Cinta&Luka PERJODOHAN

Cinta&Luka PERJODOHAN
25


__ADS_3

Jangan sia-siakan orang yang selalu memaafkan kesalahanmu karena cintanya padamu selalu lebih besar dari sakit yang ia terima darimu


* *


"CERAI...." kalimat Nada terputus "Ceraiin aku Key kalau kamu nyesel, aku juga udah gak kuat terikat dengan janji sakral seperti ini denganmu"


Badanya luruh, kakinya melemas, ia menundukan kepalanya menyembunyikan butiran kristal yang berjatuhan. Rambutnya menutupi wajahnya.


'Biarlah Kean pergi meninggalkanku, memang aku tak akan pernah pantas untuknya'


"Coba ngomong sekali lagi!" Kean ikut berjongkok mencengkeram rahang Nada, mengangkat dagunya dan menyetarakanya.


"Cerai in aku Key, biar kamu bisa lebih leluasa dengan selingkuhanmu" Ucapan Nada seperti membumbui bara api dengan bensin.


Kean melepas cengkeraman tanganya di dagu Nada lalu mengangkat tanganya hendak menamparnya, tapi Kean tak melakukanya. "Kenapa berhenti, lalukan Key, lakukan!" pinta Nada pada Kean. Kean beranjak meninggalkan Nada yang masih tertunduk di lantai.


Setelah hampir 15 menit, tangisnya mulai mereda, namun ia masih di lantai belum beranjak sama sekali.


ceklek


"Ya ampun Nada" Zela menanting Nada yang masih di lantai. "Kamu kenapa sayang?"


"Nada kangen rama sama biyung bunda" Nada memeluk erat Zela. "Bunda janji kan bakalan ngijinin Nada balik ke desa besok"


'kenapa masih menutupinya Nad, padahal Kean sudah sangat jahat sama kamu'


Zela memeluk kembali putrinya lalu mengusap surai hitam panjang milik Nada "Bunda yang nganter besok, bareng bibi dan pak Sono sayang"


Bugh


Disisi lain Kean menghantamkan tanganya pada tembok, rasanya saat ini fikiranya kacau. Kenapa kata kata Nada yang meminta cerai mendadak membuat hatinya sakit


*


Pagi ini Nada turun dari kamarnya menuju meja makan, disana sudah ada bunda ayah dan Kean. "Pagi bunda, ayah " Kenan menatap Nada dan Kean bergantian, seolah bertanya kenapa Kean tidak disapa.


"Pagi Kean." Nada duduk di depan Kean, lalu menikmati sarapan paginya tanpa menatapnya


"Nada berangkat sekolah? " tanya Kenan kepada Nada. Nada mengangguk mengiyakan pertanyaan ayahnya. "Gak jadi pergi ke....."


"Jadi ayah, heeee" potongnya cepat. "Nada berangkat dulu ya yah"


"Loh gak bareng Kean?"


Nada menatap Kean sekilas lalu memutuskan pandanganya " mmmm Kean ada perlu dan Nada udah di tungguin sama Jill, dan Santi di depan"


"Oh, ya udah hati hati ya sayang, nanti bunda yang datang ke sekolah buat ambil raport kamu dan Kean." Nada mengangguk.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Di depan sana ada Bara, ada Santi, dan Jill. "Nada...... ya ampun kangen banget" ucap Jill lebay.


"Apaan si Jilll, baru sehari juga" ledek Santi.


"Yeee sirik aja" sorak Jill pada Santi.


"Udah ayo berangkat, nanti keburu macet!" Ajak Bara, Bara memasuki pintu kemudi sedangkan Nada di sampingnya, Jill dan Santi hanya akal akalan Bara saja agar dirinya bisa menjemput Nada.


Sesampainya di sekolah Nada memasuki kelasnya, tak lama Bunga menyusul dengan Kean. Nada tak mau bersusah susah melihat dua sejoli yang selalu membuat dadanya sesak.


"Aku mau pamit" ucap Nada berbelit.


"Mau kemana?" tanya Jill dan Santi


"Mau liburan ke desa."


"Ahhh ikut" ucap Jill manja, langsung mendapat pelototan dari Bara.


"Sama Kean? "Nada menggeleng membuat Bara tersenyum.


"Berapa lama?"


'Kalau bisa selamanya Bar'


"Usai liburan." Belum selesai mereka bercakap yang jelas Bunga bisa mendengarkan cerita Nada, bell berbunyi dan siswa siswi di bolehkan pulang ke rumah lebih awal karena wali murid akan mengambil raport.


Disinilah Nada, ia menanti bundanya yang sedang mengambil raport. "Sayang selamat yah" Bundanya memeluk Nada dengan erat.


