESERTA LOMBA OSI BAR...." Bara memeluk Nada kembali.


"Kamu bukan pembunuh Na.... aku Jill dan bu Wiwi percaya sama kamu" Air mata Nada menggelinding namun dengan segera ia usap.


"Makasih karna kalian tetap percaya padaku disaat semua orang yang aku sayang justru tidak mempercayaiku"


Nada melepaskan genggaman tanganya di tangan Bara. "Aku pamit Bar, maaf jika aku ada salah"


"Na"


"Na"


Flash Back Of


"Bu Bara ijin" ucapnya lalu keluar dari ruangan tersebut, ia tidak tahu siapa dalang dari semua ini, tapi syukurlah nama Nada sudah harum kembali.


'Akan kutunggu kamu Na, sampai kapanpun'


Bara berjalan santai melewati koridor, disana matanya bersitatap dengan Bintang, ingin rasanya Bara menonjoknya, bahkan di saat saat terpuruk Nada, Bintang justru diam seperti batu.


"Bar" panggilnya di saat mereka sudah saling melewati. "Apakah Nada menghubungimu?"


"Kalau ia kenapa?" Bintang berbalik menatap Bara.


"Kasih tahu aku di mana dia Bar!" Bintang tampak memohon, ia sungguh ingin tahu di mana Nada.


"Sayangnya dia telah pergi tanpa meninggalkan jejak apapun, yang ia tinggal hanya sebongkah luka dari bajingan bajingan seperti kalian" ucap Bara sedikit emosi.


"Maksud loe apa Bar?" Tangan Bintang mencengkeram erat dasi Bara. Tapi Bara melepaskanya dengan mudah.


"Kalau loe dan teman teman loe bisa bela Nada, Nada gak akan pernah pergi ninggalin kita, dan melepaskan cita citanya menjadi juara OSI tahun ini brengsek" Bara menuding wajah Bintang.


"......" Bintang diam seolah semua kata itu fakta


"Diem haa haaa haaa" Bara tertawa menggelegar. "Kenapa diem, ngarasa salah?" desak Bara.


"DENGERIN BRENGSEK, NADA BUTUH LOE DAN SUAMINYA DI WAKTU WAKTU TERSULITNYA, TAPI APA LOE MALAH DENGAN ENTENGNYA MEMBUANG MUKA DI SAAT NADA MEMBUTUHKAN PEMBELAAN DARI LOE DAN SAHABAT SAHABAT LOE YANG KAYA AN**NG ITU" Emosinya meluap luap dengan arah guncangan tanganya yang mencengkeram bahu Bintang


" TAPI APA YANG KALIAN LAKUKAN HAH.... KALIAN MEMBUANG MUKA DAN MEMOJOKAN NADA SEOLAH KALIAN SEMUA MEMBENARKAN TUDUHAN ITU ADALAH NADA YANG MELAKUKAN"

__ADS_1


__ADS_2