Cinta&Luka PERJODOHAN

Cinta&Luka PERJODOHAN
21


__ADS_3

Kadang manusia harus sampai kepada titik kehilangan untuk mengerti arti sebuah kehadiran, kasih sayang, dan kesetiaan


* *


Kean memeluk Bunga dengan erat, lalu mengusap rambutnya perlahan " tenang aja, semua akan baik baik aja" yah hanya itu kalimat penenang yang ia berikan kepada Bunga.


"Key...." Kean mencium kening Bunga perlahan. "Dokter bilang apa?"


"Kamu harus cuci darah Nga"


Deg


"Maksud kamu Key?" Mata Bunga sayup, hatinya gundah mendengar penuturan dari Kean.


"Dengerin dulu Nga" Tangan Kean membingkai wajah Bunga, matanya ikut berkaca kaca "Ada kemungkinan gagal ginjal tapi masih akut Nga, jadi jangan khawatir, dan jalan satu satunya adalah dengan Haemodialisa atau cuci darah" Bunga menggeleng, ia tidak mau melakukan cuci darah.


"Dengerin sayang, dengerin, hanya satu kali, nurut ya, kalau fungsi ginjalnya membaik kamu gak perlu cuci darah lagi." Mata Bunga berbinar, bagaikan penawar yang ajaib


"Kamu yakin Key?" Kean mengangguk lalu mengecup kembali kening Bunga. "Kapan akan dilakukan cuci darahnya?"


"Secepatnya Nga"


Sudah hampir tengah malam namun Kean belum pulang, Nada saja belum bisa memejamkan matanya. Ia masih duduk di balkon, menatap rembulan dan seisi malam yang menenangkan.


Nada beranjak mendengar sebuah deruman mobil berhenti di garasi. Ia keluar dari kamarnya hendak menuruni tangga, tapi ternyata ada hal yang lebih mengejutkan, di bawah sana ada orang tua Kean yang sedang bersitatap.


plak


"Ingat pulang kamu Key? Ayah pikir kamu akan bermalam dengan wanita itu" teriak Kenan kepada putranya, sudut bibirnya berdarah, yah begitulah, lelaki jika diadu dengan lelaki.


"Bunga sakit, dia harus....."


plak


"Bunga lagi, Bunga lagi sudah berapa kali ayah katakan tinggalkan Bunga...."


"Enggak pah enggak akan" Kean menoleh dan menatap sang ayah.


"Bagus kamu yah, sudah berani kepada orang tuamu?" Kenan tertawa miris, melihat kelakuan anaknya.


"Pilih Nada atau Bunga Key?" Mata Kean melotot, matanya menyorot ayahnya dengan tatapan geram.


"......" Kean diam, ia tidak bisa menjawabnya.


'sebegitu pentingkah Bunga dihatimu Key'


"Kean nganggep Nada seperti adik Kean yah''


'rasa sakit ini selalu muncul ketika kamu tidak pernah menganggapku ada Key'


"Putuskan Bunga sebelum papah bertindak!" Kenan beranjak meninggalkan Kean yang membatu, kali ini Kean lebih takut, mengingat orang tuanya adalah orang yang berpengaruh, dan dia bisa melakukan apapun kepada Bunga.


Kean berjalan melangkah menuju tangga, disana ada Nada yang menatapnya, sesaat mata itu bertemu "Kamu ngadu?" tanyanya, ada sorot mata kebencian dari kalimat tersebut.


Mendengar tuduhan Kean, hatinya mendadak sesak, padahal ia tak tau apapun tentang ayahnya yang malam ini sengaja memergoki kepulanganya.


"Bunga sakit, dan dia harus cuci darah" ucapnya memberi tahu.


"Bukan urusanku mengetahui tentang kesehatan Bunga " Kean kembali menatap Nada, ia kesal kepada Nada.


"Bunga sangat care sama loe, dan loe...."


brak


Kalimatnya menggantung karna Nada terlebih dulu memasuki kamarnya, terisak sendiri dengan sakit batin dan fisiknya.


* *


Suasana di meja makan begitu sunyi, Nada yang enggan bercakap karna kesalah pahaman mereka berdua. Kean yang tetap bersikukuh bahwa Nada yang mengadukan kepada orang tuanya.


Suara sepatu milik Kenan terdengar jelas mendekati meja makan, dengan segera Kean beranjak hendak meninggalkan meja makan. "Nada, kemasi barangmu, mulai hari ini kamu akan tinggal di rumah tante Ayra!"

