CINTA SUAMI PSIKOPAT

CINTA SUAMI PSIKOPAT
Kenangan masa Kecil


__ADS_3

Ririn semakin berkeringat padahal AC (Air Conditioning) dalam ruangan menyala, akan tetapi gemgaman Ririn semakin melemah di tangan Riko.


"ampun pa, jangan pukul Ririn lagi. Ririn ngak tahu koper ada dimana. ampun pa... ampun...."


Ririn seperti mengigau dan air matanya mengalir deras di pipinya.


Riko memalingkan wajahnya dari pandangan terhadap istrinya, Ia seperti nya tidak kuat melihat istrinya yang mengigau.


Profesor David memberikan isyarat kepada asisten nya yaitu Johan untuk mengakhiri hipnoterapi dan Johan langsung bergerak lalu menonaktifkan aliran ke arah Ririn.


Kemudian mencabut kedua alat yang tertempel di sisi ke-dua kening Ririn, setelah merapikan alat-alat tersebut, lalu Johan mematikan lilin aromaterapi tersebut dan juga AC.


Johan menghidupkan kipas penyedot suhu ruangan, dan beberapa saat kemudian suhu ruangan menjadi hangat dan bau aromaterapi lavender sudah hilang dari ruangan.


Setelah itu kipas dimatikan lalu menghidupkan AC kembali, setelah menunggu beberapa menit. Profesor David mengoleskan minyak angin di kening Ririn dan dibawah hidungnya.


Lalu secara perlahan Ririn membuka kedua matanya, melihat ke kiri lalu ke kanan.


Suaminya yang berada di samping kirinya langsung dipeluk Ririn.


Setelah agak tenang, Ririn dan suaminya di tuntun oleh profesor David untuk duduk kembali di sofa.


Johan kemudian memberikan teh kepada Ririn dan suaminya, setelah meneguk teh tersebut. Profesor David tersenyum ke arah Ririn.


"sudah tenang nak Ririn?"


Tanya Profesor David dan Ririn hanya mengganguk menanggapi pertanyaan dari Profesor David.


"apa yang di lihat nak Ririn malam itu?"


Mendengar pertanyaan dari Profesor David, lalu Ririn mengangkat pandangannya ke arah ahli psikolog tersebut.


"malam itu, seorang anak laki-laki diseret oleh seorang wanita dan beberapa pria yang berbadan besar.


Karena hujan lebat dan akhirnya Ririn hanya mengadu kepada mama dan mama hanya mengajakku tidur.


Ririn hanya pura-pura tidur karena kepikiran akan anak laki-laki tersebut.


Malam semakin larut tapi anak laki-laki itu masih dalam pikiran Ku, setelah hujan reda dan suara adzan subuh berkumandang.


Ririn memberanikan diri untuk pergi ke gudang tersebut.

__ADS_1


Dalam gudang seorang anak laki-laki yang mungkin berumur 13 tahun, terkapar lemah dengan darah yang berlumur di pakainya.


Laki-laki itu Ririn seret dan berusaha memasukkannya dalam grobak yang terdapat di gudang.


Grobak itu Ririn dorong sampai ke arah rumah dan berteriak memanggil mama.


Tiba-tiba saja Ririn sudah terkurung di dalam kamar yang masih mengenakan seragam SD (sekolah dasar).


Saat itu Papa datang lalu melepaskan tali pinggang yang dikenakan nya, kemudian memukul Ririn menggunakan tali pinggang tersebut.


Papa memukul karena sudah mencuri kopernya, dan itu selalu di pertanyakan oleh Papa.


Ririn hanya bisa menangis dan menangis lalu Papa memukul Ririn tanpa hentinya.


akhirnya Ririn melihat wajah mas Riko yang mirip dengan anak laki-laki itu. lalu memeluknya."


"itu karena nak Ririn sudah sadar kembali, dalam ingatan masa kecil itu. apakah nak Ririn melihat sumber luka dari anak laki-laki itu?"


"iya prof, seperti dari bahu kirinya. karena dari bahu kiri itu darah nya masih terlihat mengalir yang membuat pakaian nya basah."


Profesor David kemudian memeriksa bahu kiri Riko lalu duduk kembali.


