
Dr Imran Supriadi Sp.Kj adalah nama yang tertulis di papan nama yang terletak sempurna diatas meja tersebut, dokter Imran adalah dokter spesialis kejiwaan.
Dr Imran, nama panggilan akrab baginya dan langsung tersenyum begitu melihat Riko yang datang bersama istrinya dan di dampingi oleh Asep.
"selamat pagi anakku, siapa wanita cantik yang bersama mu ini?"
"istriku dok."
"bagus kalau begitu, Asep, kamu silahkan pulang atau kerjakan hal lainnya."
Dokter Imran mengusir Asep dan langsung menoleh ke arah Riko dan istrinya.
"mas, mbak. bisa Asep tinggal?"
Asep kemudian bertanya kepada sepupu nya itu, lalu menyerahkan beberapa dokumen lagi kepada dokter Imran.
"kamu kerjakan yang lain aja, ntar kalau dah selesai mas telpon ya."
Perawat wanita yang sudah paru baya yang menjadi asisten dokter Imran, langsung menutup pintu ketika Asep sudah keluar.
Dokter Imran menatap kedua suami-istri yang ada di hadapannya, lalu tersenyum ramah.
"bapak sudah mendapatkan data-data istri nak Riko dari Asep. sekarang bapak ingin dengar terlebih dahulu tentang nak Ririn.
Apa yang nak Ririn rasakan? dan kenapa nak Ririn bisa membawa suami mu ini datang ke kemari?"
"sebelum menjawab semua pertanyaan dokter, bisa kah Ririn mengajukan pertanyaan?"
"silahkan."
"terimakasih Dok, begini dokter. Ririn pernah ketemu dengan Papa mas Riko di kafe yang tidak jauh dari kampus Ku.
Papa bercerita kalau suamiku ini berbahaya, dan itu berdasarkan diagnosa dokter Ahli jiwa.
Apakah dokter yang memberikan informasi itu kepada papa mertua ku?"
Dokter Imran tersenyum ke arah Ririn, Kemudian menoleh Riko. lalu mengeluarkan dokumentasi dari lacinya.
"saya adalah sahabat dari almarhumah ibu Nadia, kami berdua satu sekolah mulai dari SD sampai perguruan tinggi.
Kami masih sepupu jauh, tapi kami sudah seperti kakak beradik kandung.
__ADS_1
dokumen ini berisi tentang data-data anak magang saya disini, dan tiba-tiba saja dia itu membuka praktek sendiri.
Saat nak Riko konsultasi ke anak magang saya ini dan dialah yang membuat diagnosis itu dan sekarang dia masih di penjara karena keterangan palsunya untuk beberapa pejabat dan juga pasien nya."
Ririn mencoba dokumen itu dengan cermat, lalu suami nya membacanya ulang.
"Dok, bisa meminta salinannya?"
Riko merasa dokumen ini penting, karena beberapa Papa nya berkata kalau dirinya sakit jiwa, dan dokumen yang dibacanya persis seperti apa yang di ucapkan papa nya terhadap Riko.
"tentunya, karena beberapa pasien nya sudah meminta salian dokumen ini. dan itu saya persiapkan untuk kalian berdua."
"dokter tahu dari mana kalau kami membutuhkan ini?"
"dari dokter Luqman nak Riko, beliau beranggapan nak Riko tidak mau konsultasi karena seperti yang disampaikan oleh istri mu ini nak.
Banyak juga pasien yang lainnya yang merasa di rugikan akan diognoasa yang asal ini, berharap dengan dokumen ini bisa berguna untuk nak Riko untuk membantah omongan atau argumen dari pak Herman, papa nak Riko sendiri.
Sekarang saya ingin mendengar penjelasan dari nak Ririn."
"baik Dok, memang di dalam keluarga sudah banyak hal yang membuat ku tertekan. terutama dari papa dan keluarganya, segalanya tingkat laku yang membuat mama selalu menangis dan membuat hatiku seperti terkoyak-koyak rasanya.
Tapi semua itu aku pendam dalam hati, dan terkahir adalah Ririn dan mama harus berusaha mengumpulkan uang yang banyak untuk biaya pengobatan adikku.
