
Ririn mendengar suara keributan dari ruang tamu dan buru-buru keluar dari kamarnya dan menghampiri bapak mertua Nya yang membuat keributan di ruang tamu tersebut.
"ada apa sih Pa? pagi-pagi begini sudah ribut aja?"
"mana Riko?"
Pertanyaan Ririn dijawab oleh bapak mertunya dengan pertanyaan.
"perjalanan dinas keluar negeri bersama Asep pak, apa yang bisa Ririn bantu pah?"
Papanya Riko yang datang bersama istrinya yaitu Karmila yang terlihat emosi dan mereka berdua akhirnya duduk di sofa ruang tamu.
"begini nak Ririn, kartu kredit titanium itu sudah diblokir oleh suami Mu, tolong lah Papa.
Kami berdua sedang kesulitan, kami membutuhkan uang untuk mengoperasi adik Mu yang saat sedang di rumah sakit."
Terlihat Ririn berpikir keras, lalu menatap mertuanya tersebut.
"Papa kok bingung, bawa ke berobat ke luar negeri."
Ujar Ririn seraya memberikan brosur rumah sakit ternama di luar negeri yaitu Negara Singapura.
"mas Riko sudah investasi di rumah sakit ini pa, masalah biayanya pasti ada keringanan bagi yang mempunyai keluarga dari pemilik sahamnya.
Untuk biaya pengiriman ke sana, papa jual aja salah satu properti Papa yang ada di puncak pak.
kesehatan anak jauh lebih penting dari harta apapun, buat apa Papa menumpuk harta jika adek itu dalam keadaan sakit."
"benar yang kamu bilang nak, tapi mana mungkin secepat itu untuk menjual rumah dan kebun itu?"
"bapak tenang aja, saya ada kenalan agen tanah yang siap menampung kebun dan rumah itu pah."
Jawab Ririn seraya memberikan kartu nama ke bapak mertuanya itu.
"cepat mas, hubungi segera."
Ujar Istrinya yang mencoba mendesak papanya Riko untuk bertindak.
Seketika itu juga papa nya Riko langsung menelpon orang pemilik kartu nama itu.
Beberapa menit setelah selesai menelpon, bapak mertunya Ririn menoleh Nya.
"om, bude dan keponakan juga punya hak di kebun itu. papa jadi bingung untuk menjualnya."
Ujar Papa nya Riko, dan terlihat Ririn menarik napas panjang Nya.
"omongin baik-baik pah, bawa mereka semua ke lokasi dan tunjukkan dimana bagian mereka masing-masing.
__ADS_1
Ririn rasa ya pak, sebagian dari mereka tidak menginginkan kebun itu.
mungkin ya, beberapa ingin uang untuk memulai bisnis atau apapun itu pak, kita tahu sendirilah pa, karena tidak semua orang hobi bertani."
Wajah dari Karmila terlihat bahagia mendengar penjelasan dari Ririn dan kemudian menatap suaminya.
"benar itu mas, si lila dan yang lain juga menginginkan tunai, mereka ingin berbisnis sendiri
Mereka hanya butuh minimal seratus juta Rupiah untuk memulai bisnis, mereka sebenarnya sudah sepakat untuk menjual kebun yang menjadi bagian mereka."
Mendengar penjelasan istrinya, Papa nya Riko itu tersenyum lega dan kemudian langsung pamit pulang.
Kemudian Ririn masuk ke kamarnya, setelah memastikan kalau ayah mertuanya sudah pergi, lalu Ririn meraih handphonenya.
'halo mas, Papa dan keluarga sudah menuju puncak.'
Lalu mengakhiri panggilan telepon tersebut, kemudian keluar dari kamar lagi. ternyata orang yang ditunggunya telah datang yaitu Diana.
"mbak kok lama datang nya?"
"macet."
Jawab Diana ke Ririn, dan seketika itu Ririn menggandeng tangan Diana.
"ma... Adit..... Mpok.....
Ucap Ririn yang berteriak ke arah dapur, dan suara itu menyahut Nya yang disusul kedatangan Adit yang membawa notepad ditangannya.
"kakak mau kemana?"
