
POV Reza.**
Mira menatap tajam ke arah suaminya, dengan terpaksa dia menandatangani dan memberikan cap kedua ibu jarinya di akta peralihan hibah tersebut ke atas nama anaknya dengan perwalian Mira sebagai ibu kandungnya.
"tanda tangan Risah dan Ririn sudah ada, apa kalian memaksa mereka berdua untuk tandatangan di akta ini?"
"tidak mas, Ririn dan mama nya dengan sadar dan sehat menandatangani hibah ini. dan sertifikat ini Mira dapatkan dari Ririn.
Ririn dan ibunya tidak apapun dari mu mas, karena mereka berdua sudah kaya raya. ini semua belas kasihan dari Ririn dan mama Nya.
tidak ada unsur paksaan terhadap mereka berdua, hanya mas yang perlu dipaksa. Mira melakukan ini semua demi anak kita Jack.
Ririn dan ibunya tidak melihat Jack yang hampir senasib dengan Adit, terimakasih ya mas atas semuanya.
Sekarang mas Reza bisa pergi untuk mengurus Istrimu yang sekarat itu, pergi sana."
Ucap Mira kepada suaminya dan mereka saudara Mira mengambil beberapa barang dari rumah tersebut.
Kompor, televisi dan peralatan lainnya dan langsung dimasukkan ke dalam pickup yang terparkir di halaman rumah tersebut.
"barang-barang nya mau dibawa kemana?"
Tanya Reza kepada istrinya karena saudara laki-laki dari istrinya itu sudah mengangkut beberapa barang dari rumah ini untuk ditempati Reza bersama istrinya yang bernama Dinda.
"Mira, apa yang kamu lakukan? kenapa barang-barang itu kamu angkut juga?"
"mas, tenang dong. sudah beberapa bulan Mira tidak mendapatkan nafkah dari mas Reza. wajar dong kalau barang-barang dirumah ini Mira pakai.
Mira butuh barang-barang ini, kamu itu pilih kasih mas, ngak boleh gitu dong mas."
Ucap Mira dan setelah itu pergi bersama ketiga saudara laki-lakinya serta Jack anak mereka.
"Ririn....
apa yang kamu lakukan terhadap Papa mu, kamu benar-benar hebat sekarang. dasar anak saiko."
ucap Reza yang berbicara dengan dirinya sendiri, lalu Ia berusaha untuk bangkit kembali.
__ADS_1
"kenapa sertifikat tanah itu ada sama Mira? sudah jelas-jelas mama sudah menghibahkan tanah itu ke atas Ririn.
Karena Ririn adalah cucu kesayangan mama, tapi sertifikat tadi masih atas almarhumah mama.
Tunggu dulu, sertifikat itu kemudian digadaikan oleh mama nya anak-anak karena almarhumah mama sakit keras.
Jelas-jelas itu atas nama Ririn, sebab saya dan mama Ririn yang menandatangani aplikasi peminjamannya.
Pasti ada yang salah ini, pasti Mira di jebak oleh Ririn, itu sudah pasti."
Reza berbicara sendiri, dan kemudian meraih handphone nya dan mencari kontak Mira.
"jawab panggilan telpon Mira..... ini penting Mira....."
lagi-lagi Reza bicara dengan dirinya sendiri, dikala Mira tidak menjawab panggilan telepon darinya.
Karena telpon darinya tidak dijawab oleh Mira, dengan bergegas Reza langsung naik ke mobil untuk pergi ke rumah yang dimaksud oleh Mira.
Rumah kedua ditempati oleh Sonia, istri yang lain dari Reza. rumah yang ketiga ini Reza tempati bersama Dinda.
Sementara rumah yang ditempati Ririn dan mamanya sudah di jualnya untuk modal menikahi Dinda yang hamil duluan.
Reza mencoba menelpon Dinda lagi, tapi tidak aktif. sudah mulai gusar dan kwatir tapi belum juga mendapatkan kabar dari Mira.
Tapi Reza harus ke rumah sakit, karena pihak rumah sakit sudah memintanya untuk kembali.
