
Setelah Kean tak terlihat barulah Nada hendak masuk ke dalam kelasnya. Hingga sebuah suara berat yang familiar menyapanya.
"Na" Panggilan ini, ia kenal betul siapa lelaki yang memanggilnya Na, kecuali Alvaro dan Bara. Tapi ia sadar ini bukan Sulawesi, ini Jakarta, jadi sudah dapat di tebak siapa lelaki tersebut.
Nada berbalik menatap sosok lelaki yang pernah ada dalam lubuk hatinya. "Bara" Yah dia sosok lelaki yang pernah meluluhkan Nada, lelaki berparas tampan mapan itulah Bara.
"Masih lama Na jam kuliahnya dimulai, bisa ngobrol sebentar?" yah Bara mengajaknya untuk mengobrol denganya.
"Menolak terus bukanya tidak baik"
Nada mengangguk lalu Bara berjalan diikuti dengan Nada. Bara memesan minuman kesukaan Nada es jeruk, serta memesan minumanya juga. Seulas senyum terukir, begitu dalam perasaan lelaki di depanya ini kepadanya, sampai sampai minuman kesukaanya masih teringat jelas di fikiranya.
"Akhirnya kita satu kampus lagi" Nada mengangguk mengiyakan. Tidak ethis rasanya jika Nada terus menganggu dan menggelengkan kepalanya.
"Kamu dulu satu kampus dengan Kean?" Wajah Bara suram, sekalinya membuka mulutnya itupun masih tentang Kean.
"Yah, bukan aku saja, Bintang, Langit dan Bunga juga disini." jelasnya singkat.
"Selama ini kamu kemana Na?" tanyanya langsung pada intinya, ia sangat ingin mendengarkan cerita Nada.
"Aku pergi bersama orang baik Bar" jelasnya kepada Bara.
"Taukah kamu aku setengah gila kehilanganmu Na" Nada mengangguk, wajah Bara mulai menyendu, bahkan rasanya jika Bara bukan seorang lelaki ia akan menangis.
"Aku lebih gila Bar dari kamu dan yang lainya" tetes tetes air mata yang membendung itu mulai jatuh bagai rintik rintik hujan.
"Aku sangat ingin menghapus air mata di pipimu"
"Aku bahkan pergi dalam keadaan masih sebagai pelaku utama kecelakaan yang Bunga alami" Nafasnya mulai tak beraturan, ia tak lagi dapat mengontrol emosinya.
"Kehilangan kepercayaan dari orang orang yang aku sayangi adalah hal yang sangat menyakitkan Bar" Salah, Bara salah jika mengingatkan Nada yang sudah tenang untuk mengingat kembali masa kelamnya.
"...." Bara kicep, air mata itu jatuh juga karena Bara mengungkit masa lalunya.
"Apalagi aku dalam keadaan hamil Bar, wanita mana yang tak hancur ketika masa depanya juga direnggut, walau statusku saat itu sudah menyandang istri, Bar? Tapi apa..... Lelaki yang berstatus suamiku justru pergi membela wanita lain"
"....."
"Jadi benar rumor yang beredar kalau kamu hamil."
Nada mengangguk, mengiyakan semua ucapan Bara "Bahkan dia sudah sekolah" Sudah tak bersisa, harapanbyang selama ini Bara inginkan dari sosok Nada sirna tak bersisa.
"Itulah alasan kenapa aku kembali, dengan hati yang lapang untuk memaafkan mereka semua" ungkapnya lagi dan lagi membuat Bara tak percaya kenapa ada seorang wanita sebaik Nada.
"Itu alasan kenapa kamu tidak pernah bisa memandang perasaanku kembali Na?" Nada mengangguk lalu menatap Bara.
"Aku tahu jelas perasaanmu masih utuh untukku Bar, tapi maaf" ucapnya terjeda saat Nada sudah menggeser kursi dan hendak beranjak.
