
"Kamu jahat jahat .... jahat jahat Key" ucap Nada yang memukul dada bidang Kean.
"Ia ... ia ... ia gue jahat Nad. Maaf.... maaf karna terlalu sering menyakitimu" ucaonya menangkup kedua tangan yang sedarj tadi memukulkan tanganya di dada bidang Kean.
"Kita balik Jakarta ya!" Nada menggeleng tanda ia tak mau.
"Kita hidup berdua, dan seperti permintaan ayah, aku akan bertanggung jawab kepadamu Nad, mencari nafkah untukmu, dan tidak akan melukai kamu lagi" Ucapnya dengan penuh harap.
Nada bergeming, berharap ucapan Kean memang serius. "Kamu gak becanda kan?" Kean menggeleng, lalu memegang tangan Nada.
"Kamu tanggung jawab aku Nad, jadi kamu hanya harus patuh padaku." Nada mengangguk, gadis polos seperti dirinya akan dengan mudah luluh dengan kata manis, apalagi Nada hanya seseorang yang di seumuranya belum pernah punya hubungan dengan siapapun.
"Tapi....." Sanggah Nada, ia masih penuh dengan pertimbangan matang. Kean membingkai wajah Nada dengan tanganya.
"Gue akan berusaha agar hubungan kita lebih baik lagi"
"Lalu Bunga" Tanya Nada membuat Kean mendadak bisu.
"Gue emang gak bisa tinggalin dia, tapi gue janji akan prioritasin hubungan kita Nad!"
"Diantara loe dan Bunga, emang gak ada yang bisa gue lepas Nad, tapi ...... Kean menjeda ia melepaskan bingkaian tanganya lalu berbalik. Sesak rasanya harus mengatakan ini " Gue akan berusaha melepas Bunga secara perlahan, jadi tunggu gue Nad!"
Hampir saja air mata Kean mendadak akan turun, ucapanya barusan adalah sebuah janji yang artinya ia akan melepaskan Bunga.
Wanita yang teramat ia cintai, wanita yang sudah lama menyandang kekasihnya itu. Wanita yang mampu membuat Kean si pendiam dan kejam menjadi luluh.
'Sejahat itu aku.....'
'Aku adalah wanita yang merusak hubungan mereka'
'Aku seperti orang ketiga yang mengganggu keharmonisan hubungan mereka'
'Tapi saat ini statusku sah di mata hukum dan agama'
'Harus egoiskah aku atau membiarkan diriku terluka sendiri'
Kean berbalik menghadap Nada, Ia berlutut didepanya. "Key... jangan begini" Nada menanting Kean untuk berdiri.
"Beri aku waktu Nad, aku janji, jika aku masih tidak berubah, terserah kamu mau ninggalin aku, atau mau apa, terserah kamu Nad" ucapnya membuat Nada menganggukinya. Kean dengan erat memelukan tubuhnya pada gadis kecil ini. gadis yang tinggi badanya tak sampai 160 cm.
"Makasih Nad" Ucap Kean lembut. Nada masih di sana, berada di pelukan Kean yang sejak tadi membuat jantungnya berdisko.
"Khemm" Sebuah deheman dari arah ruang tamu membuat dua sejoli ini saling melepaskan pelukanya.
"Bibi..." lirih Nada dengan malu. 'Ganggu aja si bi, ini Nada lagi seneng dipeluk sama Kean juga'
"Mentang mentang udah sah ya mas" Kean mati kutu, dia juga malu ke gep sama pembantunya.
Melihat Kean yang mengaruk tengkuknya yang tak gatal membuat Nada bingung lalu berusaha mencairkan suasana canggung itu " Udah udah, ayo makan, aku udah selesai masak nie" ucap Nada mencairkan suasana.
"Bibi panggil pak Sono!" Pinta Nada. Namun IRT nya menggeleng.
"Maaf cah ayu, kalian makan berdua saja, saya sama pak Sono nanti aja nunggu neng Nada sama mas Kean makan." Ucapnya seraya berjalan meninggalkan Nada dan Kean.
"Loh ko gitu si bi, biasanya kan makan bareng" protes Nada
"Neng Nada lagi sama mas Kean mah bibi kagak ganggu lah neng" ucapnya kepada Nada dan Kean.
