
Setiap pencapaian dimulai dengan keputusan untuk mencoba
* *
"Mereka menuduh istri saya menggoda kepala bidang pelayanan. Saya sudah kirim ke ponsel bapak buktinya kalau istri saya tidak bersalah. Jadi tolong proses masalah ini secepatnya!" Wakil dirut tersebut membuka pesan Kean, dan alangkah kagetnya ketika kejadian tersebut terekam jelas di ponsel Kean.
Kean berjalan dengan sombongnya mendekati Nada lalu memapahnya ala bridal style, meninggalkan keributan yang sedang terjadi di ruangan tersebut. "Jangan takut Nad, mulai detik ini ada aku yang akan melindungimu"
Hatinya menghangat mendengar ucapan Kean, seolah Nada terjatuh tapi ada Kean di sana yang menumpunya.
'Seperti inikah rasanya dicintai dengan sepenuh hati'
Kean memapah Nada tanpa ada rasa malu di depan semua pengunjung hingga langkahnya sampai di depan mobil berwarna orange. Sejak tadi wajah Nada ia telungkupkan di dada bidang Kean.
'Hangat'
Itulah satu rasa yang tidak pernah Nada dapatkan semenjak menikah dengan Kean. Sejak tadi ia tahu bahwa Nada menjadi pusat perhatian semua orang. Namun ia mencoba masa bodoh.
Siapa si yang gak tertarik sama Kean, udah ganteng, tampan, apalagi sekarang, ia sedang memapah wanita yang sangat ia sayang.
Sesampainya di mobil Kean meletakan Nada dengan penuh perasaan, seperti membawa barang yang anti pecah, lalu ia kembali ke tempatnya. Kean mendekat, wajahnya begitu dekat menyapu wajah Nada, hingga Nada memalingkan wajahnya. "Aku cuma mau masang sabuk pengaman"
"Aku bisa sendiri Key!" jelasnya kepada Kean. Kean mengangguk lalu memutar bundaran setir tersebut.
Kean kembali ke arah rumah Nada, ia lupakan Cashel yang masih di sekolah itu. "Key Cashel?" Kean menatap Nada dengan lembut, ada cinta yang begitu besar dalam hatinya.
"Aku antar kamu dulu! Istirahatlah, jangan berfikiran apapun, jangan masuk kerja dulu, sebelum masalahnya selesai. "Pinta Kean, Nada hanya mengangguk, ia tidak tahu lagi mesti bersikap apa kepadanya.
Nada yang membatasi hubunganya dengan Kean, tapi dia sendiri yang melewati batas, dan menjatuhkan perasaanya kembali padanya.
Setelah sampai Kean berputar lalu membuka pintu mobil sebelahnya. Ia hendak memapah Nada. "Aku bisa sendiri Key!"
"Nurut sekali aja Nad....yah!" Nada pasrah membiarkan Kean memapahnya. Lalu membawa Nada masuk ke dalam kamar.
"Istirahat, jangan fikirkan apapun Nad, aku mau jemput Cashel dulu" ungkap Kean lalu menyelimuti Nada. Ia beranjak meninggalkan Nada yang sangat patuh. Selama 2 hari ini Kean baru sekali memasuki kamar Nada.
'Padahal dulu aku yang sering datang tiba tiba di kamarnya'
Kean pergi meninggalkan Nada dan mengunci rumah Nada dari luar. Ia takut jika ada yang mengikutinya. Tak lama dengan kecepatan yang lebih dari biasanya Kean telah sampai di SDIT dimana Cashel menimba ilmu disana.
Sekolah bergengsi islamic yang Nada pilih untuk Cashel. "Papah...." Cashel dengan cepat berlari dan memeluk Kean. Kean pun sama dan dengan sigap memeluknya.
"Anak papah yang ganteng" Kean membawa Cashel menuju mobilnya.
"Ini mobil papah?" Kean mengangguk mengiyakan. "Waah keren pah." ucapnya membuat Kean tersenyum. Kean membuka penutup mobil sehingga membuat Cashel lebih terkagum kagum.
Cashel mengambil kaca matanya begitu juga dengan Kean. Lalu mereka memakainya secara bersama. Memang sempurna 2 sejoli anak dan bapak ini.
"Pah mamah mana?" Kean termenung, mengingat kejadian barusan.
"Mamah kamu tadi udah pulang, karna kurang enak badan" jelas Kean membuat Cashel heran.
