
Hanya sekedar hadir bukan takdir
* *
"Kenapa Na, apa karna anak kamu?" tanya Varo yang kemudian berdiri dari posisinya. "Aku akan menerimanya"
"Karna aku masih sah milik orang lain ka Varo, jadi cukup jangan berharap kepadaku ka!"
'maaf '
'maaf ka'
"Na, kamu tahu aku menyukaimu sejak dulu kan?" Nada mengangguk ia sangat paham, dia lelaki baik yang menyimpan perasaanya kepada Nada sejak dulu. Tapi sayangnya Nada terlalu menutup mata untuknya.
"Kita pulang aja ka!" ucap Nada kepada Varo.
"Makan gak ada hubunganya sama kamu nolak perasaan aku, jadi duduk, berdoa dan makan Na, jangan banyak bicara!" Seusai makan Varo mengantarkan Nada pulang, ini masih pukul 17.00 tapi Nada sudah dalam perjalanan pulang.
Sepanjang perjalanan Nada mengingat ingat perhatian perhatian kecil yang dinerikan oleh Varo kepadanya seperti menyalin catatan penting untuk Nada saat jadwal kuliahnya bentrok dengan jadwalnya, mengantarkan Nada, mengingatkan Nada untuk makan dan banyak lainya.
'Namaku Alvaro'
'Na ini catatan penting dari blok maternitas'
'Na ini catatan penting dari blok biologi'
'Na ini catatan yang kamu lewatkan dari blok anatomi'
'Ayo gue anter pulang Na!'
'Na besok ada ujian OSCA'
'Na'
'Na'
'Na'
Seperti itu selama 2 tahun,dan akhirnya Nada mengulang semester 8, dan nilai OSCA semester 7 dan 8 Nada hanya mencapai rata rata. Mungkin karna terlalu lelah dan terlalu banyak yang harus ia pelajari, sehingga IPKnya di bawah 3.5
"Na udah sampai" ucap Varo membangunkan lamunanya, sejak tadi Nada memikirkan lamaran Varo yang ia tolak.
"Ya ka" Nada hendak turun dari mobilnya lalu dihentikan oleh Varo.
"Na......" Nada mendadak kembali ke posisi semula.
"Yah?"
"Pernahkah aku ada dalam hatimu?" Nada menggeleng dengan perlahan, membuat Varo sesak.
"Oh.... ya udah kamu udah di tungguin Cashel tuh" ucapnya yang memang melihat Cashel di depan rumah.
"Na hati hati di jalan besok ya, semoga hal baik selalu ada buat kamu" jelas Varo kepada Nada dan dianggukinya.
'Jahat banget aku yah?'
'Ka Varo bahkan tidak pernah marah padaku'
"Ka maaf yah" Varo mengangguk, ia sangat paham bahwa hati Nada sepenuhnya masih milik suaminya.
"Its ok, no problem Nad." jelasnya tanpa ada rasa marah.
Lelaki mana yang tak sakit, tak malu ketika ditolak. Tapi apalah daya, cintanya salah karna wanita itu sudah menjadi milik orang lain.
"Ka aku minta maaf jika selama mengenal kaka aku banyak salah dan banyak merepoti kaka, trimakasih dan maaf karna tidak bisa membalas perasaan kaka" Varo mengangguk. Nada yang masih terlihat berdiri di depan Varo melambaikan tanganya lalu berjalan masuk.
'Sekuat apapun aku mencintainya, aku tetap tidak akan memilikinya'
'Dia hanya sekedar datang yang dipersinggahkan oleh Alloh di hati untuk memberi luka sebagai pelajaran, tapi bukan untuk takdir yang dijanjikan Nya tetap di hatiku'
Varo memutar kemudinya meninggalkan pekarangan rumah Kenzo. Yah memang Kenzo sendiri kurang suka jika Varo datang ke rumah, mungkin karna status Nada yang masih sah milik orang.
__ADS_1
"Mamah tumben cepet pulangnya " Cashel menyedekapkan tanganya di depan dadanya.
'Gayanya itu mirip Kean banget'
"Iah sayang, udah selesai urusanya" ucapnya sambil mengelus pucuk kepala putranya. "Mama mau ngomong sesuatu sama kamu Shel"
"Ngomong tentang apa mah?" tanya Cashel yang mencium tangan Nada.
