
"Ya sudah kalian selesaikan masalah kalian, tante pamit ya" potongnya "obatnya jangan lupa diminum ya Nada, untuk infusnya nanti Kean yang melepaskanya." ucap tante Ara, beranjak dan menepuk bahu keponakanya, dan tak lupa mengecup kening Nada.
Setelah kepergian ibunda Cila, suasana tampak hening, tidak ada percakapan, Kean yang menunduk, dan Nada yang masih memberanikan keberanian menatap lelaki di depanya.
"Apa orang yang menjebakmu Bunga Key?" Kean menggeleng, ia ragu antara ia dan tidak, setaunya Bunga tidak segila itu, ia juga sudah ikhlas jika Kean dengan Nada, meski mungkin dilubuk hatinya yang paling dalam Bunga terluka, sangat terluka.
"Jawab jujur Key, apa kamu tadi mengunjungi Bunga?" desak Nada, wajah itu polos pucat pasi, hanya air mata yang mengalir deras tiada henti.
"Maaf Nad, maaf karna aku tidak menceritakan yang sebenarnya" Kean diam, ia tau Nada pasti kecewa akibat kebohonganya Nadalah yang menjadi korban. "Ibunya Bunga meminta aku berkunjung, dan kamu tahu, ibunya bunga mempunyai...." Kalimatnya terpotong
"Aku tahu Key, tapi tidak bisakah kamu jujur padaku?" Kali ini Kean menyesal, ia seharusnya jujur pada Nada. Mungkin tidak seperti ini kejadianya jika Kean pamit kepada Nada akan kerumah Bunga.
"Maaf...."
Kean menunduk, wajahnya sayu, lelaki di depanya benar benar tidak tahu lagi dengan cara apa meminta maaf kepada istrinya dan melunakkanya kembali.
"Aku mau istirahat "Nada membalikan badanya, ia sedang enggan menatap lelaki berstatus suaminya ini.
"Aku benar benar minta maaf Nad, aku gak tau lagi harus kemana disaat saat seperti tadi" Nada berfikir lagi, ucapan Kean ada benarnya juga, jika tadi Kean mencari pelampiasan lain, atau malah bersama wanita lain, mungkin rumah tangganya tinggalah sebuah nama yang tertinggal di KUA.
Kean berdiri, hendak mengusap kepala Nada sayanya Nada menghindar. "Jangan sentuh!" jelasnya, dia sedikit trauma atas perlakuan Kean. Jelas saja trauma hal seperti itu bagi Nada masih tabu, dan belum seharusnya melakukanya.
"Aku kotor" lirihnya, air matanya menggelinding, isaknya seperti sebuah dengkuran halus. Mendengar ungkapan Nada, Kean langsung merengkuh tubuhnya, ia tidak mau Nada menyalahkan dirinya atas insiden tersebut.
"Nggak Nad jangan bilang gitu, kamu adalah wanita terhormat dimataku, jadi jangan menyalahkan diri sendiri!" Kean mengecup kening Nada dengan sayang juga sedih. Sedangkan Nada yang di rengkuh tubuhnya bergetar hebat.
"Nad....."
"Pergi Key....!" ucapnya tak mau menatap Kean. "Tinggalin aku sendiri dulu Key!" Kean menggeleng, ia tidak mau meninggalkan Nada.
"Enggak Nad, aku..."
"Pergi Key, tinggalin aku sendiri" Pasrah, sudahlah, Kean sudah tidak berani berkata kata.
"Baiklah, kalau ada apa apa bilang aku!" ucapnya masih membingkai wajah Nada yang terus menunduk dengan genangan air mata. "Minum obat jangan lupa oke!"
cup
cup
cup
Kean berjalan meninggalkan Nada yang tubuhnya meluruh di atas kasur. Sungguh kasian anak orang ia bikin seperti itu. Kean mengambil hodienya, lalu beranjak ke luar. Ia berencana mengabari bundanya.
Tak lama setelah menempuh 45 menit akhirnya sampai ke rumah Kean. Rumah megah yang selalu ia rindukan.
"Nak Kean, tumben balik ke rumah."Kean mengangguk lalu tersenyum sedikit.
