CINTA SUAMI PSIKOPAT

CINTA SUAMI PSIKOPAT
Penghianat


__ADS_3

POV Riko.**


Ririn menghapus air mata mpok Ina, lalu mereka berpelukan untuk menguatkan hati. tapi anehnya air mata Ririn juga mengalir dan mereka berdua saling menghapus air mata.


"Mpok Ina tahu kenapa Ririn bisa melupakan kenangan masa lalu?"


Riko dan Asep kemudian menoleh ke arah mereka berdua, setelah pertanyaan dari Ririn.


"Mpok tidak tahu pastinya, dan ini berdasarkan cerita dari mama mu, bahwa kamu nak membawa suami mu yang sudah lemas ke klinik dekat rumah mu saat itu.


Nak Riko kamu letakkan di dalam grobak lalu kamu menggulingkan nya ke arah rumah. kemudian Ririn minta tolong ke mama mu untuk membawa Nak Riko ke klinik.


Setelah nak Riko diselamatkan oleh tenaga medis di klinik tersebut, papa mu mengurung mu di kamar.


Itu tanpa alasan dan hanya Papa mu yang tahu alasan dan sejak saat kamu menjadi pendiam.


Hanya itu yang Mpok ketahui dan lebih lengkapnya nak Ririn tanya ke mama ya."


"bagaimana dengan kalung berinisial RR ini mpok?"


"entahlah nak, dan itu jelas diketahui oleh Mama mu."


Sejenak mereka terdiam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"apa penyebab suami mpok meninggal?"


Asep bertanya yang mengakhiri lamunan mereka masing-masing.


"dibunuh oleh orang suruhan Herman, karena berusaha melindungi kedua flashdisk itu. dan itu satu-satunya bukti yang bisa menyeret mereka ke penjara."


"kenapa mpok selalu menghindari pandangan dariKu."


Mpok Ina menatap serius ke arah Riko, dan air matanya mengalir lagi.


Mpok takut jika kamu kambuh lagi, jika mpok terlalu dengan mu nak, pastinya kamu akan bertanya kenapa kamu seperti ini.


Nak Riko akan berubah sikap dan perilaku, marah-marah dan menyakiti orang lain dan menyakiti dirimu sendiri."


"Mpok tahu penyebab apa?"


"setelah nak Riko pulang dari klinik itu, perlahan-lahan sikap dan perilaku mu berbeda."


"emangnya apa terjadi sebelumnya? dan dimana aku di sekap mpok?"


"tidak tahu, nak Ririn lah yang membawa mu ke klinik itu.


Saat ini mama Ririn dan adik nya pasti dalam bahaya, tolong bawa mereka kemari.


Dibelakang rumah ini masih ada vila dan bisa menjadi tempat yang aman untuk mereka berdua."

__ADS_1


"tenang mpok, ibu dan adik sudah berada di Apertemen jaya."


"tidak bisa nak, disana masih beberapa penghianat. dulu juga anak-anak Mpok di tempat kan di sana tapi pada akhirnya mereka di sekap."


Tiba-tiba saja handphone milik Asep berdering dan pembicaraan mereka berhenti.


'oke silahkan bawa kemari.'


itulah kalimat terakhir sebelum hubungan telepon genggam tersebut berakhir.


"mas, Mbak. benar kata Mpok Ina. Apertemen itu ngak aman.


anggota kita sudah membawa ibu dan Adit ke sini, sebentar lagi akan tiba."


"apa yang terjadi?"


Dengan penasaran dan juga raut wajahnya yang kwatir Ririn bertanya kepada Asep.


"mbak Ririn tenang ya, ibu dan Adit selamat tanpa ada kekurangan apapun.


Tadi ibu dan Adit hendak di serang segerombolan orang, tapi anggota kita sudah berhasil menyelamatkan ibu dan Adit.


Sekarang pihak keamanan Apertemen sedang memeriksa rekaman sisi tv, untuk mengetahui siapa pelakunya."


Ririn tidak yakin dengan keamanan dari pihak apertemen, dengan kejadian ini pasti sudah ada kongkalikong dengan pihak keamanan.