"Penting ...." Jelas Nada yang kemudian mengajak Cashel masuk ke dalam kamar. Sesampainya di kamar Nada berjongkok di depan Cashel yang duduk di sofa.
"Mamah kok duduk situ sih?" Nada menatap lekat putranya. Ia bingung mau memulai kata katanya.
"Shel, besok kita akan balik ke Jakarta" Jelas Nada apa adanya.
"Asiiik Berarti kita akan bertemu sama papah ya mah?"
Jleb
Kalimatnya sedikit tapi mampu membuat putranya begitu bahagia dan mampu merontokan tekad Nada yang ingin menjauhkan putranya dengan Kean.
"Mudah mudahan ya sayang, mamah gak janjiin kamu bertemu papah" Wajah Cashel muram, harapanya pupus ketika mendengar jawaban Nada.
"Mamah itu sebenarnya tau gak si papah di mana?" Nada menggeleng, ia belum sanggup jika harus bertemu dengan Kean, dan lebih memilih untuk berbohong.
"Jika Cashel selalu berdoa kepada Alloh agar dipertemukan dengan papah, Alloh pasti kabulkan."
"Bener mamah?" Nada mengangguk dengan air mata yang ia tahan.
"Ya Alloh Cashel mohon pertemukan dan persatukan mamah dan papah ya Alloh"
Nada rasanya ingin menjerit, harapan itu seperti membut hati Nada bertambah sakit.
'Papahmu sudah bahagia dengan wanita lain nak'
'Aku hanya takut ketika bertemu denganya hanya akan menambah luka karna Kean sudah bersama yang lain.'
*
"Nad, sampai sana hubungi Bu Hambali Nikmah yah, dia sudah menyiapkan rumah lengkap dengan isinya" Jelas Kenzo.
"Kaka niat banget ngusir aku" ucap Nada yang matanya berkaca kaca.
"Enggak sayang, kaka kamu memberi waktu untuk kamu menyelesaikan masalah kamu" jelas bu Yasmin.
"Benar nak, jangan menghindarinya lagi, sudah terlalu lama kamu menjadi pengecut, jadi pulanglah!"
'pengecut?'
"Ayah" rengek Nada
"Kami akan rindu kamu yang setiap hari berantem sama kakak kamu Na" ucap Pak Arif mengusap lembut pucuk kepala Nada yang ditutupi dengan hijab. "Tapi kamu punya tanggungan dengan suami kamu, selesaikan jangan lari lagi!"
"Jika kamu tidak punya tujuan hidup, kembali kesini, ibu pasti sangat senang, apalagi kakak kamu yang sekarang sedang menyembunyikan air matanya" jelas bu Yasmin, membuat Nada menatap lekat Kenzo.
"Kaka"
"Gak usah cengeng"
"Yang cengeng kan kaka" Mereka saling berpelukan dan melepaskan kerinduanya.
"Ka makasih" 7 tahun bukan waktu yang sebentar untuk mengukir banyak kenangan, mereka yang ada, yang selalu menghibur Nada, mencukupi kebutuhan Nada dan selalu mensuport Nada sampai sejauh ini.
"Sehat sehat disana, jangan bandel ya" ucap Kenzo. Alea sedang berada di rumah mengasuh putrinya Queen yang masih berusia 8 bulan.
"Aku bukan anak kecil" ucapnya yang masih mengusap ingus di baju Kenzo.
"Itu nangis ingusan lagi, gak malu ada Cashel?" Nada mendongak lalu meninju Kenzo yang tertawa tapi juga ada butiran air mata di sana.
"Ihh kaka mah, yang nangis siapa juga" elak Nada. Lalu mereka saling melepaskan pelukan.
"Kaka sama mba mu akan sering main ke sana tenang aja!" jelasnya ucap bu Yasmin kepada Nada.
__ADS_1
Kini tinggal Cashel yang sedang berpelukan dengan Pangeran. "Bang Cashel pamit ya!" Pangeran mengangguk lalu menepuk pundak Cashel.
"Loe juga, gue bakalan kangen main PS sama loe" Cashel memeluk erat kembali kakanya. Membuat suasana menjadi lebih hening syahdu dan sedih.
"Cashel ayo sayang, Pangeran baik baik di rumah ya, jangan bandel!" Nada tak ingin terlarut oleh kesedihanya. Ia juga sangat ingin menumpahkan air matanya, tapi ia malu, dan ia lebih memilih pergi meninggalkan mereka.
