
"baik, kita ambil. persiapan modelnya, dan bimbingan model baru ini."
Jawab Riko dengan tegas, tapi tidak dengan Ririn.
"main setuju aja, kontrak dengan Ririn di perbarui juga dong mas."
"iya bawel, nanti akan diberikan oleh Asep setelah di revisi.
Dian,........
bawa si cerewet ini dari ruangan ini, pusing kepala ku dengan protes nya."
Ririn tersenyum lagi ke arah suami nya, lalu berdiri dari tempat duduk kemudian menggandeng tangan kanan Dian.**
Sesi rekaman suara, untuk mengisi suara iklan tampilan pertama.
"oke....
Suara ibu begitu merdu, hanya sekali take langsung jadi."
Ujar seorang pria yang menangani perekaman suara, dan selanjutnya adalah proses belajar jadi model sekaligus photo shoot untuk keperluan video iklan.
Semua berjalan dengan lancar, dan tanpa terasa perut sudah keroncongan.
"mbak Dian, makan siang yuk."
"kebetulan sekali, mbak Ririn sudah di tunggu bapak untuk makan siang. mari mbak...."
Keluar dari ruangan dan kemudian menuju lift tiba-tiba saja....
'ah .....
Ririn meringis kesakitan karena Jambak oleh Tante Irma, dan seketika itu juga.
'krek.... pram.....
'auhh......'
Tante Irma yang meringis kesakitan karena tangan nya di plintir oleh Ririn dan tubuh di banting hingga terkapar di lantai.
"dasar Iblis.... sakit bego....."
Rintihan dari tante Irma tidak ditanggapi oleh Ririn, yang berusaha merapikan kembali rambutnya yang berantakan karena di Jambak oleh tante Irma.
Begitu juga dengan Dian yang tidak menanggapi perempuan bar-bar itu, Dian malah sibuk membantu Ririn untuk merapikan kembali rambut yang berantakan itu dan mencoba menenangkan Ririn.
"kampret Lo ya Dian, kenapa loh malah sibuk mengurus perempuan kampung ini?"
Ucap tante Irma yang berusaha bangkit berdiri, tapi Dian tidak menoleh nya sama sekali.
"maaf ya Bu, mbak Ririn adalah talent saya. jadi saya ekstra memperhatikan nya. ibu mintak tolong sama security."
jawab Dian dengan lantang, seketika aksi itu menjadi tontonan pegawai yang lain apalagi ini adalah jam istirahat yang tentunya banyak pegawai yang lalu lalang.
__ADS_1
Tante Irma sudah berdiri kembali dan mencoba menggerakkan tubuhnya.
"Dian.....
kenapa Lo mencoret nama gue dari daftar model?"
"ibu tanya sama bapak, kan keponakan ibu sendiri, kok malah nanya sama Ku?"
Jawab Dian dengan ketus lalu mengajak Ririn masuk ke lift yang sudah terbuka, akan tetapi tante Irma ikut juga bersama mereka.
"eh perempuan kampung, Lo yang posisi gue. kurang benar ya. rasakan ini perempuan kampung."
'ah....a....a.......
Tangan tante Irma meringis kesakitan karena tangan ya diplintir kembali dan tubuhnya di banting.
Lift terasa bergoyang, karena aksi dari Ririn yang terus-menerus menghajar tante Irma yang masih berusaha menyerangnya.
Pintu lift terbuka, pegawai yang antri untuk masuk lift kaget melihat kondisi tante Irma yang tergeletak di lantai.
Mulut dan hidungnya mengeluarkan darah, serta rambutnya yang acak-acakan. Dian tidak melakukan apapun, malah menggandeng tangan Ririn tanpa merasa bersalah.
"mau kemana loh anjing...."
Tante Irma mengatai Ririn dengan nama hewan, sembari memegang kaki kanan Ririn.
Tante Irma akhirnya diseret keluar karena berpegangan di kaki Ririn, sampai akhirnya tiba di lantai dan kaki Ririn tidak kunjung dilepas oleh wanita bar-bar itu.
"'ah.... ah.....
dasar preman pasar, perempuan liar."
