CINTA SUAMI PSIKOPAT

CINTA SUAMI PSIKOPAT
Awal Petaka.


__ADS_3

Keadaan sudah kondusif dan pihak berwajib tidak berhasil melacak pembunuh bayaran yang disewa oleh ibu Tifani.


hari berganti hari dan..


tiga bulan telah berlalu...


Akan tetapi Riko tidak konsultasi lagi demikian juga dengan istrinya.


Kini Ririn dinyatakan hamil oleh dokter, dan Riko semakin protektif terhadap Nya.


"Ririn ya."


Ujar seorang pria yang mungkin seumuran dengan Ririn, pria itu menyapanya saat Ririn berada di sebuah permainan anak-anak saat dirinya bersama Adit.


"iya, kamu siapa?"


Pria itu tersenyum lalu menjulurkan tangannya ke arah Ririn untuk bersalaman dan Ririn pun menjulurkan tangannya untuk menyambut Nya.


"saya Fikri, saya adalah sepupu mu. kakek kita kakak beradik.


oh saya juga datang kemari bersama mama dan papa serta calon istriku."


Ririn hanya bisa bengong, karena selama ini dirinya tidak mengetahui sisilah Papa nya.


Laki-laki yang bernama Fikri itu mengajak Ririn dan adiknya ke suatu restoran, katanya orangtuanya Fikri sedang makan di sana.


Betapa terkejutnya Ririn ketika melihat papanya Fikri sangat mirip dengan Papa Nya yang sudah menjadi almarhum.


Sambutan mereka sepertinya tidak bersahabat dengan Ririn dan adiknya, seperti ada dendam yang tersirat dari keluarganya Fikri.


"oh jadi ini anaknya Reza? papa mu sudah mati kan?


itulah akibatnya jika rakus, Reza dan mama nya sama-sama rakus dan tidak tahu diri.


iya begitu mati dan bangkai nya pun tidak tahu ada dimana.


Dari berita kami mengetahuinya dan kamu juga sudah jadi orang kaya.


Saya harap kamu membayar lahan yang telah di jual Reza bersama ibunya.


Kamu kan sudah kaya, saatnya kamu membayar atas apa yang telah di perbuat oleh papa mu yang biadab itu."


Perkataan dari Papa nya Fikri begitu tajam kepadanya, padahal ini adalah pertemuan pertama mereka yang sudah disuguhi dengan pembayaran yang tidak diketahui oleh Ririn.


"uhmmm.....


om mintak aja sama Papa, oh iya. semua hartanya sekarang masih di tangani oleh pihak berwajib.


kalau mau ambil aja, karena pihak berwajib menunggu para waris dari Papa.


Sementara aku dan adikku ini sudah putus dengan Papa.

__ADS_1


Itulah sebabnya kami tidak bisa mengklaim sebagai waris Nya."


Jawab Ririn terhadap pria paru baya yang bermulut pedas itu.


"disini mas...."


Adit memanggil Riko sembari melambaikan tangannya ke kakak iparnya itu.


Wajah Riko yang awalnya tersenyum ketika Adit melambaikan tangan ke arahnya, kini berubah menjadi emosi ketika melihat tatapan dari kedua orangtuanya Fikri.


"kenalin, nama saya Bella."


Perempuan yang dikenalkan oleh Fikri sebagai calon istrinya, mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Riko.


Dengan genit nya yang mencoba terang-terangan ingin menggoda Riko, padahal Fikri ada dihadapannya.


akan tetapi Riko tidak menoleh nya, dan terkesan mengabaikan perempuan yang genit itu.


Ririn hanya tersenyum kecut melihat betapa genitnya perempuan yang bernama Bella itu, sementara kedua orangtuanya Fikri masih memasang raut wajahnya yang kesal terhadap Ririn.


"jadi kamu suaminya yang kaya raya itu? sebagai suaminya, saya mintak kamu membayar atas lahan yang telah di jual oleh papa mertua mu.


lahan itu milik saya yang dijual oleh Papa mertunya yang tidak tahu diri itu."


"dasar pengemis, sekali lagi kalian mengganggu istiku, habis kalian saya buat.


