Cinta&Luka PERJODOHAN

Cinta&Luka PERJODOHAN
46


__ADS_3

"DASAR PEMBUNUH, BUKAN MANUSIA LOE, LOE AN**NG, AN**NG YANG GAK BERPERASAAN, DASAR AN**NG, MURAHAN, PEMBUNUH, MATI AJA LOE, GAK SEKALIAN LOE IKUT ORANG TUA LOE MATI HAH?" Kean menggoncangkan tubuh Nada dengan kuat dan kalimatnya yang menurutnya tak pantas untuk manusia itu ia ucapkan untuk istrinya.


Deg


Hatinya sakit sesakit sakitnya. Kalimat itu berputar dan berdenging di telinganya, menghantuinya hingga ia hampir terjatuh.


Bintang disana, ia tidak berani mendekati Nada. Padahal Nada sangat butuh Bintang pada saat ini. "Lepasin BEGO " Ucap Bara memisahkan Kean yang mencekik Nada. Nada terbatuk lalu dengan cepat Bara menarik Nada.


Bara membawanya berlari keluar dari kolam renang, lalu membawa Nada ke tempat latihanya. Nada terjatuh di kursi, baru kali ini Bara melihat Nada yang hancur sehancur hancurnya.


"Gue menyedihkan ya Bar?" Selama di Jakarta baru kali ini Nada mengatakan gue. " Bener kan Bar gue pantes mati, gue emang an**ng"


Nada berlutut suaranya serak, seharian hidupnya tak tenang. "Gue .... gue gak bunuh Bunga Bar, gue..... "


"Aku percaya Nad" Bara memeluk Nada, Nada membalasnya dengan memeluk erat.


'Hanya Bara, hanya dia yang percaya padaku'


"Tapi aku pembunuh Bar" ucapnya yang melepaskan pelukanya paksa.


" Aku percaya .... Kamu gak bakalan ngelakuin itu." ucap Bara.


" Kamu beneran percaya kan?" isaknya semakin keras. Nada hanya akan menangis di depan seseorang yang dekat denganya, tapi tidak di depan orang lain. "Tadi Jill yang ajak aku ketemu Bar!" Bara mengangguk mengerti.


"Aku akan buktikan bahwa kamu tidak bersalah." Bara mengusap pundak Nada yang bergetar.


ceklek


"Bu Wiwi.... huuuuuuu" Isak Nada semakin deras. "Bu Wiwi Nada gak nglakuin itu"


"Ibu percaya Nad" Bu Wiwi ikut memeluk Nada. " Ibu percaya, dan ibu berjanji akan mencari buktinya." ucap bu Wiwi.


" Makasih bu" ucap Nada yang masih sesegukan.


"Ada ibundamu di depan Nad" ucap bu Wiwi. Nada berjalan membuka pintu ruang latihanya selama ini.


Ruangan ini adalah saksi bisu di mana bu Wiwi mengenal Nada. Dia gadis yang baik. Dan bu Wiwi tahu bahwa Nada bersamanya sepanjang hari ini, bagaimana mungkin Nada melakukanya


ceklek


"Bunda..." Bunda Kean berhambur memeluk Nada. "Bunda percaya kan sama Nada?"


Zela mengagguk, lalu kembali mengusap surai hitam Nada. "Tenang yah sayang, semua akan baik baik saja." jelas Zela kepada Nada. "Ayo pulang!" Nada menggeleng, ia tidak mau pulang, ia takut bertemu Kean.


''Gak bunda, Nada gak mau pulang ke rumah dan bertemu Kean" jelasnya masih dengan air mata yang berderai.


"Ia, bunda pastikan kamu tidak akan bertemu dengan Kean." Jelasnya, lalu Nada pulang bersama sang ibunda ke hotel. Itu permintaan Nada untuk tidak pulang ke rumah.


"Sayang, nanti bunda siapkan baju buat kamu" ucapnya mengusap pipinya. "Bunda mau menyelesaikan masalah kamu dulu." Nada mengagguk mengiyakan.


No name


Sudah waktunya Nad


^^^Nada^^^


^^^Tolong selesaikan masalahku terlebih dulu, baru aku akan pergi^^^


"Sudah saatnya, aku tidak akan bisa bertahan dengan semua ini" gumamnya sedih.


*


Pagi ini Nada berangkat sekolah atas permintaan ibundanya, dan yah Nada juga ingin berangkat, ia ingin menyelesaikan masalahnya.


''Itu pelakor''


''Dasar pembunuh''


''Dasar murahan''


''Ia.... semua lelaki bisa memeluknya"


Deg


'Hatiku sungguh sakit menghadapi mereka'


"Heh Nada, loe gak tau kan kalau Bunga belum sembuh, harusnya loe yang ada di sana bukan Bunga" ucap salah satu dari mereka.


