
"Gak semudah itu" Suara Kean masih datar
"Emang loenya siapanya Nada si yakin banget kayaknya."
"Karna dia sah milik gue secara agama dan hukum kalau loe pengin tahu hubungan gue dan Nada"
Deg
Jantungnya seperti berdenyut dengan dalam dan keras. Kalimat itu mampu membuat Bara kaget.
"Loe bohong Key?" Ucap Bara yang masih menatap lurus tapi fikiranya sudah tak jelas.
"Perlu gue bawain surat nikahnya?" Bara tak bergeming, fikiranya buyar memflashback kenanganya dengan Nada.
"Jangan pernah berani beraninya kamu berfikir buat menjadi kekasihnya, karna dia istriku!" ucapnya penuh penekanan. Kean berjalan meninggalkan Bara, lalu menaiki mobilnya.
plak
Ia pukulkan tanganya pada stang bundarnya. "Kenapa gue yang harus bongkar status gue sendiri dengan Nada kepada orang lain" Kean mengusap wajahnya kasar, lalu melepaskan nafasnya dengan berat.
*
"Key .....?" Nada yang sedang duduk di kamarnya termenung, ia rindu, sangat rindu kepada Kean. "Rindu"
Sudah seminggu ia tak bertemu denganya. Biarpun lelaki tersebut selalu menyakitinya, tapi namanya cinta, yang sayang akan tetap sayang, yang cinta akan tetap cinta, yang rindu juga akan tetap rindu.
Disini Nada tak punya kegiatan, ia pun tak pernah keluar untuk sekedar menyapa teman temanya. Hanya satu alasanya, dia memang tidak pernah berteman baik dengan siapapun, alasanya ia sangat kuper, dan disetiap harinya ia hanya belajar.
Disisi lain Kean yang berada di balkon kamar Nada menatap kosong dedaunan. "Gue kenapa si, mikirin Nada mulu" ia heran seminggu ini ia selalu dirumah, tidak pergi ataupun keluar, Bunga saja ia cueki.
Kean meraih ponselnya, tidak ada pesan dari Bunga, membuat ia heran. Bunga memang kerap begitu, selalu diam dengan segala hal, ia tak seterbuka biasanya. Bahkan ketika Kean dan Bunga sedang marahan Kean lah yang meminta maaf.
Dicueki satu minggu, apa kamu pikir itu enak, sebuah hubungan yang dilandasi dengan dasar cinta pasti sudah di cap tidak normal jika sehari saja tak memberikan kabar.
"Kenapa loe Key?"
"Kay Key Kay Key.... Abang bisa kan? keluhnya pada Cila. Cila cemberut, yah karna disini yang lebih tua itu Cila.
"Enak aja, gue lebih tua" jawab Cila
"Tetap aja, tante Ara itu lebih muda dari bokap gue."
"Selalu itu yang menjadi patokan" ucap Cila kesal. "Mikirin apa si... Bunga atau Nada?"
"Bunga"
Kean sedang memikirkan Bunga, jujur itu, terakhir kali Kean dan Bunga bercakap itu pertengkaranya dengan Bunga.
Flash Back On
"Kamu berubah Key?" Kean menyugar rambutnya, ia sudah dibuat lelah oleh Nada, dan kini Bunga ikut ikutan merajuk.
"Apa yang berubah si Nga?"
"Cara panggil kamu ke aku, perhatian kamu, dan sekarang justru kamu sering ngilang tanpa kabar."
"Ponsel aku disita oleh ayah bunda" alasanya, padahal ia memang malas membuka ponselnya, menatap pesan kepada Nada yang sampai detik ini masih belum dibaca, membuatnya frustasi.
"Kamu berubah sejak ada Nada"
"Nada .... Nada....Nada dan Nada lagi, bisa gak si, jangan bawa bawa dia dalam hubungan kita!" Kean berteriak
"Jujur sama aku Key, Nada bukan sepupu kamu kan?" tanya Bunga "Tapi kamu selalu berubah jika ada Nada, dan perhatian kamu itu sekarang lebih ke Nada." ucapnya sudah penuh dengan air mata.
