
Dari semua kejadian yang di catat Ririn, satu hal yang membuat nya sangat penasaran.
Dirinya bukan siapa-siapa, berasal dari keluarga yang miskin, putri dari asisten rumah tangga.
Ririn bisa kuliah berkat beasiswa pemko, untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya Ririn harus mengajar privat.
Kenapa Riko memilih nya untuk menjadi istrinya?
Seketika Ririn hendak mencari informasi yang lain dari sekitar kamar, tapi dari tampilan sisi tv memperlihatkan kalau suami sudah pulang.
Dengan segera Ririn merapikan buku catatan nya ke tas ransel yang dipakainya ke kampus, selesai merapikan semua nya, Ririn berusaha tenang sembari membaca buku diktat dari kampus nya.
Tidak berapa lama Riko sudah tiba di kamar dan langsung disambut oleh Ririn, tapi raut wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun atas sambutan istrinya.
Riko langsung terduduk di kursi sembari membuka dasi yang di pakai, karena melihat hal itu Ririn berusaha membantu nya, tapi tangan Ririn dihempaskan oleh Riko.
"mas mau minum kopi atau teh?"
"ngak usah repot-repot, kamu disini bukan pembantu tapi sebagai istri Ku."
Riko menjawab pertanyaan dari istrinya dengan ekspresi seorang suami yang syahwat sudah di ubun-ubun.
Ririn yang hanya mengenakan pakaian tidur yang tipis membuat hormon pria Riko, mendadak penuh maksimal.
Riko memegang pinggang istrinya lalu berusaha mencumbui lehernya.
Ririn menerima perlakuan suami nya yang masih sebatas normal, cumbuan itu berakhir dengan ciuman di bibir merona milik istrinya.
'ahh.... ah.... ....
Ririn meringis kesakitan karena rambutnya di jambak lagi oleh Riko, dan bibir nya mengeluarkan darah karena di gigit oleh Riko.
tak... trak...tak....
Suara benda yang berjatuhan karena tersenggol oleh Ririn, yang disebabkan tubuhnya di dorong hingga ke pinggir ranjang.
Tubuh Ririn dengan posisi ***** *****, disekap kuat oleh Riko, dengan bringas membuka pakaian istrinya dengan begitu kasar sampai pakaian tersebut terkoyak.
Lagi-lagi Ririn harus berjuang untuk melawan kekerasan yang dilakukan oleh suaminya terhadap dirinya.
Sekuat tenaga terkerah hingga akhirnya Ririn mempu membalikkan keadaan, tubuh suaminya dibantingnya dengan kekuatan penuh hingga terkapar di lantai.
'ah.... ah.....
Kali ini Riko meringis kesakitan atas tubuh nya yang dibanting oleh isterinya sendiri, dan Ririn mencoba membantu nya untuk bangkit berdiri.
Riko mencoba memanfaatkan keadaan dengan menyerang Ririn, tapi itulah membuat hidung dan mulutnya mengeluarkan darah karena pukulan Ririn melayang di wajahnya secara bertubi-tubi.
__ADS_1
Hingga akhirnya Riko pingsan, dan Ririn mengangkat tubuh suaminya ke atas ranjang.
Ririn membersihkan luka pada wajah suami nya, dan kemudian membersihkan tubuh suaminya seperti yang dilakukan saat di kamar hotel malam pertama mereka.
Dengan menangis Ririn membersihkan darah dari luka itu, kemudian mengoles obat merah ke area luka.
"ya Tuhan....
sampai kapan aku sanggup menahan serangan dari suami ku ini?"
Begitu ucapan Ririn untuk dirinya sendiri, air mata yang berderai membuat hanyut dalam kesedihan.**
Pagi-pagi sekali Ririn sudah berpakaian rapi untuk bersiap berangkat ke kampus, sementara suaminya baru bangun tidur yang heran melihat keadaan nya.
Pakaiannya sudah berganti dan ada sedikit rasa perih di bibir dan hidungnya.
Tiba-tiba Riko terlihat gelisah dan seperti mencari sesuatu, dan hal itu menjadi perhatian istrinya.
