Cinta&Luka PERJODOHAN

Cinta&Luka PERJODOHAN
24


__ADS_3

Aku mencoba ikhlas dari suatu kehilangan dan tersenyum dari suatu kesakitan


* *


plak


tes


tes


'Baru kali ini Kean menamparku'


Wajah Nada yang tadinya tegap mendadak menunduk, ia akui bahwa ia salah, karna membahayakan dirinya sendiri dan orang lain.


"Sekali kali otak itu buat mikir, Bunga itu gak bisa berenang"


Nada menegakkan kepalanya. 'Aku salah aku akui, tapi gak gini juga kamu perlakukan aku Key'


"Aku emang gak pernah tahu apapun tentang dia, tidak seperti kamu yang segala sesuatunya tahu tentang Bunga dan tidak pernah ada yang terlewat olehmu"


Nada mendorong Kean lalu berlari dari laut tersebut kembali menuju hotel. Ia mempacking kembali bajunya dan keluar dari kamar tersebut.


Masih dengan deraian air mata, ia keluar dari hotel mencari taxi. "Na mau kemana?" Bara menghentikan langkah Nada.


"Pulang" ucapnya tanpa melihat Bara. Ia berlalu dan kembali menyetop taxi.


"Ini Bali Na, bukan Jakarta" Nada tak bergeming, ia memasuki taxi yang berhenti.


"Na" Bara bisa apa, gadis ini kalau udah marah tidak bisa dirayu. Bara mengikuti Nada ke Bandara. Mereka saling diam, bahkan Bara enggan menanyakan apapun kepadanya.


Sesampinya di Bandara, barulah Bara menahan Nada. "Yakin mau balik?" Nada mengangguk, sisa air mata disana mulai mengering, ia tau betapa sakitnya perasaan Nada saat ini. "Gue ik"


"Kamu disini aja Bar, udah di bandara juga, aku udah hubungi bunda kok, dan sesampainya di Jakarta ayah langsung jemput. Bara mengangguk, baginya tiada faedahnya juga ia ikut balik, toh yang Nada saat ini butuhkan hanya kesendirian, dan setelah itu dia hanya butuh bundanya.


6 bulan mengenal Nada, ia tau jelas bahwa Nada sangat manja pada bundanya. Dan waktu selama itu juga perasaanya semakin tumbuh kuat di hatinya.


"Hati-hati Na!" Nada mengangguk lalu Bara berbalik meninggalkan Nada.


"Bar...." panggilnya membuat sang pemilik nama menengok. "Makasih" Bara mengangguk, sudut bibirnya tertarik, dan cekungan manis di pipinya tercetak jelas.


*


"Ya Alloh sayang" Zela merengkuh Nada yang sudah berada di luar bandara. Air mata Nada menetes bebas tak dapat dihentikan.


"Kamu berantem sama Kean?" Nada menggeleng, lalu kembali merengkuh bundanya.


"Nada kangen bunda" Zela paham, memang gadis ini tidak pernah mengatakan keburukan Kean, justru ia selalu berkata dari kebalikanya. Tapi Zela selalu tau seperti apa kelakuan Kean kepada Nada.


Ketika Nada sudah sakit hati maka ia hanya mengatakan hatinya sakit dan sesak, itulah dia gadis dengan segala keceriaanya, ketenanganya dan diamnya yang membuat seseorang tertarik padanya.


"Kita pulang ya!" Nada mengangguk, lalu memasuki mobilnya yang dibukakan oleh supirnya. Sesampainya di rumah, Nada sudah tertidur, dan Zela mengangkat Nada ke kamar, dibantu oleh pembantunya.


Zela hendak menelphone Kean, sayangnya Nada tadi berpesan agar tidak menghubunginya. Sehingga Zela mengurungkan niatnya untuk menghubungi Kean.


Sedangkan Kean masih menunggui Bunga yang berbaring di brankar rumah sakit "Kapan boleh pulang sus?" tanya Kean.


"Sebentar saya priksa tanda vitalnya dulu ya!" Setelah diperiksa tekanan darah, nadi, suhu, respirasinya dalam batas normal Bunga dibolehkan pulang.


"Terimakasih sus." ucap Kean memapah Bunga untuk kembali ke hotel.