"Ka, Yah, Bu kita berangkat!" ucapnya sambil berbalik meninggalkan mereka. Ada debaran sedih yang mengusiknya. Akan ada rindu yang membongkah hatinya, dan ada kehangatan yang hilang dari penghujung waktu.
'Mereka begitu baik'
'Aku bakalan rindu banget sama mereka'
Tidak lama mereka sampai di Jakarta, melewati gedung gedung pencakar langit, dan melewati sekolah lamanya. Hatinya mendadak sesak, dan ingatan itu mulai kembali.
"Pak boleh puter lewat jalan sebelah sana?" pinta Nada kepada pak supir.
"Ia neng!"
Supir taxi pun berputar sesuai arah yang ditunjukan oleh Nada. Di rumah megah yang pernah ia tinggali Nada meminta pak supir taxi untuk berhenti.
"Berhenti pak sebentar!" Ia rindu sangat rindu, tapi rasa takut menghadapi kenyataan menyelimutinya. Cashel sedang tidur, mengingat perjalananya yang sangat jauh dari bandara menuju alamatnya yang masih dibilang pelosok.
5 menit berlalu Nada menyudahi rasa rindunya, lalu meminta pak supir untuk kembali ke alamatnya. Tidak banyak yang ia harapkan, dan ia juga tidak menginginkan untuk kembali bersama Kean.
Lampu merah menghentikan langkah mobil yang sedang dikendarai Nada. Nada dari arah utara, sedangkan dari arah timur laut sebuah mobil berkecepatan tinggi melaju dengan kencangnya karna lampu mereka hijau.
"Kean"
Nada tahu siapa dia lelaki yang sangat ia rindui, lelaki yang telah menggoreskan sebuah luka besar dalam hidupnya. Cukup melihatnya, ia melanjutkan mobilnya karena lampu sudah berganti menjadi hijau.
"Mamah minum" pinta Cashel yang tiba tiba terbangun. Nada lupa membawa air, tadi itu air mineralnya tertinggal di bandara. Karna repot juga sambil gendong Cashel.
"Kita mampir bentar ya sayang ke swalayan!" ajak Nada kepada sang putra. Cashel mengangguk lalu mereka turun di supermarket kecil yang ada di jalan raya.
"Sekalian belanja aja Shel, biar nanti sampai rumah kita bisa langsung eksekusi!" ucap sang mamah.
"Siap mamah" jelasnya pada sang mamah. Mereka memutari tempat ciki, mengambil bahan pangan juga, buah buahan segar dan banyak lainya.
"Mah minta ini ya!" Dia menunjuk cimori yang ada di kulkas paling atas. Tapi Nada sedang sibuk di kasir.
"Hai anak tampan, ini" Seorang gadis cantik mengambilkan cimori berwarna ungunya lalu menyodorkan pada Cashel
"Trimakasih tante" ucapnya ramah.
"Kamu tampan sekali de" pujinya pada Cashel membuat Cashel tersenyum ramah pada wanita tersebut.
"Makasih tante " jawab Cashel.
"Cashel ?" Panggil Nada pada putranya "sudah selesai sayang, kalau sudah bawa kesini biar mamah bayar sekalian"
"Ia mah"
Wanita tersebut menoleh menatap seseorang yang memanggil anak di depanya. 'Suaranya tidak asing'
"Nada......"
Nada kaget, ia bergegas menarik Cashel dan membayar minuman Cashel dengan cepat lalu pergi. Nada berlari menarik Cashel, dan kemudian wanita tersebut mengikutinya. "Nada tunggu" pinta sang wanita tersebut.
"Cashel masuk ke mobil sayang"
"Kenapa si mah? Mamah kenal sama tante itu?"tanya Cashel penasaran.
"Cashel masuk kata mamah!" seumur hidup Cashel tidak pernah mamahnya membentak Cashel. Cashel menurut dan memasuki mobilnya.
"Nada....."
"Berhenti di situ, jangan pernah maju selangkahpun ke sini" larang Nada pada wanita tersebut.
"Tapi Nad...."
"Jangan pernah ikut campur urusanku lagi, sudah cukup kamu merusak rumah tanggaku!"
__ADS_1
"Brak" Nada memasuki mobil taxi tersebut dan meminta supir taxi itu untuk berjalan.