
Setelah tenang mereka berdua kembali duduk di kursi dan saling menoleh, wajah sendu dan kecantikan mama nya Ririn yang masih jelas terlihat dari wajahnya menatap Putrinya.
"tadi Papa datang ke kampus bersama istri barunya yang dalam keadaan hamil besar.
Papa meminta Ririn untuk mencabut laporan pengaduan terhadap Nina.
Orangtuanya Nina sudah menskorsing Papa dari kantor karena Nina sudah di penjara, papa akan masuk kerja lagi kalau Nina sudah keluar dari penjara."
"jangan cabut laporan itu kak, biar Papa tahu gimana rasanya jadi pengganguran."
"tidak akan ma, perempuan itu harus merasakan bagaimana sakit nya tidak mendapatkan nafkah.
Perempuan itu benar-benar pelakor ma, tadi ada juga teman Ririn dimana Papa nya berselingkuh dengan perempuan itu dan menguras harta Papa nya."
"ya sudahlah kak, mama bisa mendengar tentang papa mu.
Kakak mandi lalu istrihat, karena nanti sore nak Riko akan datang membawa Profesor David untuk melakukan wawancara."
"iya ma, Ririn masuk kamar dulu ya ma."
Mama nya tersenyum seraya mengganguk kepada Ririn, dengan langkah yang pelan Ririn berlalu menuju kamarnya.**
Selesai makan bersama, Riko menuntun semuanya masuk ke ruangan privat tersebut.
Riko beserta istrinya, mama nya Ririn dan mpok Ina. sudah duduk rapi di sofa yang terdapat di ruangan tersebut.
Profesor David bersama Asistennya yang bernama Johan, sudah duduk mendampingi Profesor David dengan buku catatan yang di pegang nya.
"baik bisa kita mulai?"
Profesor David bertanya dengan yang mengawali wawancara yang akan berlangsung.
"bisa prof."
Tanpa ragu dan dengan kompaknya mereka menjawab pertanyaan dari Profesor David.
"saya mulai dengan ibu Risah, ibunda dari Nak Ririn.
Nak Ririn sudah menjelaskan akan apa yang di alaminya, mulai dari nak Ririn ketakutan melihat Papa Nya.
Tolong ibu ceritakan pengalaman masa kecil dari nak Ririn."
"baik prof.
__ADS_1
Semua berawal ketika Ririn membawa nak Riko menggunakan grobak, singkat cerita aku kerja untuk pertama kalinya di rumah ini.
Ririn yang tinggal di rumah, dan sore harinya. aku hampir pingsan melihat keadaan Ririn yang lemas dengan badannya yang penuh memar dan luka.
Berdasarkan pengaduan tetangga, Papa nya yang melakukannya. saat itu Papa nya Ririn langsung pindah tugas, sehingga aku susah melacaknya di tambah lagi waktuku yang tersita karena merawat Ririn.
sejak saat itu Ririn menjadi pendiam dan suka menyendiri, setiap kali melihat orang dewasa pasti ketakutan.
Berkat pertolongan almarhumah ibu Nadia yaitu mama nya nak Riko yang memperkenalkan ku dengan psikiater khusus anak.
Perlahan Ririn mulai bisa beradaptasi dan mulai hidup normal layaknya anak-anak seusianya.
semua kenangan masa kecilnya ku letakkan dalam gudang termasuk yang bersangkutan dengan Papa nya demi masa Ririn."
"oh begitu, apa ibu menyimpan rekam medisnya nak Ririn?"
Ibu Risah yaitu mama nya Ririn memberikan rekam medis milik Putrinya, dan hal membuat Johan asisten Profesor David merasa agak heran karena masih menyimpan rekam medis putri nya.
"mohon ibu, sangat jarang sekali orang tua pasien menyimpan rekam medis seperti yang ibu lakukan ini.
apa yang membuat ibu masih menyimpan rekam medis ini dengan baik?"
Terlihat Profesor David menyadarinya, lalu berhenti membaca rekam medis tersebut dan menoleh mama nya Ririn.