Tanya Adit ke kakaknya, lalu Ririn pun membujuk Nya. akhirnya Ririn dan Diana pergi ke luar rumah.
"mbak sudah makan?"
Tanya Ririn kepada Diana, ketika mereka berdua dimobil yang disetir oleh supir pribadinya Ririn.
Ternyata Diana belum makan, dan akhirnya mereka berdua memilih singgah disebuah kafe.
Mereka berdua memilih tempat yang privat dimana kafe itu menyediakan ruangan VIP untuk pengunjung Nya.
"mbak nonton berita ngak? rumah milik tante Irma terbakar ludes. rumah itu pemberian mas Riko."
"iya Rin, itu karena tamak nya. Wanita tamak itu pantas mendapatkan Nya. itu belum sebanding dengan apa yang telah dilakukannya, korban yang tewas dan penderitaan orang-orang lain.
Trauma yang membekas dan rasa kehilangan yang tiada berkesudahan, wanita itu adalah pelaku Nya."
"apa nanti mas Riko tidak terjebak?"
__ADS_1
Diana menolah dengan tatapannya yang pasti dan kemudian meneguk teh hangat yang tersaji dihadapan nya.
"mudah-mudahan ngak, karena semuanya sudah terorganisir dengan rapi.
mereka tidak mungkin bisa tersentuh hukum, dan hukum alam yang lebih tepat mereka dapatkan."
Ungkap Diana dan kemudian meraih handphone Nya, lalu mengirimkan pesan ke Ririn.
"itu adalah link berita, dimana anak-anaknya juga sedang diburu oleh pihak berwajib.
Alasannya adalah pertikaian tentang harta yang dimiliki oleh si Irma biadab itu."
Ririn kemudian membuka link berita tersebut, dan mulai membacanya.
Media menuliskan, kalau tante Irma bertikai dengan dua orang anaknya yang sudah dewasa dan juga mantan suaminya.
Menurut keterangan dari media, bahwa tante Irma memilki utang di perbankan dan dibebankan kepada kedua anaknya serta mantan suaminya.
Sudah seminggu lebih pertikaian itu, dan alhasil membuat Tante Irma pindah ke rumah barunya.
Ternyata rumah lamanya sudah disita oleh pihak perbankan karena sudah terjadi penunggakan.
Lagi-lagi anak dan mantan suaminya selalu mendatanginya yang menanyakan perihal hutangnya yang ada di bank.
Kedua anaknya serta mantan suaminya tidak terima jika hutang tersebut dibebankan ke mereka, sementara uang hasil peminjaman itu digunakan seluruhnya untuk keperluan tante Irma.
Menurut keterangan warga sekitar, mantan suaminya dan juga kedua anaknya sudah lebih dari lima kali adu mulut dengan Tante Irma di rumah tersebut.
Bahkan sisi tv kompleks menampilkan, kedua anak tante Irma dan mantan suaminya mendatangi rumah tersebut, dan akhirnya rumah itu terbakar.
"sepertinya berita ini ada kejanggalan mbak?"
Ujar Ririn dan kemudian meletakkan handphone nya kembali ke tas kecil itu, Diana kemudian menolah dengan senyuman puas.
"benar, berita itu penuh dengan keganjalan. sasarannya adalah kedua anak tante Irma dan juga mantan suaminya.
karena ketiga manusia biadab itu adalah bagian dari rencana mereka, ketiganya sudah menikmati hasil rampasan haram itu."
Ucap Diana yang terlihat kesal, sorot tatapan matanya terlihat kebencian yang mendalam.
"apa yang sebenarnya terjadi mbak? kenapa berita ini ganjil dan siapa sebenarnya mbak Diana?"
Terlihat Diana menyeka air matanya, dan kemudian menoleh ke arah Ririn yang bertanya kepadanya.
"panjang ceritanya, Ririn mau saya ajak ke suatu tempat? tenang, mbak ngak akan saya mencelakai mu, karena kita sama-sama korban yang akhirnya bersatu."
Ririn yang masih bingung hanya mengangguk, dan mereka kemudian pergi dari Kafe.
__ADS_1
Kali ini Diana yang menyetir, sementara supir pribadinya di minta untuk pulang ke rumah untuk tambahan tenaga security.