"Aku bosen bahas ini Nga" Kean beranjak dari duduknya hendak meninggalkan Bunga.
"Mau kemana?" tanya Bunga mencekal lengan Kean, namun Kean bersikukuh meninggalkan Bunga.
__ADS_1
"Lama lama berantem sama kamu bikin aku naik darah" gerutunya yang sudah berjalan meninggalakan meja cafe.
"Selangkah kamu pergi kita putus" ancam Bunga pada Nada
"Jangan gila Nga" Kean berbalik menatap Bunga, wanita yang amat sangat dicintainya dengan mudah mengatakan itu.
"Kenapa, bukanya ini yang kamu mau." Kean mencengkeram lengan Bunga.
"Bagaiamana mungkin kamu menyimpulkan begitu saja Nga?"
"Karna kamu berubah dan...."
"Cukup Nga, mau kamu apa sebenarnya?"
"Nada atau aku?" tanya Bunga pada Kean.
"Nada itu wanita yang nyawa orang tuanya kurenggut paksa Nga, jadi aku gak akan bisa pilih antara kamu atau Nada."
Bunga lemas, ia baru tahu kebenaranya dari Kean. 'Bagaimana mungkin .....' lirihnya, dengan perasaan iba kepada Kean. Kean kesal dan marah.
"Aku harus gimana Nga.... Aku gila jika harus memilih diantara kalian, karna dia menderita juga karenaku." Kean menarik rambutnya benar benar kesal.
"Berjalan menggunakan dua perahu sekaligus itu susah Nga, mengobati dua luka secara bersama itu berat, jadi tolong ngertiin aku" Bunga diam, ia juga tidak bisa egois meminta Kean untuk memilih satu diantara dua.
Kali ini Bunga tahu, bahwa Kean memang bertanggung jawab untuk kehidupan Nada, menjaga Nada, dan bertanggung jawab untuknya, karna Keanlah yang membuat orang tua Nada kembali pada yang di Atas. "Pantas saja Kean sangat peduli pada Nada" ucapnya, ia salah paham dengan kedekatan Kean dan Nada. Ia fikir Kean memang menaruh hati pada Nada.
Pada kenyataanya Kean memang benar benar sudah mulai menaruh hati pada Nada. Tapi ia tidak tau jelas apakah perasaanya itu murni cinta atau karena rasa bersalahnya.
Flash Back Of
"Inget istri bung!" ucap Cila
"Gue aja gak tau Cil, dimana Nada" Cila kaget, masa ia Kean tak tau dimana Nada.
"Lah kok bisa?" Kean menganggukan kepalanya, "Kayaknya dia di desanya deh, kemarin posting di pengandaran gitu"
"Serius kamu?" Cila mengangguk lalu membuka postingan IG nya.
"Dasar suami durhaka, gue sumpahin loe masuk mmmppphhhh" Cila memekik kesal karna mulutnya dibekap oleh Kean. "Sial loe Key"
Kean memberikan ponsel Cila "Apah ?" tanya Cila.
"Tanyain lagi ngapa, terus dia dimana sekarang?" Cila membuka pesan di IG nya .
"Berani bayar berapa ?" Cila memainkan matanya
"Sial.... matre loe" gerutu Kean. "anak sultan keturunan keluarga Markle, bisa bisanya sematre itu" Cila menyedekapkan dadanya.
"Kalau gue royal ntar miskin, lagian ini namanya jangan menyianyiakan kesempatan." Kean memberikan ponselnya disana ada m banking, Cila dengan cepat menuliskan nominalnya. Ia menuliskan angka 10 dengan 0 sejumlah 6 digit.
"Perampokan ini namanya" Lagi lagi Kean kesal kepada Cila.
"Gue balikin nieh" ucapnya ngambek.
"Eh eh eh ia ia, gak papa deh, gak usah dibalikin." Cila tersenyum bahagia.
@CilaQueen
Nad itu dimana?
^^^@NadaAssalwa^^^
^^^Di Pengandaran Cil, main sini!^^^
@CilaQueen
Pengin banget, tapi lagi dipingit.
