
Kejahatanku adalah memercayainya. Hukumanku adalah pengkhianatannya
The affair leaves the imperfect for the more imperfect
Selingkuh itu meninggalkan yang tak sempurna demi orang yang lebih tak sempurna.
* *
Panggilan terputus, hancur sudah kepercayaan yang selalu ia tanamkan meskipun di dalam lubuk hatinya lebih hancur. Air matanya ikut menetes, yah, meski gimana lagi, sudah cukup hatinya yang selalu disakiti dan dibohongi.
" Sudah nangisnya?" suara berat itu mengagetkan Cila. Tangisnya bertambah deras karna lelaki didepanya sudah berkali kali menasehatinya agar meninggalkan lelaki tersebut.
Cila menenggelamkan kepalanya di dada Cakra, dengan lembut Cakra mengusapnya. Isaknya bertambah deras membuat Cakra mau tidak mau merengkuhnya erat.
"Huuuu.... huuuu...huuuu" suara seraknya pecah, membuat suasana sore yang sepi disekolah mendadak ramai karna tangisnya.
"Aku udah bilangkan" suaranya lembut, "tinggalin Abi Cil," kalimatnya mulai meninggi. "Lagi lagi kamu luluh sama dia Cil, lelaki bejat kaya dia gak pantes buat kamu." ucap Cakra marah, membuat Cila lebih keras nangisnya.
" sroot.... "Cila mengeluarkan ingusnya pada hodie yang melekat di tubuh Cakra.
"Jorok kamu" kesal Cakra lalu menarik kepala Cila agar menatapnya. " Dengerin gue Cil, putusin Abi!" lagi lagi Cakra berteriak, Cila menggelengkan kepalanya.
"Dasar Batu..... Kalau loe terus pertahanin dia, dia tambah semena mena, mending loe tinggalin tenangin dulu hati loe, kalau dia beneran cinta sama loe dia bakalan perjuangin loe Cil!" Cila masih menggeleng, ia enggan melepaskan Abi.
"Kenapa si loe gak mau lepasin dia, apa yang Abi beri buat loe, sampai loe kaya gini?" Cakra menggoncangkan lengan Cila hingga kepalanya ikut bergerak.
"Karna Abi cinta pertama gue" Cakra berdecih, alasan macam apa itu, didunia ini hanya sedikit orang yang menikah dengan cinta pertamanya.
"Gue tanya sekali lagi, mau putus atau lanjut, kalau lanjut gue tinggalin loe" ucapnya kesal, sudah sejauh ini masih aja belain lelaki brengsek itu. Bukan karna Cakra cinta sama Cila. Persahabatan mereka murni sahabat. Belum ada embel embel cinta atau apalah.
Cila menggeleng, membuat Cakra berjalan hendak menjalankan Cila. " Ikut...." intonasi manjanya membuat Cakra luluh. Memang begitu, Cakra selalu mengutamakan Cila, bahkan kencan saja Cakra selalu membawa Cila dan memprioritaskanya.
Semua cewe yang menjadi pacar Cakra akan merasa diduakan dengan Cila, bahkan ketika Cakra memprioritaskan kekasihnya, Cila akan merengek seperti cewe manja. Sifat usilnya memang menuruni watak bundanya.
Mereka kembali menyusuri jalanan, melawan panas sinar matahari yang menyengat. Cakra masih diam, tidak memulai percakapanya. "Cakra..." panggil manjanya. Namun Cakra masih bungkam. " Cakra....Cakra....Cakraaaaaaa."
" Loe pikir gue budeg apa?" jawabnya kesal, si cildish satu ini kalau udah berulah matilah Cakra.
" Makan" Cakra masih diam, tapi Cila tau kalau Cakra pasti menurutinya. Tak lama mogenya berbelok ke sebuah tempat makan Rechees. Makanan kesukaanya yang berbau keju, 2 piring, habis sudah dilahap olehnya. Tapi Cakra masih diam membisu.
__ADS_1
" Cakra.... Kra...."
"Cakra.... ihhh ngeselin banget si"
"Cakraaaaaaaaaaa" Cakra langsung membekap mulut Cila dengan tanganya.
" Brisik banget nie toa." ucapnya setelah Cila melepaspaksakan tangan Cakra. "Mulutnya biasa aja nanti dicium aspal panas baru tau rasa." Barulah, Cila tersenyum, kalau Cakra udah mulai ngomong panjang berarti udah gak marah lagi.
"Cewe kamu tadi gimana? " tanya Cila basa basi, jelas Cila tau, penyebab utama putusnya hubungan Cakra dengan pacar pacarnya dulu itu ya karna Cila.
"Marah, ngambeklah pasti" Namun kekasih Cakra yang sekarang itu lumayan bertahan sama sikap Cakra yang selalu memprioritasin Cila.
" Ko belum putus? " tanya Cila heran, hubunganya sudah berjalan 3 bulan, biasanya gak ada yang betah satu minggupun.
" Iri kan loe, gue dapetin cewe yang begitu pengertian, dari pada elo cowonya serong kanan kiri atas bawah juga masih aja dipertahanin, Goblo*k banget jadi cewe loe." Cila merenung, kata kata Cakra barusan terlalu kasar dan menusuk hatinya. Gak biasanya Cakra berkata kasar.
" Kenapa..... gak trima gue bilang loe itu bego alias go...." Cila berlari tak mau mendengarkan cemoohan Cakra. Cakra dengan cepat menyusulnya, lalu menarik tangan Cila.
" Kenapa lari...." Jelas terdengar isakan Cila saat ini. " Buka mata loe!!! Buka Cila!" teriak Cakra yang sedari tadi memang kesal kepada Cila. Lebih kesal lagi ketika pacarnya yang sangat diidam idamkan bisa langgeng mengirimkan kata PUTUS.