Istriku tidak ada hubungannya dengan keluarga pengemis seperti kalian."


"Saya akan menggugat kalian, dan ingat. saya akan membuat kalian menyesal karena telah kurang ajar terhadap saya."


"pa... udah dong, kenapa bukan sama om Reza nuntut nya? kenapa harus sama sama mbak Ririn.


Sana sama om Reza nuntut nya, lagian mbak Ririn sudah bilang kalau harta om Reza di tahan oleh pihak berwajib karena menunggu ahli warisnya.


Lebih baik papa ngaku sebagai waris Nya, dan mudah-mudahan bisa meraup semua sisa hartanya."


Fikri terlihat kesal melihat papa nya, dan Riko langsung menggendong adik ipar nya yang kecil itu dan meraih tangan istrinya.


"mau kemana? dasar anak tahu sopan santun."


Ucapan dari papa nya Fikri membuatnya menurunkan Adit dari gendongan nya lalu mendekati papa nya Fikri.


"saya peringatkan kamu ya, jangan sampai kamu dan keluargamu menghilang dari muka bumi ini."


"selama kalian tidak mengembalikan harta kami yang telah di rampas oleh ayah dari Istrimu itu, saya tidak akan pernah tinggal diam.


Cukup dulu saya di tipu oleh mertuamu, sekarang saya membalasnya."


Tanpa tanggapan dari Riko, lalu kembali menggendong Adit dan meraih tangan istrinya.


Berjalan dengan cepat dan mereka bertiga langsung pulang ke rumah.**

__ADS_1


Sesampainya di rumah Riko langsung meraih handphonenya dan terlihat sibuk menghubungi seseorang.


Selesai menelpon lalu Ririn menghampiri suami nya dan langsung memeluknya erat tubuh suaminya dari belakang tubuhnya.


"mas ....


udah ya mas, jangan terlalu dibawa ke dalam hati. ngak usah di balas ya."


Riko membuka tangan istrinya dan kemudian berbalik badan dan tatapan mereka saling bertemu.


"awalnya seperti ini sayang, dan semuanya berakhir dengan duka dan luka. berakhir dengan kematian, harta benda yang lenyap dan trauma yang dalam.


Mas tidak ingin terulang lagi, jangan ada lagi Brayan yang baru.


Bisa-bisa kejadian yang lebih besar dan luka yang sama akan terjadi, lebih baik mencegah daripada mengobati.


Mas ngak rela jika orang-orang mas cinta, kamu, ibu, Adit dan lainnya.


mas ngak mau kehilangan untuk kedua kalinya, mas ingin kita menua bersama-sama dengan cinta dan kasih sayang."


Ririn hanya membalasnya dengan memeluk suaminya, tidak ada yang bisa di ucapkan nya dan hanya bisa terdiam.


Ciuman di keningnya yang hangat dari suaminya yang begitu mencintainya.


"mas mau keluar dulu, jangan pergi kemana-mana, jaga diri baik-baik. mas ngak akan lama kok."


"hati-hati ya mas, ingat kalau kita berdua sedang menunggu kelahiran anak kita ini."


Hanya ciuman mesra di kening istrinya yang membuat ketenangan bagi Ririn.


Lalu Riko berjalan ke arah luar dan kemudian menutup pintu.


"kak...."


Begitu terkejutnya Ririn ketika mama nya memanggil nya dari belakang.


"mama...."


Tatapan mama nya terhadap Ririn yang terlihat sangat penasaran terhadap ekspresi Ririn lalu memegang tangan putrinya itu dengan erat.


"siapa lagi pengganggunya kak? apa ngak cukup Papa mu yang mengganggu kita?"


"Ririn bingung ma, tadi ada laki-laki yang bernama Fikri dan mengaku sebagai sepupuku.


memang papa nya sangat mirip dengan papa, katanya Papa dulu merampas harta mereka."


"Kamza......"


Ucap mama nya, dan hal itu membuat Ririn heran sekaligus penasaran.


Sepertinya mama nya mengetahui tentang jati dirinya Kamza, yang mengaku sebagai sepupu dari Papanya.

__ADS_1


__ADS_2