
POV Fahar.*
Pagi-pagi sekali Riko sudah berangkat menggunakan mobil mewahnya, dan hal itu diketahui oleh istrinya.
Ditengah jalan Riko berhenti karena melihat empat petani yang sedang memetik buah tomat.
"permisi bapak, mau tanya, saya ketemu dengan pemilik kebun ini, karena saya punya restoran yang sudah memiliki beberapa cabang, saya ingin bahan-bahan masakannya dari kebun ini. bapak tahu rumah nya dimana?"
"namanya ibu Rida pak, ibu Rida tinggal bersama anak dan suaminya.
bapak lurus aja, lalu belok kiri. dari situ kira-kira lima meter lagi ketemu dengan rumahnya.
cat rumahnya warna hijau, hanya itu rumah berwarna seperti itu pak."
Jawab dari salah satu petani tersebut, lalu Riko berlalu dan tidak berapa lama sampai juga di halaman rumah tersebut.
Lalu Riko melihat dari kejauhan dan benar, penghuni rumah itu adalah Rida. mantan istrinya yang sudah hamil duluan.
Terlihat Rida dan seorang anak laki-laki yang mungkin berumur empat atau lima tahun dan bersama laki-laki dan itu adalah suami Rida.
Mereka keluar dari rumah dan naik mobil mewah yang parkir di halaman rumah tersebut.
Mobil mewah itu bergerak, lalu Riko meraih handphone nya dan terlihat menghubungi seseorang.
"dia gerak, laksanakan."
Ucapnya dan seraya mengakhiri telpon tersebut.
Setelah mobil yang di kendarai oleh Rida berlalu, lalu Riko pun bergerak ke arah yang berlawanan.
Sekitar lima belas menit kemudian, Riko kembali ke para petani yang barusan di tanya Nya tadi.
"haduh pak, tadi terlena di jalan ke arah belok kanan karena pemandangannya indah sekali.
Akhirnya saya tidak ketemu deh dengan pemilik kebun Nya.
Kata si mbak itu, yang punya kebun sudah pergi barusan.
iya.... hanya kartu nama yang saya titipkan, semoga aja jodoh ya pak."
"walah si bapak, kasihan jauh-jauh datang tapi ngak ketemu.
biasanya sih disampaikan oleh si mbak nya, bapak tenang aja.
Kami juga sudah banyak mengirim hasil pertanian ini ke restoran-restoran pak, tidak mungkin bu Rida mensia-siakan kesempatan."
"semoga ya pak, kalau begitu saya mohon pamit ya pak."
Jawab Riko kepada petani tersebut, lalu pergi dari tempat itu.
Sebenarnya itu adalah cara untuk mengaburkan jejaknya, agar tidak diketahui oleh orang lain kalau Riko mencari Rida ditempat tersebut.
__ADS_1
Sekitar satu jam lebih Riko, menghampiri sebuah rumah yang berjarak jauh dari area perkebunan.
Jalanan becek dan berkerikil tajam, mobilnya masuk ke dalam rumah. turun dari mobil dan melangkah ke arah gudang, Riko tersenyum setelah melihat motor terparkir disana berikut dengan kunci, helem dan jaket kulit.
Lalu membuka pintu rahasia yang berada di lantai dengan cara menariknya ke atas, ternyata pintu itu mengarah ke ruangan bawah tanah.
Di dalam ruangan bawah tanah sudah ada tiga orang, dan kemudian membuka solatip tebal yang menutupi mulut Rida dan suaminya.
"kita bertemu lagi Rida, kamu sudah puas dengan apa yang telah kamu dapatkan dari tante Irma?"
"apa mau mu bangsat?"
Sapaan dan pertanyaan dari Riko dijawab dengan pertanyaan oleh Rida.
"ma....
inilah yang papa takutkan jika berhubungan dengan orang psikopat, kenapa kamu dulu tidak mendengarkan nasihat Ku.
Pak Riko, tolong lepaskan anakku. anakku tidak bersalah dan tidak hubungannya dengan semua ini.
ini salahku dan istriku, tolong jangan ikut sertakan anak kami. saya mohon pak Fahar, saya mohon."
Suami Rida memohon kepada Riko seraya menangis, suaranya terdengar bergetar.