Sesampainya di hotel, Kean membantu menyelimuti Bunga, setelah itu ia mengedarkan pandanganya ke bad sebelah, kosong.


'Bahkan udah seperti ini harusnya ia minta maaf, malah kabur gak jelas'


Kean pamit pulang, ia masih belum merasa bersalah atas insiden kemarin sore kepada Nada. Dengan santainya ia balik ke kamar dan langsung terlelap bersama Bintang dan Langit yang sudah sampai alam mimpi juga.


Paginya mereka berkumpul di meja makan, lalu melanjutkan acara untuk berkunjung ke beberapa tempat wisata. Untuk acara absen nama Nada tidak disebut, membuat Kean heran, seharusnya Nada dipanggil di nomor terakhir kelas XI IPA 1.


"Bar, sepi y gak ada Nada." ungkap Jill yang memang sejak berangkat sudah bersama dengan Santi dan Nada.

__ADS_1


"Coba Nada gak balik" Di seberang ada Bintang yang sedari tadi menyimak percakapan mereka, Bintang kira sejak kemarin Nada ijin karena tak enak badan tapi dugaanya salah.


" Emang Nada kemana?" tanya Bintang pada Jill.


Jill menoleh menatap Bintang 'Ya Alloh Bintang ganteng banget'


"Hello, gue lagi ngomong sama loe" Jill berjingkrak, lalu menatap Bintang kembali.


"mmmmm Nada balik ke Jakarta" Bintang melotot bagaimana bisa Nada balik ke Jakarta.


"Loe yakin?" Jill mengangguk mengiyakan.


"Serius?"


Jill mengacungkan kedua jarinya tanda ia tak bohong " dua rius, kemarin Bara yang anter ke Bandara"


Bintang berlari menuju Kean yang sedang asik bercanda sambil makan bersama Bunga. "Key... gue mau ngasih tau hal penting."


"Apa....?"


" Loe tau gak kalau Nada......" kalimat Bintang yang berbisik terpotong begitu saja.


"Tau gue"


"Ohhh kirain gag tau.... Ya udah deh gue balik aja." Kean mengangguki lalu kembali ke mejanya.


*


Nada sudah selesai dengan aktivitas paginya membantu memasak, lalu beberes rumah. Ia selalu seperti ini bersama bundanya.


"Bun..... "


"Yah sayang "


"Nada pengin balik ke desa"


Deg


Nada menggelengkan kepalanya cepat "Bukan bunda, Nada rindu rumah, dan Nada pengin berlibur disana"


"Ooh" Zela mengangguk paham, ia tadi begitu syok ketika sang putri mengatakan ingin pulang.


"Bagaimana kalau kita belanja untuk keperluan di sana, lusa setelah menerima raport Nada, bunda anter ke Jawa, dan menghabiskan waktu liburan di sana."


Mata Nada berbinar, hatinya berbunga, ia sangat bahagia ketika bundanya mengijinkanya pulang "Bunda serius?" Zela menganggukinya.


"Baiklah ayo bunda kita lets go!"


Saat ini Nada dan bundanya berada di pusat perbelanjaan mall terbesar di Jakarta. Bundanya memasuki spa langgananya untuk sekedar melakukan pijat dan memanjakan tubuh.


Zela sengaja mengupload histori di iG Nada yang sedang memanjakan dirinya sendiri dan putrinya. Setelah beberapa menit Kean membuka histori Nada.


Deg


'Kenapa Bunda bisa sama Nada?'


Kean panik, apakah ada yang terlewat olehnya. Kean beranjak, lalu menemui Bintang "Loe tadi mau bilang apa Tang?" Bintang menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ia bingung apa yang dimaksud Kean.


"Tentang Nada" Barulah Bintang mengohkan pertanyaan Kean.


"Nada balik ke Jakarta"


"Shiit" Kean berlari, ia tak pikir panjang untuk ikut pulang, bahkan Bunga saja ia tinggal.


" Kemana Key?"


" Balik" ungkapnya cepat.


Beberapa jam perjalanan akhirnya Kean sampai di rumah, Nada dan bundanya masih asik dengan makananya di ruang santai, sambil memakan chiki dan bundanya sedang mengeringkan rambut Nada.

