Cinta&Luka PERJODOHAN

Cinta&Luka PERJODOHAN
12


__ADS_3

Karna harapan yang terlalu tinggi adalah awal dari kekecewaan


Take a break, pretending to be happy in front of everyone also needs energy. The world just knows you are unhappy


Istirahatlah, berpura-pura bahagia di depan semua orang juga butuh tenaga. Dunia cukup mengetahui kamu sedang tidak bahagia


* *


Bara menautkan jari jemarinya di tangan Nada, membuat tangan mereka menyatu bak kekasih lalu menariknya jauh dari parkiran. Nada dengan cepat melepaskan tanganya. "Maaf Nad" ucap Bara karna lancang memegang tangan Nada. Nada menganggukan kepalanya.


"mmmm Nad.... boleh aku bertanya?" Nada menganggukan kepalanya kepada Bara. "Apa kamu menyukai Kean?"


'suka'


Nada menggeleng, ia bukanya menyangkal hanya tidak tau apa ia menyukai Kean. Ia hanya tidak suka ketika Kean dekat dengan Bunga, itu saja tak lebih. "Kenapa bertanya begitu"


Bara tersenyum menggeleng, "syukurlah" Jawaban Bara kali ini membuat Nada menatap Bara, kalimatnya ambigu, kenapa justru Bara seakan bahagia ketika tebakanya salah.


"Syukur apanya Bar?" ulang pertanyaan yang samar ia dengar dari jawaban Bara.


"Nggak.... ayo masuk, keburu bel." ajaknya lagi lagi Bara menarik tas Nada, kali ini Nada tak menepisnya.


Setelah sampai di kelas mereka duduk, tak lama Bunga masuk dan mencari Nada. "Loh Nada tadi dicariin sama Kean, soalnya kamu tiba -tiba ngilang" mendengar Bunga menyebut nama Kean, wajah masamnya kembali terlukis.


'menghilang....Kalian saja yang asik bermesraan sepanjang jalan'


" Kamu gak papa kan Nad?" tanya Bunga melambaikan tanganya di depan wajah Nada yang melamun. Nada menepis tangan Bunga pelan.


"Ahhh" reaksi Bunga berlebihan, seperti menahan sakit yang amat sangat. Nada kaget, apa ia sebegitu menyakitinya. Nada mencekal tangan Bunga untuk memastikanya, benar saja ada luka gores di tanganya.


'jadi benar Bunga sering dipukul oleh ibunya'


"Sakit Nga?" tanya Nada yang saat ini memperhatikan goresan di tanganya, seperti sebuah pisau yang menyayat telapak tangan Bunga.


Bunga menarik tanganya dan menyimpanya, lalu menggeleng, ia tersenyum agar Nada tidak khawatir. " Ini tadi kena pisau dirumah"


"Jangan bohong Nga, aku tau ini ulah ibumu kan?" Bunga kaget bagaimana mungkin ia tau tentang masalahnya.


"Kamu tau darim...."


"Dari Kean...." potongnya cepat. Nada menarik Bunga ke UKS, disana ia meminta perawat jaga untuk mengobati lukanya. Setelah dirawat luka, mereka kembali ke kelas, namun dipertengahan jalan mereka melewati kelas Kean, jelas saja Kean yang sedang belajar, bukan belajar, mana pernah Kean belajar. Ia langsung keluar dari kelas.


"Beb tangan kamu kenapa?" Bunga menatap Nada, ia bingung akan berkata yang sejujurnya atau tidak. Nada menganggukan kepalanya.


" Anu iniiii...."

__ADS_1


" Jangan bilang ini ulah Nada" Nada menatap Kean kesal, ia tidak terima jika dituduh.


" Kalau ngomong itu dengerin jawaban orang lain dulu, jangan asal nuduh." Nada berjalan meninggalkan mereka berdua.


