
POV Fahar.*
Untuk menempuh jalur hukum, itu agak terlalu ribet dan lama. berhubung penyelidikan atas beberapa kasus kematian yang dinyatakan di tutup karena kurangnya bukti, atau tidak cukup bukti.
Ada beberapa hal penyebabnya, dikarena kerja sama dengan oknum. koneksi terhadap oknum yang terorganisir dan rapi, akhirnya sulit untuk kembali.
Tentunya rasa kekecewaan yang amat dalam, tidak adanya kepercayaan terhadap suatu instansi yang memberikan rasa keadilan.
Banyak korban jiwa, harta dan juga kesehatan mental yang terganggu karena trauma di masa lalu.
"nak Riko ya?"
Ucap seorang perempuan yang sudah berumur, akan tetapi perawakannya masih muda dan berpenampilan elegan.
"iya bu, maaf ibu siapa?"
Riko dan Asep yang menunggu seseorang di ruangannya dan ternyata beliau itu adalah seorang wanita yang berumur.
"nama saya Tifani, saya mama nya Rohaya. ibu yang membuat janji dengan mu nak Riko.
Dulu ibu bersama kakek adalah rekanan kerja sama, ibu dan suami memiliki pertanian yang memproduksi sayuran, bumbu, dan juga peternakan sapi serta ayam potong."
"pemilik PT. THE FOOD itu bu?"
Ucap Asep yang terlihat kagum dengan sosok penampilan bu Tifani.
"iya nak, sampai sekarang pun kerja itu masih berjalan sebagaimana mestinya. seperti perjanjian kami di awal.
kami mengirim bahan-bahan makanan berupa, sayur dan bahan bumbu, serta sapi dan ayam potong ke beberapa hotel di bawah naungan group usaha ini.
Kerja sama itu sudah terjalin selama bertahun-tahun, dan pengiriman hasil produksi kami setiap tahunnya selalu meningkat."
"sejujurnya Riko tidak tahu siapa pengirim bahan-bahan tersebut. sebenarnya pihak hotel dan restoran yang lain sudah memberitahukan nama pengirimnya.
tapi saya dan tim terlalu sibuk mencari keadilan bu."
"sudah ibu duga nak Riko, itulah sebabnya ibu ingin bertemu dengan Mu. untuk melakukan kerjasama guna mendapatkan keadilan untuk almarhum suami ibu, anak ibu dan kedua cucu ibu."
Riko dan Asep bengong, mereka berdua seperti tidak memahami apa yang dimaksud oleh ibu Tifani.
"Brayan menantaku menghancurkan kebahagiaan keluarga ibu, dia sengaja mendekati putriku yaitu Rohaya.
__ADS_1
Setelah berhasil menikahi putriku, dia mulai merongrong kebahagiaan keluarga kami.
Kedua orangtuanya adalah mantan narapidana dengan pencurian dan pembunuhan.
Pastinya sifat kedua orangtuanya akan ditiru oleh Brayan, itulah sebabnya kami tidak merestui hubungan mereka berdua.
Baru satu tahun menikah, dia sudah mengancam kami dengan sandera anakku bungsu Ku.
Kami memberikan tebusan sebesar lima ratus juta Rupiah, dan itu modal si brengsek itu.
Putriku ikut mendukungnya, dan mereka memiliki bekingan yang luar biasa. ibu dan keluarga tidak berdaya, dan Brayan bersama istrinya semakin leluasa melakukan hal yang mereka inginkan.
Ibu sudah lama menggugat mereka berdua, tapi selalu kalah dengan alasan yang klasik. bukti yang kurang, tapi itu hanya tipu daya mereka.
Ibu tahu kalau korban nya sudah banyak, dan ibu sengaja menemui nak Riko disini karena nak Riko sudah memulai nya bersama istri mu yaitu Ririn."
Ibu Tifani meneguk teh yang sudah tersaji di hadapannya, lalu tersenyum ke arah Riko dan Sean.
Senyuman itu hanya untuk menutupi kesedihannya, terlihat beliau menghapus air matanya yang mengalir di pipinya nya yang sudah keriput.
