
Riko dan istrinya sudah keluar dari klinik dokter Imran dan sudah berada di dalam mobil.
"mas, hari ini Ririn mau menghadap ke dosen pembimbing untuk meneruskan skripsi."
"mau mas temani?"
"tidak perlu mas, yang penting nantinya Ririn dijemput dan kalau bisa mas yang jemput."
"iya."
muach......
Ririn langsung mencium suami nya karena kata iya dariNya, Riko hanya tersipu malu karena ciuman dari istrinya itu.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang dan akhirnya Ririn tiba di kampus, setelah salin terhadap suami lalu Ririn masuk ke dalam kampus.
Bu Lita adalah dosen pembimbing utama Ririn dan sudah selesai konsultasi dengan beliau, tidak perlu revisi dan hanya perlu memberikan bab berikutnya.
Hal yang membuat Ririn tersenyum bahagia lalu kemudian menemui pak Arif di ruang dosen yang baru selesai kelas mengajar Nya.
"kamu memang hebat nak, bapak kagum dengan skrip mu ini.
Bapak tunggu bab selanjutnya, ngak perlu repot-repot seperti inilah. cukup kirimkan via email aja.
tapi nak Ririn harus tetap tatap dengan ibu Lita, dan juga paraf kami berdua sudah lengkap silahkan menghadap pak Leo."
"siap pak, terimakasih atas waktu bapak. kalau begitu Ririn mohon pamit pak."
Dengan wajah yang berseri-seri Ririn pamit ke pak Arif, rencananya ingin pergi ke perpustakaan untuk menambah referensi skripsinya.
"Ririn, syukurlah ibu bisa bertemu denganmu disini."
"ibu Sari kan bisa WhatsApp Ririn, kan Ririn sudah memberikan nomor terbaru Ririn ke ibu. kenapa ibu harus repot-repot nyariin Ririn seperti ini?"
"ngak kepikiran nak, karena papa ku tuh yang ngomel-ngomel di ruangan ibu. yuk ikut ibu ke ruangan."
Ririn hanya mengikuti Bu Sari kepala disipliner kampus ke ruangan, sesampai di ruangan Bu dari lalu membawa Ririn ke sebuah ruangan dimana Papa nya Ririn bersama seorang wanita yang sepertinya hamil besar duduk dengan raut wajahnya yang kesal.
"pak Reza, ini putri anda. kalau ada masalah keluarga tolong jangan bawa-bawa ke kampus dan jika hal ini terjadi, saya tidak akan segan-segan melapor ke pihak berwajib, permisi....."
__ADS_1
Dengan nada kesal Bu Sari, pergi meninggalkan mereka bertiga di ruangan tersebut.
Ririn langsung duduk di kursi yang berjarak dari papanya serta wanita yang terlihat seperti hamil besar.
"gara-gara kamu, sekarang Nina sudah di tahan Polisi atas pencemaran nama baik. dan papa sudah diskorsing dari kerjaan sebelum Nina lepas dari penjara.
Ririn, kenapa kamu begitu kejam? lihatlah sebentar lagi adik mu akan lahir. calon adik mu adalah laki-laki berdasarkan berapa kali USG oleh dokter kandungan.
Bagiamana Papa akan membiayai hidup mama ini dan calon adik mu ini?"
"itu urusan Papa dan istri mu itu, demikian juga dengan mama. toh juga mama mampu merawat dan menafkahi Ririn dan Adit tanpa Papa.
Istri baru mu itu kan perempuan juga, tidak ada bedanya dengan mama. suruh dong kerja sebagaimana Papa menyuruh mama kerja untuk kebutuhan kami, biar adil loh pa."
"jangan kurang ajar kamu Rin, ini calon Adikmu. dan calon Adikmu ini laki-laki penerus papa."
"apa urusannya sama Ririn, sekalipun emas berlian yang di kandung oleh istri mu itu dan itu bukan urusan Ku.
Papa harus ingat, kalau papa sudah memutuskan hubungan dengan Ririn, mama dan Adit. terus ngapain papa menemui Ririn lagi?"