"Nada rangking berapa bunda?"


"Peringkat satu di kelas juga seluruh sekolah Nad" Mata Nada berbinar, ia sangat bahagia mendengar ucapan bundanya.


"Serius bunda?" Zela mengangguk, lalu mencium kening Nada. "Kamu memang hebat, makasih Nada"


"Untuk apa bunda?"


"Kamu bikin bunda bahagia dan sangat bangga." Nada mengangguk

__ADS_1


"Sama sama bunda" Nada mencium pipi bundanya.


Aktivitas itu tak luput dari penglihatan Bunga, ia iri melihat kedekatan bunda Kean dengan Nada. Apalagi saat ibunda Kean tidak membalas sapaan Bunga dan bahkan tak memandang sekalipun kepada Bunga.


'siapalah aku, hanya seorang wanita yang tak diharapkan oleh calon mertua'


"Yah..." Tampak wajah Bara yang pucat.


"Ikut ayah!" suara tegas itu menarik perhatian Nada, hingga Nada mengikuti Bara sampai di ruangan sepi sekolah Rajawali.


"Apa ini?" Nada membelalakan matanya ketika buku raport itu di pukulkan kepada Bara


"Ampun Yah" Bara terlihat sangat takut


Plak


plak


"Bagaimana bisa kamu dapat peringkat 2?" Suaranya meninggi membuat Nada menciut. Ayah Bara melepas sabuknya siap untuk mencambuk Bara.


"Ampun yah" pinta Bara


" Ayah bilang kan, kamu suruh fokus belajar, bukan main, dasar anak tak tau diuntung"


"Ampun yah.... ampun"


"Bagaimana bisa kamu yang selalu di peringkat satu bergeser oleh seseorang yang baru bersekolah disini" teriak ayahnya


plak


Suara sabuk yang menghantam tubuh Bara berkali kali membuat Nada merinding. 'Ternyata diluaran sana masih banyak orang yang punya masalah rumit melebihi diriku'


"Pulang, lanjutkan hukumanmu dirumah" Sesaat Bara dan ayahnya sudah tak terlihat, hati Nada ikut sakit melihat Bara seperti itu.


"Maaf Bar, gara gara aku merebut posisimu...."


Drrrt


Drrrrt


"๐Ÿ“ž Assalamualaikum bunda"


"๐Ÿ“ž Waalaikumsalam Nad, di mana? bunda cari kamu dari tadi, katanya mau liburan ke desa." Ucapnya membuat Nada sesaat melupakan tentang Bara.


"๐Ÿ“žSekarang bunda?"


"๐Ÿ“žIyah sayang"


Nada berlari menuju parkiran, namun langkahnya sesaat terhenti karna di depanya ada Bunga dan Kean yang berjalan mesra di koridor penghubung kelas Bahasa dan parkiran.


'Ingin menyapa, tapi rasanya menyesakkan'


"Nada" panggil sang Bunda membuat Nada yang sesaat sudah bertatap mata dengan Bunga dan Kean, memutuskanya dan beralih memandang sang Bunda.


"Bunda ko disini?" Nada berbalik berlari meninggalkan Kean dan Bunga.


"Ayo berangkat, nanti ketinggalan pesawat?"


"Lah, baju Nada bun?"


"Sudah di packing"


"Beneran?" Zela mengangguk. Nada meraih tangan Zela lalu menariknya.


"Ayo bunda."


Kean bingung, apa maksud dari pesawat, packing dan berangkat. "Memangnya Nada aslinya mana?"


"Maksud kamu Nga?"


"Katanya Nada mau balik ke desa"


Deg


"Tau dari mana kamu, Nada mau balik ke desa?"


"Tadi pamitan sama Bara, Jill dan Santi"


'Kenapa Nada tak mengatakan apapun, apa saking bencinya dia padaku, sampai sampai....'


"Ahhh sial" kesal Kean


"Maaf Nga, aku balik duluan, maaf gak bisa nganter yah!"


cup


Sebuah kecupan mesra mendarat di kening Bunga. Namun tetap saja ia ditinggalkan.


'Lagi ia meninggalkanku karena Nada'

__ADS_1


Kean menaiki mogenya menuju rumah. Sayangnya Kean tak tahu bahwa Nada sudah di bandara.


"Bunda, Bunda gak usah ikut!" ucapnya membuat Zela bingung.


"Kenapa sayang?"


"Ayah butuh bunda, Kean juga butuh bunda, selagi Nada ada bi Sami dan pak Sono, sudah cukup bun" Zela menatap haru putrinya lalu meneteskan air matanya.