"Mamah sakit?"Kean mengangguk. "Mamah gak pernah sakit pah sebelumnya, selama ini Mamah selalu sehat, dan mamah gak mungkin sakit kalau gak ada masalah?"
'Sedewasa ini putraku, bahkan dia sangat mengerti mamahnya.'
"Nak, kadang orang dewasa itu lebih sering tersakiti, tapi dia selalu menutupi dengan senyum" Cashel mengingat ingat kembali saat pertama menginjakan kakinya di Jakarta.
"Mamah pernah ketemu seseorang, dia cantik, tampaknya mamah juga punya masalah denganya, karna mamah menangis, tapi saat Cashel tanya mamah hanya menggeleng, lalu menghapus air mata dan tersenyum." jelas Cashel.
__ADS_1
Kean dengan saksama mendengarkan cerita Cashel. "Mamah menangis?" Cashel mengangguk.
"Ia, mamah juga berteriak seperti ini pah jangan pernah ganggu kehidupan aku lagi
kaya gitu pah"
'Bunga'
'Jadi Bunga tahu kalau Nada balik ke Jakarta'
"Kapan kejadian itu Shel?" tanya Kean yang sangat ingin memastikan siapa dia.
"Pas mamah sama Cashel baru pertama kali kesini" jelas Cashel. Kean mengeratkan cengkeramanya pada stir kemudinya.
'Kenapa Bunga tidak pernah memberitahuku?'
'Apa dia sengaja'
Sesampainya di rumah Kean dengan tlaten membantu Cashel berganti pakaian, lalu Cashel berlari menuju kamar Nada.
"Mamah...." panggilnya yang kemudian berhambur memeluk sang mamah.
"Eihh anak mamah udah pulang" tanyanya, lalu Nada membangunkan tubuhnya perlahan dan menyingkap selimut yang menutupinya.
"Papah mana?" tanya Nada, Kean yang di ambang pintu tersenyum, Nada sudah tidak sekaku kemarin saat bersamanya.
"Tuh" tunjuk Cashel pada Kean. Tatapan mereka sempat bertemu walau pada akhirnya Nadalah yang memutuskanya. Nada menurunkan kakinya, lalu memegang pundak putranya.
"Sayang, malam ini, papah mau ngajak Cashel ketemu oma dan opa?" jelas Nada pada Cashel"
"Oma dan opa siapa mah?" tanya Cashel bingung.
"Ya oma dan opah kamu. Mereka orang tua papah kamu" Cashel ber oh ria, lalu menatap Kean yang masih di depan pintu.
"Kamu udah gak papa?" tanya Kean pada Nada. Nada menggeleng lalu tersenyum.
"Aku siap siap dulu. Kalian makan dulu yah, tadi lauknya udah di angetin" jelas Nada pada Cashel dan Kean.
Nada beranjak menuju kamar mandi, memulai ritualnya seperti biasa. Tak berselang lama Nada sudah berganti pakaian, ia sejak tadi bercermin, namun fikiranya berkelana tak jelas.
'Sudah siapkah aku bertemu dengan ayah dan bunda?' Nada bingung sebenarnya ia belum berani menunjukan dirinya kepada orang orang yang pernah menorehkan luka.
'Bener kata Kak Kenzo, sudah waktunya dan aku harus hadapi'
'Apapun yang terjadi'
Nada berjalan keluar dari kamar, ia menggunakan gamis berwarna navy, dengan krudung berwarna abu. Menambah nilai plus karena hijabnya yang Nada buat lebih ribet dari biasanya.
"Kalian sudah siap?" tanya Nada yang sudah turun dari tangga dan menuju arah dimana mereka sedang duduk.
"Sudah mah" Kean masih terpaku, menatap wanita cantik yang menurutnya bertambah cantik dengan flat shoes berwarna abu, tas berwarna navy.
'cantik'
Itulah satu kata yang membuat Kean terpikat, wajahnya sangat tenang, nyaman di pandang, dan menggetarkan jiwanya.
"Pah" Cashel menarik jaket milik Kean, membuat Kean tersadar dari lamunanya. "Papah mikirin apa si?" Nada menunduk, ia tahu sejak tadi Kean memperhatikanya.
Cashel sudah berganti pakaian, berwarna putih dengan jeans navy. Tak lupa kacamata hitam yang bertengger manis di hidungnya. "Ayo! " Ajak Kean pada Nada dan Cashel. Mereka berjalan menuju mobil dan kali ini Nada berada di depan, memangku Cashel.
