
Ekspektasi merupakan akar dari segala sakit hati
True friends stab you in the front
Sahabat sejati adalah yang menikammu dari depan
* *
Nada berlari sekuat tenaga menuju anak kecil tersebut, membopongnya lalu berlari ke tepian. Sayangnya sebuah truk dengan kecepatan tinggi mengarah pada Nada hingga Nada terserempet dan terjatuh masih mendekap anak kecil tersebut.
"Brak"
"Brak" dalam waktu yang bersamaan vas bunga yang sedang dipegang Zela terjatuh. Fikiranya kalut, panik dan cemas, dimana waktu sudah menunjukan pukul 15.00 namun Nada belum juga dirumah.
Zela berjalan keluar untuk menemui supir dirumahnya, namun supir mengatakan bahwa Nada tidak meminta jemput kepada pak Sono. Kali ini ia berniat menghubungi tantenya Lea yang ada di sekolah. Namun hasilnya juga nihil.
📞" Assalamualaikum....Halo mas?"
📞" Ya Waalaikumsalam kenapa sayang?"
📞" Nada belum kembali mas, sudah jam 16.00 dan Kean juga Nada belum kembali."
📞" Ponsel Kean mati, sedangkan milik Nada berada dirumah, dia tidak pernah membawa ponsel saat sekolah.
📞" Kamu tenang ya mas bantu cari, mungkin saja Nada saat ini sedang bersama Kean, mas satu jam lagi pulang ke rumah!"
📞"Baik mas."
Perasaanya sedikit lega, memang segala sesuatu yang dibicarakan baik baik dengan tambatan hati adalah obat yang pling mujarab memberikan ketenangan.
Setelah satu jam, Cila kembali sudah berganti dengan pakaian bebas, ya pasti dia balik dulu kerumah, baru kesini. " Cila" Sapanya dengan perasaan yang masih cemas.
"Tante kenapa?" Cila menyadari bahwa Zela sedang panik
" Apa kamu bertemu Nada disekolah?" Cila menggeleng sekolah mereka mempunyai gedung berbeda antara kelas IPS, IPA, dan Bahasa sehingga Cila tidak pernah bertemu dengan Nada.
" Tapi setau Cila, Kean selalu berangkat dan pulang bersama Bunga, paca...." Cila menutup bibirnya, ia keceplosan, ia lupa bahwa saat ini sudah ada Nada dalam kehidupan Kean.
"Apah.... Kean masih bersama dengan pacarnya itu Cil." Cila mati kutu, sudah jelas akan ada perang dunia di keluarga ini.
" Tan, Cila gak tau tant, paling Nada main kerumah temenya dulu, tunggu aja paling bentar lagi balik." Jawabnya kemudian kabur, ia tidak mau menjadi mulut ember dan berakhir perang dunia dengan Kean.
"Bagaimana sudah pulang Kean Zel?" Kenan memasuki rumahnya, ia ikutan panik mendengar sang putri belum kembali. Zela menggeleng, ia mulai kalut karna detik waktu sudah memasuki angka 18.00
"Mana ponsel Nada?" Kenan mengutak utik ponsel Nada yang tidak tersandi, ceroboh sekali, ponselnya bahkan tidak ada pengamanya. Namun teman temanya bilang, seusai bel, Nada langsung pulang, bahkan Kean datang ke kelas mencarinya.
" Mudah mudahan Kean bersama Nada, kita tunggu Kean pulang, mas mandi dulu." Zela mengangguk lalu mengikuti suaminya.
*
"Tumben inget pulang bang? " sapa Cakra kepada Abi, sudah hampir 3 hari Cakra tidak bertemu dengan Cila, ia ingin memberikan pelajaran kepada Cila, bahwa mempertahankan hubunganya dengan Abi tidaklah benar.
"Apa pedulimu?" jawab Abi singkat.
"Gak ada si, tapi sebaiknya abang gak usah pulang, mati aja san..."
