Cinta&Luka PERJODOHAN

Cinta&Luka PERJODOHAN
57


__ADS_3

"Lepas Key" lirihnya tak mau mengambil perhatian sekitar. Nada mencoba menarik tanganya yang di pegang erat oleh Kean.


"Papah"


Deg


2 sosok yang saling berpegangan tangan itu menolehkan kepalanya pada sosok anak kecil berusia 6 tahun.


"Cashel"


Mata Kean memanas, ia menatap anaknya lekat lekat. Tidak pernah disangka, ada hari di mana ia di panggil papah. Selama ini bahkan dalam mimpi Kean tidak pernah memimpikan itu, ia takut bahwa anaknya akan membencinya.


'Papah'


Tes


Tes


Ternyata bendungan air mata yang sejak tadi ia tahan tumpah begitu saja. Tak hanya Kean, Nada juga meneteskan air mata.


'Pemandangan yang menyenangkan dan menyedihkan'


Kean melepaskan tanganya, membuat tangan Nada terlepas dari cengkraman Kean. Ini mirip seperti saat Kean melepaskan tangannya dan memilih tangan Bunga.


Tapi kali ini bukan sakit yang ia rasakan, hatinya ikut bahagia melihat Kean yang saat ini berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Cashel, lalu membingkai wajah tampan anaknya.


Tes


Tes


Tes


'Inikah waktunya mereka bertemu'


Ada debaran sakit, sesak tapi seperti sebuah kelegaan yang akhirnya membuat paru paru itu mengembang sempurna dan bernafas lega, kebohongan kebohongan yang selama ini Nada katakan pada Cashel begitu menyakitkan untuk ia pendam sendiri akhirnya berakhir.


Kean menelan ludahnya, sesak itu menggerogoti tenggorokanya. Air matanya meluncur dengan deras. "Nak..."


"Papah" suara itu mendebarkan jantungnya. "Mah ini papah Cashel kan?" Cashel mengeluarkan ponselnya, dan melihat walpaper ponselnya yang terpasanh wajah Kean.


Yah Nada tahu sejak dulu ponsel Cashel memang diseting dengan walpaper foto milik Kean. Kean menatap Nada mencari sebuah kepastian "Ia sayang dia papahmu"


"Papah...." Suara termanis adalah sepatah kata ini yang pernah ia dengar seumur hidup. Kean langsung memeluk erat anak yang sudah berusia 6 tahun tak pernah ia temui.


Bergigi rapi, pipi chabi, kulit putih, tinggi, keren, dan senyum yang sangat indah, tampan itulah komentarnya saat pertama kali bertemu dengan putranya.


Nada mengedarkan pandanganya ke langit langit ruangan, sesak sekali rasanya. Ia sudah coba untuk tidak menangis tapi air matanya tetap mengalir.


"Maafkan papah nak.... Maaf" Cashel melepaskan pelukanya, tangan mungilnya mengusap wajah tampan miliknya.


'Ini adalah sentuhan terhangat yang pernah kurasakan selain sentuhan bunda'


"Papah.... kata mamah anak cowo gak boleh nangis!" Cashel masih mengusap wajah Kean yang mengeluarkan air mata. "Ia kan mah?" Cashel menatap wajah Nada yang ikut menangis.


"Mamah menangis?" tanya Cashel pada mamahnya, membuat Kean ikut menatap wajah ayu Nada yang kini berhijab.


'Sungguh wajah Nada semakin cantik dengan hijabnya'


Tidak etis sekali, pertemuan mereka di lorong ruangan VVIP. Untung saja saat ini bukan jam kunjung, dan untung ruangan VVIP itu pengunjung pasien berada di dalam, tidak ada visite dokter spesialis, dan tidak ada perawat ataupun OB masuk.

__ADS_1


Nada berjongkok ikut mensejajarkan tinggi badanya pada putranya, "Mamah gak nangis sayang, mamah nangis karna bahagia" jelasnya menatap putra semata wayangnya.


"Mamah udah selesai nginfus pasienya?" Nada mengangguk kepada Cashel.


"Mamah, bolehkan kalau papah ikut pulang ke rumah?" Nada dan Kean saling pandang, ingin menolak tapi Kean juga berhak atas anaknya.


Nada mengangguk dengan senyumnya. "Boleh sayang" jawabnya dengan lembut.


