
Pain is not always in tears, sometimes it's present in smile
Rasa sakit tidak selalu dalam air mata, terkadang hadir dalam senyuman
* *
"Huuuuu.... hiks....hiks...." Nada mendorong Kean ia masih emosi kepada Kean yang sesuka hati. "Aku benci kamu Key, aku benci kamu, kamu yang udah buat kedua orang tuaku pergi, dan sekarang aku gak punya siapa siapa, malah kamu tiap hari sama Bunga, dan anehnya kamu malah nyuruh aku sahabatan sama pacar kamu, lalu kamu nglarang aku dan B....."
Cup
Entah keberanian dari mana Kean mengunci ucapan Nada yang berentet itu dengan sebuah kecupan singkat dibibirnya membuat sang empu membatu.
Mendadak Nada terdiam, bahkan Kean ikutan kaget dengan apa yang ia lakukan pada Nada.
'manis' sela Kean dalam hati
Hening hanya suara detikan jam yang berputar, membuat atmosfir di ruangan tersebut mendadak panas padahal Ac yang terseting nomer 16.
"Keannnnnnnnnn" suara Nada melengking membuat Kean menutupkan telinganya. "Kamuuuuu.....aaaahhhhhh huu uuuu hiks hiks " Nada terisak lalu memukul mukul dada Kean. Kean yang tanganya masih stay di pinggang Nada hanya bisa merengkuh kembali tubuh kecil itu.
"Kamu ngambil first kiss aku Key" ucapnya polos, membuat Kean tersenyum bangga.
"Ya memang mau buat siapa lagi si, selain suami kamu?" tanyanya menepuk nepuk pundak Nada. Baru kali ini Kean dekat sekali dengan Nada, dan ia sangat suka menggoda Nada "Bahkan seharusnya kamu juga memenuhi kewaj...."
Nada mendorong dada bidang Kean kembali "Jangan mesum Key..." Nada membuang mukanya, jantungnya kali ini sudah tak bisa berkompromi.
"Mau lagi ga?" Nada yang bingung mengernyitkan alisnya tak mengerti.
Cup
Sekali lagi Kean mengecup bibir Nada dengan sedikit gemas. "Hap... hap.... hap" Nada hampir saja kehabisan nafas, lalu ia mengeplakkan tanganya pada dada Kean. "Aku nggak bisa nafas Key"
Kean berdecak " Rileks makanya Nad, nafas biasa aja" Pintanya hendak memulai hal gilanya lagi. Namun dengan cepat Nada mendorong, dan mengusap bibirnya lagi " gak mau ah, bau rokok." ucapnya polos.
Kean memang perokok, bahkan suka main ke club dengan teman temanya. "Yaudah gosok gigi dulu ya" tawarnya yang membuat Nada bertambah kesal. "Keannnn gak mau.... pergi gak, pergi....." Karna kegigihan Nada mengusir Kean dengan melemparkan semua bantal di kasurnya akhirnya Kean keluar dari kamar Nada.
Mendadak jantungnya berpacu dengan cepat, mengingat apa yang Kean lakukan. "Huh dasar Kean brengsek" makinya keras. 'kenapa setiap bertengkar sama Kean selalu aja luluh dengan tindakan konyol Kean'
Disisi lain Kean yang berada di kamar tengah asik membayagkan hal tadi menggeleng gelengkan kepalanya, tidak percaya dengan apa yang dilakukan.
Kean berjalan santai menuruni tangga, ia cengar cengir. 'Nada Nada' bibirnya tersenyum mengingat kejadian tadi.
"Kenapa Key, kamu senyum senyum sendiri? tanya Zela penasaran. Kean menggeleng, 'bisa bisa diledek terus kalau sampai bunda tau kejadian tadi sore'
"Nada mana Key" Kean berhenti, ia membalikan badanya menatap kamar Nada
"Masih di kamar yah"
"Sudah waktunya makan malam, panggil, ajak turun" pinta sang ayah.
"Iya sebentar yah." Kean berbalik ke kamar Nada dan langsung masuk kamarnya.
