Cinta&Luka PERJODOHAN

Cinta&Luka PERJODOHAN
9


__ADS_3

When you have expectations, you are setting yourself up for disappointment.


Ketika kamu memiliki ekspektasi, kamu mempersiapkan dirimu untuk kecewa


Trust me


* *


"Key kamu tidak apa apa?" Kean masih diam.


"Saya dengar pak, maaf saya ada perlu sebentar." Kean berjalan dan menarik Nada dari kerumunan, membuat atensi mereka beralih kepada Kean yang menarik Nada.


"Ikut gue!"


"Key .... Key lepas, paan si narik-narik tangan" Bukanya melepaskan, justru cekalan tanganya semakin erat. Banyak pasang - pasang mata melihat kejadian itu dan kritikan pedas mulai terdengar.


"Kean cemburu?" celetuk salah satu siswa entah kelas XI IPA 1 atau XI IPA 5. Mata Bunga dan Bara tak lepas dari aktivitas Kean yang menarik erat tangan Nada.


"Ngaco kamu" sentak Santi yang melihat wajah Bunga memerah


'Benar hanya sepupu, kenapa rasanya lebih dari sekedar sepupu'


'Gue gak boleh zuudzon, mungkin aja orang tua Nada menitipkan Nada pada Kean'


Hal ini tak lepas dari pandangan Bara, yang menatap dengan ekspresi sama seperti Bunga.


Punggung mereka berdua sudah tak tampak, atensi mereka kembali pada pertandingan sepak bola yang akan dimainkan oleh kedua kelas tersebut.


Kean dan Nada sampai di sebuah ruangan, ruangan kosong yang tak jauh dari lapangan. " Apa si Key?" tanyanya pada Kean kesal, dan menepis genggaman erat tangan Kean.


" Sengaja cari perhatian dengan gak bawa baju olah raga, sengaja biar diperhatiin Bara, sengaja juga nyari perhatian buat semua orang, tau kalau Bara perhatian sama loe? " Nada diam, terserah dengan pemikiran Kean. "Bisa jawab Nad!"


"Ia puas." Kesal, selalu saja salah di mata Kean, padahal Bara itu satu satunya yang paling mengerti Nada. Mereka semuanya terlalu mendamba Bunga, Bunga dan Bunga.


Nada akui Bunga itu sempurna, baik, pinter, ramah, bukan wanita di novel novel lain yang antagonis dan menyakiti peran utama. Tapi bagi Nada Bunga itu menyakitinya secara perlahan dengan mengambil semua perhatian Kean.


"Jauhi Bara!" bentak Kean pada Nada


"Aku minta alasan"


"Gak ada, jauhi Bara atau gue bilangin Bunda kalau loe selingkuh!" ancamnya membuat Nada membulatkan sempurna mata sipitnya.


DEG


Kean berjalan meninggalkan Nada yang masih mematung di sana.

__ADS_1


"Jauhi Bunga!" Hanya sebuah kalimat yang tak di dengar karna Kean sudah tak terlihat batang hidungnya.


Setelah menghapus air matanya, ia kembali ke lapangan. Orang pertama yang mendekati Nada adalah Bunga, yah gadis itu selalu baik kepada Nada. Tidak ada celah kebaikanya, dan terlalu baik untuk Nada abaikan. "Nada kamu gak papa, kamu gak diapa apain Kean kan?" Nada menggeleng, berusaha menarik sudut bibirnya.


" Gak Bunga, Kean gak ngapa ngapain aku ko." ucapnya lirih dan meyakinkan Bunga, ia berusaha menarik sudut bibirnya.


"priittt" Mereka berlari menuju lapangan. Nada dan Bunga menjadi satu tim sepak bola. Tak lama kemudian permainan akan segera dimulai.


Pertandingan dimulai dengan dua pemain saling mengoper bola dengan pelan di tengah lapangan, Bunga mengoper bolanya pada kawanya. Permainanya cukup selow dan santai hingga perebutan bola antara XI IPA 1 dan IPA 5 semakin gencar, Nada mendapatkan umpan dari Bunga dengan baik lalu memasukan ke gawang lawan.


"Goll"


"Goll"


Sorak sorak kelas XI IPA 5 yang justru malah ikut menyoraki dengan gembira kelas Nada." Gila, Gila, Nada udah cantik, cerdik lagi..... uhh jadi pengin deketin dia deh" puji Langit.


" Cewek kaya gitu gak pantes buat loe Ngit, loe udah punya Alia buat gue aja." seru Bintang. Spontan Kean menatap Langit dan Bintang dengan penuh kesal.


"Goll" kali ini Kean ikut berjingkrak dan berteriak karna Bunga yang memasukan bola.


"Bunga I love you semangat baby!" ucapnya membuat sang pemilik nama bersemu dan bertambah semangat. Namun tidak dengan Nada, ia kesal, dia memasukan 3 kali tapi tidak disemangati.


'memang siapa aku ini, Nada Sadar'


Nada melamun, hingga sebuah bola yang tadinya jauh melesat mendekati Nada. "Nada Awas.....!"