"Horeee" Cashel langsung memeluk Kean dengan semangat. "Ayo pah kita pulang!" Ajaknya membuat Kean beranjak dari jongkoknya sambil membopong Cashel. Ia ingin menanting Nada tapi terlambat, Nada terlebih dulu beranjak dari jongkoknya.


Kean dan Cashel berjalan menuju lift, sedangkan Nada mampir ke ruang karu untuk mengambil tas miliknya dan milik Cashel. Di ambang pintu Kean dan Cashel saling bercengkrama sambil menunggu Nada.


Nada memasuki lift disusul oleh Kean dan Cashel. "Papah...."


"Ia Shel ada apa?" Cashel mendekatkan kepalanya di pundak sebelah kiri. "Cashel pengin dibeliin es krim sama papah di mall boleh gak?"


'modus'


'Ini si Cashel yang modus, dan Ini juga kesempatan Kean bisa mendekati Nada'


"Tanya sama mamah kamu boleh apa nggak?" lirih Kean kepada Cashel yang masih terdengar oleh Nada.


"Mah..." Bibirnya mengerucut, wajahnya memelas membuat Nada gemas sekali pada anak itu. Nada mengangguk lalu tersenyum.


"Iah.... boleh sayang" jelasnya kepada Cashel. Sesampainya di basement Cashel menunjukan mobil sang mamah kepada Kean.


Nada mengacungkan kunci mobilnya kepada Kean, namun raut wajahnya datar. tidak menunjukan bahwa ia ingin menyelesaikan masalah yang telah lewat 7 tahun dengan Kean.


Nada membuka mobil bagian belakang, sedangkan Cashel sudah diletakan oleh Kean di samping kemudi. Kecewa itulah perasaan Kean ketika Nada lebih memilih duduk di belakang.


Sepanjang perjalanan Cashel mengajak Kean bercakap cakap. Kean pun tampak antusias dengan pertanyaan pertanyaan yang dilontarkan oleh Cashel. Mulai dari hobi, tren mode baju, warna, makanan kesukaan. Nada hanya menatap kosong pemandangan di luar mobil itu.


Sesaat mata Kean dan Nada terpaku, bertatapan di spion yang berada di atas kepala Kean, matanya memanas, ada guratan sedih di sana, ada air mata yang tertahan di sana.


"Pah ayo kita beli es krim" ajaknya kepada Kean yang sudah sampai di mall tersebut. Kean mengambilkan banyak eskrim hingga trolinya penuh.


"Cashel sayang.... jangan banyak banyak nak!" pinta Nada namun Kean memegang tangan Nada membuat Nada seperti tersengat listrik, karna ia memegang cemari Nada. Kean menganggukan kepalanya kepada Nada bahwa ia tidak keberatan.


"Gak papa sayang, ambil aja" ucap Kean pada Cashel. "Mau dimakan sekarang atau nanti?"


"Nanti pah, kita pulang sekarang aja, nanti mamah mau berangkat kerja soalnya. Waktu memang sangat cepat sekali berjalan menurut Kean, padahal Kean masih butuh waktu banyak untuk menyelesaikam masalah dengan Nada. Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 10.30


'Pelan pelan Key!'


'Sudah bertemu denganya, harus bisa memantapkan hati Nada kembali'


'Apapun akan aku lakukan Nad'


Perjalanan dari mall ke rumah menghabiskan waktu 1 jam lebih, dengan menggunakan gps ponsel milik Cashel.


Sesampainya di rumah Nada membukakan pintu rumahnya. Sejak tadi Kean tidak berhenti tersenyum, hatinya jujur sangat bahagia.


"Pah ayo kita habiskan eskrimnya" ajak Cashel pada Kean, namun Nada segera menghentikan aksi anaknya itu.


"Gak sayang, kamu makan dulu, ini udah siang, gak boleh makan eskrim sebelum makan" jelasnya kepada Cashel.


Cashel mengerucutkan bibirnya "Makan dulu yah, Cashel harus nurut sama mamah" ucap Kean kepada Cashel.


"Ayo pah makan!" Sebenarnya Nada berasa seperti dikacangin sama Kean dan Cashel. Mereka bukan seperti orang yang baru bertemu, tapi seperti orang yang sudah kenal lama dan saling jatuh cinta.

__ADS_1


Cashel menarik tangan Kean dengan erat menuju meja makanya, lalu dengan sigap Nada menyiapkan makanan untuk mereka bertiga.