Mading itu penuh dengan siswa yang sendang menggunjing Nada. "itu dia, dia kan yang ada di foto ini"

__ADS_1


Nada mendekat, semua yang ada di mading adalah fotonya, foto mesra bersama Kean, foto berpelukan dengan Bintang dan Bara.


"Dasar menjijikan" Nada menatap seseorang itu, lalu meneliti satu persatu dari mereka, Bintang di sana, dia hanya diam tanpa berniat membantunya.


"Bubar .... bubar....." Bara datang lalu merobek semua foto yang tertempel di mading. Ia simpan di tasnya. Lalu Bara menariknya ke ruang BK.


"Jill" Jill berhambur memeluk Nada. Nada diam, ia fikir semua dalang di balik ini adalah Jill.


"Nad bukan aku yang mengirim pesan itu" elaknya pada Nada


"Tapi itu dari ponsel kamu Jill" jelas Nada. Jill menggeleng lalu memberikan ponselnya pada Nada.


"Disini tidak ada pesan apapun, dan aku tidak mengajakmu bertemu" Nada masih tak percaya, ia masih menduga Jill lah pelakunya.


ceklek


"Nada masuk"


"Bunda" yah itu suara Zela, dia yang memanggil Nada. Nada masuk ke dalam ruang BK lalu duduk di kursi.


"Ini apa Nad?" Zela meletakan foto foto mesra Nada bersama Bara dan Bintang.


"Bunda percaya?" Zela menatap Nada, dan tatapanya meredup. "Itu kamu kan?" Nada mengangguk pelan.


"Minta maaflah dan akuilah di depan semua murid termasuk kepada Bunga"


"Enggak bunda, Nada gak mau, Nada gak salah bunda, tolong percaya" tolak Nada dengan keras.


"Ini demi kamu sayang, demi mas depan dan cita cita kamu, bunda akan cari buktinya, tapi sekarang semua bukti mengarah kepadamu" Jelas Zela yang menjawab tapi tidak menatap Nada.


'Bunda tidak percaya Nada, lalu apalagi yang akan Nada pertahankan'


'Menyerah'


"Bunda Nada mohon...." pintanya dengan berjongkok.


"Ini tulisan kamu kan?" Nada mengangguk, Nada akui tulisan itu sangat mirip dengan tulisanya. "Dan cctv di luar kolam renang ini hanya ada Bunga yang datang lalu kamu menyusulnya."


"Tapi Nada enggak....."


"NADA" Zela membentaknya membuat Nada bergetar, seumur hidup Nada bersama ibundanya, baru kali ini Zela membentaknya.


Nada berjalan keluar, di depan sana semua murid SMA Rajawali sudah dikumpulkan. Dengan berani Nada berdiri di atas podium "Assalamualaikum teman teman tujuan saya berdiri disini saya mau meminta maaf atas kejadian yang menimpa Bunga....."


pyuk


Itu telur basi, tepung, sampah makanan dan banyak lainya yang di lempar kepada Nada. Zela yang melihat pun tidak tega.


Bara dan Jill berlari melindungi Nada dari amukan siswa. Nada menangis hanya Bara dan Jill yang dapat melihat bahwa Nada sedang menangis.


pyuk


pyuk


pyuk


Bara dan Jill yang terkena amukan dari siswa. Hujatan demi hujatan kebal di telinga Nada. Apalagi melihat Bara yang rela dilempari telur oleh siswa siswa membuat gunjang gunjing hubungan Bara dan Nada semakin kuat.


'Akan aku ingat merekalah yang ada di saat aku jatuh sejatuhnya'


"Jill, Bara...." Nada menangis, masih ada Bara dan Jill yang percaya padanya.


"Jangan nangis Nad, kita gak papa" jelas Jill yang mendekap Nada dengan erat. "Ayo katakan sekarang Nad, kalau kamu menyerah! Aku yang akan membuktikan kamu tidak bersalah." lirih Jill.


Nada menatap sendu Jill yang di depanya, benar dugaanya, Jill lah yang selama ini selalu ada di sampingnya.


*


"Ayo bunda anter ke rumah sakit!" ajak Zela kepada Nada. Yah pihak sekolah meminta Nada meminta maaf kepada Bunga.


Di dalam perjalananya Nada diam, Zela juga heran kenapa gerangan gadis seceria Nada kini menjadi sangat pendiam. "Nad..." Nada menoleh kepada ibundanya.