Kecepatan Bunga berlari jika ia terpeleset maka ia akan jatuh ke kerikil. Membuat Nada mau tak mau karna bola juga melesat kearahnya. Nada dengan kuat mendorong Bunga agar tidak jatuh di atas kerikil kecil.


"Brugh"


Disaat yang bersamaan Nada terkena lemparan bola, terjatuh di atas kerikil yang begitu tajam, dan Bunga terlempar jauh dari arah Nada ke arah rumput.


Jika mereka menonton dari sudut pandang Bunga, Nada lah yang mendorong Bunga karna enggan ditolong olehnya. Namun dari sudut pemain yang berada di samping Nada mereka tau jelas bahwa Nada sengaja mendorong Bunga agar tidak jatuh diatas kerikil.


Setelah Nada terjatuh ia bangun, ia ingin membantu Bunga yang terlempar jauh di rumput.


Kean berlari sekencangnya, lalu mendorong pundak Nada " LOE....." matanya melototi wajah didepanya, "Dasar cewe gak tau diri, udah di ditolongin malah ndorong Bunga!"


DEG


Bisa ia dengar jelas jantungnya merasa sakit, dadanya terasa sesak, sudah jatuh, terkena bola terkena amukan Kean.


Kean memapah Bunga ke UKS, padahal Bunga tidak apa apa, hanya kaget saat didorong kuat oleh Nada. Namun Bunga juga tidak tau kenapa Nada mendorongnya. Nada memandang kedua punggung yang mulai tak terlihat.


Tes

__ADS_1


tes


tes


Sebuah cairan bening dari kedua kelopak matanya menetes, dan satu tetes dari hidungnya. Kepalanya sungguh pening, sudah kedua sikunya terhempas dikerikil, ujung telapak tanganya luka dan banyak kerikil kecil yang masuk menusuk ujung telapak tanganya, ditambah kedua lututnya juga terdapat luka lecet yang cukup parah, untung terhalang celana training.


"Nada" teriak Bara dan lainya panik, semua yang melihat langsung keadaan Nada sangat prihatin. Pasalnya gadis didepan mereka jauh lebih membutuhkan pertolongan dibanding Bunga.


Ia masih dalam posisinya, mematung dan kesadaranya mulai menurun. Ia sangat takut darah, bisa dibilang phobia, setelah kehilangan kedua orang tuanya yang meninggal berlumur darah, seakan ia hilang kesadaran saat mencium bau anyir dan melihat darah, rasa mual dan pandangan kabur membuat ia tak sadarkan diri.


Bara langsung memapah Nada menaiki mobil dan membawanya ke rumah sakit. Ia tidak peduli pandangan semua orang terhadapnya.


*


30 menit setelah Kean memastikan tidak ada luka lecet, Kean membawa Bunga ke kelasnya. "Kamu yakin mau ikutan kelas beb?" Bunga mengangguk mesra dan manja, ia berada di lengan Kean karena berjalan dengan rangkulanya.


Sesampainya di kelas Bunga, Kean masuk memapah Bunga ke kursinya, ia mengedarkan pandanganya ke bangku milik Nada.


'kosong'


yah ada sedikit sesal karna tadi membentak dan mendorong pundak Nada, ia juga menatap kursi Bara.


'kosong'


Bunga yang tau Kean mencari Nada, langsung menanyakanya pada Santi teman Bunga. "San....."


Santi menengok Bunga dengan perasaan sedikit jengkel begitu juga dengan teman sekelasnya. Disini yang salah Kean tapi kenapa Bunga ikut terkena dampaknya. Santi tak menjawab, tapi ia menatap lawan bicaranya.


" Nada mana?" tanya Bunga membuat atensi teman temanya kembali terfokus pada Kean dan Bunga.


"Dirumah sakit" ucapnya singkat


Deg


"loh kena...." pertanyaanya terpotong oleh jawaban Santi yang nadanya seperti membentak.


" Dia jatuh, terkena bola, kedua sikunya, kedua telapak tanganya dan kedua lututnya terluka karena nglindungin loe Nga" ucap Santi dengan kesal.


Kean dan Bunga melotot, tidak percaya dengan apa yang diucapkan Santi. Tak lama salah satu dari teman kelasnya menimbrung dan ikut emosi.


" Loe tau gak Nga, tadi hidung Nada berdarah, gara gara terkena bola, kedua lutunya yang tertutup celana training juga merembes darah segar, dia bangun dari rasa sakitnya, berusaha nanyain keadaan loe, tapi malah kena amuk pacar loe ini."


Sepersekian detik Kean mencerna apa yang didengarkanya. Hatinya ikut sakit mendengar ucapan temanya. Kean berlari keluar dari kelasnya, ia tidak peduli jika teman temanya menghujatnya, yang ada dalam fikiranya saat ini adalah Nada Nada dan Nada.


Ia melajukan motor matic bignya dengan kecepatan diatas rata rata. Tak butuh waktu lama ia sampai di IGD rumah sakit X.

__ADS_1


"Brak" pintu IGD terbuka, membuat semua penghuni IGD dari perawat dokter dan pasien menatap nyalang wajah Kean.


__ADS_2