
Ternyata Ririn dibawah Diana ke rumahnya, dan kemudian masuk ke sebuah ruangan dan kemudian membuka sesuatu di dingding pintu.
"waouuuuu......"
Ucap Ririn yang mengagumi tampilan dari dingding tersebut, dimana ada diagram yang terhubung seperti diagram pohon.
Persis seperti di adegan film dimana seseorang Intel yang melakukan tugasnya untuk menganalisis suatu kejahatan yang terorganisir.
"saya dan Asep, sepupu dari suami mu adalah Intel. karena karena berdua ikut campur yang merupakan tugas kami.
hingga akhirnya keluarga kami dibantai hingga habis.
Kami berdua sudah dinyatakan meninggal, karena kasus kebakaran yang disengaja.
lima tahun yang lalu, kejadian terjadi dan kami berdua kemudian bergabung dengan pak Riko."
"Kenapa mbak memberitahukan ini kepada Ku?"
Diana tersenyum manis ke arah Ririn, dan kemudian memberikan dokumen kepada Ririn dan alangkah terkejutnya Ririn melihat nya, karena gambar Ririn ada di sana dengan aktivitas Nya.
"maafkan mbak karena telah lama mengintai mu, itu semua karena Papa Mu yang bernama Reza.
Kamu juga berteman dengan Bagas, Nina dan Sarah. boleh aku tahu alasannya?"
Ririn kemudian duduk di kursi yang ada di ruangan tersebut dan terlihat seperti orang yang berpikir keras.
"jujur ya mbak, Ririn ingin sekali membunuh Papa karena kekejaman Nya.
Siang dan malam, Ririn dan mama harus banting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehingga Adit kurang perhatian.
Adit jadi korban Papa, dan benturan itu memicu tumor otak Adit.
Ririn sengaja mendekati Bagas dan Sarah, karena Papa sering bertemu dengan kedua orang tua mereka.
Perlahan Ririn mengumpulkan bukti-bukti kecurangan Papa dan ingin sekali menjebloskannya ke penjara.
Satu persatu satu bukti itu aku dapatkan, dan itu semua mengarah ke orangtuanya Bagas dan Sarah.
Ririn pastinya ngak sanggup mbak, dan mencoba mencari jalan alternatif.
Sebenarnya Ririn awalnya tebar pesona ke mas Riko, dan itu berhasil.
Saya menjadi istrinya dan kelak mendapatkan uang dan koneksi untuk menghancurkan Papa dan rekan-rekannya.
Tapi pada akhirnya, Ririn malah jatuh cinta kepada mas Riko."
Diana hanya tersenyum dan Ririn mengambil dua botol minuman yang terhidang di atas meja dan meneguknya.
"itulah alasannya, karena kita adalah orang-orang yang menjadi keadilan dengan cara yang berbeda.
__ADS_1
melalui jalur hukum, itu tidak mungkin. karena mereka mempunyai koneksi yang luar biasa dan itu terorganisir dengan apik."
Ujar Diana dan kemudian berdiri dan berjalan ke arah dingding itu.
"Brayan adalah seorang Psikopat berdarah dingin, yang ingin menggapai kekayaan dengan cara apapun.
menurut hemat kami, beliau adalah orang yang jenius. itulah kami mendekati mu agar tidak menjadi korban berikutnya.
Berhubung pak Riko menyukai Mu dan itu adalah alasan yang tepat untuk menarik mu ke kelompok kami.
Kamu gadis yang tepat untuk Riko, dan nyata pak Riko malah bucin alias budak cinta kepadamu.
Dengan adanya kamu di kelompok kami dan informasi itu semakin valid. semuanya sudah kami rangkum disini."
Penjelasan dari Diana bisa diterima dengan baik oleh Ririn, yang perlahan bisa menjawab semua keraguannya.
"Brayan sengaja mendekati Rohaya, putri dari pengusaha sukses, dan Herman papanya Riko berhasil mendekati mama nya Riko untuk ambisi Nya.
Brayan menghabis orang-orang kepercayaannya keluarga Bu Rohaya, dan mendapatkan beberapa aset yang penting.
Saat itu Brayan adalah pegawai di perbankan milik pemerintah dan dengan liciknya dia langsung bisa naik jabatan dan kemudian memperkerjakan istrinya yang sudah berhasil di pengaruhi oleh Nya.