"Tapi sayang" Nada memegang tangan bundanya.


"Kalau ayah libur, ajak ayah menemui Nada di desa ya!" pinta Nada pada bundanya.


"Kalau Kean yang ingin bertemu denganmu?" Nada membisu, Kean terlalu menorehkan luka di hatinya itu, 'haruskah aku memaafkanya?'


'Demi mereka yang sangat sayang kepadaku aku harus memaafkan Kean'


"Ajak Kean juga bun!" ungkanya dengan senyum.


'Hatimu sebenarnya terbuat dari apa Nad, padahal Kean sudah sangat menyakitimu'


Zela merengkuh Nada kembali, "Nada jaga kesehatan ya!" Nada mengangguk, lalu memeluk bundanya kembali, bukan Nada yang menangis, melainkan bundanya.


"Bunda juga, kalau kangen telphon Nada ya!" Zela mengangguk.


"Nada berangkat ya bun Assalamualaikum" pamitnya lalu menggered kopernya meninggalkan Zela.


"Waalaikum salam, sampai kabarin ya sayang!" Nada mengangguk lalu melambaikan tanganya.


*


"๐Ÿ“ž Bun dimana?"


"๐Ÿ“ž Di rumah Key kenapa"


tut


tut


tut


Zela menggerutu karena Kean tumbuh menjadi anak yang tidak sopan, angkuh, dan sombong. 'Perasaan ayahnya gak gitu banget'


ckitt


Moge Kean akhirnya sampai di parkiran rumah, tak lama suara kaki itu mulai mendekat. "Bun" Zela menoleh menatap putra semata wayangnya.


"Kenapa Key?"


"Di mana Nada?"


"Dia sudah pergi"


"Maksud bunda apa?"


" Dia ingin kembali ke desa, dan untuk semester berikutnya, bunda gak tau dia bakal balik ke sini atau tidak" Bohongnya, padahal Nada kesana hanya untuk berlibur.


"Apah?" Kean tampak kesal, marah dan emosi "Kenapa gak dibicarain sama Kean dulu si bun, main ambil kesepakatan sepihak ?"


"Memangnya apa peduli kamu pada Nada" Kean bertambah kesal mendengar remehan bundanya.


"Aku suaminya bun"


"Hanya di buku nikah, kenyataanya tidak ada sifat kamu yang mencerminkan bahwa kamu seorang suami yang baik" Zela menatap marah wajah putranya itu.


"....."


"Setidaknya buka mata kamu Key, Nada itu jauh lebih baik dari pada Bunga"


"Wahh bagus ya...Ternyata Nada sudah mulai menjelekan Bunga di depan bunda" Zela marah, bahkan kejadian kemarin siang Nada tak mau jujur pada Zela, padahal Zela mengetahuinya.


"Buka mata kamu Key, buka lebar lebar, bahkan Nada tak pernah sekalipun menceritakan keburukanmu, semua perilakumu yang tidak baik pada Nada ia sembunyikan tanpa celah." Kean menatap bundanya, tentang ucapan bundanya yang menyebutkan kalau Nada menutupi semua kejelekanmu.


"Nada selalu mengatakan kalau kamu baik padanya, tapi dia selalu menangis dipelukan bunda Key" kalimatnya terjeda "Kamu tau, apa alasan yang ia katakan ketika menangis, dia sedang merindukan rama dan biyungnya"


Kean tersentak, apa benar yang diucapkan oleh bundanya. "Ketika bunda memasuki kamarnya, kamu tau Key apa yang ia katakan ketika menangis Hatinya sesak dan sakit melihat kamu bersama Bunga"


"......"


"Apa kamu pikir bunda gak tau kelakuan kamu kepada Nada, bunda tau Key, bunda tau semua, karna bunda mendapatkan laporan dari seseorang, bukan dari Nada"


Deg


"Apa semua yang dikatakan benar bunda?" Kean berlutut merasakan kakinya yang gemetar.


"Ayah kamu yang menyewa mata mata, kamu pikir ayah kamu tidak pernah memperhatikanmu?"


Kean beranjak mengambil kunci mobilnya, Zela tau Kean pasti akan menemui Nada. "Berhenti Key!" Kean tetap berjalan meninggalkan kamar bundanya.


"Bunda bilang berhenti Kean!" suara bundanya mulai meninggi membuat Kean membatu.

__ADS_1


"Kean harus temui Nada bun?"


"Tidak segampang itu, kamu fikir Nada dengan mudahnya akan kamu temukan, tidak Key, ayah kamu membawa Nada pergi ke desa dimana kamu tidak akan bisa menemukanya"


__ADS_2