__ADS_1
^^^@NadaAssalwa^^^
^^^Cie capeng wkwkkwkw^^^
@CilaQueen
Balik Nad, betah amat disitu
"Lama amat si Cil" gerutu Kean, yah aksinya langsung mendapatkan pelototan oleh Cila.
"Sabar bego, ketahuan banget kalau langsung to the poin" Ucap Cila meneplak Kean.
^^^@NadaAssalwa^^^
^^^Enak di desa Cil, damai dan lagi bisa berkunjung ke makam rama biyung itu bikin hati tenang.^^^
@CilaQueen
Yang penting inget pulang ya Nad, jangan lupa oleh oleh.
^^^@NadaAssalwa^^^
^^^Siap Cila^^^
"Tuh jelas kan" ucap Cila pada Kean. Kean merampas ponsel Cila, membacanya berulang ulang.
Kean berdiri lalu mengambil ranselnya, dan memasukan sedikit baju, atm dan uang tunai. "Anterin ke stasiun!"
"Ehhhh eheheh loe gila ya Key, main sered aja, loe pikir gue mpppph" Ucapanya terjeda karna bekapan Kean. Kean tak menghiraukan Cila yang sedang protes karna kelakuanya.
Untung saja dirumah sepi, bundanya sedang bersama ayahandanya di kantor. Jadi Kean tidak akan mendapatkan serangan pertanyaan apapun dari mereka.
45 menit mereka sampai di stasiun Pasar Senin. Kean bergegas masuk ke stasiun. "Loe yakin mau kesana?" Kean mengangguk.
"Yaaa, jangan kasih tau siapapun, bilang aja gue nginep di rumah Bintang dan Langit." Cila mengangguk.
'Gitu ya rumit banget kalau udah berumah tangga kaya gitu, gue jadi males mau nikah'
8 jam sudah Kean sampai di desa milik Nada. Ia berjalan santai memasuki rumah yang memang dulu hanya gubug reot, sekarang disulap menjadi rumah megah nan cantik.
Didepan sana ada pak Sono dan IRT yang sedang menyiram tanaman. Yah waktu sudah menunjukan pukul 16.30.
"Mas Kean" sapa IRT disana. Kean menaruh telunjuknya di bibir, pertanda ia meminta agar tidak bersuara. Mereka mengangguk.
"Nada dimana?" Pak Jono menunjukan arah di dalam rumah Nada lalu Kean memasuki bangunanya, dan menuju dimana arah aroma makanan begitu menggoda.
Pemandangan disana begitu indah, seorang istri sedang memasak sendiri bayangkan untuk suaminya sambil bersenandung ria. Ujung bibir Kean tertarik 2 cm, membuat lengkungan tipis yang indah itu tercipta disana.
Sudah ada beberapa makanan tersaji di meja, sepertinya Nada sangat menikmati liburanya, tak seperti dirinya yang masih berlayar pada dua perahu.
"Nad...."
Deg
'suara itu suara.......' Nada tidak membalikan wajahnya ke arah sumber suara, tapi aktivitas memasaknya terhenti, ia takut hanya sekedar halusinasi yang begitu kuat.
"Nad" Barulah Nada membalikkan badanya dan .....
"Bruk" Sebuah pelukan yang sangat keras di dapatkan oleh Nada.
"Kean...."
"Gue kangen Nad, kangen banget, jangan bikin drama kaya gini lagi ya!" ucapnya dengan dagu yang masih di atas pundak Nada.
"Kamu jahat jahat .... jahat jahat Key" ucap Nada yang memukul dada bidang Kean.
"Ia ... ia ... ia gue jahat Nad. Maaf.... maaf karna terlalu sering menyakitimu" ucapnya menangkup kedua tangan yang sedari tadi memukulkan tanganya di dada bidang Kean.
__ADS_1
"Kita balik Jakarta ya!" Nada menggeleng tanda ia tak mau.
"Kita hidup berdua, dan seperti permintaan ayah, aku akan bertanggung jawab kepadamu Nad, memcari nafkah untukmu, dan tidak akan melukai kamu lagi"