'Kenapa dimata Kean, Bunga selalu baik, aku selalu jahat'


Bunga memukul pundak Kean, yah karna Kean lagi lagi membuat Nada kesal. "Kamu gimana si yank, tadi Nada itu bantuin aku, bukan malah nyelakain aku, ini mama yang tadi pagi mau masak, tapi aku takut mama gak kontrol emosi, jadi aku rebut pisaunya, dan mama malah maksa makai pisaunya."


"Kamu gak bilang si yank, pasti ngambek lagi nie anak." gerutunya yang terdengar oleh Bunga.


Sesampainya Nada dikelas ternyata pelajaran kosong, dan mendapatkan tugas mengerjakan soal. "Na ke taman yu, gue mau minta ajarin tugas yang belum gue ngerti!" Ajaknya berdiri lalu mengajak Nada ke taman.


Bara dan Bunga selalu memperebutkan peringkat 1, namun Bara lebih sering unggul dibanding Bunga, alasanya karna Bunga terlalu terbawa masalah perasaan entah masalah ibunya, masalah Kean, dan masalah lainya.


Namun kali ini sepertinya peringkat itu akan geser kepada Nada. Yah Nada lebih unggul dalam semua mata pelajaran dari mereka berdua. Jangan ditanya Kean, dia peringkat satu dari urutan paling belakang.


Kean hanya suka mata pelajaran olahraga. Lelaki brutal, bad boy, nakal dan suka bolos, itulah mengapa dia mendapat julukan itu, karna dia gak pernah ikut kelas, sekalinya ikut ya tidur.


"Na bisa tolong ajarkan aku soal ini" soal yang memang membutuhkan jawaban yang sangat panjang. Sebenarnya Bara tau jawabanya hanya saja ia ingin berduaan dengan Nada.


Dari sekian kalimat yang Nada jelaskan, Bara tidak memperhatikanya, ia hanya memperhatikan paras cantik Nada yang menurutnya sangat imut, polos dan memggemaskan. " Bara..... Bar.... Baraaaa Bara denger gak si?" Kali ini Nada menatap wajah Bara.


Dipandang dengan saksama dengan jarak yang begitu dekat membuat wajah bule Nada memerah. Hingga sebuah siulan membuat mereka saling mengalihkan pandanganya.


"Swiuwit..... swiuwit" Siulan ini dari Langit dan Bintang, yang sekarang sedang memperhatikan dua sejoli dengan julukan couple goals ke 3 setelah Kean Bunga, Cakra Cila, lalu Bara Nada.


"Ada apa?" tanya Kean, ia mengikuti arah pandang Nada yang sedang asik berduaan dengan Bara. Emosilah, siapa yang gak emosi bininya dideketin cowo lain.


'nglunjak terus, padahal udah dibilangin jangan deket deket Bara'


Kean berjalan meninggalkan Bintang dan Langit untuk menemui Bunga, ia lebih suka berduaan dengan kekasihnya itu.


Kembali lagi kepada Bara dan Nada, mereka kali ini udah selesai menyelesaikan tugasnya. Waktu yang masih panjang itu ia gunakan untuk bercanda tawa. " Bar...." sang pemilik nama menoleh.


" Apa kamu nggak bisa akur dengan Bunga?" kalimat itu membuat Bara menatap serius ucapan Nada.


" aku kalau udah gak suka sama seseorang, selamanya gak akan berubah." Nada bukan cewe bodoh yang tidak tahu kalau Bara menyukai dirinya. Ia sangat ingin membuat Bunga dan Bara akur kembali.


" Mungkin kalian salah paham." ucap Nada pelan, ia tidak mau mengusik luka, tapi sepertinya ia mampu membuat mereka kembali berbaikan.


Bara masih terdiam, ibunya Bunga adalah perusak keluarganya. " Melihat ibundaku hingga detik ini hidup sendiri, apa menurut mu itu bukan salah ibunya Bunga."