"Bunda ada bi?" tanya Kean. Kean butuh ibundanya, hanya beliau yang bisa menakhlukan Nada.
__ADS_1
"Ada den, masuk aja!" pinta sang art di rumah Kean. Kean berlari menuju kamar bundanya, disana ada bundanya yang sedang membaca koran.
"Bunda...." Zela menangkap sosok putranya yang panik.
"Kean ada apa?" Kean langsung berhambur pada ibunya. Ia tahu putranya sedang tidak baik baik saja. "Key ada apa?" Kean menggeleng, tidak biasanya putranya seperti itu.
"Bunda ikut Kean ke apartemen sekarang yah! Nada sakit !" pintanya menarik tangan sang ibunda.
"Ya udah ayu, siap siap dulu bunda ya!" Kean mengangguk, ia khawatir akan Nada yang bahkan menghindarinya.
Tak lama mereka sudah membelah jalanan, tadi Kean sudah pamit mau keluar, beli makanan, yah makananya delievery order, Kean sengaja pamit agar Nada tak panik.
Setelah bermacet macetan ria, 1 jam baru sampai apartemen, dan selama di perjalanan pula Kean diam, padahal Zela sudah banyak bertanya.
ceklek
Pintu kamar terbuka, di sana ada seorang gadis yang terbujur lemas menggunakan selimut tebal. "Sayang" Nada pun tak kunjung bangun yah karna Zela tak tega membangunkanya.
Kean sudah keringat dingin, jelas bundanya akan marah ketika melihat penampilan Nada yang mengenaskan, leher penuh dengan tanda merah dan pucat pasi menghiasinya.
Zela mengusap wajah Nada, lalu perlahan menyingkirkan anak rambutnya dan matanya mulai meneliti di area leher yang kemerah merahan. Wajahnya memanas, apa yang ia takutkan akhirnya terjadi.
"Key" Zela berdiri lalu menghampiri Kean. Kean tau setelah ini bundanya akan marah besar. "Ikut bunda!" Zela berjalan keluar dari kamar Kean, lalu berhenti di ruangan yang agak jauh dari kamar Kean.
Belum Zela mengucapkan apapun, Kean sudah berlutut, ia memegang jemari Kean. "Maaf bunda" ucapnya dengan penuh penyesalan. Tenggorokan Zela tercekat, rasa gondok yang ingin ia utarakan segera ia tepis.
"Kean dijebak bunda, dan itu diluar kendali Kean" ucapnya, Zela menundukan pandanganya, ia kenal degan putranya, dia nakal tapi untuk melakukan hal sebejat itu Zela rasa pasti ada alasanya.
"Siapa Key?" Kean menggeleng, ia tidak mau membuat keluarga Bunga mempunyai masalah.
"Sudah meminta maaf pada Nada?" Kean mengangguk ia masih belum mau mengangkat kepalanya.
"Biar bunda yang menemani Nada, malam ini bunda nginep sini" jelasnya pada Kean, Kean mengangguk, lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi ayahnya.
Zela mengambil bubur yang sudah ia hangatkan, lalu membawa ke kamar. "Sayang...." Zela meletakan buburnya lalu duduk di samping Nada yang sudah duduk di samping ranjang.
"Bunda" Nada berhambur dipelukanya, mencari tempat ternyaman di dada ibundanya. "Bunda.... Nada udah kotor bun" Zela mengangguk, gadis kecilnya pasti sangat sedih, biarpun yang dilakukan mereka sah, tetap saja Nada masih di bawah umur, bahkan beberapa bulan lagi baru akan merayakan hari ulang tahunya yang ke 17.
"Tidak sayang" Zela melepaskan pelukanya lalu membingkai wajah gadis kecilnya "Dengerin bunda, kamu pasti kuat hadapi semua ini dan maafin Kean yah!" Nada bungkam, ia masih belum bisa memaafkanya.
"Sayang " Nada mengangkat kepalanya " masih ingat janji kamu pada ibumu?" Nada menekuk bibirnya, rasanya ia takut mengingat janjinya kepada biyungnya.
"Nada janji akan berbakti kepada suami Nada kan, dan itu termasuk kewajiban kamu kepada suami yaitu melayaninya" Nada bergeming, yang diucapkan bundanya memang benar.
