CINTA SUAMI PSIKOPAT

CINTA SUAMI PSIKOPAT
Peringatan Pertama.


__ADS_3

Riko dan istrinya sudah berada di meja makan yang disediakan oleh hotel dan mereka menikmati sarapan itu dengan nikmat.


"hari ini kemana?"


Riko bertanya kepada istrinya di sela-sela sarapan, dan Ririn langsung memberikan senyuman terbaiknya.


"mau ke rumah dulu mas, mau mengambil pakaian dan barang-barang lainnya."


"tidak perlu, semua sudah di rumah kita."


Lagi-lagi Ririn memberikan senyuman nya, dan hal membuat Riko menunduk pandangan nya.**


Riko mengantarkan istrinya ke rumahnya yang super mewah, dan terlihat Ririn bengong melihat kemegahan dan kemewahan interior rumah.


"panggil saja saya Mpok Ina, segala kebutuhan nyonya di rumah ini akan Mpok penuhi. kamar nyonya dan tuan sebelah sini nyonya."


Mpok Ina menuntun Ririn masuk ke kamar dan lagi-lagi Riri harus di buat kagum akan kemewahan kamar tersebut.


'heloouuu......


Terdengar suara dari ruangan tamu di depan, sisi tv yang berada di kamar tersebut, yang menampilkan seorang wanita dewasa berpakaian glamor datang ke rumah mewah tersebut.


Ririn dan mpok Ina langsung keluar untuk melihat tamu yang datang itu.


"kamu korban berikutnya? cantik tapi norak dan kampung."


Begitu lah kata-kata yang keluar dari mulut wanita yang berpakaian glamor itu, tatapan yang sangat sinis mengarah ke Ririn.


Ririn kemudian menoleh ke arah mpok Ina, dan seketika itu juga wanita berpakaian glamor itu menatap tajam ke arah Ririn.


"saya Irma, tante dari suami mu, saya adalah adik kandung dari papa nya Riko.


Saya datang kemari karena ingin melihat seberapa banyak harta Riko yang bisa kamu keruk, wanita kampung seperti mu pasti memanfaatkan keadaan ini.


eh perempuan, sini kartu kredit titanium itu. Tante mau pake kartu itu untuk belanja."


"maaf Tante ngak bisa, jika mau kartu kredit itu tolong ijin dulu sama mas Riko."


"belagu benar loh ya, asal Lo tahu. mantan istri pertama dan istri kedua Riko selalu memberikan kartu kreditnya titanium kepadaku dan ini gantinya."


Tante Irma melempar kan kartu kredit silver, tentunya limit dari kartu itu berbanding terbalik dengan kartu kredit titanium yang dimiliki oleh Ririn.


Ririn hanya terdiam tanpa mengambil kartu kredit silver yang sudah di lantai karena di campakkan oleh Tante Irma, tante dari Riko.


"ambil bego, dan berikan kartu kredit titanium itu, sini kartunya."

__ADS_1


Lagi-lagi Ririn hanya terdiam tanpa menyahut wanita yang berpakaian glamor itu, seketika terlihat raut wajah murka di tunjukkan ke arah Ririn.


"loh tuli ya? dengar ngak sih? atau Lo ngak paham bahasa Indonesia?"


"seperti tante yang tidak paham bahasa Indonesia, sudah aku katakan. ijin terlebih dahulu kepada mas Riko, jika hendak menukar kartu kredit dengan Ku."


"kurang aja.....


ah..... ah..... sakit bego....


Tante Irma merasa kesakitan ketika tangan di pelintir oleh Ririn yang hendak menampar nya, marah, kesal dan kesakitan. itulah yang dirasakan oleh tante Irma.


"maaf tante, saya tidak urusan dengan mu. jangan sekali-kali tangan tante menamparku, mama yang melahirkan ku tidak pernah menamparku."


Ujar Ririn kepada Tante Irma, terlihat wanita yang berpakaian glamor itu masih berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Ririn.


"lepas bangsat....."


Akhirnya Ririn melepaskan tangan yang hendak menampar pipinya, tatapan tante Irma begitu tajam ke arah Ririn.


"kamu tidak siapa saya, liat saja nanti. awas kamu ya."