"Abang gue itu brengsek Cil, bahkan tiap hari dia bawa ***** ke apartemenya, perlu gue kasih videonya" Cakra mengambil sebuah fd lalu diberikan kepada Cila. Cila menggeleng dan tak mau menerima bukti fd dari Cakra.
"Kenapa gak mau trima" Cila masih menangis. " Apa jangan jangan loe salah satu dari cewe yang suka dibawa Abi."
*
Nada sudah berganti pakaian, ia duduk di kamar sambil membaca buku, yang jelas bukan novel, ia lebih suka membaca buku yang menambah pengetahuan. Kean yang duduk di sofa menghampirinya. " Bunga nitip salam buat loe, katanya dia minta maaf"
Bukunya ia tutup lalu menatap Kean, sebal satu kata yang ingin ia ucapkan pada Kean. Nada tak menggubris, ia kembali membuka bukunya. " Bunga itu wanita yang lembut Nad, baik juga, dia pasti gak enak dan ngrasa bersalah karna tadi pagi gue marahin loe."
" Nad, loe tau dia anak broken home, papa mamanya cerai, dan mamanya nikah sama ayahnya Bara, tapi cerai lagi." Bukunya ia tutup kembali, ia mulai tertarik mendengar ceritanya.
" Bara benci sama Bunga karna keluarganya hancur karna mamanya Bunga. Bunga jadi sering ngerasa minder kalau ketemu Bara, dan lebih menyedihkan lagi Bunga sering sekali dipukul oleh mamahnya. Mamahnya depresi karna diceraikan oleh papahnya Bara."
'pantas hubungan Bara dan Bunga tidak baik'
"Bunga sering datang ke sekolah dengan memar di punggung dan tamparan di pipi, dia gadis yang baik, berbakti, dia tetap ikut mamahnya dan merawatnya hingga mamahnya pulih sampai saat ini." Kean masih setia menceritakan Bunga yang malang.
'setidaknya dia masih punya orang tua Key, tidak sepertiku tak punya orang tua karna kamu renggut keduanya secara bersamaan'
__ADS_1
Kini Nada mulai bosan dengan cerita Kean, sejak tadi kalimatnya seperti mengagungkan Bunga, Bunga, Bunga dan Bunga. " Gue pengin loe temenan sama dia Nad, kasihan dia."
'kasihan ...... Terus sama aku gak kasihan'
" Brak" dia meletakan bukunya kasar, lalu berjalan menuju kamar mandi. 'ini hanya cerita, dan yang menjadi tokoh utama adalah Bunga dan Kean, tidak ada yang memikirkan perasaanku'
Nada sengaja berlama lama di dalam kamar mandi, ia enggan jika harus mendengarkan Kean yang memuji Bunga. Hingga menjelang malam ia menutup pintu kamarnya serta jendelanya.
Esok harinya Nada yang sudah siap dengan seragam, dan sepatunya, namun sebelum ia masuk ke dalam mobil yang biasa mengantarkanya, Kean menghadang. "Berangkat bareng gue Nad!" pintanya memaksa, Nada hanya diam. Ia langsung membuka pintu mobil bagian depan, sayangnya Kean mencegahnya dan meminta Nada duduk dibelakang.
Nada menghembuskan nafas kasarnya saat mobil berbelok ke arah lain. "Gue jemput Bunga dulu ya!" Tak lama Kean membunyikan klaksonya di sebuah rumah sederhana berpagar putih. Jelas saja wajah Nada langsung masam, ia benci situasi seperti ini.
"tiin" Dan benar saja, gadis cantik, mungil itu keluar dari sana. Lalu masuk mobil lewat pintu depan.
'sadar Nad, tempat dudukmu dibelakang bukan didepan seperti di dongeng dongeng indah tentang putri raja yang diperlakukan anggun'
"Pagi sayang" ucapnya lalu mengecup pipi Kean yang sebelah Kanan. Nada yang berada di jok belakang ternganga. Hatinya seperti dihantam buku besar.
'Ternyata aku hanyalah orang ketiga yang masuk dengan status yang sah'
Bunga terperanjat, ia kaget melihat Nada yang berada di jok belakang, "Nada" sebisa mungkin Nada tersenyum. "Kamu baik, aku minta maaf ya, gara gara aku kemarin...." ucapnya merasa bersalah, membuat Nada tak enak hati.
"Gak papa Nga, bukan salah kamu ko" jelasnya dengan senyum yang ia paksakan.
" Beneran Nad aku bener bener minta maaf sama kamu" Nada tersenyum ia menganggukan kepalanya.
"Ia Bunga gak papa, gak usah ngrasa bersalah gitu." jawab Nada sekali lagi.
Tak lama mobil mereka memasuki arena parkir sekolahan, Nada keluar dari mobil terlebih dulu, disusul Kean yang justru membukakan pintu untuk Bunga. "Silahkan tuan putri" ucapnya dengan membungkukan kepalanya.
"swiiittt"
"swiiittt"
"sweet banget si Kean dan Bunga" begitulah sorak sorak mereka yang melihat kemesraan cople goals itu. Mereka tidak sadar jika ada Nada yang air matanya hampir menetes.
Bara menautkan jari jemarinya di tangan Nada, membuat tangan mereka menyatu bak kekasih lalu menariknya jauh dari parkiran. Nada dengan cepat melepaskan tanganya. "Maaf Nad" ucap Bara karna lancang memegang tangan Nada. Nada menganggukan kepalanya.
"mmmm Nad.... boleh aku bertanya?" Nada menganggukan kepalanya kepada Bara. "Apa kamu menyukai Kean?"
__ADS_1
Visual Bunga