"Kean..... bisa ketok pintu dulu kan?" kesal Nada, Nada sedang berjalan tertatih dengan sampiran handuk di pundak, yah ia sehabis mandi. Melihat itu Kean gemas lalu memapahnya.
"Udah jalan aja si Nad, emang gak sakit?" tanyanya, kemudian dilanjut mendudukan Nada ke kursi rias.
"Udah gak sabar pengin jalan Key." ucapnya lalu Nada dengan pelan merapikan rambutnya.
Kean menatap saksama wajah Nada di pantulan cermin, membuat Nada sesaat menghentikan aktifitasnya.
__ADS_1
"Ihhh Kean... Jangan ngliatin si!" Kean tersenyum lalu mengambil sisir di tangan Nada untuk menyisirnya.
Setelah selesai Kean memapah Nada menuju ke ruang tamu. "Kean, rambutku belum diikat." ucapnya tanpa dihiraukan oleh Kean.
" Romantis banget si " Ledek Zela pada Nada, membuat Nada dan Kean saling tatap. "Makan yang banyak sayang" ucap Zela lalu mengambilkan nasi untuk Nada.
"Nada aja nie, Kean gak diambilin" ketus Kean yang melihat sang bunda memang sangat sayang pada Nada.
"Jangan manja Key" ucapnya menatap putra semata wayangnya.
"Cila mana bun?" tanya Nada karna sudah selarut ini tak terlihat batang hidungnya.
"Cila lagi dipingit, karna sebulan lagi dia akan menikah"
"Nikah?" Nada kaget Kean pun begitu
"Uhuk ....uhuk" Nada menepuk bahu Kean yang tersedak.
"Pasti gak doa deh" terka Nada, Kean hanya menyengir.
"Ko bisa sih Cila nikah bun" tanya Kean yang pasti Nada juga sangat penasaran.
"Iah kemarin pagi ke gep tidur bareng di kantor pacarnya, mmmmm Abiyand yang temenya bang Der tau kan?" Kean mengangguk. Ia sering dengar bang Derrick namun belum pernah berjumpa.
"Gila Cila, gue aja yang udah sah belum pernah nyo....aaaahhhhh" Yah paha Kean dicubit oleh Nada dengan keras, membuat Kenan dan Zela terkekeh.
"Belajar dulu yang bener, nilai aja gak pernah diatas kkm, mikirin gituan" ledek Kenan.
"Ia nie yah, Kean sering banget bolos pelajaran, padahal besok udah ujian tengah semester" ucap Nada melirik Kean.
" Iya deh yang nilainya mempu mendobrag SMA Rajawali" kesal Kean yang dibanding bandingkan.
"Nada aja yang minta ajarin aku yah" Kean memainkan matanya dan menyenggol kaki Nada di bawah meja.
"Gag mau bun, Kean ngajarin me....mmppnppp" Kean menutup mulut Nada dengan cepat, bisa diledek terus terusan kalau sampai bundanya tahu.
Kean berdiri lalu memapah Nada dengan cepat menuju kamar. "Loh Key...mau dibawa kemana Nada." Kean setengah berlari membawa Nada.
"Kean mau belajar sama Nada" ucapnya yang sudah berada di tangga paling atas lalu membuka pintu kamar Nada dan masuk.
"Key.... mau ngapain kamu masuk?" Kean tampak meneliti wajah Nada, 'dasar polos banget si apa apa dibilangin bunda'
"Jangan ngadu ke bunda soal masalah tadi sore ya" Nada mengernyit alisnya tampak berfikir, tapi sesaat kemudian mengangguk.
"Awas aku mau belajar" usir Nada pada Kean
"Aku mau ambil buku, ajarin ya" pinta Kean. Kean keluar lewat balkon kamar sedetik kemudian ia kembali membawa buku dan pulpen.
Di atas kasur lantai sudah banyak buku yang dibuka Nada, ia sudah dengan posisinya menghitung rumus matematika. "Nad ajarin si" pinta Kean.