"Aku tidak bisa seperti dulu yang menyandang istri tapi masih berbicara dengan lawan jenis, dan berteman baik dengan mereka, meskipun aku akui kamu adalah lelaki terbaik yang pernah ada dalam hidupku, lelaki yang pernah aku dambakan keberadaanya dulu, Tapi sekarang aku punya alasan untuk menjauhi semua itu, dia adalah suami dan putraku"
__ADS_1
"Maaf Bar, berhenti mencintaiku dan carilah penggantiku" Nada berdiri hendak meninggalkan Bara.
"Na...." panggil Bara menginterupsi langkah Nada.
Nada mengambil nafasnya dalam, menyakiti Bara adalah hal yang tidak ingin Nada lakukan. "Lusa aku akan menggelar resepsi dengan Kean Bar, datanglah jika sempat !" ucapnya yang mampu memporak porandakan seluruh perasaanya Bara.
Nada berjalan memasuki kelasnya, tidak ada yang ia kenal, bahkan ia juga enggan untuk mengenal siapapun, seperti saat di Sulawesi dia hanya mengenal Alvaro, lelaki yang diperintahkan oleh dosen pembimbing untuk memantau perkembangan belajar Nada.
*
"Key, sudah pulih?" Tanyanya yang disambut senyum hangat dari Kean. Dia teman sejawatnya yang menjadi part timenya di IGD.
"Alhamdulillah baik, Free loe?" Arsen mengangguk, mereka satu alumni, dan menjadi dokter umum yang sama di rumah sakit yang sama.
"ICU kosong" ucapnya bahagia. "Oh ia Cindi nyariin loe kemarin" Tidak bodoh, Kean tau banyak wanita yang mendambanya, tapi apalah daya, hatinya sudah dibuat mati dan terkunci oleh Nada.
"Tadi juga ketemu" jelasnya kepada Arsen.
"Dia ngungkapin perasaanya sama loe, gimana gimana loe terima?" Kean terkekeh, geli rasanya mendengar ungkapan ungkapan cewe cewe yang menyukainya. Biasanya mereka yang menyukai Kean akan dibuli oleh Bunga. "Apa loe lebih milih sama si Bunga?" Kean menggeleng.
"Gue punya istri, dan anak kalau loe lupa" ungkap Kean jelas.
"Bukanya kabar lalu lalang itu cuma hoax?" tanya Arsen tak percaya.
"Siapa yang bilang hoax?" tanya Kean menautkan alisnya.
"Jadi Bunga mencoba menghilangkan semua tentang Nada dariku dan dari semua orang"
"Istri gue lebih cantik, dan...." ucapanya terjeda " Wanita paling baik, sabar dan tidak ada bandingnya dari wanita wanita lain yang pernah aku kenal. Apalagi istriku merawat putraku yang sangat tampan menjadi pribadi yang sangat baik dan sholeh" ucapnya yang kemudian mengingat setiap kali perilakunya tak sesuai adab islam, ia akan dinasehati oleh putranya dengan hadist hadist islam.
"Lusa datang yah Sen, dan ajak semua temen kita" Arsen menautkan alisnya, bingung kenapa Kean meminta ia dan teman temanya datang ke rumah.
"Buat?" tanyanya bingung
" Resepsi pernikahan gue sama istri dan juga anak gue yang udah 5 tahun lebih" ungkapnya kepada Arsen membuat arsen melongo.
"Seriusan loe beneran udah punya istri dan anak?" Kean mengangguk lalu menepuk pundak Arsen.
"Bidadari gue cantik banget Sen lebih dari wanita manapun" ungkapnya lirih di samping arsen. "Gue cabut ya"
*
Tibalah hari dimana resepsi pernikahan antara Kean dan Nada. Mereka sudah siap, tampilanya bak ratu dan raja itu terpampang jelas. Jangan lupakan Cashel dengan kharismanya, gayanya dibuat sama dengan sang papah.
"Kamu Nervous?" Nada mengangguk mengiyakan, Lalu Kean memegang tangan Nada. "Ada aku disini dan putra kita yang sama tampanya denganku di sana Nad" Nada terkekeh, anak dan bapak sama saja, sama sama narsis.
"Pah, ayokk!" ajak Cashel yang sudah mendapatkan perintah dari sang oma dan opa untuk memanggil orang tuanya untuk keluar.