"benar nak Riko, luka itu masih berbekas di bahu kiri mu. itu artinya anak laki-laki yang ada di ingatan nak Ririn itu adalah nak Riko.


Riko kemudian memeluk istrinya lalu menatap Ririn.


"benar dugaan ku selama ini, dan kamulah gadis kecil yang aku janjikan untuk Ku nikahi."


"apa maksudmu mas? apa mas bisa mengingat masa lalu juga?"


"tidak semua sayang, tapi terkadang adegan dimana mas mengucapkan janji selalu terulang dalam mimpiku.


Oh iya sayang, apa kamu ingat kenapa kamu mencuri koper itu? dan dimana kamu sembunyikan?"


"ada seseorang yang menelpon Papa dan marah-marah yang berkata koper itu sangat berharga.


Ririn mencuri koper itu karena kesal kepada Papa yang selalu memukul mama, dan koper itu Ririn sembunyikan di gudang.


Ririn hanya takut kalau koper itu ditemukan oleh segerombolan pria dan perempuan yang menyeret anak laki-laki itu.


Tapi Ririn merasa kasihan terhadap laki-laki itu dan rasanya sakit ketika diseret seperti itu."

__ADS_1


"apalagi yang nak Ririn ingat?"


Ririn menatap Profesor David dan terlihat Ia berpikir untuk mengingat yang lainnya.


"berulang kali Papa menyakiti mama, dengan cara di pukul dan kaki mama ditendang kuat oleh Papa yang menyebabkan mama berjalan miring seperti sekarang.


Mama yang dulunya cantik, kini sudah seperti nenek-nenek karena perlakuan Papa.


Ketika mama kerja, dan Papa ke rumah saat itu dan membawa seorang perempuan muda dan mereka berdua masuk ke kamar.


Sore harinya setelah mama pulang, Papa lagi-lagi memukul mama dan saat itu Ririn memukul Papa dengan sapu.


Begitu secara berulang dan perlakuan Papa yang menuntut mama untuk kembali sempurna sediakala saat mama secantik dulu saat menjadi pramugari.


Waktu SMP, Ririn melihat Papa bermesraan di suatu tempat perbelanjaan mewah di kota ini dan bukan hanya sekali dan terus berulang hingga Ririn Kuliah."


"Pengalaman mu itu yang membuat memory dan emosi mu sulit di akses di masa kini dan kamu berhasil nak memulihkan kembali ingatan itu.


Lebih lanjutnya akan saya serahkan ke dokter Imran, dan lusa jika ada waktu kita memulai dengan nak Riko."


"kenapa ngak sekarang aja prof?


Sanggah Riko kepada Profesor David, dan Profesor hanya tersenyum.


"tidak nak, tadi emosi mu cukup terkuras saat melihat istrimu demikian.


Kita perlu ketenangan untuk melakukan hipnoterapi, dan sesi kali sudah cukup dulu. untuk nak Ririn, kita akan menemui Dokter imam dari segi medis."


Riko dan istrinya beserta Profesor David menghadap ke dokter Imran, hanya Joan yang tertinggal di ruangan itu.


Kini Riko dan istrinya sudah berada di hadapan Dokter Imran dan berapa lama kemudian Johan datang dengan membawa dokumen dan menyerahkan dokumen tersebut ke dokter Imran.


Dokter Imran kemudian menatap berdua lalu tersenyum manis.


"Nanti hasil rekam medis ini akan saya pelajari, untuk saat ini hanya vitamin yang saya resep kan untuk nak Ririn.


Selanjutnya kita diskusi yang akan didampingi oleh klinis psikolog dewasa yang tentunya sudah ahli dan itu adalah Profesor David.


Saya senang sekali karena nak Riko sudah datang kemari, yang akhirnya bapak bisa menjalankan permintaan dari almarhumah Nadia.


Terimakasih ya nak Riko, karena sudah bersedia datang kemari.

__ADS_1


Sekian dulu untuk saat dan selamat beraktifitas kembali, jaga kesehatan dan jangan terlalu gegabah untuk menghadapi situasi."


Setelah berpamitan Riko dan istrinya keluar dari ruangan itu dan menuju mobil yang di kawal oleh bodyguard.


__ADS_2