
Cinta itu kebebasan, bukan untuk saling mengekang. Cinta itu kepercayaan, bukan cemburu tanpa alasan
For you, I was a chapter. For me, you were the book.
Untukmu, aku hanyalah sebuah bab dari buku. Dan untukku, kamu adalah sebuah buku
* *
"Masih kangen kamu, nanti istirahat samper kesini ya!" ucapnya merengkuh lengan Kean dengan erat dan manja. Kean mengangguk dan merangkulkan tanganya di bahu sang gadis.
Kean berbalik, netranya bertemu dalam satu tatapan dengan Nada. Kali ini hati Nada sedikit tercubit, ada rasa cemburu melihat Kean selembut ini dengan wanita lain, mengingat status mereka adalah suami istri. Dengan cepat Kean memutuskan tatapanya, berlalu meninggalkan Nada yang terpaku disana.
Tak lama Lea kembali bersama kepala sekolah Rajawali, " Nada, mari saya antar ke kelas!" ajak bapak kepala sekolah.
" Pak, maaf merepotkan saya titip Nada ya! Nada bunda tinggal ya sayang!" ucap Zela kepada kepala sekolah dan Nada, dengan santun bapak kepala seklolah menganggukan kepalanya. Sebelum Zela pamit pulang ia menyempatkan untuk mengusap rambut putri menantunya.
Nada dan kepala sekolah menuju kelas X1IPA1, mendengar cerita dari Lea dan Zela, Nada adalah anak berprestasi sehingga ia masuk ke dalam kelas dengan siswa yang bersaing memperebutkan nilainya.
Sampailah mereka dikelas XI IPA 1, kelas dimana Kean mengantarkan gadisnya kesini. " Mohon perhatianya anak anak, kelas kalian kedatangan murid baru dari Cilacap." ucap wali kelas mereka. Sorak gembira terdengar dari mereka. " Mari pa, silahkan masuk." pinta sang wali kelas kepada kepala sekolahnya.
"Mari nak Nada!" ajaknya, Nada berjalan dibelakang kepala sekolah." Nada silahkan perkenalkan dirimu!" pinta kepala sekolah kepada Nada.
" Perkenalkan nama saya Qaira Nada Assalwa, pindahan dari SMA Negeri 1 Cilacap......." singkat perkenalanya, tidak ada yang bertanya tanya tentang Nada. Kelas ini kelas orang orang yang diisi dengan belajar, bukan kelas kelas ghibah seperti anak jaman sekarang.
"Bu saya tinggal, titip Nada ya!" pinta kepala sekolah, wali kelas pun menganggukan kepalanya.
Bisik bisik mereka mulai terdengar. "Sampai kepala sekolah mengantarkanya, berarti dia orang penting."
" Silahkan duduk Nada." Nada berjalan melewati gadis yang tadi pagi diantarkan Kean.Yah mereka satu kelas, Nada duduk di bangku nomor dua dari belakang, sedangkan Bunga duduk di deretan no 2 di depan.
Teman temanya mulai berhamburan untuk saling berjabatan tangan dan saling bertukar informasi nama. Mereka kembali lagi ke tempat duduk masing, masing.
" Bara, minta tolong nanti jam istirahat antarkan Nada untuk diorientasikan tempat tempat penting di sekolah ini!" pinta wali kelas mereka.
Bara laki laki kalem dengan wajah tampanya, dengan lesung pipi yang membuat wajahnya lebih imut itu, dengan rambut yang sedikit panjang, kalau di ikat lebih keliatan macho." Baik bu." jawabnya tegas.
Hari pertama mereka sekolah, memang belum ada kegiatan, hanya pengenalan materi, pemilihan struktur organisasi kelas, jadwal piket, jadwal pelajaran, jadwal les dan ekstrakulikuler.
Tak terasa detik waktu menunjukan angka 09.00 bel tanda istirahat pun berbunyi. Mereka bubar dengan silih berganti. "Ayo...." ajak Bara kepada Nada.
'Nie cowo irit banget si ngomongnya, basa basi dikit ke!'
Nada beranjak dari duduknya, lalu berjalan beriringan dengan Bara. Sama halnya dengan Kean yang sampai di depan pintu, dengan cepat Bunga berlari hingga ia menabrak Nada.
Respon Bara yang begitu cepat menarik tangan Nada membuat tubuhnya terhuyung dan menabrak dada bidang Bara.
__ADS_1
"Brukk" mata Kean terpaku melihat Nada yang jatuh dipelukan lelaki lain. Sama halnya ada sedikit rasa tak rela bila Nada disentuh orang lain. Memang belum ada rasa, namun mereka telah terikat sebuah hubungan sakral.
"Ughh" Sadar akan tatapan Kean yang tidak bisa diartikan, Nada menjauhkan tubuhnya dari Bara.
" Kalau jalan pakai mata!" ucap Bara dengan penuh penekanan membuat Bunga menatap Bara kesal.
"Yeeee jalan pakai kaki, bukan mata halu loe." bentak balik Bunga pada Bara. "Bilang aja loe modus deket-deket anak baru." Sanggah dan tuduhnya membuat Bara menatap tajam Bunga
"Itu mulut kalau ngomong dijaga." Bentak Bara pada Bunga
"Jangan kasar sama cewe gue!" ucapnya memperingati Bara. Nada hanya memasang wajah datar, ada rasa sedih karna Kean justru mengabaikanya dan lebih memperhatikan Bunga.