Ririn langsung keluar ruangan dan tidak berapa lama sudah datang membawa laptop dan notepad ditangannya.


Mereka sejenak terdiam dan serius memperhatikan Ririn yang sibuk dengan laptopnya.


"apa yang kamu lakukan?"


Riko bertanya kepada istrinya ketika Ririn berhenti mengetik di keyboard laptop tersebut.


"Ririn ngak percaya dengan pihak keamanan Apertemen tersebut mas, dan Ririn membobol sistem kemanan yang berusaha di hapus.


Lihat ini mereka yang datang dari basemen mas, dan orang-orang ini yang pernah Ririn lihat di rumah sakit mas."


Ririn memperlihatkan tampilan sisi tv yang sudah di pause kepada Riko dan Asep, terlihat Mpok Ina juga penasaran.


"iya ini orang-orang yang sama yang menyerang anak-anak Mpok di Apertemen itu, saat itu anak mpok berhasil merekam aksi mereka dan semuanya ada di kamera ini."


Mpok Ina berkata demikian lalu menyerahkan kamera digital jadul kepada Riko.


Memang sesuai orang-orang dalam video serta rekaman sisi TV yang dibobol oleh Ririn, bedanya orang-orang yang ada di tampilan kamera dari Mpok Ina terlihat jauh lebih muda.


Asep langsung memeriksa handphone nya lalu memeriksa notebook yang biasa dibawa nya.


Pom....pom.....

__ADS_1


Terdengar suara klakson mobil dari luar, dan tidak berapa terdengar suara Adit memanggil kakak nya.


Ririn langsung keluar dari ruangan, dan akhirnya bisa memeluk adiknya lalu memeluk mama nya.


"kak.....


"iya dek, tenang ya. kakak bersama Adek sekarang, tenang ya sayang."


Ririn berusaha menenangkan adiknya tapi Adit tidak terlihat ketakutan.


"om-om tadi itu teman-teman Papa."


"Adit tahu dari mana sayang?"


"iya, Adit pernah melihat papa bertemu dengan om-om itu. waktu itu di persimpangan jalan ke alah lumah kita kak.


kemalin saat di lumah cakit, Adit dan mama kan jalan-jalan keliling kalna bocan.


Nah Adit liat papa lagi ngobrol dengan om-om tadi, itu juga Adit lekam Video handphone mama."


Mama Ririn langsung menyerahkan handphone kepada Riko, lalu jongkok untuk ngobrol dengan Adit.


"Adit kok ngak cerita sama mama sayang?"


"ngak mau ma, kalna mama akan menangis jika beltemu dengan Papa.


Adit ngak mama menangis lagi, kakak kan kelja dan Adit beltugas menjaga mama.


Adit ngak mau mama menangis lagi kalau ketemu dengan Papa."


Mendengar penuturan Adit yang masih cadel, Ririn dan mama berusaha untuk menahan tangisnya.


"Adit.....


yuk kita duduk sofa aja ya, Mpok udah buat susu coklat yang enak dan juga puding coklat yang enak."


"hole.....


telima kasih mpok, kak, mas, yuk kita makan puding."


Adit menarik tangan Riko dan tangan kakaknya, sementara Asep dan Mpok Ina menuntun mamanya Ririn menuju sofa.


Adit sudah terlihat jauh sehat, wajahnya sudah terlihat seperti sediakala. Mpok Ina menyupai Adit makan puding buatan.


Mama Ririn terlihat ingin ngobrol, tapi di tahan oleh Riko dengan memberikan kode menempelkan jari di bibirnya.


Mereka tidak ingin Adit mendengarkan penjelasan ini semua, karena takutnya Adit akan trauma.


Adit baru sembuh setelah operasi pengangkatan tumor di kepalanya, dan kemudian menjalani serangkaian kemoterapi.

__ADS_1


Riko mengalami trauma di masa lalunya, dan dia tidak ingin adik iparnya itu sama seperti nya.


Mereka berpura-pura tersenyum kepada Adit yang Asyik makan puding, sementara Asep sibuk memeriksa handphone yang diberikan mama nya Ririn melalui Riko.


__ADS_2