"Ayo makan" Nada meminta Kean untuk duduk, lalu mengambilkan Kean nasi dan lauknya. "Dimakan Key!" pinta Nada yang melihat Kean hanya menatap Nada dan lauknya.
Satu suapan itu masuk, dan mebuat ujung bibirnya tertarik 2 cm 'enak ' satu kata yang keluar dari bibirnya.
"Setelah ini kita jalan yu!" ajak Kean kepada Nada, Nada yang sedang fokus menikmati makananya mendongak.
"Kemana?" tanya Nada
"Ke mana aja, yang penting tempatnya bagus." Nada menganggukinya.
Setelah menikmati makan siangnya Kean dan Nada bersiap untuk pergi ke tempat yang menurutnya bagus. Apalagi kalau bukan pantai.
Nada menggunakan baju midi berwarna toska, dipadu dengan renda cream yang menawan di pinggangnya, pantovel tanpa high hill berwarna cream menghiasinya, rambutnya terurai dengan ujung yang dibuat ikal.
__ADS_1
"Ada yang lebih recomended dari pantai pengandaran gak?" Nada mengangguk.
"Tapi sangat jauh, aku saja belum pernah kesana?" ucapnya memberitahu "Namanya pantai Menganti, indah banget, katanya wkekekk"
"Gimama si kok katanya." keluh Kean.
"Ia katanya, aku aja gak pernah kesana" Nada mengerucutkan bibirnya.
"Minta dicium itu bibir?"
"plak" Nada memukul tangan Kean, ia malu kalau digoda oleh Kean begitu.
"Mas ada pak Sono ini yang jauh dari istri" Jawab pak Sono yang sedang fokus menyetir.
"haahaa maaf pak" ucap Kean frontal. Nada yang menurutnya ucapan keduanya mulai tabu,memejamkan matanya. Berpura pura tak mendengar pembicaraa mereka.
Tak lama mereka sampai, hari sudah sore dan sunset mulai terlihat di ufuk barat. "Mas bapak disini aja ya" Ucap pak Sono. Kean mengangguk, lalu menggiring Nada sampai di bibir pantai.
"Indah banget sunsetnya," ucap Kean yang mengabadikan momen sunsetnya. Kean mengajak Nada untuk berselfi dan menyimpanya sebagai walpaper di ponselnya.
'Ya Alloh indah banget ciptaanmu ini' Yang dimaksud Nada itu Kean yang tampanya kebangetan, apalagi terkena sinar kemerahan yang sebentar lagi menjadi ungu, menambah nilai plusnya.
30 menit sudah mereka berada di bibir pantai, sebenarnya suara adzan sudah berkumandang 5 menit yang lalu. Tapi Nada masih enggan mengajak Kean kembali, ia masih betah dengan makhluk ciptaan Tuhan yang sekarang menyandang suaminya.
"Ayo kita sholat Key" Ajak Nada, yang kemudian berjalan menuju gulungan kecil air laut untuk membersihkan pasir putih di kakinya.
"Grep" Yah Kean memeluk Nada dari belakang, entah kenapa kalau di dekat Nada rasanya Kean inginya nempel terus seperti magnet.
'bikin candu'
"Sebentar lagi Nad, biarkan seperti ini" Kean menyandarkan kepalanya di pundak Nada, ia mematap wajah Nada secara inci dari samping, lalu memberikan sebuah kecupan hangat di pipinya.
"Blush"
Jantungnya berpacu, wajahnya juga memanas, seperti sebuah sengatan listrik yang mampu membuat Nada membeku.
Tiba tiba gerimis mulai berdatangan, membuat Nada melepas paksakan pelukan itu, Nada berlari kecil meninggalkan Kean yang menatapnya dengan tatapan tak bisa diartikan.
Kean menarik tangan Nada hingga Nada berbalik tepat di depan Kean.
1 detik
2 detik
3 detik
Kean memeluk Nada dengan erat seakan enggan melepaskanya. "Sebentar saja Nad"
"Mas Kean, neng Nada" Pak Sono mengagetkan kedua insan yang tengah asik memadukan kasihnya.