__ADS_1
Kean mengembangkan senyumnya, hatinya berdesir, jantungnya berdetak cepat, wajahnya berseri karena Nada yang sejak tadi menampilkan wajah ramahnya.
Kean mulai membelah jalanan, tak lupa Cashel yang selalu merecoki Kean yang sedang mengemudi. "Key...." Kean menatap Nada dengan tatapan lembuynya.
"Berhenti di toko kue sebrang jalan yah!" Kean mengangguk lalu meriting mobilnya ikut menyeberang jalan.
"Aku nyebrang aja Key!" pintanya pada Kean.
"Jangan..... berbahaya Nad" jelasnya yang kemudian mobilnya telah sampai di tempat kue itu. Nada hendak turun, tapi Kean sudah membukakan pintunya terlebih dulu.
"Makasih papa" ucapnya ramah. Skak mat buat Nada, anaknya mampu mengucapkan terimakasih, sedangkan dirinya hanya tersenyum. Ia malu sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi.
"Cashel mau ikut masuk, apa mau disini sama papah?" tanya Nada kepada Cashel.
"Ikut mah" jawabnya ikut turun dari mobil. Nada berjalan masuk dan mengambil pesananya.
"Pah Cashel pengin itu" tunjuknya pada cake black forest ulang tahun bertumpuk 3. "Cashel pengin ulang tahun sama papah." ucapnya membuat Kean iba, ia sedih mendengar ucapan putranya.
"Mba yang itu satu, sama pesanan mba cantik itu" jelas Kean yang memberikan kartu debitnya.
"makasih pah" ucapnya lalu menunggu di kasir.
"Ini mas" ucap kasir tersebut. Kean menjinjing kue ulang tahun yang Cashel beli dan di taruh di belakang. Nada yang sampai kasir dan taunya sudah di bayar langsung kembali ke arah mobil.
"Sayang beli apa?" tanya Nada yang sudah masuk ke dalam mobil.
"Cashel pengin ngrayain ulang tahun bareng papah dan mamah" Mendengar itu hatinya berdegup kencang, matanya mulai memanas.
"Maafin papah ya Shel" ucapnya lembut, lalu Kean mengusap kepalanya, "Mulai detik ini Cashel akan merayakan ulang tahun sama papah dan mama"
"Janji" Cashel menautkan jari kelingkingnya kepada Kean, dan disambut hangat olehnya. Cashel tertidur karna terlalu lelah dengan perjalanan yang hampir 2 jam itu di tempuh.
Kean dan Nada hanya saling diam, dan sesekali Kean menatap Nada yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
"Mikirin apa?" Nada menggeleng, tidak mengatakan apapun. "Masih ragu?" Lagi lagi gelengan kepalanya menjadi jawabanya. "Kalau ragu...."
"Sudah saatnya, terlalu lama aku menghindarinya juga tidak baik." jawabnya memotong ucapan Kean. Mesin mobil berhenti, menandakan bahwa mereka sudah sampai.
"Biar aku yang gendong" ucap Kean mengambil alih Cashel di pangkuan Nada. Waktu sudah menunjukan pukul 20.15 WIB.
'Bismillahirrohmanirrohim'
Kean menarik tangan Nada dan menggandengnya, Kean tau Nada panik. Namun entah kenapa genggaman tangan Kean justru membuat Nada lebih berani. "Kamu udah bilang sama ayah bunda, aku dan Cashel mau kesini?" Kean menggeleng, Yah Kean sendiri masih tidak yakin bisa membawa Nada dan Cashel kembali.
ting
tong
ting
tong
Seorang ART membukakan pintunya, yah sesuai harapan Kean, memang berharap ART nya yang membukakan pintu. "Mas Key, ini...." Kean menutup bibirnya sendiri dengan telunjuk, mengisyaratkan ARTnya agar diam.
"Ayo Nad!" Kean kembali menggandeng Nada dan masuk ke ruang tengah, disana ada ayah dan bundanya.
"Bun.... Yah" Zela menengok asal suara Kean, di sana ada Nada yang sudah bersiap untuk menghadapi semuanya.
"Ya Ke....Nada" Zela beranjak, sang ayahpun ikut kaget mendengar Zela yang memanggil Nada.
__ADS_1
"bunda...."
"Nada...."