Ririn terkadang menangis ketika sudah tidur, dan itu terjadi ketika Ririn kelelahan setelah beraktivitas satu harian.
Tapi setelah saya jarang menangis dan berani melawan papa nya, Ririn tidak pernah lagi menangis walaupun Ririn lelah dan sebanyak apapun aktivitas Nya.
Itulah sebabnya kenapa rekam medis itu saya simpan, mudah-mudahan bisa membantu Ririn kelak nanti nya."
"okey...."
ujar profesor David dan terlihat Johan yang bertanya mengganguk kepala pertanda pertanyaan sudah terjawab.
"lalu kenapa ibu tidak meneruskan konsultasi kepada psikolog tersebut?"
Johan bertanya lagi kepada mama nya Ririn, lalu mama nya Ririn mengapa putrinya.
"keadaan berubah pak, ada saja masalah yang membuat ku susah untuk melanjutkannya, sebagai alternatifnya, Ririn hanya saya jauhkan dari Papa nya. itulah sebabnya Ririn lebih banyak di rumah ini dan saat itu nak Riko sangat perduli terhadap Ririn.
setelah beranjak dewasa, Ririn tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, dan nak Riko keluar negeri untuk melanjutkan pendidikan.
karena Ririn sudah bisa beradaptasi dengan baik dan hal untuk melanjutkan konsultasi akhirnya tidak terbayangkan lagi.
__ADS_1
tapi ada yang aneh pak, Ririn sama sekali tidak mengingat nak Riko. demikian juga dengan nak Riko.
Mereka berdua saling berjauhan, setelah nak Riko pulang dari luar negeri sikapnya berubah menjadi orang lain."
"tapi setiap kali Ririn ke sini menjemput mama nya, nak Riko selalu memandangi nak Ririn dengan wajah nya yang berseri-seri.Mpok sering kali melihatnya, tapi Mpok tidak berani untuk menegur nak Riko. karena perubahan sikapnya yang seperti orang lain."
Timpal Mpok Ina yang menyahut omongan dari mama nya Ririn.
"begitu ya mpok, lalu bagaimana dengan Ririn?"
"setelah beranjak dewasa, Ririn tidak tinggal lagi di rumah ini.
sejak saat itu Ririn tidak mengenal mpok lagi, nak Ririn dan nak Riko berubah menjadi pribadi yang lain.
Seperti ada jarak diantara kami, padahal dulunya kami sangat begitu akrab.
Kami tidak saling menegur dan hal ini karena....."
Mpok Ina melirik Riko dengan raut wajahnya yang penuh kebimbangan.
"lanjut aja mpok, biar Profesor David dan Johan bisa menganalisa nya. seberat apapun dan sepedih apapun itu, ceritakan semua mpok."
Riko menjawab kode keraguan dari Mpok Ina, lalu kemudian menoleh ke arah Profesor David dan Johan.
"kami tidak saling menegur karena Papa nya nak Riko yaitu pak Herman.
Mpok dan mama nya Ririn akan di imintidasi dan diperlakukan kasar oleh pak Herman jika kami menegur nak Riko."
"kenapa seperti itu Mpok?"
Johan bertanya lagi, dan lagi-lagi Mpok Ina menolah Riko dengan keraguannya.
Riko mendekati Mpok Ina dan memeluknya, seketika itu juga air mata Mpok Ina mengalir di pipinya.
Profesor David dan asisten yaitu Johan menoleh mpok Ina yang dipeluk oleh Riko.
Terlihat Profesor David menulis sesuatu di buku catatannya demikian juga dengan Johan.
Ahli psikolog tersebut seakan-akan mendapatkan jawaban akan pelik nya pribadi yang berbeda dari ke-dua pasiennya.
Johan memberikan teh kepada Mpok Ina, dan teh yang disuguhkan itu langsung di teguk oleh Mpok Ina.
Johan kemudian tersenyum ke arah mpok Ina dan berusaha menghibur Nya, tujuannya adalah agar bisa dengan tenang menceritakan masa lalu dari kedua pasien tersebut.
__ADS_1