Kean menarik tangan Bunga dan membawanya pergi dari sana menuju kantin. "Kenapa loe Key....? " tanya langit yang duduk berdampingan dengan Alia.
"Biasa gara gara Bara...." tebak Bunga, namun sejujurnya Kean memang sebal kepada Bara karna terlalu dekat dengan Nada.
"Bara lagi.... Emang dia kenapa?" tanya Bintang. Bunga lalu menceritakan detail kejadianya.
Bukanya menanggapi Bintang dan Langit lebih kepo sama yang namanya anak baru itu. "Kaya apa anak barunya?"
"Cantik, putih, dan kayaknya keturunan orang berada." satu jawaban dari Bunga, gadis yang menyandang kekasih Kean ini memang humble, ramah, pinter, baik,dan gak sombong, mungkin itu yang bikin Kean suka pada Bunga.
"Kenapa gak tanya sama Kean, bukanya anak baru itu dianter nyokap loe ya Key....?" spontan ucapan Alia membuat Kean menjadi fokus perbincangan hangat mereka.
'kenapa gak crita si kalau sepupunya pindah kesini, tau gitu aku kan samperin dia gitu'
Kean kembali ke meja di kantinya, seusai memesan makanan yang disukainya dan Bunga. Atensi mereka masih kepada Kean. " Tau anak baru itu sepupu loe, gue jadi lebih leluasa donk TP TP nya." gurau Bintang yang langsung dapat pelototan tajam dari Kean.
"Awas aja loe berani deketin dia... mati loe." Ancamnya pada teman temanya. Kalimat ini membuat Bunga menatap heran sekali lagi pada Kean.
'Kalau sepupu kenapa se care ini si sama Nada'
*
Memilih balik ke rumah Cila, karna kalau balik ke rumah Kean, brabe, masa jam 08.00 pagi udah balik ke rumah. Wajah Cila frustasi, tampak air mata yang mengering. Cakra lebih memilih mengantarkan Cila masuk ke kamarnya
"Cila sayang.... Kenapa gak berangkat sekolah?" Sapa bundanya, yahh siapa lagi kalau bukan Adellaura Shava dr. Sp Bedah Syaraf istri dari Kevin Keyndra Markle sp.Bedah Thorak Kardiovaskuler di novel Gadis liar sebagai peran utamanya.
" Biasa bun, mogok lagi." Jawab Cakra, Adel hanya menggeleng melihat putri semata wayangnya yang bad girl itu.
"Dan kamu kenapa ikut ikutan bolos Cakra....?" teriak bundanya kepada Cakra sambil menjiwir telinganya.
"Aaaah..... sakit bun." Adel dengan cepat melepaskan tanganya dari telinga Cakra. "Kan bestie bunda, jadi Cila gak berangkat, Cakra juga...." kekehnya yang langsung mendapat pelototan dari bunda Cila.
"Kenapa lagi Cila Cakra?" tanya Adel, Cakra hanya menggeleng, tidak mungkin ia jujur, perkara bolosnya hanya karena Abi. Mereka kan bekstreet, apalagi sampai abangnya Cila si Derrick tau kalau Cila beneran jadian sama bestienya yang play boy itu bisa di gundulin si Cila.
__ADS_1
"Kra, bunda mau berangkat, nitip Cila ya, tadi bunda masuk kamarnya Cila, dia udah tidur, kamu kalau mau makan, makan aja!" pamitnya pada sahabat putrinya itu.
"Ya Bun, kalau soal makan Cakra jagonya." antusias Cakra mencium uluran tangan bundanya Cila. Setelah kepergian bundanya, Cakra yang masih dibawah pun menikmati makanan di dapur.
Sedangkan Cila masih di kamar, ia menatap layar yang sedari tadi kosong tanpa pesan. Benar saja, seperti ikatan batin, Abi datang bertamu ke rumahnya, Cila dengan cepat turun dan berlari kedepan.
Sudah berapa kali, berkali kali jawabnya Abi bermain wanita didepanya secara terang - terangan.
'Apa yang mereka lakukan hingga di jam 6 lewat dirinya sudah bersama dengan wanita'
Berbeda dengan hubunganya yang tidak diketahui oleh siapapun terkecuali Cakra, karna jelas Abi adalah lelaki brengsek, sehingga sampai detik ini Abi tidak berani memperkenalkan Cila sebagai kekasihnya.
" Hai sayang...." panggil Abi mesra
" ......" Cila hanya diam
" Cil... Cila..... kamu kenapa diem aja?"
" Sepagi ini sudah bersama seorang wanita, bisa kamu jelaskan siapa dia Bi?" tanyanya sudah dengan hati yang hancur.
" Aku bisa jela....."
"Ya udah jelasin" potong Cila
" Dia....." kalimatnya menggantung seperti tiada kejelasan.
" Pacar baru, model baru kamu, atau selingkuhan kamu" senyum penuh menginterogasi Cila begitu mengerikan membuat Abi menatap wajah Cila serius.
" Apa....Dia ****** yang menghangatkan ranjangmu Bi?" teriaknya keras membuat Cakra berlari ke arah sumber suara.
"Plak"
Visual
Arcila Queenara Markle
Cakra Virenda Davidson
Abiyand Calvin Pharma
__ADS_1