"mungkin hukum tidak akan bisa menyentuh kalian berdua, dan dulu juga ada orang-orang yang memohon seperti ini kepada kalian berdua, lalu kalian berdua sengaja menutup kedua telinganya kalian."
Ujar Riko dan kemudian meraih tang dari tas nya yang sudah ada bekas noda darah, dan kemudian meraih tangan kanan anak laki-laki tersebut.
Pertanyaan Riko tidak dijawab oleh Rida maupun suaminya.
"uah.....oh.....uah.....uah....oh.... uah.... oh....."
Anak Rida menjerit kesakitan karena kuku ibu jari kanannya di copot paksa oleh Riko.
"hentikan Riko, tolong hentikan."
Pinta Rida kepada Riko yang kini sudah mulai menjepit kuku tangan berikutnya.
"ke istrinya yang sekarang, ibu tiri mu mas. tolong lepaskan anakku."
"mas....."
Rida berteriak ke arah suaminya karena menjawab pertanyaan dari Riko.
"kita sudah janji untuk tutup mulut, dan kita sudah mendapatkan semuanya."
Rida membentak suaminya, karena tidak terima pertanyaan Riko dijawab olehnya.
"ini semua gara-gara kau, sudah aku bilang. jangan berhubungan dengan manusia psikopat.
pak Riko, tolong lepaskan anakKu. dan saya akan menjawab semua pertanyaan mu."
__ADS_1
kemudian Riko berhenti menjepit kuku dari bocah tersebut, kini menatap ke arah suaminya Rida.
"kedua ginjal mama mu di donor kan ke om Istriku, namanya pak Darek, dia tinggal di samping rumah papa mu.
Hari mama mu diberikan kepada orang lain, tapi akhirnya meninggal karena komplikasi. hanya itu organ tubuh mama mu yang di donor kan."
Ungkapnya kepada Riko, lalu Rida menatap tajam ke arah suaminya.
"percuma mas menjawab semua Nya, toh juga si psikopat ini akan membunuh kita."
"kamu sudah tahu kalau si psikopat ini akan membunuh kita, tapi kamu malah santai selama ini.
Rida.....
mas sudah sampaikan, ayo jual semuanya dan kita lari ke luar negeri.
tapi kamu tetap keras kepala, lihat anak kita jadi korban."
"percuma menyelesali nya mas, percuma."
"tapi setidaknya, anak kita tidak di siksa. walaupun pada akhirnya kita harus mati bersama disini."
Rida dan suaminya malah berdebat dikala ketegangan seperti saat ini.
"lalu dimana tinggal mertua papa Ku dan dimana tinggal mertua mu."
"baik pak Riko, bapak ibu mertuaku juga menikmati hasil dari perbuatan haram ini.
bapak ibu mertuaku tinggal di daerah rumah papa mu juga. car warna merah, semua pelaku nya tinggal satu kompleks dengan Papa mu.
Komplek tersebut bisa dibeli karena uang dari mama Mu, mereka semua bekerja sama untuk menguras harta keluarga Mu dan melenyapkan mama serta kakek mu.
kamu sudah membalas dendam mu kepada kami, jika kau laki-laki sejati, bakar juga kompleks itu dan pastikan semua penghuni kompleks itu di rumahnya."
Riko tersenyum setelah mendengarkan penuturan dari suami Rida.
"kenapa mas membeberkan semuanya? kita akan mati disini, biarkan si psikopat ini mencari nya sendiri."
"dasar perempuan biadab, kamu dan mereka semua sama aja."
Lagi-lagi Rida dan suaminya berdebat, dan Riko yang melihatnya malah tersenyum puas.
"karena kamu berbaik hati, saya akan melepaskan anak mu."
"jangan pak, jika anak ku lepas dan selamat. dia trauma dan bisa menjadi seorang Psikopat seperti kamu dan itu benar-benar berbahaya.
saya tidak mau anakku berdosa nantinya, asal jangan kau sakiti lagi dia.
Saya dan anak saya serta istiku sudah siap mati, silahkan."
Riko kemudian tersenyum puas, tapi Rida berteriak sekuat-kuatnya.
__ADS_1
Mulut Rida dan suaminya kembali di lakban, lalu Riko menyiramkan bensin disekitar mereka bertiga.