"Yang mana" Kean bingung, ia tidak mengerti semuanya.
"Bukunya mana sini" Kean menyerahkan bukunya. "Kenapa kosong Key" Kean nyengir
"Yah kan aku gak pernah ikut pelajaran" Nada kesal, lelaki di depanya itu most wanted, tapi otaknya limited edition karna gak pernah dipakai.
"Jadi jelasin dari awal?" Kean mengangguk mengiyakan, ia membuka materi persamaan linear dari yang satu variabel sampai tiga variabel, dilanjut ketidaksamaan linear.
"Jelas gak" Kean menganangguk, lalu Nada mencarikan acak soal yang mudah.
__ADS_1
Harga dua buah mangga dan tiga buah jeruk adalah Rp. 6.000, kemudian apabila membeli lima buah mangga dan empat buah jeruk adalah Rp. 11.500,--. Berapa harga satu buah mangga dan satu buah jeruk?
Kean mulai mengutak atik soalnya, Nada mengarahkanya, "dengan metode ...."
"Eliminasi, dikalikan 5 kan 2 persamaanya?" Nada mengangguk. "Ketemu y nya 1000 dan x nya 1500
Nada tampak menguap menunggu Kean yang tertantang dengan soalnya dari yang mudah sampai tersulit. Yah materi itu sudah pernah disinggung di bangku putih biru, dan lebih dikembangkan di SMA.
'Kean cepet banget sebenarnya menangkap materinya kalau diajarin ko, sayang dia terlalu pemalas'
Sampai pada akhirnya mereka tidur di atas kasur lantai dengan berpelukan. "Ya ampun mas, lihat deh mereka sweet banget kan?" Ujung bibir Kenan tertarik, dia bersyukur dengan adanya Nada, Kean sedikit demi sedikit bisa berubah lebih baik.
*
"Bunda gak nyangka kamu bisa kaya gitu Cil" keluh Adel
"Bunda, Cila gak ngapa ngapain sumpah bun"
"Dengan kamu bolos sekolah Cil, demi seorang lelaki" Cila menunduk, yah kali ini ia memang salah.
"Kamu tau kan Abiyand itu terkenal play, tanggung sendiri nanti kalau bang Derick ngamuk Cil" Cila frustasi, ia pun tak ingin menikah muda, tapi apa daya. Bunda Cila berjalan keluar dari kamar putrinya.
"Arghhhhh kenapa jadi begini, gue butuh Cakra" Cila mengambil ponselnya, disana hanya ada sebuah pesan singkat dari Abiyand
Abi
Cari cara buat gagalin pernikahan, aku gak mau nikah muda
Demi apa coba, hatinya seperti diremas, Cila akui ia juga tak setuju dengan pernikahan tersebut. Tapi membaca pesan tersebut membuat hatinya benar benar sakit. Yang harusnya ngomong begitu Cila, bukan Abi.
📞 "....."
📞"....." Cakra ikut terdiam, ia hanya tidak mau mencampuri urusan Cila lagi.
📞"Kra..... huuuu.... hiks....hiks"
bipp bipp
Cakra mematikan panggilan, menyambar jaket dan kunci mobil lalu melaju ke rumah Cila.
15 menit kemudian
"Cil" Cakra sudah berada di kamar Cila. Cila yang mendengar suara Cakra langsung mendongakan kepalanya.
"Cakra" Cila berdiri dan berhambur memeluknya.
"Cakra ..... Maaf huuuuu hiks hiks"
"Ada gue, jangan nangis" Cakra mengusap pipi Cila
"Gue, gue...."
"Gue tau Cil, gue tau semuanya, dan bukanya ini yang lo mau" ucap Cakra seolah mengerti segalanya.
"Tapi ...." ia urungkan untuk memberi tahu pesan Abi kepada Cakra yang baru saja ia dapatkan.
"Semua akan baik baik aja ya, percaya" Kini Cakra mulai menenangkan Cila.
"Kalau Abi malah kabur dari pernikahan?"
__ADS_1