__ADS_1


Seperti itu, memang Nada juga kerap mengeringkan rambut bundanya. Kalau di pikir sepertinya Nada itu lebih pantes jadi anak kandungnya, dari pada Kean.


"Aaa bunda" Nada menyuapi bundanya dengan kue sus keringnya, sambil sesekali tertawa.


Kean bersandar sambil menekuk kakinya. Nada yang sesaat merasa diperhatikan mengedarkan pandanganya. Kaget jelas saat kedua iris mata itu bertatapan membuat Nada memutuskan kontak matanya terlebih dulu.


Keceriaan yang tadi tercipta kini lenyap, membuat Zela heran, kenapa Nada langsung terdiam. Setelah Zela menangkap sosok Kean, ia sadar bahwa Keanlah penyebab Nada kicep. "Key.... sudah pulang?" Kean menganggukan kepalanya.


"Bunda Nada pengin pipis, Nada masuk dulu ya" Pamitnya dengan alasan yang jelas membuat Zela semakin yakin bahwa Keanlah penyebab Nada pulang dari tournya.


Sebenarnya Zela meminta seseorang untuk memata matai mereka, namun Zela belum mendapatkan informasinya. Dan Nada meyakinkan bundanya alasan Nada pulang adalah karna tidak betah di Bali.


Kean ikut beranjak ingin mengejar Nada, ia ingin meminta penjelasan kenapa Nada kembali terlebih dulu. "Jangan dikejar Key!" pinta Zela.


"Ini masalah Kean dan Nada bun"


"Bunda bilang jangan dikejar Key!" Kalimat Zela mulai meninggi, membuat Kean diam.


"Masuk kamar, dan inget jangan temui dia dulu" Kean beranjak masuk ke kamar, tour nya gagal cuma gara - gara Nada. Itu isi fikiran Kean.


Kean memasuki kamarnya dengan perasaan kesal, lalu keluar kamar dan menuju balkon kamar milik Nada.


tok


tok


tok


"Nad buka"


"......"


"Gue tau loe disitu, buka!"


"....." Kali ini air matanya sudah berlinang, rasa sakit yang sempat sembuh kini terukir lagi.


"Nad" Kalimatnya naik satu oktaf.


ceklek


Air matanya sudah terhapus, dan menampilkan senyum palsunya.


"Maksud kamu apa pulang duluan kayak gini?" Kean memasuki kamar Nada, membuat Nada memundurkan langkahnya.


"....."


"Mau ngadu sama bunda?" tanya Kean menginterogasi. Nada menggeleng tidak habis fikir dengan pemikiran Kean.


"Yang salah disini itu loe, kenapa seolah loe yang tersakiti, bukanya minta maaf malah kabur." Nada lagi lagi menggeleng, air matanya sudah menggelinding membasahi pipinya.


"Ia aku salah, dan aku balik karna mau ngadu ke bunda tentang kamu, kenapa kalau aku ngadu, kamu takut?" Kali ini, Nada terlihat menantang ucapan Kean.


"Jadi ini sikap kamu yang sebenarnya, haaa" tawanya terlihat miris "Gue baru tau, cewe yang gue pikir sangat lembut, berubah seketika menjadi orang asing yang sangat menakutkan."


'Biarlah Kean dengan segala pemikiranya, aku udah gak peduli'


"Ia kenapa, ini aku, sifat asli aku, kenapa kamu gak suka, aku gak peduli Key, aku gak peduli kamu suka atau nggak"


"Gue nyesel udah nikahin loe"


Deg


Hatinya seperti ada sebuah tombak tumpul yang menusuk dadanya, paru parunya sesak, seperti kehilangan pasokan oksigen.


Nada mengambil nafasnya dalam, ia sudah benar benar merasakan sakit yang luar biasa. Air matanya terurai dengan derasnya, namun dengan cepat ia usap dengan tanganya.


"CERAI...." kalimat Nada terputus "Ceraiin aku Key kalau kamu nyesel, aku juga udah gak kuat terikat dengan janji sakral seperti ini denganmu"


Badanya luruh, kakinya melemas, ia menundukan kepalanya menyembunyikan butiran kristal yang berjatuhan. Rambutnya menutupi wajahnya.

__ADS_1


'Biarlah Kean pergi meninggalkanku, memang aku tak akan pernah pantas untuknya'


__ADS_2