Lalu bekerja sama dengan Herman papanya Riko, untuk sama mendapatkan harta kekayaan yang melimpah.
Brayan akan melakukan apa saja termasuk membunuh orang, yang dia anggapnya sebagai penghalang Nya.
Intimidasi dan penganiaya terhadap korban, trauma yang dalam dan membekas di hati keluarga korban.
mereka melebihi iblis, tanpa ampun menghabisi siapapun yang menjadi penghalang bagi rencananya."
Seketika itu juga Ririn meneteskan air matanya, dan kemudian di seka oleh Diana.
"seharusnya Adit sudah kelas dua sekolah dasar dan umurnya bukan enam tahun.
tapi karena tumor yang diderita nya membuat pertumbuhan tubuh nya melambat dan perkembangan otaknya terhambat.
Papa menendangnya hingga terbentur kuat ke dinding dan kemudian geger otak hingga memicu tumor."
Mendengar curhatan hati Ririn, akhirnya Diana duduk disampingnya.
"memang mama kamu menjadi cacat, dan Adit terlambat masuk sekolah.
tapi mama mu masih sehat dan bisa beraktivitas sebagaimana ibu-ibu pada umumnya.
Adit yang lucu dan memiliki kemampuan yang unik yaitu menggambar animasi, itu sebenarnya sudah sangat cukup untuk bekal hidupnya.
Kamu masih jauh lebih beruntung Rin daripada mbak.
Keluarga Ku dibantai tidak tersisa, adik perempuan ku di perkosa oleh sepupu nya Bagas, hingga akhirnya adikku bunuh diri karena depresi.
__ADS_1
Itu karena Sarah yang menjebaknya, dia mengorbankan adik kesayangan ku, agar mamanya bisa naik jabatan di kantor Nya.
Semua sudah di atur oleh Sarah dan mamanya, karena sepupu nya Bagas tergila-gila dengan adik kesayangan Ku dan Sarah mengorbankan Nya agar mama nya bisa naik jabatan.
Gila bener dan itu benar-benar biadab, mbak ngak habis pikir ada manusia bejat seperti mereka."
"kemana sekarang Sarah?"
Tanya Ririn tiba-tiba disela-sela penuturan dari Diana.
Kemudian Diana menghidupkan komputer yang ada dihadapannya dan kemudian tampil video lebih tepatnya seperti panggilan video call.
"itu Sarah bersama adik perempuan nya dan juga mamanya."
"bisa Ririn bisa menyapa mereka?"
Diana tersenyum dan kemudian menoleh ke arah monitor dan kemudian mematikan komputer tersebut.
"mau melihat kondisi mereka secara langsung?"
Diana menjawab pertanyaan dari Ririn dengan pertanyaan dan Ririn hanya mengganguk seraya tersenyum.
Diana kemudian membuka pintu yang ada di balik lemari dan mengarah ke sebuah tangga yang menurun.
Pada akhirnya mereka berdua sampai disebuah ruangan yang cukup luas dan hanya ada pending ruangan yang ada.
Tiga orang perempuan ada di ruangan tersebut, yaitu Sarah, mamanya serta adik perempuannya.
"Papa nya Sarah dimana mbak? seharusnya dia juga ada disini?"
"di tempat yang berbeda, karena beda pengalaman."
Jawab Diana kepadanya, lalu Ririn membuka penutup mulut Sarah berupa solatip yang tebal.
"Rin.... tolong aku Rin....
tolong Rin.... aku sangat menderita, tolong Rin.....
aku ini sahabat mu, tolong bebaskan aku dari sini, tolong lah Rin...."
Pinta Sarah dengan Isak tangis Nya, tapi tidak ditanggapi oleh Ririn.
Ririn malah mengelilinginya dan kemudian menjambak rambutnya.
'ah....... sakit Rin.....'
Teriak Sarah seraya memintak tolong terhadap Ririn yang dipanggil nya sebagai sahabatnya.
Ririn kemudian menarik kursi kosong dekat Sarah, demikian juga dengan Diana.
__ADS_1
Mereka berdua menatap tajam ke arah Diana dengan tatapan yang penuh dendam dan amarah.