"Ririn, kamu jangan ajar. jangan egois."
Dengan nada yang tinggi, Papa nya Ririn berkata demikian karena perkataan dari Ririn yang tidak memahami keadaan nya.
"Ririn, jaga mulutmu."
"istri papa ini perempuan baik-baik dan terhormat."
"mana perempuan baik-baik nan terhormat menjadi pelakor."
Dengan berurai air mata, Ririn membentak papa nya balik dan mengatai pelakor istri baru Papa nya itu.
"Bagas itu kekasih mu kan? dan mama nya sudah merestui hubungan kalian. bahkan papa sudah menerima pinangan dari Bagas berikut dengan hantaran Nya."
"gila benar ya, sudah jelas-jelas papa tahu kalau Ririn sudah menikah. tapi Papa masih bisa menerima pinangan dari Bagas."
"Bagas itu cinta sama kamu nak, dan Bagas sudah banyak membantu Papa dalam hal keuangan.
Papa berhutang Budi kepadanya, jadi papa mohon bercerai lah suami mu itu. suami itu sakit jiwa."
__ADS_1
"bukan suamiku yang sakit jiwa tapi Papa yang sakit jiwa."
Ririn langsung keluar dari ruangan tersebut tapi Papa nya mengejar nya yang dikuti oleh ibu tirinya yang sedang hamil hingga keluar ruangan.
"Ririn, tolong dengarkan nasihat Papa. tinggalkan suami mu, lalu menikah dengan Bagas dan cabut gugatan terhadap Nina calon adik ipar mu."
"jangan harap Pa, dan jika Papa masih mengganggu Ririn dan mama, aku tidak akan segan-segan menyeret papa ke penjara."
auh....... sakit setan.....
Ibu tirinya Ririn hendak menampar Ririn tapi tangan nya di plintir oleh Ririn dan merintih kesakitan.
"lepas bangsat, dasar anak durhaka."
ujar ibu tirinya dengan mengatai Ririn dengan makian dan akhirnya tangan tersebut dilepas oleh Ririn dan para mahasiswa mulai berkerumun.
"pelakor, teman-teman sekalian. wanita yang sedang hamil ini adalah pelakor, dia menggoda Papa karena punya banyak uang, papa ku ini adalah manajer di bank dan pelakor ini menggoda Papa."
"saya bukan pelakor anak durhaka, perkawinan kami sah."
"sah, bagiamana perkawinan dianggap sah tanpa ijin dari Istri pertama.
eh pelakor, mama dan papa baru aja membuat gugatan perceraian di pengadilan setelah melihat kau hamil seperti ini.
Masih mau bilang kalau pernikahan kamu sah, apa catatan perkawinan bisa mencatat dua Istri sekaligus?"
plak....plak .... plak...plak....
Tiba-tiba saja ada mahasiswi cantik dengan raut wajahnya yang penuh amarah menampar wanita hamil yang bersama Papa nya Ririn.
prak....... plak.....
Perempuan hamil tersebut jatuh karena di tendang oleh mahasiswi itu dan kemudian menuntunnya untuk berdiri dan lagi-lagi di tampar olehnya.
Seketika papa Ririn bertindak untuk melerainya tapi di hadang oleh beberapa mahasiswa.
"sekarang kamu jujur, yang kamu kandung ini anak siapa? apakah ini anak dari Papa ku, Yunus Prayoga atau anak dari pria yang tidak tahu diri itu?"
Wanita yang bersama Papanya Ririn terdiam dan meringis kesakitan, karena diam hingga di tampar ulang oleh mahasiswi cantik itu lagi.
__ADS_1
"ini anaknya mas Reza, papa kamu itu sudah Vasektomi. memang benar saya sudah beberapa kali berhubungan dengan Papa mu."
Vasektomi adalah Operasi kecil (Bedah Minor) yang dilakukan untuk mencegah transportasi pada testis dan alat kelamin laki-laki. Vasektomi merupakan prosedur yang sangat efektif untuk mencegah terjadinya kehamilan karena bersifat permanen.