Mulut dan hidungnya sudah berdarah, yang kemudian ditambah lagi dengan tendangan dari Ririn yang menambah derasnya aliran darah itu.
Karena keributan tersebut dan kerumunan pegawai yang banyak, terlihat Riko menghampiri mereka. terlihat tante Irma tersenyum karena Riko sudah tiba di antara kerumunan itu.
"Tante ngapain disini? kok tidur di lantai? sana pulang, tidur di kasur mu yang empuk."
Tante Irma terlihat kecewa atas sikap Riko, dia berharap dapat pembelaan dari keponakan nya itu, tapi hanya sindiran yang dapatnya.
"istri baru ini benar-benar preman, bar-bar yang suka main hakim sendiri."
Ucap tante Irma yang berusaha untuk berdiri, tapi Ririn tidak memperdulikan nya. malah sibuk merapikan penampilan yang dibantu oleh Dian.
"salah tante sendiri, makanya lain kali. tante lihat dulu siapa yang tante lawan."
"Riko....."
Suara Tante Irma yang kuat membuat kerumunan terdiam, tapi Riko malah tersenyum kecut ke arah tante nya itu.
"ngak usah teriak Tan, bising. lagian tante ke sini mau ngapain?"
"kamu benar-benar keterlaluan Riko, kenapa kamu menggantikan tante dengan perempuan kampung ini menjadi model."
__ADS_1
"ngaca dong Tan.....
lihat dirimu, sudah seperti nenek peot. apa Tante masih layak untuk jadi modeling?
Tante......
Brand yang kami iklan itu dari brand ternama, tentunya kami harus melakukan segala yang terbaik. ngak mungkin kami memakai nenek peot seperti tante."
Raut wajah tante Irma terlihat begitu murka, harapan nya untuk dibela keponakannya pupus sudah, yang di dapatkan Nya adalah olok-olokan dari keponakan nya sendiri.
"kalau tante mau lapor polisi, silahkan. tapi ingat, sisi tv di lift aktif 24 jam.
buat semuanya, jika ada yang merekam kejadian ini. segera hapus, jika ada yang menyebarkan ke media sosial, kalian harus menanggung akibatnya. paham...."
"paham pak." jawab serantak dari kerumunan itu.
"jika sudah paham, silahkan bubar. jika mau istirahat silahkan dan jika kembali kerja silahkan. bubar....."
Perlahan-lahan kerumunan bubar, Riko menarik tangan istrinya lalu berlalu yang di iringi oleh Dian dan Asep.
Seolah-olah tidak ada kejadian yang membuat malu, mereka berempat makan bersama di meja yang sama.
Selesai makan Ririn menggandeng tangan suami nya tangan suami lalu berjalan beriringan, yang di ikuti oleh Dian dan Asep.
Mereka berempat sudah berada di dalam lift dengan suasana yang hening, dan tangan Ririn masih menggandeng tangan suami nya.
"mas.... sudah jadi revisi kontrak nya?"
"Asep....."
Suami Ririn malah memanggil nama Asep untuk menjawab pertanyaan dari istrinya yang selalu tersenyum kepada nya.
Kemudian Asep memberikan notepad nya Kepada Ririn, seketika itu juga Ririn membaca lalu tersenyum lagi ke arah suaminya.
"terimakasih mas, tapi kok belum di print?"
"Asep....."
Riko lagi-lagi memanggil nama Asep, untuk menjawab pertanyaan istrinya.
"jadi begini Bu, nilai kontrak ibu sangat begitu besar. kontak dengan ibu di tandatangani setelah mendapat kontrak pasti dengan pihak pak Rian."
"maaf pak Asep, saya ngak ngerti. mungkin jika suami Ku yang menjelaskan baru aku bisa ngerti?"
'haaaa.....
Tarikan napas dari Riko jelas terdengar, dan hal membuat Asep dan Dian menahan tawa.
"kerja yang benar dulu, dan pastikan kontak itu ditandatangani oleh pak Rian. paham?"
"paham suami Ku."
Ririn menjawab pertanyaan suami nya lalu tersenyum manis, hal membuat Riko seperti salah tingkah. lalu menoleh ke arah Asep dan Dian yang tidak bisa menahan tawanya lagi.
__ADS_1