Semua demi adikku dan mama, tapi setelah menikah dengan mas Riko. merasa nyaman dan lama-kelamaan aku mulai suka dan cinta sama suamiku yang aneh ini.
Seperti Dejavu dok, seakan-akan Ririn sudah bertemu dengan Suamiku ini.
tapi Ririn bingung dan semakin bingung ketika mencoba mengingat semua Nya, masa kecil yang terlupakan dan seakan ada rasa sakit ketika mencoba mengingat masa kecil itu.
Sebenarnya Ririn ingin berkonsultasi dengan dokter, Ririn ingin mengingat masa kecil. seberapa sakit pun itu.
Menurut dokter, apakah Ririn bisa mengingat masa kecil Ku?"
"oke nak Ririn, kita anggap konsultasi mulai dari sekarang. dan ini akan menjadi referensi untuk selanjutnya.
Seperti nya nak Ririn mengalami hal sama dengan suami Mu ini.
bapak punya rekan psikologi yang praktek di tempat ini juga, bagaimana kalau kami berkolaborasi untuk menangani hal ini?"
"setuju...."
__ADS_1
Riko dan istrinya serentak menjawab setuju, tapi senyuman mereka berdua seolah-olah merencanakan sesuatu dan menginginkan sesuatu yang tidak diketahui oleh dokter Imran.
Perawat tersebut memanggil ahli psikologi yang satu tempat praktek dengan dokter Imran.
Tidak berapa lama seorang Pria yang sudah berumur mendatangi ruangan dokter Imran dimana Riko dan istrinya sedang ngobrol dengan dokter Imran.
Dokter Imran menuntun mereka semua ke arah sofa untuk duduk bersama, kemudian menyerahkan dokumen kepada pria tersebut.
"nak Riko dan nak Ririn, dokumen yang saya berikan ini adalah rekam medis nak Riko saat ibu Nadia masih hidup.
Perkenalkan beliau ini adalah Profesor David Moyes. M. Psi. CHt (magister psikologi, Certified Hypnotherapist). beliau ini adalah dosenku waktu di bangku perkuliahan.
Prof inilah Pasien Ku, dan di dokumen tersebut sudah lengkap data-data mereka berdua dan sedikit rekam medis pasien yaitu nak Riko."
"baik dokter Imran, bisa kah saya meminta mereka berdua berdiskusi di ruangan saya saja?
Semua hasil diognoasa nya akan saya berikan kepada dokter Imran sebagai Speaslis kejiwaan, yang tentunya dari sisi medis.
Ini semua demi sinkron nya data penelitian untuk mengetahui penyebab dari Pasien."
"tidak masalah pak?"
Ujar Riko kepada Professor David dan akhirnya mereka dibawa ke ruangan profesor tersebut.
Profesor David mempersilakan kedua untuk duduk di sofa, sebagaimana pasiennya yang lainnya.
"nak Riko dan nak Ririn, saya adalah psikologi klinis dewasa dan bersama dokter Imran kami bekerjasama untuk menyembuhkan pasien.
Dokter Imran terlebih dahulu berdiskusi kepada saya dan menerapkan konsultasi terlebih dahulu kepada saya.
metode saya adalah wawancara lalu dengan hipnoterapi dan selanjutnya akan penanganan oleh dokter Imran.
"nak Ririn dan nak Riko bisa mengutarakan semua hal yang di inginkan oleh keduanya, dan ini adalah awal wawancara nya atau tes psikologi nya."
Ririn terlebih dahulu menceritakan kisahnya seperti hal dia menceritakan kepada dokter Imran, demikian juga dengan Riko.
Terlihat Profesor David mencatat poin-poin dari yang mereka berdua ungkap kan.
Lalu Ririn mengungkapkan pengalamannya yang selalu gagal melakukan hubungan suami-istri dengan Riko.
Ada hal-hal aneh di anggapnya tidak wajar, dan semua itu di ungkapkan oleh Ririn.
__ADS_1
Baik secara tidak sadar maupun sadar, tingkah Riko kadangkala berubah.