Begitu lah ancaman tante Irma terhadap Ririn dan mpok Ina yang melihat kejadian hanya bisa bengong melihat sikap dan tindakan nyonya baru nya itu.


"setelah menikah dengan mas Riko, aku siap menghadapi segala permasalahan mpok. kalau ngak babak belur ya palingan meninggal."


"nyonya...."


"sudah mpok, ini adalah nasib yang harus aku terima. hanya menunggu waktu untuk semua terlaksana."


Mpok Ina seketika memeluk Ririn, tapi berkata apapun mpok masih terus menerus memeluk Ririn.**


Ririn kembali ke kamar nya, handphone baru pemberian dari suami kini dalam gemgaman nya.


Kemudian Ririn membuka laci meja rias, dan terlihat handphone lama yang di bungkus dalam plastik hitam tapi sudah hancur berikut dengan kartu SIM handphone nya.


Seketika Ririn teringat dengan sahabat nya yaitu Sarah, yang masih penasaran akan cerita darinya.


Ririn mencoba mengingat nomor handphone sahabat nya. akhirnya bisa juga mengingat nomor handphone itu.


Ternyata nomor handphone tersebut tidak aktif, seketika Ririn merasa bersalah karena mengabaikan sahabat sendiri.


Kebiasaan Ririn jika mengalami mood yang tidak baik, dia selalu menggambar animasi. sebenarnya ini bertujuan untuk skripsi nya.


Drrrt.... drrrt.... Drrrt.... drrrt.... Drrrt.... drrrt....

__ADS_1


Handphone Ririn bergetar, ternyata yang menghubungi adalah suami nya.


Riko menyuruh nya untuk segera bersiap-siap menemaninya untuk bertemu rekan bisnis nya.


Selesai menerima panggilan telepon dari suami nya, Ririn langsung membuka lemari pakaian yang besar itu.


Gaun mewah dari merek terkenal berjejer rapi, Ririn memilih gaun simpel berwarna pink. kemudian mandi lalu bersiap.


Pak Deden langsung bersiap mengantarkan Ririn ke alamat yang sudah dikirim kepadanya.


Perjalanan 20 menit akhirnya sampai juga di sebuah hotel, Riko menyambut istrinya dengan raut wajah yang datar.


Ririn langsung menggandeng tangan suami nya, dan hal itu membuat Riko tertegun seketika.


"pak Riko! senang kita bisa bertemu lagi."


Ujar seorang pria yang memakai stelan jas yang Mewah.


Riko berusaha bersikap wajar, dan kemudian bersalaman dengan pria tersebut.


"pak Sastro, senang juga bertemu dengan bapak lagi. oh iya kenal kan ini Istriku."


"Ririn."


ujar Ririn kepada Pria dan tampaknya pria tersebut mengagumi kecantikan Ririn yang memakai gaun pink nan simpel.


Setelah ngobrol mereka langsung menuju sebuah ruangan, dan lagi-lagi ruangan mewah itu membuat Ririn berdecak kagum.


"selamat siang Bapak-ibu, saya ucapkan terimakasih atas kehadirannya dalam rangka lelang proyek ini.


Saya berharap kita tetap sportif dalam hal memberikan ide akan setiap proposal yang sudah kami terima.


Untuk menghemat waktu, terlebih kami akan memberikan kesempatan kepada peserta pertama yaitu PT Reon. silahkan pak "


"terimakasih untuk kesempatan yang diberikan untuk kami berpartisipasi dalam hal proyek ini."


Sambut seorang wanita muda yang menyahut omongan dari pembicara tersebut, Riko langsung memberikan dokumen yang terjilid rapi serta tampilan slide powerpoint kepada Ririn.


"tugas mu untuk persentase, jangan buat malu."


Hanya itu saja yang di ucapkan suaminya, dan hal itu membuat Ririn kebingungan. seperti jebakan bagi Ririn.


Perlahan-lahan Ririn membaca dokumen tersebut dan mencocokkan isi dokumen dengan slide powerpoint tersebut.


Inti dari proyek tersebut untuk membuat iklan sebuah produk tas brand ternama yang akan rilis, tapi menurut Ririn proposal yang di bacanya tidak memadai.

__ADS_1


__ADS_2