"jika nak Riko dan rekan-rekan ingin menempuh jalur hukum, itu akan melelehkan dan belum tentu bisa memuaskan hasrat kalian semua.
Oke jika kalian berhasil membuat masuk penjara, tapi itu hanya sebagai simbolis. mereka akan ditahan dalam beberapa hari saja.
Jika kalian merasa kecewa, temui ibu di alamat ini. ibu bersama istrimu nak, sudah berhasil menangkap beberapa antek-anteknya.
Sekarang bosnya yang akan jadi incaran kalian, jika butuh strategi dan dana atau dukungan apapun, ibu siap membantu.
karena manusia seperti mereka itu tidak layak untuk hidup di dunia ini."
Ibu Tifani meninggalkan ruangan Riko, setelah memberikan alamatnya kepada Riko dan Asep.**
Baru saja Bu Tifani keluar dari ruangan tersebut, Riko sudah mendapatkan kabar buruk dari pengacaranya.
kasus kematian almarhumah mama nya dan juga kakeknya tidak bisa di buka kembali karena itu kasus lama.
"Asep, mari kita rumah bu Tifani."
Asep tersenyum menanggapi perintah dari Riko dan langsung segera beranjak dari tempat duduknya.
Rumah kediaman ibu Tifani tidak jauh, dan rumah itu full keamanannya.
__ADS_1
"sudah ibu duga, kalau nak Riko akan mencari keadilan."
"bukan hanya mas Riko bu, demikian juga saya, sahabatku dan juga rekan-rekan kerjaku.
sudah terlalu banyak korban jiwa yang melayang dan juga harta benda, trauma yang berkepanjangan.
menjadi gila adalah jalan terakhir, darah harus dibayar dengan darah."
Ungkap Asep dan Riko menolah nya dengan senyuman liciknya.
"mereka sudah terlalu lama menikmati harta benda milik orang lain, yang mereka rampas dengan cara yang keji."
Ibu Tifani menggandeng tangan mereka berdua untuk masuk ke rumah, dan Riko terkejut karena rumah tersebut sangat sepi demikian juga dengan Asep.
"kemana anak-anak ibu yang lainnya?"
Dengan memberikan dirinya, Asep bertanya kepada bu Tifani, dan tatapan mata itu terpancar kesedihan dan kesepian.
"ibu kirim ke luar negeri, karena takut di bunuh oleh Brayan dan istrinya. kalau ibu mati ngak masalah, karena juga ibu sudah tua dan harus ada yang menjaga yang tersisa dari suami ibu."
Air matanya diseka dari pipi nya dan kemudian memberikan beberapa dokumen ke Riko dan Sean.
Ibu Tifani membeberkan fakta yang sebenarnya yaitu.
Tempat yang menjadi persembunyian Brayan dan keluarganya, berdasarkan mata-mata dari ibu Tifani, lusa Brayan dan keluarganya akan di tempatkan di vila perkebunan milik Brayan yang berhasil di rampas.
Nyata Brayan mempunyai dua istri yang lainnya, dan sudah mempunyai anak dari kedua istrinya itu.
Satu di humburg Jerman, dan saru lagi di berada di abu Dhabi.
Mereka hidup dengan harta rampasan serta hasil korupsi dari Brayan, dan mata-mata bu Tifani sudah berhasil mencari alamat mereka.
Brayan juga masih memiliki adik laki-laki dan adik perempuan, yang juga menikmati hasil dari perbuatan haram.
"ini adalah rumah yang jauh dari pemukiman warga, satu milik keluarga ibu dan satu lagi milik keluarga kakek mu.
Kedua sudah hampir direbut oleh Brayan serta papa mu si Herman biadab itu.
Kalian memakai gubuk yang sudah mempunyai fasilitas peredam suara di suatu tempat di gubuk itu."
Tatapan Riko begitu tajam, dan senyuman kecut dari ibu Tifani sebagai balasannya.
__ADS_1
"apa ibu keberatan jika saya menghabisi mereka?"
Bu Tifani mengatakan tidak, bahkan siap mendukung.