"Bugh" Cakra tertawa mengejek, baginya satu pukulan bukan apa apa.
" Mulut disekolahin makanya" Jawab Abi sudah bukan hal aneh ketika anak dari keturunan Davidson dan Parma berkelahi ketika bertemu.
__ADS_1
" Berasa akhlak loe sekolah aja bang, jiwa bejat aja digedein."
"Bugh" Satu pukulan lagi mendarat di wajah Cakra.
"Mau loe apa si?" Tanya Abi sambil menarik kerah baju Cakra.
"Simple, putusin Cila kalau loe gak bisa bahagiain dia"
"Ha...ha...haa, cuma gara gara Cila, kalau Cila mau gue putusin, udah gue putusin, sayangnya dia bodoh karna terlalu sayang sama gue"
"Bugh"
"Bugh"
"Bugh" emosi Cakra sudah tidak bisa ditahan.
Seluruh maid mulai panik, 2 tuan muda yang selalu bertengkar ketika bertemu, sudah pasti akan terjadi perkelahian.
"Brengsek loe bang, loe cowo terbrengsek yang pernah gue kenal, gue gak akan tinggal diam bang, gue akan balas semua perbuatan loe."
" loe siapanya Cila si, cuma sahabat, jadi gak usah sok berlagak" padahal posisi Abi berada di bawah Cakra, tapi ucapanya masih saja membuat Cakra emosi.
"Bugh"
"Bugh"
Tak lama semua sekurity berhasil memisahkan mereka. Abi yang babak belur dan Cakra yang hanya mendapatkan dua pukulan. Cakra tersenyum, yah, kalimat tadi sudah ia pikirkan matang matang untuk diberikan pada Cila.
10 menit moge Cakra sudah terparkir di halaman rumah Cila. Cakra langsung masuk ke dalam, hanya ada pembantu, bahkan Zela dan Kenan tidak terlihat.
"Bi pada kemana?" tanya Cakra yang baru masuk.
"Cakra naik ya bi." Bibi yang sudah paruh baya itu mengangguk. Cakra mengetuk kamar Cila, tak lama Cila membukakan pintunya.
3 hari lamanya mereka saling diam, tidak ada yang memulai percakapan. Wajah Cakra masih sangar, ia menampilkan wajah cueknya. Cakra memberikan ponselnya, disitu sudah ada video Cakra dengan Abi barusan. Cakra yakin, bahwa Cila akan memutuskan Abi.
"Plak" sayangnya semua harapan tak seindah realita.
"Kenap...." kalimat Cakra terpotong.
"Loe tega Cak, kenapa loe pukulin Abi." Mata Cakra melotot, ia tidak percaya bahwa ia akan mendapatkan tamparan dan Cila justru malah membela Abi, 'cinta memang buta'
" Karna Abi nyakitin loe ter...." Cila mendorong Cakra, lalu melemparkan ponsel Cakra. "Gue belain loe Cil"
"Pergi, gue gak butuh pembelaan dari loe, dan inget Cak, ini hubungan gue, dan gue percaya sama Abi, jadi jangan pernah ikut campur urusan gue sama Abi."
Deg
Suara Cila melengking, hatinya seperti tertusuk mendengar ucapan Cila 'seperti inikah rasanya diabaikan'
"Oke, ini terakhir kalinya gue ikut campur urusan loe, dan ini juga terakhir kalinya gue belain loe, selepas ini gue gak akan ikut campur urusan loe Cil, ingat itu" Cakra berbalik ia berjalan menuruni tangga dengan rasa kecewa.
'dasar batu'
"Den jusnya ini" Cakra tak menghiraukan ucapan irt di rumah Cila, ia justru berjalan keluar tanpa sepatah katapun.
"Brak" Cila menutup pintunya dengan keras, lalu menjatuhkan tubuhnya dilantai. Ia menangis dengan isaknya, ia tidak tau apa yang ia tangisi, Abi atau Cakra.