"mas nyari apa? handphone? itu di atas meja."
"bukan handphone, tapi remote sisi tv itu?" jawab Riko dengan semua kegelisahan nya.
"untuk apa mas?"
"kamu baik-baik saja kan? kamu ngak ada di lukai papa dan istri barunya kan?"
"sudah dua pernikahan kita tapi kenapa notifikasi dari pemakaian kartu kredit dan debit itu belum ada?"
"i... y ... a ... mau gimana lagi mas, ngak tahu mau belanja apa? semua yang Ririn butuhkan sudah terpenuhi."
"dimana kartu kredit dan kartu debit mu?"
Ririn mengambil dompetnya dari tas ransel miliknya, dan kemudian mengeluarkan dompet lalu memberikan kartu kredit titanium serta kartu debit itu ke suami nya.
Riko kemudian mengembalikan kedua kartu produk perbankan itu, lalu memperhatikan penampilan Ririn yang sudah rapi.
"pagi-pagi begini sudah rapi, emangnya mau kemana?"
"Ririn kan sudah ngomong kemarin sama mas, Ririn mau ke kampus. karena hari ini ujian pertama akhir semester.
Mas kok bisa lupa? ya sudah, mas mandi lalu kita sarapan dan mas siap-siap berangkat ke kantor."
Ririn menarik tangan suami untuk segera mandi, dan Riko kemudian berlalu ke kamar mandi.
Tidak berapa lama, Riko keluar dari kamar mandi tanpa mengenakan sehelai benang pun, dan dalam keadaan basah.
Ririn memperhatikan sikap aneh dari suami nya, dengan begitu sabar nya. Ririn mengering tubuh suaminya dengan handuk.
__ADS_1
Riko persis seperti anak kecil, di pakai kan ****** ******** kemudian pakaian berikutnya, Ririn kemudian menyisir rambut suaminya lalu membernarkan dasi yang tidak rapi itu.
"ngak usah sok perhatian, mas bisa melakukan sendiri."
Ujar Riko, yang seolah-olah sudah kembali ke mode semula.
Riko dengan cueknya keluar dari kamar yang dikemudian di ikuti oleh istrinya dari belakang.
"sarapan dulu yuk."
Ajakan istrinya di tidak indahkan nya, tapi akhirnya nurut karena di paksa oleh Ririn.
Mpok Ina sempat tertegun melihat tuan nya yang duduk di meja makan untuk sarapan, tapi Ririn membuyarkan lamunan mpok Ina.
Selesai sarapan Riko dan suaminya beriring menuju luar rumah, dan ketika sampai di depan pintu yang sudah disambut oleh Asep asisten Riko dan pak Deden supir pribadi Ririn.
"pak Deden, pagi ini biar saya antar Istriku. pak Deden nantinya yang menjemput dari kampus dan bawa ke kantor."
"baik tuan."
Jawab pak Deden dengan singkat, Riko berangkat bersama istrinya yang di setir oleh Asep asistennya.
"terimakasih ya mas, karena sudah mengantar Ririn ke kampus."
"uhmmm."
"mas, sehabis dari kantor. Ririn ijin ya ke rumah sakit. kangen sama adek dan mama."
Riko langsung menoleh ke Ririn, dan tatapan itu terlihat aneh.
"nanti sama mas ke rumah sakit nya."
Ririn hanya tersenyum menanggapi suaminya, sementara suaminya begitu dingin terhadap.
"Asep....
lihat jalan yang benar, jangan sampai ku tendang kau dari sini."
Asep di tegur oleh bosnya itu, karena sedari tadi sibuk memperhatikan Ririn melalui kaca spion di atas kemudi nya.
"maaf pak."
Hanya itu yang di ucapkan oleh Asep, dan kemudian konsentrasi menyetir.
'pasti pak Asep memperhatikan keadaan ku yang tidak terjadi apa-apa?"
Gumam Ririn dalam hati, sebab Ririn mendengar cerita dari mama nya. bahwa mantan istri pertama dan mantan istri kedua Riko babak belur di malam pertama dan malam kedua hingga malam ke-tiga dan seterusnya.
__ADS_1