Sesampai di rumah sakit, Reza begitu terkejut karena bapak-ibu mertuanya dari Dinda datang membawa empat orang pengacara.
Tujuannya adalah untuk membuat kesepakatan, jika Dinda meninggal maka anaknya akan di asuh oleh bapak-ibu mertuanya dan rumah yang ditempati oleh Reza bersama Dinda akan menjadi milik anak Reza dan Dinda yang masih dalam inkubator.
Ternyata Dinda semakin kritis, dan biaya perawatan yang bertambah harus segera di dilunasi minimal setengah dari biayanya.
Terkuras sudah tabungan Reza, karena Dinda harus menjalani operasi. karena terjadi komplikasi di dalam organ vitalnya.
Reza sudah menandatangani kesepakatan dengan mertuanya, ada alasan tertentu yang membuat nya bersedia menandatangani perjanjian tersebut.
Secara bersama-sama Reza dan bapak-ibu mertuanya menunggu di depan pintu operasi, sebab Dinda berada di dalam ruang operasi.
__ADS_1
Rasanya sangat lama sekali menunggu, akhirnya dokter bersama asistennya keluar dari ruang operasi dengan wajahnya yang terlihat muram.
"Terjadi pendarahan yang hebat dan kompliasi akibat terbentur dengan benda keras yang membuat pasien tidak mampu bertahan di meja operasi."
Ucap dokter itu, ibu mertua Reza langsung lemas dan akhirnya pingsan.
Sementara Reza dan bapak mertua nya terduduk di lantai dengan begitu lemas, petugas medis langsung membopong tubuh ibu mertua Reza untuk mendapatkan pertolongan medis.
"kamu sudah berhasil menghancurkan keluarga Ku, kamu sudah berhasil membuat Dinda pergi untuk selamanya."
Ucap bapak mertuanya kepada Reza, lalu datang seorang pria yang berpakaian elegan menghampiri Reza dan bapak mertuanya yang masih duduk di lantai.
"pak Reza, saya sudah membawa hasil DNA bayi bapak. hasil tes mengatakan kalau bayi itu bukan anak bapak."
Reza menerima hasil DNA tersebut dan memastikannya dengan cermat, sorot matanya langsung berubah menjadi marah dan kemudian mengambil paksa dari bapak mertua nya perjanjian yang baru Ia ditandatangani.
"putrimu yang pela**r, dan dia tidak mendapatkan ini semua, anak dalam inkubator itu bukan anakku tapi anak orang lain hasil hubungan gelap putrimu bersama laki-laki lain."
Bapak mertua Reza langsung memeriksa hasil tes DNA itu, sementara Reza mengoyakkan dokumen perjanjian tersebut.
Lalu Reza membawa bapak mertua nya kehadapan administrasi, dan memaksa mertua untuk tetap berdiri dihadapan administrasi.
"biaya perawatan bayi dalam inkubator itu, dan jika sisa pembayaran perawatan Dinda, serta hal-hal lainnya. akan dilunasi oleh si tua bangka ini."
Ucap Reza dengan begitu lantang, lalu pergi dari tempat itu dan kini Reza sudah berada di mobilnya.
Beberapa menit kemudian, Reza sudah tiba di rumahnya. rumah yang ditempatinya bersama Dinda.
Reza membuang semua barang-barang milik istrinya dan mengumpulkan barang-barang tersebut di tempat sampai.
Semua emosinya meluap, cinta dan perjuangan terhadap Dinda harus dibalas dengan penghianatan.
Reza merasa kecewa, tapi yang membuat nya kecewa sudah pergi untuk selama-lamanya menghadap PenciptaNya.
Setelah yakin semua barang-barang milik Dinda istrinya terbuang ke tempat sampah, Reza kemudian terduduk lemas di sofa ruang tamu itu.
Air matanya mengalir seketika, lalu dia menghubungi Sonia. istrinya yang lain, tapi tidak aktif begitu juga dengan Mira.
__ADS_1
Benar-benar kecewa dengan hidup nya dan Reza langsung teringat kepada putrinya yaitu Ririn.