*
__ADS_1
"Plak" Kali ini Zela yang memukul Kean. Mengingat ucapan Cila bahwa Kean belum putus dengan Bunga, ditambah Kean pulang tanpa Nada diwaktu yang menunjukan pukul 21.00 membuat emosinya memuncak.
"Bun, ada apa ini? "
"Masih tanya Key, pulang jam 9 malam, masih menggunakan seragam, mulut bau asap rokok, dari mana saja kamu Key" Kean mati kutu, biasanya ia pulang jam 12 malam pun tidak akan semarah ini.
" Dimana Nada Key" suara berat itu mengintrupsi dua insan yang masih saling tatap. Kean mendadak kaget, pertanyaan barusan membuat Kean panik.
"Nada belum pulang yah?"
"Plak" Kean sudah dewasa, dan lagi sudah berumah tangga, tapi kelakuanya seperti anak lajang saja. Masih suka keluyuran malam.
" Lelaki macam apa kamu Key, istri belum pulang, seluruh isi rumah dibuat panik karna Nada belum pulang, malah kamu keluyuran gak jelas." Kini Kean tau kenapa Zela mengamuk, karna putri kecilnya belum kembali.
"Tadi pas Kean nyamper Nada, dia sudah pulang yah"
" Sekarang kamu cari Nada sampai ketemu, jangan pernah pulang kalau tidak membawa Nada."
Kean berbalik, ia mengendarai mobilnya untuk mencari Nada tentu saja dengan sopirnya. Semenjak kejadian Kean menabrak, Kenan jarang mengijinkan Kean menggunakan mobilnya.
Alamat yang saat ini ia tuju adalah Bara, tidak jauh, karena arah rumah Bara searah dengan rumah Bintang. Ia memarkirkan mobilnya di depan garasinya.
Sesaat ia termenung, dulu sewaktu kelas X, ia sering bermain dengan Bara, tapi semenjak Kean tau Bara membenci Bunga lantaran Ibunya yang menjadi penyebab hancurnya keluarga Bara, mereka menjadi dua orang asing yang tak saling menyapa. Bahkan Kean saja tidak menyimpan kontak milik Bara.
ting
tong
ting
ting
ceklek
Mata Bara melebar seorang Kean mendatangi rumahnya. " Dimana Nada?" pertanyaan macam apa itu, kenapa datang datang mencari Nada.
"Loe pikir gue bawa balik Nada?" jawabnya acuh.
"Nada ilang" satu kalimat ini berhasil ngebuat Bara ikut panik.
"Ilang gimana maksud loe Key?"
"Bukanya loe seharian nempel terus sama Nada, harusnya loe tau dimana dia"
Bara tersenyum, ternyata Kean cemburu. "Loe cemburu?" terka Bara.
"Gue peringatin jangan loe deketin Nada"
"Haaa haaa haaa, tergantung Nadanya mau sama loe atau gue" senyum jahat Bara terbit, padahal ia tau Nada tidak mungkin mencintai Bara, karna Nada jelas menyukai Kean.
"Dia milik gue brengsek, dan hanya milik gue" Kean menarik baju Bara dengan erat. Kata kata milik itu sebuah pengakuan dan penetapan yang sah, 'sebenarnya apa hubungan Kean dan Nada'
Kean kembali ke rumah dengan raut wajah kesal, perkelahianya dengan Bara tadi tidak membawakan hasil apapun. 'mesti cari kemana gue Nad'
Detik waktu menunjukan pukul 23.30 sudah sangat larut, ia semakin cemas, kemana perginya sang istri. " Bagaimana Key, apa Nada sudah ditemukan?" intonasi berat itu membuat Kean membeku, orang tuanya jelas akan marah padanya.
"Belum yah"
"Lalu kenapa kamu pulang"
__ADS_1