" Terkadang usia kita tidak bisa mengerti permasalahan yang mereka hadapi Bar, jadi seharusnya kita juga harus bisa membedakan urusan orang tua dengan urusan kita."


" Kamu gak tahu apa apa Na" Bara membuang mukanya, jelas ia tidak mau membahas masalah orang tuanya.

__ADS_1


"Aku tau Bar"


" Tahu apa Na" Intonasi Bara meningkat. "Kamu gak tau rasanya hidup bersama dengan anak dari wanita yang sudah menghancurkan keluargaku dan membuat ibuku menderita Na?" kali ini Bara mulai emosi.


" Apa menurutmu hidup dengan orang yang telah membunuh kedua orang tuaku, bukan penderitaan Bar?" Akhirnya lepas sudah sesuatu yang ia tahan.


Sejujurnya hatinya masih membenci Kean atas insiden kepergian kedua orang tuanya. Itulah kenapa ia tidak yakin menyukai Kean, karna sejujurnya maaf hanyalah dibibir, rasa sakit itu hingga detik ini masih utuh. Didalam kata benci yang besar, ada juga cinta yang mulai tumbuh.


Bara menatap Nada yang saat ini sudah berlinang air mata. Ia masih mencerna kata kata Nada barusan. " Maksud kamu Na, Kean yang....." kalimatnya terpotong oleh anggukan Nada.


" Yah, hingga detik ini aku membenci wajah itu, aku membenci Kean saat dia tersenyum tapi aku menderita, aku membencinya Bar, tapi aku masih bisa memaafkan dan saling bergantung walau hanya sebagai .... "


'istri yang tak pernah diharapkan'


"Saudara" Ia menarik nafasnya dalam, lalu mengusap air matanya.


'Nada pernah bercerita jika orang tuanya meninggal karna kecelakaan, jadi Kean adalah orangnya, jahat sekali dia, dan selama ini yang Nada dapatkan hanyalah air mata, Kean selalu menyakiti Nada, membuat Nada kesal, aku gak tau entah tebakanku benar entah salah, rasa benci Nada yang berlebihan adalah suatu bentuk cinta yang belum ia sadari'


"Demi aku Bar, apa kamu mau berteman kembali dengan Bunga?" Bara menggeleng, ia bukan Nada yang punya hati emas.


Setelah percakapan ini mereka berdua kembali ke kelas tanpa sapa, entahlah, fikiran Bara masih kacau. Ia masih belum bisa terima bahwa Kean dan Nada tidak punya hubungan sedarah.


Hingga bel pulang pun berbunyi, Bara dan Nada masih tidak bercakap. " Nad ayo pulang bareng!" ajak Bunga, tapi Nada menolak dengan menggelengkan kepalanya, ia berjalan keluar lalu berlari. Entahlah ia saat ini sedang tidak mood berbicara dengan Kean, Bara, bahkan siapapun yang ada disekolah.


Ia keluar gerbang dan berjalan jauh dari area sekolah. Melewati gedung gedung megah dan tinggi, lalu menaiki KRL, arah tujuanya pun tidak ia ketahui, ia turun di stasiun Gondangdia, lalu berjalan keluar menyusuri jalan.


Di perempat lampu merah ia melihat seorang anak kecil berusia 2 tahun setengah berlari menuju arah tengah. Bayangan kedua orang tuanya yang melambai lambai meminta tolong terlihat jelas.


Nada berlari sekuat tenaga menuju anak kecil tersebut, membopongnya lalu berlari ke tepian. Sayangnya sebuah truk dengan kecepatan tinggi mengarah pada Nada hingga Nada terserempet dan terjatuh masih mendekap anak kecil tersebut.


"Brak"


"Brak" dalam waktu yang bersamaan vas bunga yang sedang dipegang Zela terjatuh. Fikiranya kalut, panik dan cemas, dimana waktu sudah menunjukan pukul 15.00 namun Nada belum juga dirumah.


Visual


Nada



Kean



Bara

__ADS_1



__ADS_2