"Maaf yah sayang, bunda bukanya mau memihak Kean, tidak, bunda sudah memarahi Kean, tapi bunda gak mau kamu nyalahin diri kamu sendiri" Masih dengan bingkaian tangan di wajah Nada.
"Itu bukan kotor, tapi terhormat, karna Kean sah suami kamu" Nada kembali memeluk bundanya, lalu menumpahkan segala keluh kesahnya.
"Sekarang makan yah" Zela melepaskan pelukanya, lalu mengambil bubur yang ia bawa dan menyuapi Nada dengan tlaten.
__ADS_1
"Bunda nginep sini ya!" ucap Nada dengan senyum tipisnya.
"Iah bunda akan nginep disini sampai kamu sembuh" ucapnya mencubit pipi Nada.
"Yee makasih bunda" Nada mencium pipi bundanya dengan girang.
Awalnya memang susah menerima Kean dan berinteraksi seperti biasa tapi seiring berjalanya waktu, dengan bantuan bundanya yang sering berkunjung, sekarang mereka mulai terbiasa.
* *
"Udah berangkat aja loe Key" itu Cakra yang duduk di parkiran motor. Cila sediri sudah masuk ke kelas. Tinggalah anak anak badung ini yang suka tongkrong di parkiran dengan aktifitasnya yang jarinya diapit sebuah rokok berwarna putih kecil itu.
"Dari tadi, gak tau apa bini gue itu cewek teladan, paling pinter se SMA Rajawali" ucapnya tanpa ekspresi.
"Disyukuri" ucap Cakra, Kean mengangguk, tidak ada lagi percakapan dari keduanya, mereka berdua sibuk menyesap pitingan panjang di jarinya.
"Gimana rasanya? Kean melepaskan batangan berwarna putih itu lalu menghembuskan kepulan asapnya.
"Apanya?"
"unboxingnya?" Cakra terkekeh.
" Cobainlah, gak enak kan, kalau cuma nanya, kurang greget" jawabnya sambil berdiri dan meninggalkan Cakra.
"Sialan" gerutu Cakra kepada Kean, dua sejoli ini memang tak pernah akur dan selalu ribut.
Jadi ingat bahwa Kean akan menemui Bunga, sejak beberapa hari yang lalu Bunga terus menghindarinya. Membuat Kean geram. Kean berjalan ke tempat di mana Bunga selalu lewat.
Disinilah sekarang lorong sekolah yang sepi, disini Bunga selalu lewat, selalu datang terakhir kali, disaat yang lain sudah memasuki kelasnya, 10 menit cukup untuk Kean menunggunya, batang hidung Bunga kini mulai nampak.
"Nga" Bunga kaget, jujur saja, selama ini ia menghindarinya sejak tragedi Bunga merayunya saat ibunya memberikan obat gila itu.
"Ke.... Kean" Bunga hendak berlari untuk menghindari Kean. Kean dengan sigap menarik tangan Bunga hingga Bunga mengahadap Kean.
'mata itu, kenapa rasanya masih belum bisa move on'
Tutur Kean yang memutus kontaknya terlebih dahulu. "Siapa yang memberi obat itu Nga?" Bunga menggeleng, entah itu jawaban tidak tahu atau atau tidak mau memberitahu.
"Ibu kamu kan?" tanyanya mempererat cengkraman tanganya pada tangan Bunga. Bunga mati kutu, tuduhanya membuat ia takut, takut jika keluarga Kean akan memperpanjang masalah tersebut.
"Maaf Key, tolong jangan perpanjang masalah ini" ucapnya dengan menunduk. Kean tahu Bunga sedang menahan tangis. "Aku mohon Key ampuni ibuku, kamu tahu aku sangat menyayangi ibuku, jadi tolong, ampuni dia, aku cuma punya ibu, tidak ada yang lain"
Kean diam ia menghembuskan nafas kasarnya, lalu memeluk kepala Bunga dengan lembut.
Brugh
Kean dan Bunga terpental karena dorongan oleh seseorang yang tak terima melihat adegan itu, jujur kasian kalau sampai Nada yang melihatnya.
*Author minta maaf ya karna up telat dikarenakan author lagi sakit.
__ADS_1