__ADS_1


Deg


Langkah kaki Kean mendadak melemas, hampir setengah tahun gadis ini selalu mengisi keceriaanya, bahkan mengajarkan banyak hal untuk Kean, dan mulai hari ini gadis yang menyandang istrinya itu akan pergi meninggalkanya.


"Baik yah" ucapnya yang dilanjutkan dengan gerakan beranjak dari duduknya.


"Yah.... apa perlu sejauh ini?" Kean berbalik menatap mereka yang masih stay di meja makan.


"Apa yang salah?" Ayah Kean menaikan salah satu alis matanya.


"Dia istriku....."


"Istri.....? Mana ada istri yang selalu dinomor duakan setelah pacar?" Zela mengelus pundak Nada seolah menyalurkan kekuatanya untuk sang putri.


"Yah, jangan bawa pergi Nada!" Kean berjalan lalu bersimpuh di hadapan orang tuanya.


"Bunga atau Nada" Kali ini ia juga tak bisa menjawab, ia bungkam mendengar pertanyaan itu.


"......"


"Kita berangkat Nada!" Nada menganggukinya, dan maid di rumahnya keluar dari kamar membawakan koper cantik milik Nada.


"Yah...." Kenan meninggalkan Kean yang masih bersimpuh.


"Bun...." Zela iba, ia tidak berani menatap sang anak yang sedang memohon.


"Bunda juga seorang istri, jika bunda di posisi Nada itu sangat menyakitkan Key." ucapnya yang ikut menyetarakan tinggi badanya dengan berjongkok di sampingnya.


Flash Back On


"Apa Kean sering memperlakukanmu seperti itu sayang?" tanya Zela yang melihat Kean menuduh Nada memberitahukan kepergianya menemui Bunga.


Nada memeluk Zela erat, air matanya tumpah membuat Zela ikut menangis. "Kenapa sakit bun?" Nada melepaskan pelukanya lalu menunjukan dadanya yang bernafas naik turun.


"Nada sakit setiap hari melihat Kean bersama dengan Bunga" Zela merengkuh pundak Nada kencang, ia tidak tahu kalau putrinya sangat menderita dengan kelakuan Kean.


"Kamu mau pergi dari sini?" tanya Kenan kepada putrinya. Nada menatap heran mertuanya.


"Maksud ayah"


"Tinggalah bersama mereka, biarkan Kean berfikir, pentingkah kamu dalam hidupnya?" Nada mengangguk mengiyakan permintaan sang ayah.


"Tapi kalau Nada kangen Bunda?" tanya Nada polos masih dengan air matanya.


"Bunda akan sering ke sana sayang" Kini senyum Nada mengembang sempurna.


"Kalau Nada rindu Kean yah?" Kenan tersenyum, benar dugaanya bahwa Nada sudah mulai mencintai Kean.


"Sabar na, kita buat Kean menyesal telah mengabaikan kamu selama ini." Nada mengangguk, kedua orang tua Kean sangat sayang pada Nada.


Flash Back Of


"Ayo Nada!" ajak sang ayah. Zela pun menarik tas kecilnya.


"Ayo, bunda mau ikut, apa kamu juga mau ikut Key?" tanya Zela, namun Kean masih bersimpuh, berharap bahwa keputusan ini salah.


"Yah....."


"Jika kamu sudah bisa meninggalkan Bunga, maka Nada akan kembali." jelas Kenan pada Kean.


*


"Wah cantik sekali putrimu Zel." Ayra sejenak memandang kagum Nada yang memang pada dasarnya sangat cantik.


"Jelas putri siapa dulu?" ucap Zela bangga.


"Bundaa......" suara teriakan gadis kecil berusia 12 tahun duduk di bangku smp kelas VII yah dia adik dari Derrick namanya Arviana.


"Sini Viana kenalkan dia Nada, istri bang Kean." Via melotot tak percaya, Kean hanya selisih 4 tahun denganya.


"Istri?" tanya Via penasaran "Maksud bunda?"

__ADS_1


"Ceritanya panjang Via, dan mulai hari ini ka Nada akan tinggal disini"


"Wah benarkah? Asik Via punya teman"


"Wah ada Nada...." Suara lelaki yang tak asing bagi Nada.


"Beng Derick" sapa Nada ramah.


"Abang sudah kenal?" Derrick mengangguk mengiyakan.