'Ternyata makanan yang selalu aku hindari adalah makanan terenak yang pernah aku rasakan, padahal dulu aku lebih memilih berangkat pagi bersama Bunga'


'Aku baru sadar bahwa perlakuan seperti ini bisa membuat hatiku bahagia'


Detik waktu menunjukan pukul 12.30, Cashel sudah menguap beberapa kali. "Sayang kamu bubu siang dulu yah, ini udah jam 12.30" pinta Nada, sayangnya Cashel langsung meminta Kean untuk menemaninya.


"Mah bolehkan papah nemenin Cashel!" Nada mengangguk mengiyakan permintaan putranya.


'Terserah dia saja, semau dia saja, toh semenjak beberapa jam yang lalu memang Cashel sangat lengket dengan papahnya'


Cashel menarik tangan Kean lalu membawanya ke kamar. Nada termenung di sana. Fikiranya kacau, tak jelas semenjak bertemu dengan Kean.


"Ini kamar kamu sayang?" Cashel mengangguk. Kamar dengan interior design gelap dan klasik, kamar ini lebih masuk untuk remaja dewasa.


Seperti yang Kean tangkap dari cerita Cashel, bahwa sejak tadi Cashel tidak pernah menyebutkan nama lelaki dalam hidupnya, berarti Kean aman tanpa saingan.


"Pah bacain dongeng nabi nabi, disana ada buku cerita nabi nabi" tunjuknya meminta Kean membacakan dongeng sebelum tidur. Setelah beberapa menit Cashel sudah mulai mengantuk lalu meminta Kean untuk tidur di sampingnya.


"Papah sini, temenin Cashel!" Kean menaiki kasur berukuran king zize itu lalu dengan cepat Cashel memeluk Kean seperti yang biasa ia lakukan kepada Nada.


"Kita baca doa dulu ya pah!" Ajaknya lalu Cashel membaca doa sebelum tidur. Dilanjut dengan ayat kursi. Kean saja cengo, ternyata anaknya sudah hafal ayat kursi. Padahal dirinya antara hafal dan tidak.


30 menit berlalu Kean sudah terlelap, anaknya dididik dengan sangat baik oleh Nada dengan bekal ilmu agama yang begitu kuat. Cashel tertidur dengan pulas, lalu Kean dengan semangat mengecup pucuk kepalanya.


"Maafkan papah nak, maafkan papah yang gagal merawat kamu''


''Maafkan papah yang tidak ada saat kamu lahir''


''Maafkan papah yang membuat kamu seperti ini''


''Maafkan papah yang menyakiti mamahmu''


''Maafkan papah yang membuat luka begitu dalam di hati mamahmu''


''Maafkan papah yang membuat kalian hidup sebatangkara''


''Maafkan papah yang.... hiks.... hiks.... hiks....'' Kean memeijit pelipisnya, merasakan sesak yang luar biasa akibat penyesalanya.


Diujung pintu, ada Nada yang sedang mendengarkan penyesalan Kean, bahkan Nada juga ikut menangis karna ucapan Kean.


"hiks...." isak lirih Nada membuat Kean memalingkan pandanganya.


"Nada...." Kean beranjak dari duduknya, lalu berjalan menyusul Nada. Nada yang melihat Kean menyusulnya malah menghindarinya.


"Nad berhenti" titahnya kepada Nada, lalu mendekati Nada, dan menetapkan tubuhnya di depan Nada. Kedua tanganya memegang bahunya pelan.


grep


Kean memeluk Nada dengan erat, seerat eratnnya sampai Nada mengeluh sesak dan mencoba melepaskan "Lepas Key"


"Key lepas!" ucap Nada lirih. Jujur Nada nervous saat dipeluk oleh Kean, jujur ia jadi salah tingkah, dan jantungnya berdetak dengan cepat tanpa ada jeda.


"Key lepas!" Nada terpaksa melepaskan pelukan Kean, kali ini mereka berhadapan, tapi sayangnya Nada menundukan wajahnya.


Kean berjongkok lalu memegang tangan Nada. "Nad maaf.... maafkan aku....."


Deg

__ADS_1


'rasa sakit itu masih utuh'


'Meski berpuluh puluh kali aku coba untuk bisa ikhlas, tetap saja masih belum bisa berdamai denganya'


__ADS_2