"Ya bunda"


"Kamu sakit?" Zela mengecek suhu tubuh Nada dengan tanganya.


"Gak bunda" terangnya


'Siapa yang tak sakit jika orang yang paling di sayang tidak percaya padaku'

__ADS_1


'Sakit bunda'


'Sangat sakit'


'Dan alasan terkuat untuk bertahan kini sudah tiada'


"Masuklah, bunda tunggu di mobil" jelasnya membiarkan Nada masuk sendiri.


Sesampainya di depan ruang Bunga, Nada membeku, ia melihat Bunga yang masih belum sadar, dan ada dokter disana. "Bagaimana dok?" tanya Kean yang stand by menjaga Bunga, tanpa ingat dirinya.


"Kita harus dapat donor ginjal, karna keadaan ginjal yang rusak parah, membuatnya tak sadarkan diri." jelas dokter tersebut.


Nada membeku, jika Bunga tidak bangun apakah seumur hidupnya akan dihantui rasa bersalah. Nada mengeluarkan ponselnya, lalu menelphone Kean.


drrrtt


drtttt


"๐Ÿ“žHalo Key "


"๐Ÿ“ž......" hanya diam itu yang Kean lakukan, padahal Nada melihat Kean dari kaca.


"๐Ÿ“ž Boleh aku tanya sesuatu?"


"๐Ÿ“žKatakan, aku tidak punya banyak waktu meladenimu"


'Ini sangat menyakitkan'


"๐Ÿ“ž Jika kamu harus memilih siapa yang seharusnya hidup, aku atau Bunga?"


"๐Ÿ“žBunga" Air matanya jatuh, ponselnya ia tutup dan tubuhnya meluruh ke bawah.


*


"Saudara Bunga sudah mendapatkan donor yang cocok" ucap salah satu suster disana. "Mari ikut saya untuk menandantangani persetujuan tindakan transplantasi ginjal!" Kean dengan tergesa berjalan menuju nurse station dengan cepat ia menandatanganinya.


"Kapan operasinya akan dilakukan?"tanya Kean dengan penuh semangat.


"Besok malam mas" jelasnya


"Boleh saya tahu siapa orang yang mendonorkan ginjalnya?" Tanya Kean penasaran.


"Maaf itu rahasia mas" ucap suster tersebut.


"Baiklah, ucapkan terimakasih kepadanya." suster tersebut mengangguk.


"Alhamdulillah Nga, kamu akan segera sembuh." ucapnya sambil mencium tangan Bunga.


Detik berganti waktu waktu berganti malam,operasi Bunga sudah di depan mata, dan selama 4 jam itu operasi telah selesai dilakukan. Bunga dibawa ke ruang ICU untuk pemulihan.


Keluarga Kean semuanya berkumpul di sana, menanti operasi Bunga yang katanya sudah selesai, dan sebagai bentuk rasa maaf karna Nadalah yang menyebabkan Bunga seperti ini. "Dimana Nada nda?" Zela menggeleng di depan Kean dan suaminya.


"Dia ingin sendiri katanya"


"Bahkan sampai detik ini dia tidak meminta maaf, dan tidak mengunjungi Bunga." Ada Langit ada Bintang dan ada teman-teman serta guru-guru Bunga yang ikut berkumpul disana.


"Apah Key, apa kamu yakin Nada tak mengunjungi Bunga? Setau Bunda dia datang, soalnya bunda yang mengantarkanya untuk meminta maaf pada Bunga?"


"Nada gak pernah berkunjung ke sini bund, apalagi minta maaf, batang hidungnya saja tak muncul sejak kejadian itu." jelas Kean dengan sengit.


Dari arah ruang Operasi, yah ruang operasi di desain dekat dengan ruang ICU, sehingga mempermudah pasien pasien post operasi seperti laparatomi dan operasi besar lainya yang membutuhkan ventiltor sebagai perawatan lanjutan.


"Keluarga nona Nada?" Bintang mendengar itu.


'Nada'


Bintang mendekati suster yang keluar dari ruang operasi. "Siapa sus?"


"Ouh apa kamu temanya, ini tas milik pendonor ginjal yang di tinggal di ruang ganti." suster tersebut menyodorkan seragam dengan logo SMA Rajawali sama persis seperti yang di pakai Bintang, tas milik Nada dan name tage di bajunya.


'Qaira Nada Assalwa'


Deg


Lututnya melemas membaca name tag tersebut. 'Ini adalah ponsel yang selalu di gunakan oleh Nada'


"Apa nama pendonor ginjal itu adalah Nada sus?" suster tersebut mengangguk mengiyakan.


"Ia betul mas, nama gadis itu Nada"

__ADS_1


__ADS_2