"Hujan mas, neduh dulu"
'Sial ganggu aja'
Kali ini Nada menarik pergelangan tangan Kean setelah melepas pelukanya tadi. "Ayo balik Key!" Ajak Nada, disambut oleh payung yang diberikan pak Sono pada mereka.
Setelah menyalakan mesin mobil Nada meminta pak Sono untuk mampir ke mesjid. "Ayo turun!" Ajak Nada pada Kean
"Ngapain?"
"Main petak umpet" ucap pak Sono, membuat Nada tertawa kecil. " Sholatlah den, gimana si"
"Tau gue"
"Lah terus den?" Nada mendorong Kean keluar, disana masih banyak yang sedang menjalankan ibadah sholat dan mengaji, lalu pak Sono mengambil inisiatif untuk mengimami Kean dan Nada.
Setelah sholat mereka kembali kemobilnya. "Bawa mukena setiap kali berpergian Nad?" tanya Kean penasaran. Nada mengangguk lalu menatap Kean.
"Setiap kesekolah juga bawa mukena ko" jawabnya
"Gak berat emang?"
__ADS_1
"Berat si, tapi beratan dosa aku" ucap Nada.
"Nyindir" Nada tersenyum lalu menatap Kean dan mengangguk.
"Iyah"
"Awas kamu yah, nyindir nyindir" ucap Kean yang merapatkan duduknya kepada Nada.
"Kenapa emang?"
"Gue hukum nanti"
"Gag mau yee"
"Mau kemana lagi den?" tanya pak Sono kepada dua sejoli yang masih berdebat.
"Ke mall"
"Pulang pa, udah malem"
"Gue gak ada baju" ucapnya kesal.
"Mampir distro di depan gang aja pa!" ucap Nada dan diangguki oleh pak Sono.
Sejak kapan supirnya itu begitu penurut sama Nada dan membangkang Kean.
Setelah membeli baju, mereka mampir di tempat nasi goreng yang terkenal sangat enak menurut Nada. Barulah mereka kembali ke rumahnya.
Sesampainya di rumah sekitar pukul 21.00, Nada bergegas membersihkan dirinya, dan menjalankan sholat isya. Begitu juga dengan Kean yang membersihkan dirinya di kamar sebelah Nada.
Detik waktu menunjukan pukul 21.30 Kean yang mulai merebahkan dirinya menatap langit langit kamarnya. Namun ia tak dapat memejamkan matanya. Kean beranjak dari kamarnya menuju kamar Nada.
Ceklek
"Kean....." kagetnya karna mendapati Kean yang memasuki kamarnya.
"Ko belum tidur?" tanya Kean. Nada menggeleng.
"Gag bisa tidur" Ucapnya lalu menutupkan selimutnya setinggi dada.
Kean menyibakkan selimut disamping Nada, Nada melotot menatap siluet di sampingnya yang tanpa dosa merebahkan tubuhnya di sampingnya. "Kamu mau ngapain?"
"Gak bisa tidur. " Ucap Kean dengan cepat menbuat Nada menjadi gulingnya.
"Key apaan si, pergi gak, balik sana ke kamar kamu" pintanya sambil mendorong Kean di sampingnya.
"Diem Nad, gue cuma tidur, gak ngapa ngapain loe." ucapnya membuat Nada kicep karena kembali didekap oleh Kean.
"Key...."
"Diem"
"Key...."
"Apa sih?" kesal Kean
" Pengap ini" Ucap Nada yang memindahkan lengan kekarnya ke bawah.
"Diem tidur"
"Gak bisa tidur Key" ucap Nada.
"Sama" Kean pun sama ia sejak tadi berusaha memejamkan matanya tapi sayangnya mata itu enggan tertutup.
" Kenapa gak bisa tidur?" tanya Kean penasaran kemudian mendudukan tubuhnya.
"Mending kamu balik deh ke kamar kamu" pinta Nada, ia was was kalau tidur berdua dengan Kean.
"Kenapa?" Nada menggeleng, wajahnya menyemu karna Kean menatapnya lekat dan dengan jarak yang begitu dekat.
"Apa kamu menginginkan malam pertama?"
__ADS_1