"Tumben abang pulang" Via mengerucutkan bibirnya


"Gak boleh, pulang ke rumah sendiri, lagian ini juga bukan rumah kamu"


"Ih abang mah gitu sebel " Via menyedekapkan tanganya di depan dada.


"Sudah sudah, kalian ini drama saja" Lerai Ayra kepada kedua anaknya. "Nada ayo kita lihat kamar kamu !" ajak Ayra kepada Nada, lalu mereka berjalan menuju lantai atas.


*


Sudah 2 hari Kean tak bertemu dengan Nada, rasanya seperti sudah sekian purnama tak berjumpa denganya. "Mikirin apa si yank?" Bunga mengalihkan lamunanya. Kean menggeleng lalu tersenyum.


"Apa kamu baik?" Bunga mengangguk, lalu duduk di sampingnya. Pelajaran free, dan mereka semua saat ini berada di aula, menyaksikan penampilan panggung antar kelas 3.


"Kapan kontrol Nga?" Bunga menatap Kean yang bertanya bahkan tanpa ekspresi.


"Minggu depan, dan apa kamu tahu?" tanya Bunga, membuat Kean menatap wajah ayu disampingnya. "Fungsi ginjalku membaik, dan belum perlu cuci darah ulang Key?"


Kean memeluk Bunga dengan erat, "Syukurlah Nga, aku seneng akhirnya kamu udah gak sakit lagi, tapi jangan lupa jaga kesehatan dan kontrol" ucapnya dengan penuh sayang.


Di ambang pintu aula, Nada menatap sedih kemesraan mereka. Nada berbalik keluar kelas, ia dapati Bara yang berjalan menuju ke arahnya.


"Gak jadi masuk? Pensinya bentar lagi dimulai" tanyanya, mata Nada hampir berair dan wajahnya murung.


"Ayo masuk bareng Na, jangan perlihatkan kelemahanmu didepan lelaki seperti Kean, bisa besar kepala nantinya." Ajak Bara menarik tangan Nada.


"Nada sini!" panggil Santi kepada Nada mengalihkan dua insan yang masih bertatapan dan berpegangan tangan. Kean menatap Nada yang masuk bersama Bara.


'Apa apaan main gandeng gandeng' Kesal Kean melihat pemandangan tersebut. Tak luput dari Bunga yang menangkap ekspresi cemburu Kean pada Bara.


"Jangan tengok mereka Na, tetap berjalan lurus ke depan." Bisik Bara pada Nada, dan mendapatkan tatapan hangat Nada kepada Bara.


Vena di lengan Kean mulai bermunculan, tanganya menggenggam erat seperti sebuah tonjokan.


'Benar dugaanku Kean cemburu'


Masih dengan titik fokus Bara dan Nada yang saling bergandengan tangan dan melangkah duduk di deretan depan.


"Sebelum kita memasuki acara inti, kita lihat sambutan dari adik kelas yang memegang kejuaraan turun temurun dari kelas X, yaitu Bara Ardana Galaksi." Suara riuh dan tepuk tangan terdengar dari berbagai penjuru.


"Bar... semangat!" panggil Nada, Bara mengangguk lalu beranjak dari duduknya.


"Ya ampun tambah ganteng aja si kak Bara" Ucap salah satu emsi di depan sana.


"Coba senyumnya ka!" Bara tersenyum menampilkan lesung pipi yang begitu menawan.


"Kaka mau lagu apa?"


"khem .... khem... tes tes... Mau menyanyikan lagu yang paling disukai oleh seorang gadis judulnya Luka tak berdarah by Arvian Dwi "


"Asik .... siapa itu ka?"


"Rahasia" jawab Bara dengan lesung di pipinya lagi.


"Huuuu...huuu...huuu" sorak sorai dari berbagai penjuru di aula.


"Mau tau aja apa mau tau banget?" tanya Bara sukses membuat penonton menatap lekat sang idola SMA Rajawali. Namun tidak dengan Kean, tatapan wajahnya sengit, karna ia yakin yang disebut adalah Nada.


"Mau tau banget ka"


" Dia sekolah disini, dan dia tidak suka muncul di publik, so masih rahasia ya" ucap Bara yang masih juga menatap wajah Nada lekat.

__ADS_1


"Iuuuuuu kak Bara alay juga" sorak sorai penonton kepada Bara.


" Sebuah kalimat buat dia bahwa satu di antara momen paling bahagia dalam hidup kita adalah saat kamu menemukan keberanian untuk melepaskan apa yang tidak bisa kamu ubah"


__ADS_2