Pintu dibuka, tampak suasana mulai hening, tampilan wajah Nada yang sangat anggun, alim dan tenang, juga Kean yang tampak kharismatik itu berjalan beriringan sambil bergandengan tangan.
__ADS_1
Mereka berlutut, menjongkokan badanya dengan salah satu lutut ditempelkan di lantai. Yah acara sungkem kepada orang tua Kean membuat haru keluarga mereka.
Pasalnya acara sungkem ini hanya kepada kedua orang tia mempelai lelaki, mengingatkan pada Nada yang telah kehilangan kedua orang tuanya akibat perbuatan lelaki yang ada di sampingnya.
"Bun, maafin Nada" ungkapnya lirih bahkan air mata telah berderai tiada henti.
"Kamu tidak pernah punya salah nak, bundalah yang banyak salah, bunda minta maaf dan terimakasih telah kembali" Nada mengangguk mengiyakan.
Kini giliran Kean yang sungkem kepada sang bunda " Key, jaga Nada dan bahagiakan dia!"
"Pasti bund, Key akan jaga Nada dengan nyawa Kean." ucapnya penuh kepastian.
Kini giliran Nada sungkem kepada sang ayahanda "Yah....." panggil Nada.
"Tidak, jangan katakan apapun Nak, ayah yang meminta maaf kepadamu, jika selama ini belum bisa menjadi ayah yang baik buat kamu" jelasnya pada sang putri. Kilantan ingatan sang besan masih tertera jelas di benaknya.
"Yah...." Ini Kean, yang sedang sungkem pada sang ayahanda Kenan.
"Ingat Key, penuhi janjimu dulu kepada mertua kamu" Kali ini kilatan ingatan tentang Kean yang berjanji akan menjaga Nada dengan nyawanya terngiang jelas. Tapi yang berputar dalam fikiranya, semua perlakuan buruk pada Nada, hingga Nada meninggalkanya.
"Pasti yah tidak akan ada sedikitpun air mata yang akan membuat Nada sedih" janjinya tulus dan mantap.
Kini saatnya hal yang dinanti Kean, setelah sambutan yang panjang, kali lebar dan luas yaitu acara sambutan dari murid sma Rajawali yang dulu pernah menyakiti Nada dan melempari Nada dengan telor dan sampah pada Nada.
"Key?" Kean mengangguk, lalu mereka semua, termasuk Bintang Langit, Bara, ada juga Bunga, Jill, dan Santi disana. Tak lupa semua guru yang ada disana sudah berdiri dan berbaris dengan rapi.
"Sebelumnya Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh" Salam mereka di jawab dengan seru dan lantang dari semua orang.
"Waalaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh"
"Saya selaku kepala sekolah SMA Rajawali mewakili semua guru, staf sekolah dan murid dari kelas X, XI, dan XII ingin meminta maaf yang sebesar besarnya dan setulus tulusnya karena pernah menyakiti hati nak Nada, sedemikian dalam"
Air mata Nada pecah, sungguh hari ini adalah hari menangis yang digelar dalam resepsi, bukan senyuman tapi tangisan yang menghiasinya.
Kean mengusap air mata Nada, lalu melirihkan sebuah kalimat lembut padanya"Jawablah Nad! Ini adalah kesempatan kamu mengatakan apa yang selama ini kamu pendam untuk mereka."
"Dulu aku ingat betul mereka semua ada disana mencemoohku sebagai wanita pembunuh, ******, perusak hubungan orang, pengacau, murahan dan banyak sekali cacian hingga makian yang dilontarkan"
"Bahkan bukan hanya itu, dari sekian banyak mereka ada satu wanita yang rela mengorbankan dirinya hanya untuk mengelabui semua orang, dan menarik kepercayaan semua orang untuk membenciku"
"Pada akhirnya aku harus pergi dalam keadaan hamil, membawa luka yang berat"
"Dan kini kembali untuk memberikan maaf kepada mereka"
"Bismillahirrohmanirrohim" ucapnya terdapat jeda yang panjang, sebuah tarikan nafas dalam Nada praktekan, untuk menetralkan emosi yang sesaat menguasainya "Saya sudah memaafkan kalian semua"
__ADS_1